Friday, September 5, 2014

BAJINGAN SONTOLOYO [tanpa tanda seru (!!!)]

Hebohnya berita kemarin Pak Ahok bicara keras soal pejabat-pejabat DKI yang menurutnya adalah bajingan. Eh, bagus, dong! Atau jelek?
Ah, lepas dari yang pro maupun kontra, yang jelas saat itu nada Pak Ahok ketika mengucap kata "Bajingan" adalah negatif. Itu artinya, "Bajingan" yang dimaksudnya adalah buruk.

Tunggu dulu!
Benarkah "Bajingan" itu buruk?
Mari jalan-jalan ke masa lalu...

Dalam masyarakat Jawa, Bajingan adalah salah satu jenis profesi yang halal. Sangat berguna pula.
BAJINGAN adalah sebutan bagi orang yang berpekerjaan mengendalikan kereta atau gerobak sapi (kadang kerbau). Orang tersebut boleh jadi bukan pemilik kendaraan tersebut. Mungkin saja mereka adalah orang suruhan yang diupah juragannya.
Di masa lalu, gerobak sapi ini banyak digunakan untuk mengangkut hasil panen, sampai pindahan rumah. Serupa fungsi truk di jaman sekarang.

Satu kata "kasar" lain yang juga digunakan untuk mengumpat atau memaki saat ini adalah SONTOLOYO.
Tahukah kamu, SONTOLOYO juga adalah jenis profesi. Itu adalah sebutan untuk orang yang berpekerjaan sebagai penggembala bebek. Sontoloyo juga mungkin bukan pemilik bebek yang digembalakan itu. Dia bisa saja orang upahan juragan bebek.
Jumlah bebek yang digembalakan si Sontoloyo bisa berjumlah ratusan, bahkan ribuan. Dia akan membawa bebek-bebek itu berpindah dari tempat satu ke tempat yang lain dalam jarak jauh. Kemudian mendirikan kemah darurat untuk istirahat dirinya dan para bebek. Biasanya Sontoloyo akan mencari ladang atau sawah yang habis dipanen, sehingga menyediakan pakan untuk bebek-bebeknya berupa sisa padi.

Naah, kalau sekarang orang memakai kata BAJINGAN dan SONTOLOYO ketika mengumpat, padahal mereka adalah para profesional di masa lalu, maka tidak mustahil di masa depan anak cucu kita akan mengumpat dengan kata "PROGRAMMER" atau "PILOT"

:D