Tuesday, June 9, 2015

MENDADAK VEGAN (Part 3)

Sepertinya saya memang tidak seharusnya makan daging di sini. Meski banyak pembenaran dari teman-teman masalah kehalalan, namun saya tetap tidak nyaman. Dan ketika saya tidak nyaman, bawaanya ya kepingin makan. Hihihihi ...

Fakta lebih menyesakkan saya temukan saat berdiskusi soal ini dengan nenek. Rupanya, makanan selain daging pun banyak yang tak boleh saya makan. Kue bulan yang empuk-enak-bikin nagih, kue matahari yang berlapis gurih, biskuit lembut yang lumer di mulut, sampai coklat blok yang legit lezat tiada tara. Apa pasal? Karena bahan-bahan dari makanan itu mengandung sesuatu yang berasal dari babi. Porcine, kata nenek.

"Biar kamu tenang, ikuti saja pola makan kakek. Jadilah vegetarian. Sehingga kamu terbebas dari daging sama sekali" ucap nenek memberi solusi.

Sejak itu, saya menjadi vegan. Sesekali masih merebus telur, atau membakar ikan. Minum susu dan makan keju juga ^_^
Dih, vegan macam apa itu :P
Tapi umumnya sehari-hari saya makan sayur dan protein nabati saja. Kue dan biskuit juga masih saya makan. Tapi kue dan biskuit vegan. Jujur, rasanya masih lebih lezat yang bukan vegan :D

Menu tiap hari yang tak pernah absen adalah sawi dan tahu. Sampai hari ini. Nih, saya habis makan sawi dan tahu waktu menulis ini :))

Dan ke-vegan-an saya berhenti di restoran Turki. Nenek  membawa saya ke sana beberapa kali. Jaminan halal dari MUI-nya Taiwan membuat nenek tak segan membelikan saya menu daging.

Sekarang, saya hampir mudik ke Indonesia. Di rumah nanti saya pasti lebih tenang makan daging ayam. Bagaimana tidak? Ayam yang saya makan itu adalah ayam yang saya kejar-kejar dulu di pekarangan, dan suami saya sembelih sendiri, tentu dengan Bismillah. Oiya, tentu saja itu ayam kami sendiri, bukan ayam tetangga. Afdol betul kehalalannya ^_^

Image by: Google search

Tidak bersambung ...

#NulisRandom2015
#day9