Wednesday, May 21, 2014
TITIK HITAM
Gemelutuk gerahamku beradu menahan geram. Ini benar-benar mengesalkan. Mereka mudah sekali mengejek dan menjadikanku bahan tertawaan. Semua gara-gara benda sialan ini, sebuah titik hitam sebesar kedelai yang menempel di sisi kanan hidungku: tahilalat.
”Kalau sebesar itu namanya bukan tahilalat lagi, itu tahi kambing,”
”Wah, mungkin hidungmu tuh, yang bentuknya mirip toilet, jadi lalat buang tahi di situ. Hahahaha ...”
”Kamu mandi nggak, sih? Jorok amat sampai lalat menclok dan berak di hidungmu?”
Itu hanya sebagian kecil dari olok-olok orang terkait dengan tahilalat sialan ini.
Karena itulah, sekarang aku di sini. Di ruang tunggu dokter bedah kecantikan. Ini adalah kunjungan ketigaku. Kunjungan diam-diam, tanpa sepengetahuan suami, keluarga, maupun teman-temanku. Aku ingin membuang titik hitam yang buruk ini. Menghentikan segala seloroh dan ejekan orang padaku.
Kunjungan pertama dan kedua adalah untuk konsultasi dan periksa. Dokter bilang, tahilalat ini biasa saja, bukan tumor berbahaya meskipun membesar pelan-pelan. Kalau mau dibiarkan, tiada mengapa. Namun bila ingin membuangnya juga mudah. Yaitu melalui tindakan bedah ringan yang makan waktu tak lebih dari sejam.
Aku mendapat antrian sebagai pasien nomor tujuh. Kulihat perempuan memegang kertas antrian nomor dua masih menunggu. Oh, dokter baru menerima satu pasien di dalam. Maka berarti giliranku masih lama. Tak mengapa, aku punya banyak waktu. Hari ini aku libur bekerja, sedangkan suamiku lembur sampai malam. Zizi anakku, seperti biasa diasuh oleh ibu mertuaku. Aku sudah memerah ASI dan menyimpannya di kulkas. Jadi Zizi tak akan kekurangan susu. Lagi pula, minum ASI perah sudah terbiasa baginya, karena tiap hari kutinggal bekerja. Anakku itu hanya menyusu langsung padaku di malam hari.
”Sakit apa, Bu?” Aku mencoba berbasa-basi pada ibu dengan antrian nomor dua itu.
”Ini.” Sungguh singkat jawabannya. Ibu itu hanya menunjukan ruam merah di punggung tangannya. Entah sakit apa.
Aku membuka mulut hendak bertanya lagi, namun asisten dokter memanggil sang ibu untuk masuk ruang periksa. Mulutku kembali terkatup.
Pasien lain terlihat sibuk sendiri-sendiri dengan gadgetnya. Aku yang memang sengaja mematikan telepon genggam supaya tak ada yang tahu aku di sini, malah jadi salah tingkah tak tahu bagaimana mengisi waktu menunggu ini.
Di pojok bangku kulihat ada tumpukan majalah. Kuambil satu majalah wanita dan membolak-balik halamannya yang nyaris dipenuhi iklan. Tapi karena aku tidak suka membaca, maka kantuk langsung datang begitu kulihat tulisan. Berat sekali mataku ini.
Aah ... Untung giliranku telah tiba. Aku masuk ruang dokter dengan hati berdebar-debar.
************
Luar biasa!
Ini memang dokter juara. Tahilalatku berhasil dihilangkan dalam waktu singkat, dan tanpa rasa sakit sedikitpun. Bahkan tanpa bekas. Hidungku yang tidak terlalu mancung ini sekarang bersih dari titik hitam yang mengganggu. Wajahku terlihat makin bersinar. Tak jemu aku bercermin di depan wastafel ruang operasi ini. Kupatut-patut diriku. Aih, sungguh berbeda.
”Semua sudah beres. Ibu silakan selesaikan urusan administrasi dengan asisten saya. Sebenarnya ibu tak perlu obat apa-apa. Tapi untuk berjaga-jaga, saya beri resep kecil saja. Konsumsi obatnya hanya jika ada yang terasa sakit. Kalau ibu baik-baik saja, obat itu tidak perlu diminum,” jelas dokter sambil menulis di kertas resep.
”Terima kasih,” sahutku.
Urusan pembayaran dan menebus resep di apotik kulakukan dengan sangat cepat. Aku sungguh tidak sabar ingin segera keluar. Bertemu dengan orang-orang yang selama ini mengejekku. Biar mereka melihat wajahku sekarang dan dunia akan segera tahu, ini aku: Listi tanpa tahilalat di hidung. Dan aku cantik.
Langkahku ringan keluar dari gedung asri itu. Sebenarnya aku bisa saja langsung pulang, namun aku ingat ada reuni kecil di rumah salah satu kawan SMA. Semacam arisan alumni untuk menjaga keakraban yang terjalin sejak sekolah dulu. Aku bersemangat ingin datang meski tidak ikut arisannya. Di antara semua yang mengejekku, kawan-kawan SMA inilah yang paling kejam. Biar mereka yang pertama kali tercengang melihatku tanpa tahilalat.
”Hai!” sapaku riang pada Citra.
Citra adalah kawan sebangku waktu kelas 3 dulu. Dia juga adalah orang yang kerap mengejek tahilalat ini.
Citra tampak agak terkejut, namun lalu justru seperti orang yang tak kenal denganku. Aih, sebegitu berubahkah diriku?
”Hai, maaf saya agak lupa. Mbak siapa ya?” tanya Citra.
”Listi. Duuh ... Masak sampai lupa dengan teman sebangku.” Aku menggamit lengannya penuh keakraban.
”Oo ... Ya, ya ... Maaf ya. Perasaan dulu kamu cantik sekali dengan tahilalat di wajahmu. Sekarang kok jadi seperti wajah permak silikon?” ucap Citra menohok tepat di ulu hatiku.
Aku tercekat. Lebih-lebih ketika bertemu kawan lain yang ternyata juga tidak langsung mengenaliku. Alih-alih memuji kecantikanku, mereka justru menyayangkan tahilalat itu hilang. Meski tidak melihat, aku bisa merasakan mereka berbisik-bisik membicarakanku. Sepanjang acara arisan aku terkucil. Aku menunduk dan mulai kehilangan percaya diri, lebih dari sekedar ketika aku diejek dulu.
*** *** ***
Sungguh aku ingin menangis tadi. Menyesal sekali datang ke acara arisan reuni hanya untuk dikucilkan. Yang sekarang aku inginkan hanyalah pulang dan bertemu suami, anak, dan saudara-saudaraku. Aku butuh dukungan atas hilangnya tahilalat ini dari wajahku. Aku ingin seseorang memujiku cantik, meski hanya lewat senyuman.
”Maaas ... Lihat kemari. Istrimu datang dengan wajah baru yang lebih cantik.” Aku berucap manja sambil tersenyum ketika masuk ke ruang tamu. Kulihat suamiku sedang menggendong Zizi sambil memegang balon.
Tapi reaksi suamiku benar-benar di luar dugaan. Kupikir dia akan senang dengan perubahan wajahku ini. Namun dia malah mengernyitkan dahi dan menatapku dingin.
”Kamu tuh, kenapa? Wajahmu jadi aneh begitu? Seharian ini kamu pergi kemana?” cecar suamiku.
”Aku ke dokter. Aku menjalani operasi kecil untuk membuang tahilalat yang mengganggu ini. Maaf aku tidak bilang dulu. Tapi cantik kan, Mas?” Meski sebenarnya syok, tapi aku tetap berusaha bermanis-manis pada suamiku.
”Aku menikahimu memang bukan karena kecantikan. Tapi kalau boleh aku jujur, kamu jauh lebih cantik dengan tahilalat di sisi hidungmu. Aku menyukainya. Tidakkah kamu merasa, hampir tiap hari kucium kamu di tahilalat itu?”
Kali ini aku benar-benar syok. Dadaku sesak, dan leherku tercekat seperti menelan sebutir biji salak. Tangisku meledak ...
Sungguh aku menyesal membuang tahilalat yang sebenarnya tidak mengganggu sama sekali ini. Aku terlalu mengambil hati setiap ejekan orang yang sebenarnya justru karena perhatian. Aku terlalu emosi dan cepat tersinggung.
Dan hatiku benar-benar hancur ketika ingin mengambil Zizi untuk aku susui. Zizi menangis dan menolak uluran tanganku. Entahlah, mungkin karena melihatku menangis, anak itu tidak mau kupeluk. Namun ketika aku menyeka air mata, dan kembali mengulurkan tangan, Zizi tetap bertahan memeluk suamiku semakin kencang.
Dengan kesabaran, akhirnya aku bisa memangku Zizi. Dadaku masih naik turun menahan tangis ketika membuka kancing baju hendak menyusuinya. Dan seperti refleks, tangan Zizi meraih hidungku. Sejak bayi dia memang selalu menyentuh dan bermain-main dengan tahilalatku ketika menyusu. Ketika tahilalat yang dicarinya tak ada, Zizi menangis sangat kencang. Dia berontak dari pangkuanku.
Remuk redam perasaanku. Kebahagiaanku hilang hanya gara-gara ingin membungkam ejekan orang-orang. Dan sebenarnya ejekan itu tidaklah serius. Aku saja yang terlalu cepat tersinggung. Kini aku menyesal. Sangat menyesal. Tangisku pecah lagi tanpa bisa kutahan.
*** *** ***
”Bu ... Bu ... Maaf, sekarang giliran ibu masuk ruangan. Ibu nomor tujuh, kan?”
Kurasakan seseorang mengguncang pelan pundakku. Aku membuka mata, dan kulihat asisten dokter berdiri di sampingku. Ouh, rupanya aku tertidur tadi. Dan aku bermimpi!
Astaga! Mengerikan sekali mimpiku tadi. Kuraba hidungku ...
”Aaah ...” Aku mendesah lega.
Tahilalat ini masih menempel di sisi kanan hidungku. Kurasakan keringat meleleh di pelipis, padahal ruang tunggu itu sejuk.
”Giliran ibu sekarang. Silakan masuk,” ucap asisten dokter itu sambil tersenyum.
Aku membalas senyumnya dan bangkit dari kursi yang nyaman itu. Kuserahkan tanda nomor antrian itu kepadanya.
”Maaf, saya tidak jadi membuang tahilalat ini,” Senyumku masih merekah.
Asisten dokter itu tampak sangat heran. Ah, aku tak peduli. Kulangkahkan kakiku mantap keluar dari tempat dokter bedah kecantikan itu. Pulang.
***** ******
Dimuat di Majalah TIM International, Taiwan
Edisi Mei 2014
Saturday, April 26, 2014
LELAKI TUA DAN ANGKA-ANGKA
Siang itu, dia duduk saja di dekat tempat sampah depan rumahku. Mengorek sampah, mencari kertas.
Ya, kertas.
”Paman suka menulis, ya?” tanya Embun, anaku.
Aku terkejut. Orang kurang waras ini ditakuti banyak anak kecil. Tapi tidak dengan Embun. Anaku yang baru sekolah TK itu malah mendekatinya. Senyum yang lebih mirip seringai juga tak membuat Embun mundur. Gadis kecilku lantas mengaduk-aduk tas sekolahnya, lalu memberi lelaki itu pensil bekas miliknya.
Meski agak khawatir, kubiarkan saja Embun bicara dengannya. Kulihat dia tidak berbahaya. Wajah hitam celemotan, rambut berantakan, namun sorot matanya ... Entahlah. Seperti mata orang yang sedang menanti sesuatu yang besar, yang menyenangkan. Ketika nenerima pensil dari Embun, tampak sekali dia kegirangan. Dengan cekatan ditatanya lembar-lembar kertas yang didapat dari tempat sampah. Lalu langsung serius menulis.
”Ayo, masuk. Ganti baju dulu,” ajakku pada Embun.
Anakku berjalan setengah melompat membuat kuncir ekor kudanya bergoyang-goyang.
*****
Aku warga baru di komplek ini, jadi belum paham siapa lelaki dekil kemarin itu. Meski begitu, Embun tak kularang ketika menghampirinya lagi dan memberi kertas lebih banyak. Asal tidak mengajaknya masuk rumah, kurasa tidak apa-apa.
”Bu Edi, anaknya tidak takut sama pak Gondrong?” Ucap bu Mus saat sama-sama menjemput anak di sekolah.
”Oo ... Itu namanya pak Gondrong? Iya, tuh, Embun tidak takut. Malah berani menghampirinya. Dia tidak berbahaya, kan, bu?” tanyaku.
”Tidak. Pak Gondrong tidak galak, tidak akan menyakiti siapapun. Tapi tetap harus hati-hati. Namanya juga orang gila, kita mana tahu kalau tiba-tiba dia berubah,”
”Dia warga asli sini? Kenapa bisa seperti itu, Bu?”
”Iya. Orang sini saja. Masih punya beberapa saudara kok. Tapi anak istrinya sudah tidak tinggal di sini,”
”Lho, punya anak? Sudah seberapa besar?”
”Mungkin sekarang sudah lulus kuliah. Ah, pak Gondrong itu ... Bagaimana, ya ... Kasihan sebenarnya. Tapi ya ... salahnya sendiri juga,”
Aku diam, tapi mataku menatap bu Mus mengharap ceritanya diteruskan. Rupanya bu Mus juga mengerti arti tatapaku.
”Nama sebenarnya pak Yanto. Sebenarnya dia bukan orang yang malas. Dia dulu bekerja di pabrik meubel. Istrinya orang jauh, anaknya satu, laki-laki. Gaji pak Yanto lumayan, cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Cuma sejak dia kenal togel, dia seperti orang yang ketagihan membeli togel,”
Aku mengangguk-angguk mulai mengerti.
”Beberapa kali nomer yang dibeli pak Yanto tembus dan menang. Namun jumlahnya kecil-kecil. Rupanya kemenangan beberapa kali itu membuat pak Yanto ketagihan. Uang belanja untuk istrinya mulai dikurangi demi membeli togel. Lama-lama uang jatah bayar sekolah anaknya kena juga. Sampai akhirnya seluruh hasilnya bekerja dia pasangkan togel.
Tentu saja rumah tangganya kisruh karena hal ini. Istrinya tidak tahan, lantas pergi ke Jakarta untuk bekerja menjadi pembantu. Anaknya dititipkan pada neneknya.
Ditinggal istri begitu, bukannya sembuh, kegemaran pak Yanto akan togel malah semakin parah. Dia bahkan sampai pergi ke dukun dan berkunjung ke tempat-tempat yang tidak jelas demi mendapat nomor yang jitu.
Sampai suatu hari, pak Yanto merasa sangat yakin dengan nomor yang dipasangnya. Dia bertaruh banyak sekali, bahkan sampai menggadaikan surat tanah miliknya. Sebenarnya semua keluarga sudah mengingatkan, bahkan melarang. Tapi pak Yanto benar-benar sudah sangat yakin. Bahkan dia sampai bersumpah, kalau nomornya tembus, dia akan membakar rumahnya, kemudian menggantinya dengan bangunan yang bagus.
Pada malam pembukaan togel, tengah malam pak Yanto teriak-teriak seperti orang kesurupan. Dia berlari dari ujung jalan sambil tertawa dan teriak,
”Aku menang! Aku menang!”
Para tetangga tentu saja banyak yang keluar melihat pak Yanto seperti itu. Benar-benar seperti orang gila. Konon angka yang dibelinya benar-benar jitu. Dan karena dia pasang banyak, maka hadiah yang didapatnya juga banyak. Katanya lebih dari 300 juta rupiah. Pak Yanto kelewat senang. Dan celakanya, dia benar-benar mewujudkan sumpahnya membakar rumah. Tentu saja para tetangga kelabakan takut rumah mereka ikut terbakar. Mereka ramai-ramai membawa air untuk memadamkan api yang mulai membesar. Pak Yanto tetap tertawa dan menari-nari. Dia melemparkan satu persatu pakaiannya ke dalam api.
Baru ketika tetangga mulai ingin ikut melihat nomor yang jitu itu, tiba-tiba pak Yanto terdiam dan gemetaran. Matanya nanar memandang kobaran api yang membakar rumahnya. Rupanya dia lupa, bahwa lembaran kertas togel sebagai bukti kemenangannya ada di dalam saku baju yang tadi dilemparnya ke dalam api. Pak Yanto histeris. Hampir saja melompat ingin menyelamatkan baju dan kertas yang sudah hangus terbakar andai tidak dipegangi oleh tetangga-tetangganya.
Sejak itu pak Yanto jadi gila. Istrinya pulang menjemput anak mereka, dan kembali lagi ke Jakarta.
Cerita bu Mus sama sekali tak kusela. Ini benar-benar seperti cerita drama televisi. Atau mungkin drama televisi yang menceritakan kejadian nyata.
”Bu, ini buat paman yang rajin belajar itu, ya ...” ucap Embun sambil menunjukan buku tulis baru.
”Kasih kertas bekas saja, Nak. Paman Gondrong cuma ingin corat-coret saja,” sahutku.
”Ah, biarlah, Bu. Biar paman lebih semangat belajar. Nanti aku tanya cita-citanya apa,” sahut Embun.
Kembali dari memberi buku, Embun tampak membawa kertas.
”Ini dari paman buatku. Eh, kok paman bikin gambar begini ya, Bu?” tanya Embun sambil menunjuk lembaran kertas.
Pasti itu mimpi pak Yanto, alias pak Gondrong.
Penulis Cerpen : Erin Cipta
Terbit di Majalah IndosuarA Taiwan, Edisi April 2014
Thursday, April 17, 2014
Nenek Lincah Ratu Drama
Apakan nenek kasar? Tidak.
Apakah nenek galak? Juga tidak.
Pelit? Oh, nenek murah hati.
Lalu apa masalahnya?
”Nenek yang membelikan, entah di mana,” sahutku.
”Wah, baik sekali nenekmu itu. Hampir tiap bulan lho, kamu dibelikan baju.” Teteh Win berseru.
”Dan bawel sekali, Teh. Aku kadang sedih,”
”Halah ... Kalau soal bawel itu, biasa ... Orang tua memang rata-rata begitu. Biarkan saja,”
Tok tok tok!
”Hao ...” kudengar suara nenek pelan masih mengantuk.
”Sudah setengah delapan, Nek,” Ucapku pelan juga.
”Cia she wu fen chong, ni ciao wo. Wo yao siu si i sia.” Suara nenek masih terdengar mengantuk.
”Hao,” sahutku, lalu kuberanjak.
Setelah lima belas menit, kuketuk lagi pintu kamar.
Pintu kamar dibuka buru-buru dan kulihat Nenek sangat gugup keluar.
”Haiyah! Kenapa kamu telat membangunkan aku?” semprot nenek tanpa basa-basi.
”Hah?! Bukannya tadi ...” aku tercekat.
”Kunci!” teriaknya.
Aku tergopoh-gopoh mengambil kunci dari laci. Nenek berjalan tergesa ke lemari sepatu.
”Kaca mata!”
Kutunjuk wajah nenek ragu-ragu. Nenek hanya ber-Ooh ketika sadar barang yang dicarinya sudah dipakai.
”Handphone!”
Ugh! Aku lari lagi ke meja koran tempatnya biasa mengisi batere handphone.
”Minum!”
BLARR!!!
”Itulah istriku. Ha ha ha ... I love her !”
***
***
”Santai saja menghadapi nenek. Jangan ikut panik,” nasehat kakek berkali-kali padaku.
”Yuyun, aku lapar. Tolong buatkan mi kuah, ya,” pinta David sopan.
Malang tak dapat ditolak. Nenek ikut terjun ke dapur membantuku membuat mi.
”Tambahkan daging cincang, supaya enak,” kata nenek.
”Tapi David sukanya bakso ikan, Nek,” protesku.
”Aah, aku lebih tahu. Aku kan ibunya. Sudah masukan saja,” sergah nenek.
”Mi sudah siap. Silakan dinikmati.” Kupersilakan David menikmati mi kuah tanpa bentuk itu.
”Tadi nenek yang menyuruhku membuatnya begitu. Maaf,” ucapku.
”Mama!” panggil David.
Rupanya nenek sudah mengerti situasi, dan langsung nyerocos.
Baru saja kuselesaikan kerjaku dan mencuci tangan, suara nenek sudah kembali menggelegar.
”Yuyun, kolai !” panggilnya.
Apa lagi?! Kursinya rusak dan aku dituduh merusaknya?
Tanpa terasa aku mengumpat dalam hati. Rupanya aku mulai jadi pendendam.
”Hao,” jawabku pendek.
”Dicoba dulu, sana! Sudah jangan sedih. Maafkan nenek,” ucap kakek.
”Besok bangunkan aku jam 7 tepat. Jangan telat!” pesan nenek mengakhiri pekerjaanku hari itu.
---#TAMAT#---
Catatan:
”Cia she wu fen chong, ni ciao wo. Wo yao siu si i sia”
(Lima belas menit lagi, kamu panggil aku. Aku mau istirahat sebentar)
Terbit di Majalah TIM International Taiwan, Edisi 79, April 2014
Thursday, April 10, 2014
Taman Indah dengan Pupuk Cair Aroma Buah
![]() |
| Pyramid Tree |
![]() |
| Pot Lucu |
Sebenarnya dulu, pada tahun 2010 aku pernah praktek serius membuat pupuk cair ini. Waktu itu aku bekerja di toko meubel yang bertetangga dengan kios buah. Tiap hari, ketika menunggu jemputan pulang, aku selalu melihat banyak buah afkir yang dibuang pemilik kios. Aku ingat pernah membaca di internet tentang pupuk cair aroma buah. Maka demi melihat buah-buahan itu hanya berakhir menjadi sampah, aku meminta pemilik kios itu untuk tidak langsung membuangnya ke bak sampah esok hari. Akan kubawakan ember untuk menampung buah afkir yang tidak terjual, dan kubuat pupuk untuk tanaman.
e! Fertile.
![]() |
| Pupuk Cair Aroma Buah e! Fertile |
Berikut bahan-bahannya:
- Buah-buahan afkir, atau sisa kulitnya, atau yang tidak termakan. Yang busuk pun tidak apa-apa. Sertakan semua bagiannya, daging buah, kulit, maupun biji.
- Gula pasir putih, atau gula merah, atau gula aren.
- Air sumur
Caranya:
- Cincang semua buah menjadi potongan kecil-kecil, lalu masukan dalam karung atau kantong kain yang tembus udara dan air.
- Larutkan gula dalam air.
- Kemudian masukan cincangan buah tersebut ke dalam larutan gula dan air tersebut. Usahakan seluruh kantong tenggelam, bisa ditambahkan batu dalam kantong sebagai pemberat.
- Tutup rapat dan diamkan.
- Buka dan aduk selama 1 menit, cukup 3 hari sekali.
- Untuk memupuk tanaman, campurkan pupuk cair dengan air sumur dengan pebandingan 1 banding10 – 20. Atau kira-kira 5-10 sendok makan pupuk cair dengan 1 liter air. Dosis pencampuran ini tidak mengikat, karena pupuk cair aroma buah bersifat netral. Bila terlalu pekat pun masih akan aman untuk tanaman. Pencampuran hanya dimaksudkan untuk mengurangi keasamannya saja. Siramkan larutan tersebut ke media tanam, atau semprotkan ke daun dan batang. Seperti diketahui, tanaman mengambil hara bukan hanya dari dalam tanah melalui akar saja, melainkan juga dari udara melalui stomata daun dan stomata batang.
- Sebagai biang, campurkan 300ml pupuk cair ini dengan 1 kg buah, 1 ons gula, dan 5 liter air. Prosesnya sama seperti yang pertama, dan dalam 20 hari pupuk cair turunan ini siap dipanen. Kualitasnya setara dengan biang pupuk cair yang pertama.
- Sebagai starter kompos padat, semprotkan pupuk cair ke sampah organik (daun dan sisa makanan) yang sudah dipisahkan dari sampah non organik. Lalu tutup sampah tersebut. Mikroorganisme dalam pupuk cair itu akan membantu membusukan sampah menjadi kompos lebih cepat 2X lipat.
Reduce, Re-use, and Recycle.
Wednesday, April 2, 2014
AKU MEMILIH DIA (Tips mencoblos caleg)
”Nyoblos siapa? Jokowi, ya?” tanya temanku.
”Bukan,”
”Prabowo?”
”Bukan juga,”
”Aburizal?”
”No!”
”Jangan-jangan kamu nyoblos Rhoma Irama,”
”… …”
Bhua ha ha ha ha ...
Semua yang disebutkan temanku itu bukan jagoanku dalam pemilu kali ini. Karena nama-nama itu tidak tercantum di daftar calon legislatif Dapil Jakarta 2. Mereka itu mungkin ... mungkin lho ya ... para calon presiden.
Wah, ternyata memang banyak yang terjebak dalam pemilu putaran pertama kali ini. Entah karena memang kurang informasi, atau karena malas mencari informasi, sehingga keliru mengerti tentang pencoblosan pertama yang adalah pemilu legislatif, memilih wakil kita di DPR.
Kami yang di Taipei dan mendapat kesempatan mencoblos lewat titipan pos, akan mendapat satu paket berisi:
3 buah amplop
1 lembar surat suara Dapil Jakarta 2
1 lembar surat C6 atau undangan pemilih
1 lembar petunjuk langkah-langkah mencoblos
1 lembar surat pemberitahuan untuk majikan dalam bahasa Mandarin
3 buah amplop ini adalah kunci LUBER dalam pencoblosan lewat pos ini.
~Amplop nomor 1 adalah amplop kirim yang berisi semua yang disebut di atas tadi. Alamat penerima disertai bar code personal untuk mengenali setiap pemilih.
~Amplop nomor 2 adalah amplop polos untuk tempat surat suara yang sudah dicoblos. Amplop ini harus ditutup rapat setelah surat suara yang bolong itu dimasukan. Karena polos, maka surat suara didalamnya jadi rahasia, dan tidak akan diketahui milik siapa nantinya.
~Amplop nomor 3 adalah amplop kembali yang akan dipakai untuk mengirim surat suara di amplop polos beserta lembar C6. Amplop ini sudah dilengkapi alamat lengkap KDEI tempat PPSLN berkantor, dan tertempel pula nama pemilih beserta bar code personalnya. Bar code ini berfungsi sama seperti tinta hitam yang dicelup ke kelingking pada pemilih langsung. Jadi satu pemilih tidak akan mendapat dua suara, tidak pula akan tertukar dengan pemilih lain.
Selanjutnya, bila surat suara sudah sampai kembali ke PPSLN, maka panitia akan mengecek data pemilih lewat bar code tersebut. Di bawah pengawasan kamera CCTV surat suara yang terbungkus amplop polos akan dikeluarkan dan dikumpulkan di kotak yang telah disiapkan. Sah sudah kita menjadi peserta pemilu yang menggunakan hak suara kita. Lalu suara kita sah tidak? Mana aku tahu?! Kan surat suara itu dimasukan kotak bersama amplop polosnya. Nah, baru nanti tanggal 9 April kotak itu akan dibongkar untuk penghitungan. Baru akan diketahui sah tidaknya coblosan kita. Tenang saja, suara itu tak akan diketahui satu-satu milik siapa. Pokoknya RAHASIA. Okesip!
Kamu bingung mau pilih siapa?
Aku punya tips supaya kamu sedikit bisa mengarahkan pilihanmu pada orang yang tepat.
- Ingat, ini pemilu legislatif. Yang kita coblos di sini adalah wakil kita di DPR, bukan presiden.
- Mau nyoblos partainya? Silakan. Tapi perlu diketahui bahwa suara kita itu nantinya tetap untuk sang caleg.
- Coblos saja calegnya. Ya! Itu yang tepat sasaran. Kalau aku pribadi, memilih caleg secara persona, orangnya saja. Aku tak peduli pada partai yang mengusungnya. Untuk tahu siapa dia, internet sudah sangat membantu memberitahu rekam jejak, visi, dan misi caleg manapun. Browsing saja. Jangan malas bowsing dan mencari tahu profilnya. Ini tugas kita, sebuah tugas ringan kalau dibanding dengan besarnya harapan yang akan kita titipkan.
Tuesday, April 1, 2014
AMPLOP BERISI HARAPAN
Turun gunung pagi ini, menembus gerimis berjalan 2 KM menuju pasar. Keranjang kosong kuseret dengan riang, karena ringan dan jalan menurun lancar. Tas kain berisi dompet dan kunci kucangklong di pundak kiri. Payung polkadot membuatku tampak seperti jamur beracun yang sedang rekah.
Bersama dompet dan kunci, aku membawa pula sebuah amplop dalam tasku. Amplop berisi harapan. Nanti akan kumasukan ke kotak pos di ujung gang. Alamat tujuan amplop itu adalah kantor KDEI Taipei. Tadi aku beruntung karena masih sempat memasukan amplop sebelum petugas datang dan membuka kotak mengumpulkan surat. Berarti amlpopku akan terkirim hari ini juga.
Oh, ya. Itu adalah amplop berisi surat suara pemilu legislatif. Aku tidak bisa datang ke TPS pada hari minggu tanggal 6 April besok. Maka aku minta Panitia Pemilihan Luar Negeri wilayah Taipei mengirimkan surat suaraku ke alamat rumah. Aku bisa mencoblos di rumah, memilih wakil rakyat yang akan kutitipi amanah, dan mengirimkannya kembali ke KDEI, di mana PPSLN berkantor.
Dulu aku sempat ragu dengan cara seperti ini; memilih dengan perantara pos. Aku merasa hak kerahasiaan suaraku tak terjamin. Namun ketika ketua PPSLN menjelaskan lewat website (menjawab pertanyaan saya di Q&A) dan menulis komentar juga di Facebook tentang tata cara pencoblosan lewat pos ini, aku akhirnya yakin bahwa azas LUBER dalam pemilu ini bisa kugenggam.
Surat suara ini aku terima hari Kamis minggu lalu. Sebenarnya aku bisa saja langsung mencoblos, namun aku menundanya. Selain bahwa aku ingin melihat dulu calon-calon wakil rakyat yang bisa kupilih, aku juga tidak bisa keluar rumah setiap hari, meski hanya ke kotak pos di ujung gang. Tak mengapa, karena aku masih punya waktu. Batas akhir pengiriman surat suara itu adalah tanggal 7 April.
Aku flash back dulu, mengingat apa yang kulewati sebelumnya. Segera setelah kuterima surat suara, aku lagsung browsing internet mencari catatan profil wakil-wakil rakyat yang berderet-deret di kertas itu. Sebenarnya dari awal aku sudah punya seorang caleg yang kugadang-gadang bakal kucoblos. Namun ketika aku melihat nama-nama lain dalam lembar surat suara, hatiku goyah (wew!) Apalagi ketika aku mulai browsing dan menemukan profil yang lebih hebat dari jagoanku itu. Rekam jejak, visi, dan misi caleg hasil browsingku itu sukses membuatku pindah ke lain nomor. Aku memutuskan untuk meninggalkan jagoanku itu utuh tak tercoblos. Maaf, aku telah menjatuhkan pilihan pada jagoan baru. Aku merasa lebih nyaman menitipkan suaraku padanya. Ini soal kepercayaan menitipkan harapan. Dan ini adalah HAK mutlak diriku sebagai pemilik suara. Siapa sih, dia? Ouh, rahasia!
Baiklah, aku bersemangat sekali hari ini. Semoga tahapan pemilu selanjutnya bisa kuikuti. Aku belum punya jagoan lagi, tapi aku punya semangat dan kepercayaan. Itulah yang membuatku tetap punya harapan.
AYO NYOBLOS!!!
Image by Google search
Saturday, March 8, 2014
AKAN KUPILIH ENGKAU, MESKI DENGAN CARA YANG BERESIKO
Ini adalah kebetulan.
Kebetulan saja aku sedang di Taiwan saat pemilu 2014 ini akan digelar. Kebetulan saja aku bekerja di rumah dengan pekerjaan dan pasien yang sulit ditinggalkan. Kebetulan saja majikanku termasuk golongan majikan yang terlalu kuatir pekerjanya akan nyasar kalau keluar rumah. Kebetulan saja hanya majalah dan sebuah handphone yang bisa menjadi jendelaku mengintip dunia.
Dan kebetulan-kebetulan ini yang membuatku sedikit pilu saat pemilu.
Begini ceritanya.
Kami, para pekerja migran di Taiwan, diberi hak pilih yang masuk Dapil Jakarta 2. Soal pemilu ini bukan hal yang tidak diumumkan. Sosialisasi dari PPLN Taipei bagus sekali. Pendaftaran peserta pemilunya juga mudah, bisa online melalui www.pplntaipei.org
Kalau kami adalah pekerja resmi yang memiliki identitas sah, maka otomatis kami sudah terdaftar. Tinggal verifikasi saja di situ. Sampai tahap ini, bahkan saya yang ruang geraknya terbatas pun, mudah melewatinya.
Lalu, pelaksanaan pemungutan suaranya bagaimana?
Kami disediakan 40 TPSLN di 22 titik, karena pekerja Indonesia di Taiwan tersebar dari ujung ke ujung pulau berbentuk daun ini. Namun meskipun pelaksanaannya jatuh di hari minggu tanggal 6 April nanti, belum tentu seluruh pemilih bisa menyampaikan hak pilihnya. Jarak, waktu kerja, ijin bepergian, hingga kemauan orangnya sendiri tidak menjamin kelangsungan pencoblosan. Solusi dari masalah ini adalah; PPLN bersedia mengirim kartu suara pada pemilih, dan menerimanya kembali lewat pos paling lambat tanggal 9 April. Gratis!
Wah! Awalnya kupikir ini solusi yang bagus untuk memaksimalkan tingkat partisipasi pekerja migran dalam pemilu. Aku termasuk dalam golongan yang tidak bisa langsung datang ke TPS pada hari itu. Bahkan hari-hari yang lain juga hanya bisa kulalui di rumah. Maka kuajukan permohonan untuk mencoblos melalui pos. Tinggal konfirmasi cara pemilihan di website itu, dan surat suara akan dikirim.
Kemudian, di sela kelegaan bahwa akhirnya aku bisa menjadi golongan pemilih, bukan golput, aku berpikir; benarkah proses pencoblosan seperti ini menjamin suaraku sampai dengan benar?
Oke, baik. Aku berpikir positif saja. Kesulitanku untuk mencoblos langsung di TPS bisa teratasi dengan opsi surat suara lewat pos. Sudah.
Maunya sih sudah, berpikir simpel bagitu saja. Tapi ini menjadi serius ketika aku benar-benar ingin memilih seorang caleg mewakili suaraku, inspirasiku, harapanku. Aku bukan pemilih asal coblos yang tidak punya cita-cita akan keadaan yang lebih baik. Aku adalah pemilih yang ingin perubahan!
Aku menggadang seorang caleg (meski tak percaya pada partainya). Akan kucoblos dia yang kuanggap bisa membawa amanah para pekerja migran, yang bisa memperjuangkan perbaikan sistem perlindungan pada kami penyumbang devisa, yang bisa memperjuangkan nasib warga negara Indonesia yang dikelas-duakan. Aku akan mencoblosnya, memilihnya dengan segenap jiwa, dengan doa. Semoga dia amanah dengan suara yang didapatnya.
Ah, tapi ... Aku akan mencoblosnya dengan cara yang beresiko. Pos tidak menjamin 100% suaraku sampai di kotak penghitungan. Kalaupun sampai, kerahasiaan suaraku tidak terjamin. Akan sangat jelas itu surat suara siapa, dari mana, dan mencoblos siapa. Apakah panitia tidak mengintipnya? Oke, aku berlebihan. Karena tidak mungkin juga panitia kenal denganku yang tidak tenar ini. Tapi aku ingin RAHASIA. Dan itu bukan hal yang berlebihan. Bukankah azas pemilu itu LUBER? Langsung Umum Bebas Rahasia? Ini resiko paling ringan.
Resiko yang lebih besar sebenarnya adalah hal yang tak bisa kujangkau dengan ilmuku. Tapi aku bisa merasakannya. Indonesia. Politik dan hukumnya masih carut marut. Apakah aku berlebihan bila menduga akan kemungkinan adanya mafia pemilu? Aku tidak tahu siapa yang mengawasi sistem pencoblosan lewat pos ini, karena pelaksanaannya jelas berbeda waktu dengan pencoblosan langsung. Siapa yang mengawasi jumlah surat suara yang terkirim dan diterima kembali? Bukankah ini sangat beresiko diselewengkan, seandainya saja memang ada mafia yang bekerja. Oh, suaraku ... Harapanku ...
Ah, tidak, tidak. Aku tetap akan memilih. Apapun resikonya. Hanya opsi ini yang bisa membantu kesulitanku, dan ribuan kawanku yang ruang geraknya terbatas karena aturan kerja dan majikan yang tidak kompromis.
Duhai caleg yang baik (meski aku tak percaya pada partai yang membawamu). Akan kupilih engkau dengan iringan doa. Semoga engkau amanah. Aku ingin ada perubahan yang lebih baik terhadap sistem yang melindungi pekerja migran, yang rela pergi jauh dari keluarga tercinta karena sempitnya pilihan di negeri sendiri. Semoga engkau mau memperjuangkan nasib kami yang kerap kurang beruntung. Aku rela engkau gunakan devisa yang kuhasilkan bila engkau mau membela saat kami ditindas. Berjuanglah mewakili kami.
Aku sadar, perubahan tidak terjadi dalam semalam. Bila perbaikan itu baru akan terjadi nanti ketika aku sudah kembali ke Indonesia (karena aku tak berniat berlama-lama jadi pahlawan devisa) aku tetap ikhlas menitipkan suaraku untukmu. Biar kawan-kawanku yang masih tinggal bernasib lebih baik dariku. Berjuanglah terus, duhai penerima suaraku ...
Dan kamu, ya, kamu yang memilih menjadi golput, padahal TPS tempatmu memilih hanya sepelemparan tombak dan kamu bebas berkeliaran tanpa terikat aturan majikan, coba lihat kami yang benar-benar ingin bersuara namun terhalang banyak rintangan.
Sebenarnya aku tidak bermasalah dengan pilihanmu untuk tidak memilih (ugh!), seperti mungkin tidak bermasalahnya dirimu dengan kondisi hidupmu. Kamu tidak memilih karena bisa memperbaiki sendiri hidupmu tanpa harus diwakilkan pada caleg-caleg itu. Tapi aku? Kami para pekerja migran? Kami tidak bisa memperbaiki perlindungan terhadap diri kami sendiri tanpa menitipkan harapan pada mereka.
Kamu yang golput ...
Bila kamu merasa baik-baik saja dengan tidak memilih, maukan kamu berbuat sesuatu untuk kami yang membutuhkan perbaikan? Memilihlah untuk kami. Jangan sia-siakan hak suaramu bila itu bisa membantu kami memperjuangkan perbaikan perlindungan.
Image by Google search






