Thursday, September 4, 2014

SAMBAL KOBOI

Semua ini demi cita-cita mewujudkan impian bapak dan emak, dan menghargai segala jerih payah mbak Nur bekerja menjadi pembantu di Taiwan. Aku harus menjadi sarjana tahun ini. Harus!

Bapak dan emak adalah orang desa yang tak berpendidikan. Hidup serba pas-pasan pula. Namun mereka punya cita-cita tinggi untuk anak-anaknya. Mereka ingin suatu saat melihat kami memakai toga sarjana. Sebuah keinginan mulia yang membuat mereka rela pontang-panting mencari nafkah demi sekolah kami.

”Dul, sepertinya aku menyerah saja. Cukup sampai SMA saja sekolahku. Terlalu berat untuk bapak dan emak kalau harus membiayai kita berdua. Kamu saja yang kuliah nanti, ya. Aku bekerja saja untuk membantu biayanya.” Itulah kata-kata mbak Nur tiga tahun yang lalu ketika baru lulus SMA.

Setelah itu mbak Nur berusaha melamar pekerjaan apa saja. Namun ijazah SMA hanya membawanya bekerja sebagai pelayan rumah makan. Untuk sementara, gaji mbak Nur memang masih cukup membantu biaya sekolahku di SMA, bahkan di tahun pertama kuliahku juga. Tapi semakin lama biaya kuliah semakin bertambah. Mau tidak mau mbak Nur harus berusaha lebih keras lagi. Dan akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari rumah makan, kemudian mendaftar bekerja sebagai pembantu di Taiwan.

Hidupku juga serba prihatin. Kuliah di kampus ini tidak murah. Bantuan dari mbak Nur hanya bisa untuk membayar biaya kuliah. Sedangkan untuk keperluan sehari-hari harus kucari sendiri. Ini tidaklah ringan, apalagi aku anak kost, yang meskipun hanya kost di tempat sederhana, namun tetap saja harus membayar. Kecuali, mungkin, bila aku bisa memperistri anak ibu kost. Tampangku lumayan, tidak ’nyungsep’ bila disandingkan dengan Dude Herlino. Aku pekerja keras, rajin sembahyang, dan tidak merokok. Pokoknya aku, Abdulloh Amir, adalah sosok mantu idaman. Namun sayang, anak-anak ibu kost lelaki semua.

Soal mata kuliah dan kejar-kejaran SKS, itu bisa kuatasi dengan mudah. Tapi soal mencari uang, ternyata bukan perkara yang gampang kupecahkan. Sulit mencari tempat kerja yang klop dengan jadwal kuliah tapi bergaji besar. Bilapun ada yang cocok waktunya, bergaji besar pula, maka tempat itu ternyata hanya menerima yang sudah sarjana. Ah, sementara lupakan saja. Dan bekerjalah aku di sebuah tempat bimbingan belajar terbesar di kota ini. Bukan mengajar, melainkan sebagai tukang sapu. Apa boleh buat? Hanya ini posisi satu-satunya yang lowong.

~~~~~~

”Dul, ada kiriman beras dari emakmu,” kata Usman, kawan sebelah kamar yang juga sekampung denganku.
Aku menyambutnya dengan gembira.
”Alhamdulillah. Kapan datang, Us? Apa kabar bapak dan emak? Kamu sudah makan apa belum? Di kampung sedang musim apa? Kambingmu sudah beranak?”
Saking gembiranya aku bertanya bertubi-tubi dan acak. Usman tertawa terkekeh-kekeh. Dia meletakan begitu saja kantong gandum yang berisi beras dari kampung. Beras separuh kantong ini sungguh berarti bagiku.

Eh, tapi ...

”Aduh, Us, bagaimana ini? Aku tak bisa masak nasi. Tempo hari rice cooker itu kuloakkan, karena aku kehabisan uang dan jarang kupakai juga.” Kutepuk jidat menyadari keadaan.
”Pakai punyaku dulu. Aku belum makan juga hari ini. Kebetulan aku tadi diberi sisa bahan praktikum anak tata boga. Kita masak bersama.” Usman memberi solusi brilian.

Jadilah kami sepasang koki sore itu. Koki kepepet di tempat kost yang dapur umumnya hanya menyediakan dispenser dan tempat cuci piring. Ini tempat kost laki-laki, jadi mungkin ibu kost tidak merasa perlu menyediakan alat masak. Penghuni kost biasanya makan di warung. Atau seperti aku dan Usman, yang punya penanak nasi listrik.

Kami berdua segera mulai beraksi. Alat masaknya hanya satu: rice cooker. Menu lauknya lumayan menggoda, dilihat dari bahannya; kangkung, ikan asin, cabe, tomat, dan terasi. Sekilas sudah terbayang kami berdua duduk bersila di lantai berlapis karpet plastik sambil menyanding nasi putih panas, cah kangkung, ikan asin goreng, dan sambal terasi. Wah, sekali terbayang langsung terbit air liurku. Kami tersenyum-senyum sebelum akhirnya sadar dengan kesulitan; bagaimana menumis cah kangkungnya? Menggoreng ikan asinnya? Mengulek sambalnya?

Usman mengelus-elus janggut dengan dahi berkerut. Berpikir keras rupanya dia. Aku sudah sibuk mencuci beras, dan menanaknya. Kangkung kubersihkan, begitu pula dengan cabe, tomat, dan bahan lainnya. Biarlah tugas Usman berpikir, aku menyiapkan saja.

”Kita kukus kangkungnya,” seru Usman gembira.
”Sip!” sahutku .

Lalu kupasang panci tambahan di atas penanak. Panci yang menurut petunjuk buku manualnya adalah untuk memanaskan sayur.

”Kukus juga cabe, tomat, dan terasinya,” sambung Usman, kemudian kembali mengelus-elus janggut.

Aku makin bersemangat mengikuti petunjuk Usman dalam memasak. Aku berdoa semoga dia segera menemukan wangsit bagaimana cara menggoreng ikan asin dan mengulek sambal.

”Tidak ada minyak nih, Dul. Ikan asin dibakar saja, ya,” saran Usman.
”Baik. Jadi barbeque. Bakar di mana?” Aku celingukan mencari kompor, arang, atau apapun yang kira-kira Usman maksudkan untuk mewujudkan ide membakar ikan asin.
”Pakai setrika,” ujarnya singkat.
”Haah?!” Demi Tuhan aku tidak menyangka Usman sekreatif itu.
”Bahaya, tidak?” sambungku.
”Tenang saja. Aku pernah membakar roti dengan setrika. Aman, kok,” jawab Usman mantap.

Menyetrika ikan asin? Sungguh gila. Oh, tapi baiklah, boleh dicoba.

Usman mencolok kabel ke saklar dan membalik setrika itu serta mengganjalnya dengan beberapa buku. Sungguh brilian. Setrika terbalik menjadi tungku pembakar ikan asin. Sungguh koki istimewa kawanku yang satu ini.

Usman menata lima potong ikan asin kering di atas setrika panas. Sesekali dibaliknya menggunakan sumpit. Sebenarnya aku ingin tertawa, tapi Usman terlihat serius sekali. Aku tak ingin menyinggung perasaanya. Apalagi aku juga harus memutar otak, bagaimana caranya mengulek cabe, tomat, dan terasi menjadi sambal.

Kubuka tutup rice cooker untuk memeriksa cabe dan kawan-kawannya itu. Ah, hampir matang. Maka segera kucari pengganti cobek beserta ulekan, karena kutahu pasti tak ada di sini. Rak kecil di sudut ruangan hanya berisi dua piring, satu mangkuk, dan satu gelas. Aku tidak melihat sendok maupun garpu. Hanya ada sepasang sumpit di situ. Kaku tanganku memakai sumpit seperti orang Cina. Mungkin nanti perlu kuambil sendok di kamarku sendiri untuk makan.

Agak ragu kuambil mangkok dan sumpit. Lalu kuangkat bahan sambal ke dalam mangkok. Gerilya berlanjut ke sebelah rak. Ada besek plastik berisi botol kecap yang sudah hampir habis, dan beberapa bungkus bumbu mi instant. Bola lampu menyala di kepalaku. Ting! Aku punya ide.

”Us, ini bumbu mi sudah lama belum?” tanyaku.
”Ehmm... Mungkin semingguan. Aku cuma meremas mi-nya, dan memakannya mentah-mentah. He he he,” Usman cengar-cengir.

Segera saja kusobek bungkus bumbu mi instant, kutuangkan isinya ke dalam mangkok yang berisi cabe, tomat, dan terasi. Botol kecap kecil itu kucuci, dan kujadikan penumbuk untuk menghaluskan bahan sambal.

”Wuiih ... cerdas! Akalmu boleh juga di bidang persambalan. Gayamu seperti koboi mengulek sambal. Ha ha ha,” Usman tertawa melihatku membuat sambal.

”Kamu juga jenius, membakar ikan asin dengan setrika. Hua ha ha.” Tawaku tak kalah keras.

Seusai shalat maghrib, kami berdua duduk bersila di lantai beralas karpet plastik. Nasi di rice cooker, kangkung yang hanya dikukus, sambal yang diulek dengan gaya koboi, dan ikan asin yang disetrika terhidang dengan manisnya di hadapan mahasiswa kurang gizi ini.

Kami berdua makan dengan lahap dan penuh rasa syukur. Sesekali kami bercanda, menertawakan diri kami sendiri.

”Besok jangan lupa, itu setrika dilap bersih dulu sebelum digunakan. Jangan sampai kamu ke kampus dengan baju beraroma ikan asin, ” aku berkata sambil mencocol kangkung kukus ke sambal koboi.

Tawa kami berderai-derai. Kamar kost sempit dan kehidupan sebagai mahasiswa miskin memang bukan sesuatu yang menyenangkan. Namun sungguh, kami ingin selalu gembira dalam kondisi apapun. Bapakku dulu pernah memberi petuah:
”Jaga hatimu untuk tetap gembira ketika keadaan sulit. Dengan begitu, niscaya kamu tidak akan mudah terlena ketika keadaan menjadi mudah”

Ya, aku meyakininya. Mungkin justru keterbatasan seperti inilah yang kelak akan membuatku rindu dan terkenang selalu suatu saat nanti. Karena di sinilah keringat, doa, dan perjuanganku benar-benar terasakan.

~~~~

Cerpen ini telah dibaca pada Siaran Bilik Sastra VOI RRI.