Monday, June 8, 2015

MENDADAK VEGAN (Part 2)

Setelah sadar bahwa tahu dan telur yang saya makan selama seminggu itu bercampur daging beibeh, maka saya memutuskan untuk berhenti. Kepada nenek saya sampaikan alasannya, dan beliau mengerti sepenuhnya. Maka mulai besok, saya akan beroperasi di dapur belahan non-vegan juga. Haa... tambah kerjaan >_<

Mengadopsi bumbu-bumbu yang diajarkan paman, saya mulai membuat "ru" tahu, telur, tempe, rumput laut, bahkan sayap ayam dan urat sapi. Tentu dari semua prosesnya, saya meniadakan segala bahan yang mengandung babi. Jadilah "ru halal" buatan saya. Keluarga yang lain juga ikut menikmati. Mereka bilang, rasanya tak kalah dari masakan paman waktu baru belajar (heih?!)

Karena mulai memasak dua jenis, yaitu makanan vegan dan non-vegan, maka saya mulai pula menjaga ketersediaan bahan makanan dan bumbu-bumbu di dapur. Mulailah saya rutin ke pasar.

Antri. Orang di sini sangat tertib kalau soal antri. Membeli sayur dan daging saja, tak bisa gruyukan berebut saling mendahului. Ketika memilih-milih, mungkin ramai berbarengan. Namun ketika bertransaksi, jangan harap bisa menyelak antrian.

Maka saya berusaha selalu datang lebih pagi dari kebiasaan para acim atau ama yang sudah tidak bisa bergerak secepat orang muda. Sesekali saya terjebak juga di antara mereka. Antri lama di belakang ama-ama yang pelaaaannn sekali menghitung uang untuk membayar. Ah, sabar saja ...

Atau sesekali pula saya sengaja antri berlama-lama, mempersilakan orang di belakang saya untuk membayar lebih dahulu. Apa pasal? Karena saat itu saya bertemu sesama orang Indonesia. Ngerumpi dulu sebentar ^^

Bertemu dengan orang Indonesia di tanah rantau yang jauhnya ribuan kilometer, itu seperti bertemu saudara. Layaknya saudara, mereka juga ada yang menyenangkan, ada yang menyebalkan. Hahahaha... Ya, biasa saja lah :D

Pernah pula saya terpingkal-pingkal di pasar ketika mengantri di kios daging. Saat itu saya bertemu dengan teman sesama Indonesian dan berkerudung. Yang membuat kami tertawa adalah, karena saat itu kami sedang mengantri di kios daging babi. Tak ada kata-kata. Ketika kami bertemu, saling melihat kerudung kami, dan menoleh bersamaan ke arah jeroan babi yang bergelantungan, kepala babi yang nyantel di gancu, dan onggokan tulang iga babi di meja kios. Baik, kawan ... Ini cuma soal pekerjaan. Hanya pekerjaan.

Nah, suatu hari saya datang ke pasar terlalu siang. Kios ayam sudah sedang dibersihkan. Tak ada sisa daging di sana. Tapi karena pasar ini cuma segruyukan, pagi ramai tapi siang bubar, maka aku harus rela pulang tanpa daging ayam.

Entahlah, mungkin penjualnya merasa kasihan denganku yang berkeringat jalan kaki dari rumah, aku ditawarinya menunggu sejenak untuk dipotongkan seekor ayam. Khusus untukku.

Sambil terus mengobrol, penjual itu enteng sekali mencomot ayam hidup dari kandang, lalu -masih dengan mengobrol- tewaslah sang ayam di tangannya. Cekatan sekali bulu-bulunya dibersihkan, jeroan dikeluarkan, dan daging dipotong-potong sesuai kebutuhan.

Di perjalanan pulang, saya melamun. Pikiran saya terus saja berputar di sekitar peristiwa penyembelihan ayam tadi. Jadi, penjual itu potong ayam sambil ngobrol, ya ... Tidak bismillah dulu, gitu?

Apa? Bismillah?? Owalah ... Penjual itu bukan muslim. Tak ada bismillah di adabnya. Dan meski pengetahuan fiqh yang saya miliki masih cetek, namun untuk sekedar tahu hukum halal-haram daging, saya masih bisa merabanya.

Halal dan haram sesuatu bukan hanya dilihat dari dzat-nya, melainkan juga dari asal-usul dan cara memprosesnya.

Dari point ini saja saya sadar bahwa daging ayam ini pun tidak halal, sebab cara memprosesnya: menyembelih tanpa menyebut asma Allah ...

Jadi, daging sapinya? Bebek? Kambing?

Saya galau lagi ...

Bersambung ...

Image by: Google search

Next: Makan mengikuti pola vegan kakek, dan insyaf di restoran Turki.

#NulisRandom2015
#day8