Monday, September 8, 2014

TARIAN SEKUNTUM KAMBOJA

Sehelai daun kamboja melayang bersama sekuntum bunganya yang berputar seperti baling-baling. Kemudian jatuh ke tanah...

Aku menyukai bunga kamboja. Walaupun orang menyebutnya bunga kematian, tapi aku tetap menyukainya walaupun aku belum ingin mati. Ada suasana magis yang selalu aku rasakan ketika kupetik sekuntum, dan kusunting di sela telingaku. Semerbaknya mengalunkan aroma khayangan. Apalagi ketika Made yang menyuntingkannya. Senyum lembut yang terbingkai oleh rahang kokohnya membuatku selalu merasa aman bila bersamanya.

Made, kekasih hatiku. Seorang pemuda pendiam yang lebih senang mengutak-atik kameranya dari pada melakukan kegiatan lainnya. Ia memang seorang fotografer yang masih tetap sekolah fotografi di Denpasar sambil menjadi tukang foto di studio kecil di tepi danau Beratan.Aku sendiri masih duduk di tahun terakhir sebuah SMU di Ulun Danu. Aku tinggal di tepi danau Beratan bersama nenek yang mengelola sebuah penginapan kecil. Orang tuaku ada di Denpasar. Dan aku boleh berbangga dengan kemampuanku menari. Seminggu sekali, yaitu di malam minggu, aku boleh menunjukan kemampuanku menari pada tamu-kebanyakan bule- yang menginap di penginapan nenek. Tiap malam minggu, kecuali bila musim ujian tiba, aku selalu jadi bintang diantara riuhnya tepukan mereka. Senyumku selalu terkembang. Bahagia sekali rasanya saat itu. Apalagi ketika membayangkan bahwa tepukan itu kudapatkan di sebuah negeri bersalju yang jauh dari dusun di tepian Beratan ini.

”Nanti kalau sudah lulus, kamu boleh pulang ke Denpasar, dan kamu harus kuliah di jurusan seni tari, agar cita-citamu menari di negeri bersalju terkabul,” Kata nenek ketika aku mulai memasuki ujian akhir.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Nenek membelai rambut panjangku, dan menyuntingkan sekuntum kamboja di telingaku.

****

Selesai ujian, aku seperti ’mengamuk’. Tiga minggu absen menari membuatku terlalu merindukan tepukan riuh tamu-tamu nenek itu. Aku menari tiap malam! Dan penginapan nenek jadi lebih banyak pengunjungnya. Ayahku sesekali berkunjung dan selalu memberi tepukan paling keras seusai aku menari.

Made juga menyaksikan penampilanku tiap malam. Kilatan cahaya blitz dari kameranya selalu menembakku setiap waktu. Dulu Made bilang, aku selalu jadi inspirasinya dalam memotret. Sering sekali aku disuruhnya menjadi model gratisan untuk eksperimen foto-fotonya. Dan hasil foto-foto itu selalu diserahkannya padaku, sebelum akhirnya dia memilih beberapa yang bagus untuk dicetak ganda, dan dipajang salah satunya di studio miliknya.

Ah, gara-gara Made, wajahku jadi dikenal banyak orang...

Dan selain Ayah dan Made, ada seorang turis Jepang yang menjadi penonton setiaku selama enam hari. Dia adalah Mr. Yamamori. Dia selalu duduk di ujung belakang, di kursi bar yang tinggi. Dan ketika tarianku usai, dia selalu menyempatkan diri mengejarku masuk ke kamar rias, hanya sekedar untuk menyalamiku.

”Siapa dia, Luh?” Tanya Made dengan nada cemburu.

Aku tersenyum.
”Hanya turis biasa,” Sahutku santai.

”Perhatian banget dia sama kamu, sih? Naksir kamu kali, Luh...”

”Ah. Enggak. Kemarin malam dia nawarin aku, ingin ikut ke Jepang apa enggak. Nanti aku bisa menari di hotelnya,”
”Trus kamu jawab apa?”

”Aku nggak jawab. Bahsa Inggrisku belum lancar,”

”Tapi kamu kepingin ke sana?”

Aku menunduk.
”Iya,” Jawabku pelan.

”Kamu teruskan kuliah saja dulu. Bekali dirimu dengan ilmu, hidup di luar negeri itu berat untuk gadis semuda kamu. Aku sih mendukung kalau memang kamu sudah siap. Tapi kalau sekarang, sebaiknya kamu jangan pergi, Luh...”

Aku terdiam. Setelah itu aku bergegas merapikan kainku. Aku harus menari lagi. Suara gamelan itu sudah memanggilku.

Aku tersenyum ketika Made menyuntingkan sekuntum kamboja di telinga kiriku.

Ketika menari, kulihat Mr. Yamamori berbincang dengan ayahku. Entah apa yang dibincangkan mereka, tapi dalam hatiku aku berharap, Mr. Yamamori membicarakan tawarannya padaku kemarin. Impianku sudah melambung tinggi ke Jepang, menari di hotel besar milik Mr. Yamamori...Dan mimpi ini membuatku tambah bersemangat menari.

******

Terima kasih ya, Tuhan! Impianku jadi nyata. Ayahku sendiri yang menyampaikan kabar gembira ini. Aku akan pergi ke Jepang! Dan aku tidak sendiri, ada satu penari dari Denpasar yang menyertaiku juga. Dia penari senior, dan ayahku kenal baik dengannya. Karena itulah ayah mengijinkan aku pergi.

Hanya nenek dan Made yang keberatan. Nenek menangis ketika kusampaikan kabar ini. Tentu beliau merasa kehilangan.

”Jegeg, kamu masih sangat muda. Hidup di rantau itu berat sekali...nenek kuatir,” Rintih nenek.

”Luh akan jaga diri, Nek. Lagipula Luh khan nggak sendiri. Kadek Sukasti akan menemani Luh,” Kataku sambil memeluk nenek.

Sedangkan Made melakukan protes dalam diamnya. Tak ada sepatah katapun yang dia ucapkan, apalagi kuntum bunga yang disuntingkan di telingaku. Ah, aku jadi merasa kesal. Kenapa sih, Made malah menghalangi cita-citaku menjadi penari yang bisa melalang buana? Akhirnya aku bersikap diam juga padanya.

********

Osaka adalah kota tua yang cantik. Geliat teknologi tak memudarkan eksotisme memori yang tersimpan dalam kesahajaan gedung-gedung tuanya.

Aku sudah mulai menari di hotel Mr. Yamamori. Hotel yang lumayan besar. Sambutan tamu di sini lumayan, walaupun bila dibandingkan dengan di penginapan nenek di tepi Beratan, jauh lebih sepi. Aku menari dengan iringan suara gamelan dari perangkat audio, bukan gamelan hidup seperti di Bali.

Setelah sebulan, aku sudah mulai bosan menari dengan cara seperti ini. Aku merindukan gamelan hidup yang kadang ditingkahi celoteh nayaga. Aku merindukan nenek, ibu, ayah, Made...Aku ingin pulang....Hidupku sepi di sini. Kadek Sukasti kerap tak pulang ke kamar kami di salah satu kamar hotel Mr. Yamamori. Dia harus menari di lain tempat pula. Kadang bahkan sampai ke Kyoto, atau ke Kobe.

Satu-satunya hiburanku di sini hanyalah sebatang pohon kamboja Jepang yang tumbuh di tepi kolam renang di belakang hotel. Bunga kecilnya yang berwarna merah jambu sedikit bisa menggantikan kerinduanku pada kambojaku yang putih dan lebar. Semerbaknya juga berbeda.
Berbicara melalui telepon dengan keluargaku hanya membuat rinduku semakin tebal saja. Akhirnya kupilih mengirimkan kartu pos dan surat elektronik saja pada mereka. Made kukirimi sebuah kartu pos yang bergambar kamera Nikon. Mungkin dengan seperti ini, aku bisa meminta maaf padanya atas kelakuanku yang keras kepala ketika akan berangkat ke sini.

Di bulan kedua, kami, aku dan Kadek Sukasti, melakukan perjalanan panjang dari Osaka, ke Kyoto kemudian berlanjut ke Nagoya untuk menari. Dan ternyata ini harus berlanjut lagi ke Yokohama, dan akhirnya ke Tokyo.
Di Tokyo inilah kami diam untuk waktu yang lama. Menari untuk satu hotel besar, tapi pengunjungnya tak memberikan sambutan yang riuh pada kami. Bahkan ketika menyaksikan kami menari, kebanyakan dari mereka malah asik berbincang dengan rekan, atau mengutak-atik multimedia yang mereka genggam.Tokyo kota yang amat sibuk. Semuanya berjalan amat cepat, kecuali hari-hariku yang terasa amat lambat. Sebulan di Tokyo membuatku amat bosan. Kadek Sukasti kerap mengajakku keluar, tapi aku tak suka hiruk pikuk kota yang bising. Aku jadi rindu suasana tepian danau Beratan yang hening. Aku rindu bunga kamboja, aku rindu pada nenek, ayah, ibu...aku rindu pada Made.

Kesepian ini tambah senyap ditengah bising kota yang kudengar dari kamarku dilantai 16, karena Kadek Sukasti selalu keluar malam hari seusai menari. Aku sendirian.Akhirnya aku memutuskan untuk menelpon nenek di Indonesia.

”Nenek....Luh rindu. Luh ingin pulang, Nek...” Isakku sendiri pada dering telepon yang tak terjawab.

Kudengar kunci pintu seperti dibuka dari luar. Ah, itu mungkin Kadek Sukasti yang baru pulang. Aku biarkan saja, dan aku tetap tenggelam dalam tangisku.

”Kamu menangis?”

Suara laki-laki!!!

Ah, ini Mr. Yamamori. Cepat-cepat kuseka airmataku, dan duduk menunduk di hadapannya. Mr. Yamamori memegang pundakku dalam diam.

”Aku ingin pulang,” Kataku terbata-bata.Satu lagi airmataku jatuh...

”Kamu akan segera pulang,” Jawabnya.

Sejenak aku ingin tersenyum. Tapi kemudian keinginan itu sirna ketika kurasakan tangan Mr. Yamamori mulai meraba wajah, leher, pundak...dan turun ke dadaku.

Aku tersentak dan berontak. Mr. Yamamori mulai kurang ajar padaku! Aku melenting mundur, tapi Mr. Yamamori mencengkeram lengan kecilku dengan keras. Dia mulai menciumi wajahku, mendekap tubuhku dengan paksa, dan akhirnya menghempaskan aku di atas tempat tidur.

Aku berusaha berontak dan berteriak. Namun kekuatanku tak seberapa dibanding kekuatan Mr. Yamamori yang sudah kemasukan setan. Entah berapa tamparan mendarat di pipiku. Dengan sisa-sisa kekuatan kuraih lampu duduk di meja sebelah tempat tidur. Kuhantamkan ke kepalanya. Mr. Yamamori berteriak kesakitan, kepalanya berdarah. Nah, inilah kesempatanku untuk lari...Terseok-seok aku beranjak ke arah jendela. Kubuka kacanya, dan akhirnya aku kabur dari situ...

*****

Aku benar-benar pulang! Bahagia rasanya membayangkan pertemuanku dengan orang-orang tercinta. Nenek, ayah, ibu, dan Made tentu saja. Pasti mereka sudah menungguku di Bandara, siap memeluk dan menciumiku. Ah...aku benar-benar merindukan mereka.

Aku merindukan danau Beratan, kelopak dan semerbak kamboja, dan juga celotehan nayaga yang mengiringi aku menari dengan gamelan hidup.
Bandara riuh ketika pesawatku mendarat. Lorong demi lorong kulewati, sampai akhirnya aku melihat nenek, ayah, ibu dan Made menungguku.

”Neneeeek....”Aku berteriak kegirangan. Aku berlari menyongsong mereka. Ah, langkahku begitu ringan seperti melayang.

Kuserukan nama ibu dan ayah juga. Nama Made kubisikan saja, aku malu pada orang tuaku...Tapi...Hey, mengapa mereka tak menyambutku yang berlari dengan tangan terentang? Mengapa mereka tetap terdiam bagai patung? Nenek? Ibu? Mengapa mereka menangis? Kulihat ayah dan Made tetap terdiam tanpa tangis, tapi kulihat kedukaan mendalam di wajah keduanya.

Aku jadi heran. Sampai aku berdiri di antara mereka, mereka tetap terdiam. Mereka tak mempedulikan kehadiranku yang sarat rindu. Hmm...siapa yang mereka tunggu?

Akhirnya mereka berlari menyongsong ke arah pintu keluar. Tangis ibu dan nenek meledak keras. Ayah bahkan sekarang ikut-ikutan tersedu. Made tampak masih diam terpaku, tapi dua butir mutiara jatuh dari matanya. Semuanya menjadi jelas ketika sebuah peti mati didorong keluar oleh seorang petugas...

Pelan kulihat tubuhku...yang ternyata terawang tembus cahaya...Orang-orang menabrakku, tapi aku tak merasakannya. Akupun mampu menembus pandanganku ke dalam peti mati yang mereka peluk dalam tangis. Aku melihat jasadku tebujur kaku di sana...........

Sekarang aku mampu mengingat semua yang terjadi sebelum ini semua. Ketika Mr. Yamamori akan memperkosaku, dan aku punya kesempatan untuk lari, aku lupa kalau aku ada di lantai 16. Ketika kulompati jendela, tubuhku melayang jatuh seperti sebuah vas yang terhempas ke jalan beraspal...pecah berantakan...

Senja terasa amat dingin ketika jasadku dibawa pulang. Tak ada lagi kata-kata keluar dari mulut mereka. Akupun tak sanggup membuka mulutku, apalagi menceritakan semua pengalaman selama di Jepang. Diam, dan sunyi...

Namun tidak semua kebahagiaanku lenyap. Masih ada setitik bahagia ketika kulihat sekuntum kamboja terselip di antara jemari Made. Ah, itu pasti bunga yang seharusnya akan disuntingkan di telingaku.

Aku menyukai bunga kamboja. Walaupun orang menyebutnya bunga kematian, tapi aku tetap menyukainya walaupun aku belum ingin mati.

*******

※Telah dimuat majalah TIM International Taiwan, edisi Desember 2013