Thursday, June 11, 2015

PLAYING THE VICTIM

※Setiap orang teis, tentu berdoa. Dan tentu ingin doanya dikabulkan. Tentang pada siapa ia berdoa, tentu berbeda-beda.

※Kebanyakan dari kita, sangat percaya bahwa doa orang yang terdzalimi sangatlah mustajab, doa orang teraniaya itu sangat mudah dikabulkan.

Entahlah apa ini logika yang jumpalitan, atau napsu berdoa yang tidak sabaran, atau apalah apalah... Sehingga muncullah orang-orang yang membuat dirinya terlihat teraniaya karena ingin doanya dikabulkan. Dia playing the victim.

Play victim selalu terlihat memelas, sengsara, sakit, terhina, butuh pertolongan dan lain-lain di awal. Lalu mencitrakan tegar, baik-baik saja, kadang menghujat atau malah mendoakan kebaikan pada yang menganiaya. Semua bermuara pada sebuah tujuan: kabulnya keinginan (doa)

Yang membuat play victim menjadi orang yang menyebalkan adalah karena kepada siapa sebenarnya dia sungguh-sungguh berdoa. Boleh saja dia tampak memohon pada Tuhan, namun sesungguhya yang dia inginkan adalah simpati dari manusia. Parah lagi bila sebenarnya dia ingin pujian saja.

Orang-orang seperti ini akan selalu menjadi wet blanket yang bikin orang lain tak nyaman. Kerap menjadi perusak pesta pula karena biasanya lebay menunjukan keteraniayaannya (opoh iki?)

Namanya juga playing the victim. Kalo kata wiki sih, self-victimized. The fabrication of victimhood for a variety of reasons such as to justify abuse of others, to manipulate others, a coping strategy or attention seeking.
Hoyoohh..... ((ATTENTION SEEKING)) Caper!! Itu pendeknya.

#NulisRandom2015
#day11

Random betulan. Bahkan mukaku hari ini juga random. Acak ngga jelas.