Thursday, September 4, 2014

ISTRI BARU BAPAK

Aku tak sengaja mendengarnya. Percakapan pelan,  hampir serupa bisikan antara bapak dan ajudannya. Aku yakin ini bukan urusan pekerjaan, karena kami sedang berlibur ke pantai. 

”Gadis ini sungguh pintar, calon dokter dari UGM, Pak,” bisik Purnomo, ajudan bapak.
”Sesuai betul dengan keinginanku. Dari dulu aku memang ingin punya istri seorang dokter. Ibu malah seorang akuntan.” Bapak terkekeh-kekeh.

Mendidih darahku. Rupanya bapak bukan lelaki kekecualian. Beliau sama saja dengan lelaki lain yang terlena setelah mendapat jabatan. Dan yang melenakan bapak adalah seorang gadis calon dokter.

Pada pasir coklat terang di pantai Batu Karas ini kutumpahkan kekesalanku. Kilap dari bias ombak yang menciuminya, nampak menyilaukan di pagi hari. Kutinju dan kutendang kuat-kuat pasir yang membisu. Apa salah ibu? Teganya bapak menduakannya. Ibu adalah perempuan yang sangat setia. Beliau bahkan rela meninggalkan kariernya di perusahaan asing demi mendampingi bapak berdinas setelah terpilih menjadi bupati di Ciamis. Ibu cantik dan sangat lembut. Aku saja sampai bercita-cita ingin mencari gadis yang serupa ibuku untuk kuperistri. Atau setidaknya yang memiliki kelembutan seperti beliau.

~~~~~~

Dengan bekal sedikit informasi dari mencuri-curi dengar, aku pergi ke Jogja untuk menyelidiki siapa sebenarnya Dayu, gadis calon dokter yang akan diperistri bapak. Memang ini beresiko, karena data yang sangat tidak jelas. Aku hanya tahu, namanya Dayu dan dia akan lulus tahun ini dari Fakultas Kedokteran UGM. Akan sangat mungkin aku keliru orang. Tapi sudah kepalang basah, aku sudah di Jogja. 

”Cid, kamu harus mencari informasi sebanyak-banyaknya soal gadis itu. Aku hanya punya waktu sebulan sebelum kembali ke Perancis. Liburanku sudah habis,” ucapku pada Ocid, kawan SMA dulu yang sekarang kuliah di UGM.

”Berat juga, Har. Informasimu sangat minim. Ah, semoga saja Dayu itu nama asli, bukan hanya panggilan,” kata Ocid.

Kunyalakan telepon selular yang dari tadi kumatkan. Wah, banyak sekali panggilan yang masuk rupanya. Belum sempat kulihat nomor-nomor itu, telepon selularku berbunyi. Panggilan dari rumah.

”Assalamualaikum,” salamku.

”Waalaikumsalam. Kamu di mana? Kok dari pagi sudah tidak aktif? Bapak mau ajak kamu ke Cukang Tanueh, lho,” cecar suara ibuku dari Ciamis.

”Harlan di Jogja, Bu. Sedang menemui teman, si Ocid. Ibu ingat, bukan?” Aku tak bisa berbohong pada ibuku rupanya.

”Waduh, ke Jogja kok nggak ngomong dulu. Har, kamu ngomong sendiri, nih, sama bapak. Dari pagi bapak uring-uringan mencari kamu. Nih, Pak ...” Suara ibu menjauh.

”Sudah, ibu saja yang ngomong.” Kudengar suara bapak pelan.

Entah mengapa aku merasa seolah ada pendulum berayun-ayun memukuli dinding jantungku. Nyeri mendengar suara bapak.

~~~~~~

Cuaca dingin yang kutinggalkan di Perancis membuatku sangat menyukai matahari musim hujan di Jogja. Tadinya aku akan langsung pulang, namun Ocid ingin mengajakku ke pantai Drini. Aku belum pernah ke sana, maka aku penasaran. Ocid bilang pantai Drini sangat indah. Baiklah, aku pun perlu menyegarkan pikiran dengan jalan-jalan. 

Malam ini aku menginap di kamar kost Ocid yang sempit. Seharusnya aku juga bisa menikmati suasana malam di Jogja, namun hatiku seperti membeku. Dingin dan mati rasa. Tak ada hiburan apapun yang kuinginkan kali ini.

Karena tak tahu jalan, aku menurut saja diajak berputar-putar dulu oleh Ocid. Aku membonceng saja dengan tenang di motor butut ini.

”Kita muter ke Piyungan dulu, ya. Aku harus menyerahkan hard disk berisi data ini ke kawanku,” seru Ocid dengan suara berbaur angin.

Aku hanya mengacungkan jempol saja tanda setuju.

Pagi bermatahari di musim hujan, membingungkan. Sinar menyorot terang, namun awan hitam bergumpal kecil-kecil beriringan menimbulkan bayangan awan belang-belang di wajah bumi. Kami berkendara dengan kecepatan sedang, maka kentara sekali bayangan awan ini menimpa kami. Sesaat seperti mendung, namun sepelemparan batu jalan yang kami lalui terang benderang.

Ah, sialan! Ocid menyetir motor sambil menelepon. Sungguh berbahaya. Kutepuk-tepuk pundaknya untuk mengingatkan. Namun kawanku itu tetap menelepon.

Ciiiiiii...ttt!! Braakk!!!

Semua serba cepat. Aku bahkan tak melihat truk yang tiba-tiba saja menyenggol motor kami. Aku tidak pingsan, namun mataku berkunang-kunang. Kakiku nyeri luar biasa. Ocid entah di mana. Orang-orang ramai berdatangan dan menolongku. 

”Kawan saya, Pak ... Dia di mana?” Aku berucap sambil menutup mata, pusing luar biasa.

”Kawan Mase sudah ditolong. Ndak apa-apa, Mase ... Ini dekat puskesmas. Mase tenang, ya,” ucap seorang bapak yang menggotongku bersama dua orang lainnya.

Entah apa yang terjadi pada Ocid, aku tak tahu. Aku juga tidak sepenuhnya tahu keadaan diriku sendiri. Kesadaran masih kukuasai, namun kepalaku pusing sekali. Aku pasrah saja dirawat orang-orang di puskesmas ini, dan hampir sepanjang waktu aku hanya terpejam. Yang kutahu, aku ditangani oleh seorang perempuan, entah perawat entah dokter, yang mengenakan jilbab lebar.

~~~~~~

Rencanaku mencari tahu tentang Dayu di Jogja berantakan semua. Aku kecelakaan dan mau tidak mau harus pulang ke Ciamis. Tidak parah memang luka yang kuderita, namun cukup menyakitkan. Lutut, mata kaki, dan kelingking kaki kiri terbaret di aspal. Kulitnya mengelupas sampai hampir ke tulang. Bukan lagi darah yang keluar, melainkan juga beserta cairan bening kekuningan yang anyir.

Tapi dari peristiwa ini, aku jadi kenal Wastu, perawat cantik berjilbab lebar yang menanganiku saat itu. Wastu adalah dokter asal Pangandaran yang berdinas di puskesmas Piyungan. Aku jatuh cinta dengannya, pada pandangan pertama.

Dan karena kecelakaan ini pula bapak menertawakanku tiada henti sepanjang hari. Ibu juga, setiap kali melihatku, beliau tersenyum. Padahal aku sangat tahu, pasti beliau sedang berusaha mati-matian menahan tawa. Bagaimana tidak, bapak bisa menebak maksudku ke Jogja dengan sangat jitu.

”Kamu pasti hendak mencari Dayu. Iya, kan?” tebak bapak.

”Bapak tahu dari mana? Pokoknya Harlan tidak rela ibu diduakan,” kataku ketus.

”Dayu itu gadis yang baik. Bisa ibu andalkan untuk sesekali mendampingi bapak berdinas,” ucap ibuku.

Bagai disengat ribuan semut api, aku meradang.

”Lho? Ibu kok malah mendukung bapak berpoligami? Kalau ibu ingin meraih surga, carilah pintu yang lain, Bu. Poligami tidak akan membahagiakan keluarga kita,” sergahku.

Bapak dan ibu tertawa bersamaan. Aku jadi semakin jengkel.

”Apa sih, kamu ini. Siapa yang mau poligami? Dayu itu, gadis yang kami pilihkan untukmu, untuk menjadi istrimu.” Ibu berucap di sela tawanya.

”Usia sudah kepala tiga, jelajah sudah sampai Perancis segala, tapi tak seorang gadis pun kau kenalkan pada kami. Kami ingin kamu segera menikah, Har,” sambung bapak.

Pipiku mungkin memerah. Sungguh aku sangat jengah saat ini. Malu, senang, juga sedikit kesal, campur aduk jadi satu.

Dayu ... Seperti apa gadis itu? Dia terdengar begitu memesona kedua orang tuaku. Tak kupungkiri rasa penasaran ini, meski hatiku telah tercuri oleh Wastu.

~~~~~~

”Sudah bisa pakai sepatu?” tanya ibu.

Aku menganguk sambil mengelus luka yang sudah mengering.

”Nanti agak siang, kita ke Cilacap. Ke rumah Dayu,” sambung ibu sambil menepuk bahuku.

Dadaku berdesir. Aku merasa aneh dan bingung. Bayangan Wastu yang anggun mulai tersamar oleh sosok Dayu yang kureka-reka sendiri.

Pukul 11 siang kami bertiga berangkat dengan mobil kecil. Bapak menyetir, di sebelahnya duduk dengan anggun ibuku yang berbaju kurung. Aku duduk di belakang memangku dus besar berisi kue-kue untuk buah tangan.

Ketika melewati Pangandaran, pikiranku dipenuhi sosok Wastu yang hanya sekilas kukenal. Betapa konyolnya, aku bahkan tak bertanya di mana tepatnya rumah Wastu. Kota ini begitu luas. Kecil kemungkinan aku bisa menemuinya di sini, kecuali bila aku kembali ke Piyungan, ke klinik tempat Wastu bertugas.

Maka ketika keluar dari kota, melewati perbatasan propinsi Jawa Barat-Jawa Tengah, aku memutuskan untuk berpikir realistis. Mungkin tak ada salahnya menuruti skenario orang tuaku untuk masalah ini.

Meskipun tak sepenuhnya lega, namun ketika mobil kami masuk kota Cilacap dan terus melaju menuju daerah Perumahan Pegawai Pertamina, aku sudah bisa tersenyum dan membuka hati. Bersiap untuk bertemu seorang gadis yang mungkin kelak menjadi istriku.

Rumah di komplek ini tidak begitu mewah, namun terlihat asri. Halaman luas berumput Jepang, dengan palem botol dan bebungaan aneka warna membuat lingkungan ini teduh dan menyenangkan. Kami berhenti di depan rumah bercat hijau yang tak berpagar. Seorang lelaki paruh baya tampak sudah menunggu.

”Assalamualaikum,” sapa bapakku begitu turun dari mobil.

”Waalaikumsalam. Mari silakan masuk,” sahut lelaki itu ramah sambil menyalami kami.

Ketika melangkah ke teras, aku sangat terkejut ketika sekilas seperti melihat bayangan Dayu melintas di ruang tamu. Hampir saja kotak kue yang kutenteng jatuh. Cepat-cepat kusampaikan buah tangan itu pada nyonya rumah begitu beliau menyambut di ruang tamu. Kami dipersilakan duduk di kursi klasik yang elegan.

”Dayu, ini tamunya sudah datang. Ke sini, Nak,” seru perempuan anggun itu.

Seorang gadis berjilbab keluar dengan langkah mantap. Jantungku berdesir penasaran. Dan ketika kami bersitatap, dadaku serasa meledak.

”Lho?! Wastu?!” Seruku.

”Eh, lho?! Mas... Aduh siapa ya namanya, lupa. Mas yang jatuh di Piyungan, kan?” Sahut gadis itu.

Empat orang tua saling berpandangan melihat kami saling tunjuk-tunjukan. Lalu meledak tawa di ruang tamu itu.

”Wah, ha ha ha ... Ternyata kalian sudah saling kenal. Baguslah. Kami tidak perlu lagi ambil bagian dalam pertemuan kalian. Ha ha ha ...” Ayahku terkekeh.

”Oh, tidak, ini harus diluruskan. Ini Dayu dan Harlan kenal di mana, dan sedang apa?” Ayah Dayu bicara agak serius meski wajahnya diliputi senyum.

”Ehm, Wastu ... Eh, Dayu ini yang menolong saya sewaktu kecelakaan di Jogja. Kami hanya bertemu sekali itu saja, Pak,” jawabku agak grogi.

”Harlan itu ke Jogja buat cari Dayu sebetulnya. Tapi malah ketemu Wastu. Ha ha ha ...”  Bapakku masih terkekeh-kekeh. 

Tiga perempuan di ruangan ini juga saling tertawa dan berceloteh riang menanggapi kejadian tak terduga ini. Wajahku mungkin merah seperti udang rebus. Tapi aku bahagia melihat wajah Dayu alias Wastu yang juga tampak gembira.

Wastu Sedayu, gadis pilihan bapak yang tenyata juga adalah gadis yang telah merampas habis hatiku ketika bertemu di Puskesmas Piyungan. Keluarga mereka memang dari Pangandaran, namun Sang Ayah yang menjadi karyawan Pertamina mendapat fasilitas rumah dinas di Cilacap.

Entah bagaimana nanti cerita yang akan kami rajut. Namun segala rangkaian peristiwa yang menuntunku bertemu gadis ini mampu meyakinkan bahwa dia adalah jodohku.

※TAMAT※

Cerpen ini telah dimuat di Majalah TIM International (Taiwan) edisi September 2014