Saturday, September 27, 2014

DERET ENAM ANGKA

Semua yang dia bisa, sudah dilakukannya. Sejak dulu, sejak dia sudah mulai mengerti bahwa keinginannya akan banyak hal, jarang ada yang gratis. Hamdani kecil sudah banting tulang ketika kawan sebayanya masih dijatah uang jajan oleh orang tua mereka. Dan apa yang anak kecil bisa lakukan hanya menghasilkan sedikit saja uang. Itupun lebih banyak karena belas kasihan.

Ketika kawan-kawannya ramai bermain gundu, Hamdani kecil berjualan es lilin keliling kampung. Ketika musim layang-layang tiba, dan ramai orang bermain di sawah kering menjaring angin, Hamdani tekun menyabit rumput untuk kambing peliharaan tetangganya. Sedikit receh bisa dikantonginya dari sekeranjang besar rumput yang merana karena kemarau. Bonusnya adalah beberapa butir cimplukan dan singkong sisa panen di tanggul kali dekat tempatnya menyabit.

Dia punya emak yang wajahnya terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Mungkin beban kemiskinan yang telah merampas binar kemudaannya. Tidak ada bapak. Bukan sudah meninggal, melainkan entah di mana. Hamdani hanya mengenal sosok bapak dari serpihan-serpihan ingatan masa kecilnya. Sejak dia berusia dua tahun bapak lenyap. Bila dia bertanya tentang bapak pada emak, maka yang ditemukannya hanya air mata dan usapan tangan kasar emak di kepalanya.

Ada Umi yang terpaut empat tahun usianya dengan Hamdani. Kakak perempuannya ini hanya bisa di rumah sepulang sekolah. Bergantian dengan emak menjaga Maulana, adik Hamdani yang menderita hydrocephalus. Emak harus bekerja, namun Maulana tidak bisa ditinggal sendirian karena sangat tergantung pada orang lain. Emak kadang pergi ke pasar, menjadi buruh gendong. Atau bila masa panen tiba, emak akan ngasag, mengais butir-butir padi sisa mesin perontok. Maulana malang tidak pernah sempat bertemu bapak. Dia lahir sebulan setelah bapak lenyap.

Hidup miskin membuat emak, Umi, dan Hamdani panik setiap hari. Panik akan apa yang bisa mereka makan hari ini. Sakit yang diderita Maulana menambah nestapa anak-beranak itu. Namun semua itu tidak mampu membuat cinta mereka mati. Kemiskinan lekat menempelkan hati mereka satu sama lain. Ketika malam tiba, saat semua sudah di rumah dan membawa hasil mereka seharian bekerja, maka tergelar drama yang membuat siapa pun tertawa sambil mengeluarkan air mata haru.

”Selamat ulang tahun, kami ucapkan ...”

Umi dan Hamdani menyanyi bersama-sama sambil mengelus tubuh Maulana yang tergolek di atas dipan bambu. Maulana sudah besar, sudah berusia tujuh tahun. Badannya memanjang, namun lemas dan kurus kering. Kepalanya sangat besar dan gepeng. Senyum terkembang dari bibirnya, menampakan deretan gigi hitam. Suaranya tidak jelas, namun sorot matanya-yang selalu terbelalak- tampak gembira sekali. Emak membawa sepiring singkong rebus dan sangrai belalang sebagai menu makan malam mereka. Perempuan kurus itu tertawa melihat ketiga anaknya.

”Makan, makan! Menu istimewa yang akan membuat kita kenyang, sehat, dan tidur nyenyak,” gurau emak dengan suara riang.

Umi dan Hamdani mendekat, mengambil sepotong singkong, dan berebut menyuapi Maulana.

”Aih, Putri Umi dan Pangeran Hamdani makan sendiri saja. Pangeran Maulana biar Ibu Suri yang menyuapi.” Emak masih bergurau.

Di lingkaran lampu temaram, di dalam gubuk bambu, empat manusia bergembira dalam kesenangan yang sangat sederhana. Cinta yang melimpah ruah di antara mereka membuat kebahagiaan itu terasa amat istimewa.

***

Kehidupan berjalan pada titian yang sudah diatur oleh Sang Maha Sutradara. Keluarga sederhana Hamdani pelan berubah. Umi bekerja di Hongkong sebagai pembantu sejak usianya 19 tahun, sejak Hamdani masuk Madrasah Aliyah. Bertahun-tahun bekerja di majikan yang sama, majikan baik yang menganggapnya keluarga. Umi pelan-pelan berhasil mengangkat keluarganya dari jebakan kemiskinan.

Sedangkan Hamdani, setelah lulus Madrasah Aliyah, bekerja serabutan di kota kecil dekat kampungnya. Tiga tahun dihabiskannya untuk mencoba berbagai profesi. Dari sales kasur busa, tukang catat meteran air, pelayan toko obat, sampai tukang rakit lemari instan. Di usianya yang ke 21, dia pergi ke Taiwan, mendaftar bekerja di pabrik keramik di kota Taipei. Dia harus membayar sekitar 20 juta rupiah sebelum berangkat, dan sekitar 25 juta rupiah lagi selama sembilan bulan bekerja dalam bentuk potongan gaji tiap bulan. Modal sebelum berangkat dia dapatkan dari Umi.

Emak tinggal sendirian di kampung, karena Maulana akhirnya kembali ke pangkuan Tuhan ketika usianya menjelang sepuluh. Gubuk bambu sederhana mereka telah berubah menjadi rumah mungil semi permanen yang asri. Emak tidak lagi ngasag, karena sepetak sawah telah berhasil Umi beli untuk digarapnya.

***

Hari itu Hamdani keluar dari 7-11, toko serba ada yang buka 24 jam. Menenteng kantong berisi macam-macam makanan kering dan minuman soda. Dandanannya, meski sederhana, terlihat bagus dan tidak murahan. Tangannya sibuk dengan telepon selular layar sentuh. Agak kerepotan dia.

“Hao le ma?”  Seorang lelaki berkulit putih dan bermata sipit mencolek pundak Hamdani.

”Hao. Hao le,”  sahut Hamdani.

Mereka berdua bergegas ke seberang menuju stasiun kereta cepat. Hari masih sore, dan orang-orang banyak sekali berlalu-lalang di pelataran stasiun itu. Beberapa orang nampak berdiri saja di tengah orang yang bersliweran sambil memegang sebuah kendi dan mengacungkannya pada orang-orang itu. Pengumpul dana sumbangan rupanya.

Lelaki sipit yang berjalan bersama Hamdani merogoh saku, lalu memasukan kertas putih ke dalam kendi.

”Apa yang kau masukkan, Chen? Itu tadi kertas, bukan uang.” Hamdani bingung.

”Ya, itu tadi bon belanjaku di 7-11,” sahut lelaki yang dipanggil Chen.

”Bon? Kamu bercanda?”

”Kamu yang tidak tahu rupanya. Mereka pengumpul dana untuk rumah sosial. Kita bisa menyumbang uang, atau bon belanja. Uang jelas berguna. Bon belanja itu mereka terima karena ada angka seri yang akan diundi. Bila keluar angka itu, mereka akan dapat uang. Daripada kubuang, maka kuberikan saja pada mereka. Kalau bonku yang menang, biar uangnya buat mereka,”

Hamdani takjub mendengar penjelasan itu. Refleks tangannya merogoh kantong dan mengeluarkan bon belanja miliknya. Dia memperhatikan deretan angka di antara centang perenang huruf Cina yang tidak dipahaminya.

”Ayo cepat! Kereta datang!”

Mereka berdua berlarian menuju platform kereta cepat.

***

Pabrik keramik tempat Hamdani bekerja bukan pabrik yang sangat besar. Pekerjanya hanya sekitar 60 orang. Separuh pekerja adalah orang Taiwan, dan sisanya adalah pekerja asing dari Indonesia dan Thailand. Meski tidak besar, pabrik itu memberi fasilitas bagus untuk pekerjanya. Pekerja asing ditempatkan di mess yang bersebelahan dengan pabrik.

Bila waktu shalat tiba, pihak pabrik memperbolehkan pekerjanya shalat secara bergantian. Tempat bersih di samping kantor disediakan untuk itu. Lingkungan pabrik baik dan sehat. Hak-hak pekerja juga diberikan penuh dan tepat waktu. Hamdani beruntung bekerja di pabrik ini. Itulah mengapa waktu hampir dua tahun yang dilaluinya terasa singkat. Hamdani betah dan nyaman.

Malam ini mess sepi, karena kebanyakan teman bekerja lembur. Jatah lembur Hamdani besok malam. Hamdani yang hanya berkaos oblong dan bersarung hilir mudik membereskan kamar. Baju-baju miliknya sendiri dia kumpulkan untuk dicuci.

Ketka mengosongkan saku-saku bajunya, Hamdani tertegun menemukan selembar bon pembelian dari 7-11. Dia teringat cerita Chen soal undian, maka kertas itu disimpannya dalam dompet bersama uang dan kartu identitas miliknya.

Rupanya deretan angka di bon pembelian telah memikat hati Hamdani. Setiap kali dia berbelanja ke 7-11, kertas bon pembelian selalu disimpannya.

”Bagaimana kita tahu bon pembelian ini menang undian atau tidak?” tanya Hamdani pada Chen sewaktu makan siang.

”Uhm, setiap bulan ada pengumumannya di koran. Nanti kamu bisa cocokan. Minimal harus sama tiga angka belakang, kamu akan dapat 200 NT Dollar,” terang Chen.

Hamdani ingin bertanya lagi, namun Chen melanjutkan ucapannya.

”Kalau kamu suka undian seperti itu, beli saja Lotto. Kamu bisa mengadu keberuntunganmu tiga kali seminggu. Angkanya pun bisa kamu pesan. Jadi tidak seperti bon pembelian ini; sebulan sekali dan angkanya hanya menurut mesin kasir saja.”

Ooh, togel rupanya. Hamdani bergumam dalam hati.

”Aku antar kamu nanti ke kios Lotto.” Chen menutup percakapan.

Huk!!
Hamdani tersedak chow tofu atau tahu yang difermentasi dengan berbagai bahan sehingga beraroma sangat menyengat.

***

Kios Lotto terlihat ingar bingar dengan lampu warna-warni dan barang-barang yang bertumpuk berdesakan. Hamdani penasaran dengan cerita Chen tadi siang. Dia bukan tidak tahu bahwa mengadu keberuntungan seperti ini adalah dosa. Namun rupanya Hamdani mulai terseret godaan rasa penasarannya sendiri.

”Ada macam-macam jenisnya. Kamu mau coba yang mana? Harian? Tiga kali seminggu? Mingguan? Atau bahkan yang instant per jam?” Chen memberondong Hamdani yang masih tertegun-tegun di depan kios.

Dan malam itu Hamdani tergelincir melakukan dosa, sengaja melempar dadu mengadu keberuntungannya. Dibelinya selembar kupon Lotto dengan enam digit angka pesanannya seharga  50 NT Dollar. Dia membeli empat baris angka dalam satu kupon, sehingga taruhannya malam itu senilai 200 NT Dollar. Chen menganjurkannya untuk membeli beberapa kupon sekaligus, namun Hamdani menolak. Rupanya dia seperti orang kebanyakan ketika mengenal sesuatu yang baru, ingin mencicipi dulu sebelum benar-benar menelan untuk menuntaskan rasa penasarannya.

Pengundian Lotto malam itu di televisi tidak disaksikan Hamdani. Namun dia mendapat informasi dari Chen melalui pesan singkat. Kupon miliknya tidak menang sama sekali.

”Beli lagi saja. Kuajari cara menebak yang jitu,” saran Chen.
”Bagaimana?” tanya Hamdani.
”Aku punya catatan angka-angka yang sebelunya sudah pernah menang. Kita bisa menebak angka berikutnya dengan rumus-rumus tertentu. Kukenalkan kamu nanti dengan sepupuku. Dia jago merumus,” ucap Chen.

Ada yang mendesak-desak di dada dan tarik-menarik di hatinya. Hamdani bimbang. Dia tahu telah tergelincir dosa bermain judi angka seperti ini, namun rasa penasaran menguasai benaknya.

”Hamdani, hati-hati kamu bergaul di sini. Chen itu memang orang baik, tapi dia bukan muslim. Dia tidak paham kalau minum alkohol dan bermain judi itu haram untuk kita,” nasehat seorang teman sesama orang Indonesia.

Hamdani mengerti itu nasehat baik. Tapi entah mengapa ada yang terusik di hatinya. Dia merasa seperti disentil, tidak menyakitkan tapi membuat telinga dan pipinya panas.

***

Dulu, ketika ada waktu luang, pegangan Hamdani adalah buku dan Al Quran kecil. Meski bukan pemuda yang sangat alim, namun dia mau mengaji dan belajar ilmu agama. Shalat lima waktu juga tertib dipenuhinya, meski kadang tidak di awal waktu.

Sekarang, ketika ada waktu luang, pegangan Hamdani adalah kertas panjang berisi deretan angka-angka. Itu adalah rekapan nomor Lotto yang sudah pernah keluar. Hamdani sudah mulai ketagihan membelinya setelah beberapa kali menembus tiga angka terakhir. Taruhan yang dipasangnya kini bukan hanya beberapa ratus, melainkan sudah beberapa ribu. Dia merasa harus benar-benar menghitung supaya angka yang dipasangnya jitu. Maka dia membuat rekapan itu dan mengikuti cara Chen dan kawan-kawannya merumus. Dia selalu memelototinya tiap ada kesempatan. Sebisa mungkin dia menghindar dari kawan-kawannya. Meski di sini tidak aneh orang memasang taruhan di kupon Lotto, namun Hamdani masih merasa malu dan sungkan. Akibatnya dia mulai kehilangan kawan.

Telepon seluler Hamdani berbunyi, ada panggilan masuk.

Dari Umi? Tumben ... Batin Hamdani.

”Halo ... Assalamualaikum, Mbak,” sapanya.
”Waalaikumsalam, Dan. Mbak punya kejutan, nih.” Suara Umi riang di seberang.
”Apa?”
”Kok kamu sepertinya tidak tertarik? Mbak mau pulang ke Indonesia, dan tinggal di kampung saja dengan emak. Kalau tak ada halangan apa-apa, mbak juga ingin segera menikah. Kamu ingat mas Heri, khan? Kakak kelas mbak dulu,”
”… …”
”Hei! Kok diam saja? Kamu kira-kira bisa pulang cuti di akhir tahun kedua, tidak?”
”Eh, tak tahu lah, Mbak. Pabrik sedang banyak pekerjaan,”
”Ya sudah, tak usah dipikirkan sekarang. Sudah telepon emak?”
Emak?!
Hamdani lupa kapan terakhir telepon emaknya. Apa yang ada di pikiran dan hatinya kini sungguh berbeda. Sejak mengenal Lotto seakan tidak ada hal lain yang lebih perlu dipikirkan.
”Sudah belum?” ulang Umi.
”Iya nanti, Mbak. Eh, ini Dani sedang sibuk, Mbak. Sambung lain waktu, ya,”
”Baiklah. Jangan lupa shalatmu, Dani. Di mana pun dirimu, jangan pernah tinggalkan shalat. Wassalamualaikum,”
”Waalaikumsalam ...”

Selepas berbincang dengan kakaknya, Hamdani terpekur sejenak. Lemari stainless di sebelahnya memantulkan bayangan buram tubuhnya yang masih mengenakan pakaian kerja tebal. Wajah Hamdani kumal. Badannya mulai kurus kurang tidur, karena kebanyakan merumus nomor Lotto. Dia meraba dompet dan segera tahu isinya. Uang sisa gaji bulan ini masih separuh, dan dia merasa tak perlu mengirimkan pada emaknya, karena bulan kemarin sudah kirim.

”Sudah kamu tentukan angka berapa yang akan kamu pasang malam ini?” Suara Chen tiba-tiba terdengar. Hamdani terlonjak.
”Belum,” sahutnya pelan.
”Kalau kamu bingung dengan rumus yang kuajarkan, ada cara lain. Cara yang biasa kami lakukan di sini,” sambung Chen.
Hamdani menatap Chen menuntut penjelasan lebih lanjut.
Chen tersenyum dan segera menarik tangan Hamdani keluar areal pabrik.

***

”Kuil?”
Hamdani heran Chen mengajaknya masuk tempat sembahyang.
”Ikuti aku. Kami biasa meminta berkah pada Dewa Judi untuk memohon petunjuk, nomor berapa yang akan keluar malam nanti,” ucap Chen.
”Tidak, tidak. Silakan kamu yang bersembahyang memohon pada Dewa. Aku menunggu saja di teras,” tolak Hamdani lembut.

Sambil menunggu Chen bersembahyang, Hamdani duduk di teras kuil dengan air mata menitik di sudut matanya. Hanya karena dia lelaki, maka bulir bening itu sekuat tenaga dia cegah untuk jatuh.

Ya Allah ... Ampuni aku ...

Hamdani begitu ngeri melihat dirinya sendiri sekarang. Bermula dari keisengannya mengundi nasib di Lotto, dia hampir saja melakukan dosa yang tidak terampuni; syirik! Undi nasib saja sudah haram. Itu pun sudah ia rasakan menghancurkan hidupnya secara perlahan. Kehilangan teman, karena mulai asyik dengan diri sendiri merumus angka-angka, kehilangan emak karena setiap kali hendak menelepon, dia selalu takut ditanyai apa yang dilakukannya. Dia tahu tidak bisa berbohong pada emak. Hamdani menenggelamkan wajah dalam kedua telapak tangannya. Dadanya naik turun gelisah.

”Aku sudah selesai. Ayo kita ke kios sekarang,” ajak Chen.

Setan masih berjaya atas nurani Hamdani. Meski sudah hampir menangis sewaktu di depan kuil, dia tetap saja memasang angka taruhan di kupon Lotto.

”Ini Lotto terakhirku, Chen.” Hamdani berucap tanpa maksud ingin didengar Chen.

***

Pagi masih buta, langit masih kelabu. Entah, mungkin seharusnya di timur sudah mulai semburat merah, namun mendung membuatnya berwarna kelabu merata. Hamdani terbangun oleh getar telepon selularnya. Ada pesan masuk.

Hamdani memaksa diri membuka matanya yang terasa amat berat. Pesan dari Chen rupanya. Ah, pasti nomor Lotto malam tadi isinya, batin Hamdani. Setengah sadar dia membaca deretan angka yang dikirim Chen. Namun seketika kesadaran penuh mengalir ke seluruh syaraf tubuhnya. Deretan angka itu bukan angka yang asing untuknya. Itu adalah angka pribadi yang sangat dihapalnya.

Semalam, ketika Chen bersemangat sekali membeli kupon, Hamdani justru malas-malasan. Beban perasaan yang ditanggungnya ketika sadar dirinya hampir tergelincir syirik membuat Hamdani tidak lagi peduli dengan segala teori rumusan Lotto yang dipelajarinya. Dia hanya menyebut tanggal lahir orang-orang terdekatnya secara urut ditambah tanggal bersejarah dalam hidupnya. Tanggal lahir Emak, Umi, dirinya sendiri, Maulana, lalu tanggal dirinya disunat, dan tanggal Maulana pergi ke surga.

Hamdani menebak undian itu dengan jitu. Entah berapa uang yang akan didapatnya nanti. Pasti jutaan NT Dollar. Uang sebanyak itu seharusnya membuat Hamdani gembira. Namun yang terjadi saat ini adalah, dia berkeringat dingin dan tergugu menahan tangis.

Kisah hidup di masa lalu berkelebat cepat melintasi ingatan Hamdani. Wajah emak berkali-kali muncul dan menghunjamkan pandangan yang membuat dia ciut. Sosok Maulana dengan kepala yang sangat besar juga seakan mencolok bola matanya. Wajah Umi, wajah seorang lelaki yang mungkin bapak, wajah tetangganya, wajah dirinya,sendiri ketika masih bocah.

Allah ... Allah ... Allah ... Ampuni aku. Aku tak akan mengambil uang itu. Terlalu berat pertanggungjawabanku nanti terhadap-Mu. Sungguh aku tak sanggup. Ampuni aku, Ya Allah ...”

Hamdani terjatuh dalam tangis yang tidak disembunyikannya sedikitpun.

***

Di luar mess, seorang lelaki bermata sipit sedang bicara dengan kawannya yang bermata lebar. Lelaki itu menyerahkan sebuah benda mengilat, dan sebuah amplop.

”Terserah akan kamu apakan orang Indonesia yang punya kupon itu. Aku hanya ingin kuponnya,” bisik suara seraknya.

Mereka berdua bersalaman dan berpisah. Yang satu menjauhi mess pabrik, yang lainnya masuk.

Matahari benar-benar tidak muncul sampai waktu seharusnya dia sudah setinggi tombak. Jam kerja pabrik akan mulai tiga puluh menit lagi. Hamdani terlihat rapi di dalam kamar yang sepi. Diraihnya selembar sajadah dari sandaran kursi dan digelarnya dengan khidmat. Dua rakaat Dhuha ingin ditunaikannya.

Diam-diam, dibelakang Hamdani, lelaki bermata lebar yang membawa benda mengilat mendekat ...

TAMAT
***000***

Footnote:

~Cimplukan : Buah lentera. Tanaman liar yang berbuah seperti tomat kecil dan terbungkus kulit tipis yang mengembung seperti lentera.
~Hydrocephalus: kondisi medis di mana ada akumulasi abnormal cairan cerebrospinal (CSF) dalam theventricles, atau rongga dari otak.
~Ngasag: mengais sisa bulir padi yang tidak terproses mesin perontok atau sudah tidak diambil pemiliknya.
~”Hao le ma?”: (bahasa Mandarin) Sudahkah?
~”Hao. Hao le”: (bahasa Mandarin) Baik. Sudah.
~Lotto: Sport Lottery, undian angka yang diselenggarakan bebas dan resmi di Taiwan.
~Chow Tofu: Tahu bau. Makanan khas Taiwan.

※Cerpen ini adalah salah satu tulisan dalam buku kumpulan cerpen ILUSI MALAHAYU※