Thursday, September 4, 2014

ARI-ARI

Suara pedagang ember menawarkan dagangannya mendominasi keramaian pasar pagi ini. Teriakan sumbang bersahutan dengan suara berisik ember yang diadu dengan gayung. Di sebelahnya, pedagang ikan tampak sibuk membersihkan sisik gurami yang sedang ditunggu pembelinya. Bapak tua dengan pikulan berisi periuk dan kendi tembikar tampak sedang bertransaksi dengan seorang ibu yang sangat bawel menawar. Pedagang sayur meletakan begitu saja dagangannya di tanah hanya beralaskan dus yang digelar. Sedangkan barang-barang kelontong dijual hanya di satu-satunya toko di pasar ini.

Aku berjualan daging sapi berjajar dengan pedagang daging ayam dan tahu tempe yang sama-sama hanya menggunakan meja berpayung. Ini pasar kecil di daerah pelosok yang untuk ke kota terdekat saja perlu waktu hampir satu jam berkendara. Kehidupan di daerah ini berjalan lambat namun penuh kedamaian.

Sebagai pedagang, aku merasa rugi melewatkan pelanggan yang satu ini. Seorang bidan ramah yang tidak pernah menawar daging dan jeroan yang hampir tiap hari dibelinya dariku. Seringkali dia memborong, bahkan memesan lagi untuk esok hari. Bila pembeli adalah raja, maka Bu Bidan ini adalah raja arif bijaksana dan murah hati. Selalu kulayani dengan senang hati. Sayang, modal yang kecil dan pembeli di daerah ini yang kurang potensial membuatku hanya mampu berjualan sedikit saja. Aku tidak memotong satu sapi sendiri, tapi hanya mengambil belasan kilo saja daging dari penjual besar di kota. Nah, pembeli seperti Bu Bidan inilah yang membuat modalku terus berputar.

”Maaf, Bu, hari ini saya tidak sedia jeroan,” ucapku penuh sesal.

”Waduh ... bagaimana ini? Di rumah sedang ada pasien hendak melahirkan, harus ada jeroan,” gumam Bu Bidan lirih seolah untuk dirinya sendiri.

”Kalau memang mendesak, bisa saya carikan ke kota, Bu. Nanti sekalian diantar ke tempat ibu,” tawarku.

”Oh, bagus itu. Tapi jangan kesorean, apalagi sampai malam,” ucapnya sambil membuka dompet menarik dua lembar uang biru dan langsung disodorkan padaku.

Wah, ini sih pemaksaan. Tapi pemaksaan yang menyenangkan.

”Baik, Bu,” sahutku gembira.

Saking gembiranya, tanpa diminta aku langsung membantu Bu Bidan mengangkat belanjaan ke becak. Banyak betul belanjanya. Selain sayuran, beliau juga membeli sekarung beras, setengah karung garam mentah, dan belasan kendi bertutup seukuran buah kelapa. Aku tahu, kendi ini adalah tempat untuk menyimpan ari-ari atau plasenta bayi. Dan garam mentahnya akan dimasukan bersama ari-ari, supaya saat membusuk jadi tidak berbau. Bu Bidan menyediakan karena tidak semua keluarga pasien siap sedia benda itu.

Bu Bidan bukan penduduk asli desa ini. Baru tiga tahun yang lalu dia membeli rumah milik orang kaya yang sekarang sudah pindah ke luar pulau. Dia membuka klinik bersalin, sekaligus klinik umum. Kami yang selama ini selalu kesulitan mendapatkan layanan kesehatan, jadi merasa amat terbantu dengan kedatangannya. Apalagi Bu Bidan orang yang sangat baik. Dia kerap menggratiskan biaya pada pasien miskin yang datang ke kliniknya.

Tidak ada yang tahu keluarga Bu Bidan, karena dia tinggal sendirian. Meski begitu, rumah dan kliniknya selalu ramai, karena bidan dan tenaga medis dari kota kerap datang dan berpraktek di klinik itu.

~~~~~~~

Menunggu angkutan di terminal ini butuh kesabaran ekstra tinggi. Angkutan umum yang menghubungkan desa ini dengan kota terdekat hanya ada dua armada. Maka mereka akan saling bergantian jalan dan stand by di terminal.

Terminal? Ah, ini cuma tepian jalan dengan satu warung kopi dan beberapa bangku kayu panjang. Aktifitas di tempat ini berjalan amat lambat. Untung aku punya telepon selular. Aku sudah menghubungi pedagang daging di kota untuk menyediakan jeroan sapi.

”Ayo berangkat!” teriak kondektur yang bergelantungan di pintu mobil.

Kendaraan diesel ini terbatuk sedikit sebelum akhirnya bergerak pelan. Dari kejauhan tampak angkutan yang baru datang dari kota mulai mendekat. Tiba-tiba ada seorang ibu paruh baya berlari-lari sambil melambaikan tangan. Kondektur mengetuk atap mobil memberi kode supir untuk menghentikan mobil.

”Mari, Bu Nunik. Naik cepat,” serunya.

Seorang ibu gemuk tampak kerepotan naik. Keringat meleleh dan napas memburu karena tadi berlari-lari. Dia menuju jok kosong di sebelahku. Tubuhku yang kurus agak terangkat sedikit ketika dia menjatuhkan badannya.

”Untung sempat terkejar. Kalau tidak, saya bakal jalan kaki pulang. Anak saya tidak menjemput hari ini,” ucap Bu Nunik.
”Ibu kerja di rumah siapa, sih?” tanyaku pelan.
”Saya tukang masak di rumah Bu Bidan,”
”Oo ... Siang begini sudah pulang?”
”Memang saya kerja dari subuh sampai siang saja. Memasak untuk para bidan yang ada di sana, juga untuk pasien,”
”Ramai ya, Bu?”
”Ya, hampir setiap hari ada yang melahirkan di sana. Bu Bidan sungguh baik, sering mengratiskan pasien miskin. Dasarnya memang sudah kaya, sih. Itu bidan-bidan yang di sana biasanya juga pulang bareng saya. Baru nanti sore ada bidan ganti,”
”Tiap hari menunya lengkap ya, Bu? Daging sapi, kadang jeroan?”
”Saya tidak pernah masak jeroan. Tiap hari masak ayam, atau ikan. Pernah masak sapi, tapi hanya untuk Bu Bidan,”

Aku mengernyitkan dahi keheranan. Hampir tiap hari Bu Bidan membeli jeroan, tapi tukang masaknya tak pernah mengolahnya. Apa mungkin dimasak sendiri?

”Bu Bidan pintar masak juga ya, Bu? Mungkin daging dan jeroan sapi dimasak sendiri,” ucapku.
”Ha ha ha ... Bu Bidan tidak bisa memasak. Merebus air saja gosong.” Bu Nunik terkekeh-kekeh.
”Apa Bu Bidan punya hewan peliharaan? Anjing mungkin?” sambungku.
”Ah, tidak ada hewan di sana. Eh, kurang tahu juga, ya ... Di belakang ada ruangan yang tidak boleh didekati siapapun. Dari dapur sering kali terdengar seperti ada yang menggeram-geram. Tapi entahlah ...”

Bu Nunik turun di ujung jalan menuju rumahnya, meninggalkan bangku kosong yang busanya mulai bertonjolan keluar. Aku tak punya teman mengobrol lagi karena hampir semua penumpang terkantuk-kantuk.

Sesampainya di terminal kota, aku langsung bergegas mencari satu angkutan kota yang akan membawaku ke penjual daging sapi. Hanya sekitar lima menit saja sebenarnya aku naik angkutan ini. Kalau matahari tidak sedang panas-panasnya, berjalan kaki akan lebih menyenangkan. Berhemat pula.

”Semangat sekali, pak Didit. Waduh maaf ini, siang-siang saya mengganggu,” sapaku pada penjual daging yang sedang memotong-motong tulang menggunakan kampak kecil. Di situ ada juga seorang bapak tua yang membantu memasukan potongan tulang ke dalam karung.
”Wah, pak Khamim. Iya ini sedang menyelesaikan pekerjaan terakhir hari ini. Sambil menunggu sampeyan datang,” sahut pak Didit ramah.
”Saya juga buru-buru nih, Pak. Itu pesanan penting,”
”Saya ambil segera. Tunggu sebentar,”

Ketika pak Didit ke dalam, bapak tua yang membantunya itu bertanya,
”Apakah yang pesan jeroan itu seorang bidan?”

Aku terkejut.
”Lho, kok bapak tahu?”

”Apa namanya Bidan Rosma?” Dia bertanya lagi.
”Uhm, iya kalo tidak salah. Kami tidak memanggil nama beliau, hanya kami sebut sebagai Bu Bidan. Karena beliau satu-satunya bidan di desa kami,” jelasku.
”Kalau memang orang itu adalah Bidan Rosma, bapak sebaiknya hati-hati,”
”Ada apa dengan Bidan Rosma?”
”Aduh, tidak enak menceritakannya, karena semua ini hanya kemungkinan. Tidak ada bukti yang bisa ditunjukan. Diduga Bidan Rosma itu penganut aliran sesat. Dia mempunyai peliharaan mahluk astral, atau mungkin binatang buas sebagai pesugihan. Dia itu awalnya miskin lho, lalu kaya mendadak dengan penuh misteri,”
”Oh, ya? Lalu apa hubungannya dengan jeroan yang dibelinya dari saya?”
”Uhm ... Dia membeli jeroan, tapi pasti tak pernah dimasaknya. Coba tanya tukang masaknya. Mungkin jeroan itu yang diberikannya pada mahluk peliharaannya sebagai makanan. Entahlah, tak ada bukti. Hanya kekayaannya yang bertambah dengan tidak wajar itulah yang memancing kecurigaan kami,”

Aku membuka mulut ingin bertanya lagi. Namun urung, karena pak Didit keluar dengan sekantong besar jeroan yang kupesan. Ketika menerima jeroan, aku melirik jam dinding di atas pintu. Ah, waktu begitu cepat berlalu. Sebentar lagi sore, dan aku harus segera pulang.

Sambil berjalan kaki ke terminal, aku mencoba menghubungkan simpul-simpul khayal yang menjurai di otakku. Antara daging dan jeroan sapi yang selalu dibeli, bu Nunik yang tak pernah memasaknya, dan geraman yang didengarnya berasal dari ruang belakang. Lalu cerita Pak Tua yang membantu tukang daging. Pikiranku tergelitik penasaran. Apakah Bu Bidan memelihara harimau? Aih, pemikiran konyol!

~~~~~~~

Celaka!
Gara-gara aku ketinggalan angkutan terakhir, terpaksa aku harus menumpang truk pasir untuk pulang ke desa. Inipun sudah terlalu sore. Aku ingat pesan Bu Bidan agar jangan sampai kesorean, apalagi kemalamam. Tapi apa daya, aku tak sempat mengejar angkutan umum. Ditambah lagi, truk yang kutumpangi berbelok di pertigaan jauh dari jalan menuju rumah Bu Bidan.

Demi pelanggan yang terhormat, lintang pukang aku berlari agar lekas bisa menyampaikan pesanan. Langit yang mulai gelap menambah rusuh hatiku yang sudah sangat terburu-buru.

Rumah dan klinik bersalin itu mudah sekali dikenali. Sebuah gedung tua bercat putih yang letaknya agak terpisah dari perumahan warga. Bu Bidan tidak memasang pagar tinggi dan membuka halaman luasnya untuk bermain anak-anak. Namun area rumah induk terlihat sangat tertutup.

Beberapa orang tampak mondar-mandir di ruang tunggu klinik. Aku tidak melihat ada petugas, bahkan di meja pendaftaran sekalipun. Orang-orang itu mungkin keluarga pasien yang sedang melahirkan. Kulewati mereka menuju ruang lain yang terlihat terang benderang.

”Napas yang teratur, Bu ... Ya, huff... huff..., ikuti aba-aba saya.”
Kudengar suara Bu Bidan di antara suara perempuan yang terdengar kesakitan.

Aku mengetuk pintu yang setengah terbuka. Kulihat Bu Bidan bersama tiga orang bidan muda yang cantik sedang menangani seorang pasien. Meskipun berempat, yang bersuara hanya Bu Bidan saja. Tiga yang muda-muda bekerja dengan mulut tertutup rapat.

”Permisi, Bu. Ini jeroan pesanan ibu. Maaf sekali saya terlambat mengantar,” ucapku sopan sambil membungkuk.

”Bisa tolong ditaruh di dapur, Pak? Maaf ini tidak bisa ditinggal,” kata Bu Bidan sopan.

Bu Bidan lantas menunjuk ke arah belakang. Aku harus melewati semacam koridor untuk mencapai dapur yang ditunjuk Bu Bidan. Entah mengapa aku merinding di koridor ini. Lampunya remang-remang dan angin dingin dari belakang membuat bulu tengkukku berdiri.

Setelah meletakan bungkusan jeroan, aku celingak-celinguk sendiri. Iseng kulongok ke belakang dapur. Aku melihat sebuah ruang terpisah dengan pintu kayu yang tertutup. Mungkin itu ruangan yang diceritakan Bu Nunik tadi siang. Setelah memastikan tak ada yang melihatku di sini, aku melangkah mendekati ruangan itu.

Pintu kayu ini ternyata amat berat. Engselnya berdecit sewaktu kudorong pelan-pelan. Aku mengintip ke dalam ruangan dari celah pintu. Ternyata ruangan ini kosong melompong. Ubin putih tampak berdebu, dan tanpa penerangan. Cahaya yang masuk ruangan ini hanya berasal dari lampu di kebun yang menerobos lewat jendela kaca kecil di tengah dinding. Mungkin ini hanya gudang kosong.

Mengapa kata Bu Nunik ini tidak boleh didekati? Atau mungkin bukan ruang ini, mungkin ruang yang lain. Setelah agak lama melongok-longok bagian bangunan yang lain, aku memutuskan untuk kembali ke ruang depan menunggu Bu Bidan selesai, lalu menyampaikan kembalian uangnya.

Rupanya persalinan sudah selesai, aku mendengar tangis bayi dan beberapa suara lain. Mungkin keluarga pasien sudah diijinkan melihat bayinya.

Aduh, sialan! Baru saja langkahku sampai di dekat jendela dapur, aku melihat Bu Bidan berjalan terburu-buru ke dapur sambil mengangkat sebuah baskom stainless. Kurundukan kepala menghindar dari pengelihatan Bu Bidan. Posisiku di sudut gelap samping jendela membuatku bisa melihat ke dalam dapur tanpa diketahui oleh Bu Bidan. Aku melihat baskom stainless tadi ternyata berisi seonggok daging berdarah. Itu pasti plasenta bayi, alias ari-ari.

Bu Bidan membuka bungkusan jeroan. Dia memasukannya sebagian ke dalam kendi dan menimbunnya dengan garam. Setelah ditutup, dia membuat simpul dari tali lawe untuk membentuk gantungan pada kendi. Persis sama seperti memperlakukan ari-ari. Aku mengerjap-ngerjap memastikan bahwa yang tadi kulihat memang jeroan sapi, dan ari-arinya masih teronggok di baskom.

Dadaku berdebar dan tenggorokanku tercekat. Aku sungguh bingung dengan yang baru saja kusaksikan. Namun belum juga berhasil meredakan debar, aku kembali menyaksikan hal yang lebih aneh lagi.

”Hrrr... Ck... ck... ck.”

Bu Bidan mendecak pelan seperti memanggil binatang peliharaan. Namun yang datang menghampirinya adalah tiga bidan muda yang tadi membantu persalinan. Mereka berebut mengambil baskom berisi ari-ari dan segera membawanya ke ruang kosong berpintu kayu tadi.

Aku mulai berkeringat dingin. Jantungku berayun seperti pendulum membentur-bentur tulang iga. Kudengar samar dari dalam ruang itu suara geram dan seringai galak bersahutan. Binatang apa yang ada di dalam? Mengapa tadi aku tak melihatnya?

Rasa penasaran mengalahkan ketakutanku. Pelan kuhampiri pintu kayu yang terbuka separuh. Dan apa yang kulihat terjadi di dalam ruangan itu membuat jantungku seolah berhenti, darah lenyap dari mukaku, dan sendi gerakku semua kaku.

Tiga bidan muda telah berlumuran darah di mukanya. Wajah-wajah mereka berubah mengerikan, bermoncong dengan gigi-gigi runcing. Tubuh mereka, yang tetap seperti umumnya tubuh perempuan, bergerak liar berebut ari-ari dalam baskom yang kini sudah cabik-cabik. Makhluk apa mereka ini?

BUKK!!!

Hanya sesaat sebelum pandanganku gelap, samar kulihat Bu Bidan di belakangku memegang wajan teflon yang terayun.

~~~TAMAT~~~

Cerpen ini telah dimuat di Majalah Holiday (Taiwan & Hongkong) edisi Juli dan Agustus 2014.