Tuesday, April 1, 2014

AMPLOP BERISI HARAPAN

Turun gunung pagi ini, menembus gerimis berjalan 2 KM menuju pasar. Keranjang kosong kuseret dengan riang, karena ringan dan jalan menurun lancar. Tas kain berisi dompet dan kunci kucangklong di pundak kiri. Payung polkadot membuatku tampak seperti jamur beracun yang sedang rekah.

Bersama dompet dan kunci, aku membawa pula sebuah amplop dalam tasku. Amplop berisi harapan. Nanti akan kumasukan ke kotak pos di ujung gang. Alamat tujuan amplop itu adalah kantor KDEI Taipei. Tadi aku beruntung karena masih sempat memasukan amplop sebelum petugas datang dan membuka kotak mengumpulkan surat. Berarti amlpopku akan terkirim hari ini juga.

Oh, ya. Itu adalah amplop berisi surat suara pemilu legislatif. Aku tidak bisa datang ke TPS pada hari minggu tanggal 6 April besok. Maka aku minta Panitia Pemilihan Luar Negeri wilayah Taipei mengirimkan surat suaraku ke alamat rumah. Aku bisa mencoblos di rumah, memilih wakil rakyat yang akan kutitipi amanah, dan mengirimkannya kembali ke KDEI, di mana PPSLN berkantor.

Dulu aku sempat ragu dengan cara seperti ini; memilih dengan perantara pos. Aku merasa hak kerahasiaan suaraku tak terjamin. Namun ketika ketua PPSLN menjelaskan lewat website (menjawab pertanyaan saya di Q&A) dan menulis komentar juga di Facebook tentang tata cara pencoblosan lewat pos ini, aku akhirnya yakin bahwa azas LUBER dalam pemilu ini bisa kugenggam.

Surat suara ini aku terima hari Kamis minggu lalu. Sebenarnya aku bisa saja langsung mencoblos, namun aku menundanya. Selain bahwa aku ingin melihat dulu calon-calon wakil rakyat yang bisa kupilih, aku juga tidak bisa keluar rumah setiap hari, meski hanya ke kotak pos di ujung gang. Tak mengapa, karena aku masih punya waktu. Batas akhir pengiriman surat suara itu adalah tanggal 7 April.

Aku flash back dulu, mengingat apa yang kulewati sebelumnya. Segera setelah kuterima surat suara, aku lagsung browsing internet mencari catatan profil wakil-wakil rakyat yang berderet-deret di kertas itu. Sebenarnya dari awal aku sudah punya seorang caleg yang kugadang-gadang bakal kucoblos. Namun ketika aku melihat nama-nama lain dalam lembar surat suara, hatiku goyah (wew!) Apalagi ketika aku mulai browsing dan menemukan profil yang lebih hebat dari jagoanku itu. Rekam jejak, visi, dan misi caleg hasil browsingku itu sukses membuatku pindah ke lain nomor. Aku memutuskan untuk meninggalkan jagoanku itu utuh tak tercoblos. Maaf, aku telah menjatuhkan pilihan pada jagoan baru. Aku merasa lebih nyaman menitipkan suaraku padanya. Ini soal kepercayaan menitipkan harapan. Dan ini adalah HAK mutlak diriku sebagai pemilik suara. Siapa sih, dia? Ouh, rahasia!

Baiklah, aku bersemangat sekali hari ini. Semoga tahapan pemilu selanjutnya bisa kuikuti. Aku belum punya jagoan lagi, tapi aku punya semangat dan kepercayaan. Itulah yang membuatku tetap punya harapan.

AYO NYOBLOS!!!

Image by Google search