Sunday, June 7, 2015

MENDADAK VEGAN (Part 1)

Sudah lama saya mengendapkan soal ini di pemikiran saja. Eh, ngga segitunya, ding. Saya cuma agak malas saja menulisnya. Namun gara-gara request seorang kawan yang tiap hari kulanggan tulisannya-dia request resep vegan- maka saya menulis pengantar kisah bagaimana saya secara tiba-tiba memutuskan menjadi vegan (meski abal-abal).

Iya, selama 3 tahun hidup di Taipei, saya adalah vegan jadi-jadian. Menjadi vegan karena alasan kenyamanan, bukan kesehatan, apalagi kepercayaan.

Ah, begini, begini. Untuk disebut sebagai vegan, jelas saya bukan vegan murni. Bahkan kasta vegan paling rendah sekalipun, ovo-lacto vegetarian (masih makan telur dan susu). Saya masih makan daging dan ikan, kadang-kadang.

Lalu, vegan macam apa saya ini?

Kisahnya dimulai bulan Juni 2012 (*gelar tiker*)

Ketika baru datang bekerja di keluarga ini, tugas yang saya terima hanya berkaitan dengan pasien saja. Obat, makanan, terapi,  dan lain-lain. Kakek, pasien saya, adalah seorang vegan, sedangkan nenek dan keluarga yang lain adalah pemakan segala ^^

Pertama melihat dapur di rumah ini, serasa terbelah menjadi dua. Peralatan, bahan makanan, bumbu, dan tempat cucian, semuanya serba dua. Iya. Satu untuk vegan, satu lagi untuk non-vegan. Karena saya merawat pasien yang vegan, maka dalam minggu pertama, hanya belahan dapur vegan yang saya sentuh.

"Kuasai dulu kebutuhan diet kakek. Kamu tak perlu memasak untuk kami sementara ini," ucap nenek.

Oke sip.

Lalu, makan saya bagaimana?

"Kamu makan pientang, ya, sama seperti kami. Kamu muslim? Tidak makan babi, ya? Baiklah. Ayam makan, kan? Telur?" Nenek melanjutkan.

Beres. Apalagi penyedia pientang (meal box) itu paman sendiri. Jadi tiap siang dan malam saya menikmati sekotak nasi, atau sebongkah besar mantou (yang tak pernah bisa saya habiskan), 2 macam sayuran, sekerat daging ayam/bebek/sapi, sepotong tahu/telur/tempe (yak! Tempe!). Sedangkan paginya sarapan susu kedelai dan roti isi. Buah dan biskuit bebas makan kapan saja.

Dari isian menu di pientang itu, yang paling saya sukai adalah tahu dan telur berbumbu coklat yang beraroma rempah wangi sekali. Kadang saya tidak menghabiskan nasi, sayur, atau dagingnya. Namun tahu atau telurnya selalu ludes. Enak sekali. Sungguh. Kadang ada tempelan lembaran daun bawang di tahu, kadang potongan jahe, kadang ada serpihan empuk seperti daging, kadang butiran pedas. Ah, sungguh penasaran dengan bumbu tahu dan telur itu.

"Kamu suka tahu dan telurnya?  Kapan-kapan masak sendiri saja. Ayo ke rumah paman untuk belajar," ajak nenek.

So excited *_*

Rumah paman beraroma lezat sekali. Bau rempah meruap di setiap sudut rumah. Asap tipis berulir-ulir laksana memanggil hidung untuk mengikuti dari mana asalnya. Macam film kartun saja.

Di dapur paman, alat masak beradu macam orkestra. Ada bau sayur dan daging mentah. Namun yang mendominasi tetap aroma bumbu yang sedang dalam proses pemasakan.

"Ini bumbu "ru" untuk tahu dan telurnya," tunjuk paman pada deretan rempah di meja.

Jahe, star anise, kayu manis, cabe sichuan, jinten, bawang putih, daun bawang, kecap asin, gula batu, dan serutan bumbu seperti kayu berwarna terang yang entah apa namanya.

Saya ikuti proses membuat "ru". Tentu saja tidak detail, karena sebetulnya paman sudah masak "ru" untuk jatah hari itu. Maka segera saya longok panci besoooaaarr di atas kompor.

Panci itu penuh berisi kuah coklat yang bergolak ringan. Kulihat ada banyak tahu berdesakan berenang di dalamnya. Sedangkan butiran-butiran telur rebus yang sudah dikupas masih teronggok di nampan besar di samping kompor.

Paman mengaduk "ru" tahu itu. Para tahu jumpalitan bertabrakan dengan serpihan-serpihan rempah dan lembaran daun bawang. Eh, tunggu! Kok ada isi lain di panci itu? Seperti daging ...

"Itu apa, paman?"

"Ini cu-ciao. Kaki babi. Dimasak "ru" bersama tahu untuk memperkaya rasa. Kulit dan lemaknya akan membuat gurih tahu, meski tidak diberi penyedap rasa. Cu-ciao ini nanti juga akan dimasak bersama telur dan tempe. Jadi ... "

Paman masih lancar menjelaskan seluruh proses memasak itu dengan suara yang sangat ramah. Sedangkan saya tiba-tiba saja tercekat bagai habis menelan biji salak. Ada yang bergolak di perut saya ...

Jadi tahu itu ...? Telurnya, juga ...? Lalu, serpihan daging yang menempel di tahu, yang saya kunyah dengan  penuh rasa nikmat itu ...?

Oke oke ... saya baik-baik saja. Saya baik-baik saja!

~~bersambung~~

Next: Bahkan daging ayam dan sapi yang saya olah sendiri pun akhirnya meragukan.

Image: Google search.

#NulisRandom2015
#day7