Wednesday, April 2, 2014

AKU MEMILIH DIA (Tips mencoblos caleg)

”Aku sudah mencoblos kemarin,” ucapku.
”Nyoblos siapa? Jokowi, ya?” tanya temanku.
”Bukan,”
”Prabowo?”
”Bukan juga,”
”Aburizal?”
”No!”
”Jangan-jangan kamu nyoblos Rhoma Irama,”
”… …”

Bhua ha ha ha ha ...

Semua yang disebutkan temanku itu bukan jagoanku dalam pemilu kali ini. Karena nama-nama itu tidak tercantum di daftar calon legislatif Dapil Jakarta 2. Mereka itu mungkin ... mungkin lho ya ... para calon presiden.

Wah, ternyata memang banyak yang terjebak dalam pemilu putaran pertama kali ini. Entah karena memang kurang informasi, atau karena malas mencari informasi, sehingga keliru mengerti tentang pencoblosan pertama yang adalah pemilu legislatif, memilih wakil kita di DPR.

Kami yang di Taipei dan mendapat kesempatan mencoblos lewat titipan pos, akan mendapat satu paket berisi:
3 buah amplop
1 lembar surat suara Dapil Jakarta 2
1 lembar surat C6 atau undangan pemilih
1 lembar petunjuk langkah-langkah mencoblos
1 lembar surat pemberitahuan untuk majikan dalam bahasa Mandarin

3 buah amplop ini adalah kunci LUBER dalam pencoblosan lewat pos ini.
~Amplop nomor 1 adalah amplop kirim yang berisi semua yang disebut di atas tadi. Alamat penerima disertai bar code personal untuk mengenali setiap pemilih.
~Amplop nomor 2 adalah amplop polos untuk tempat surat suara yang sudah dicoblos. Amplop ini harus ditutup rapat setelah surat suara yang bolong itu dimasukan. Karena polos, maka surat suara didalamnya jadi rahasia, dan tidak akan diketahui milik siapa nantinya.
~Amplop nomor 3 adalah amplop kembali yang akan dipakai untuk mengirim surat suara di amplop polos beserta lembar C6. Amplop ini sudah dilengkapi alamat lengkap KDEI tempat PPSLN berkantor, dan tertempel pula nama pemilih beserta bar code personalnya. Bar code ini berfungsi sama seperti tinta hitam yang dicelup ke kelingking pada pemilih langsung. Jadi satu pemilih tidak akan mendapat dua suara, tidak pula akan tertukar dengan pemilih lain.

Selanjutnya, bila surat suara sudah sampai kembali ke PPSLN, maka panitia akan mengecek data pemilih lewat bar code tersebut. Di bawah pengawasan kamera CCTV surat suara yang terbungkus amplop polos akan dikeluarkan dan dikumpulkan di kotak yang telah disiapkan. Sah sudah kita menjadi peserta pemilu yang menggunakan hak suara kita. Lalu suara kita sah tidak? Mana aku tahu?! Kan surat suara itu dimasukan kotak bersama amplop polosnya. Nah, baru nanti tanggal 9 April kotak itu akan dibongkar untuk penghitungan. Baru akan diketahui sah tidaknya coblosan kita. Tenang saja, suara itu tak akan diketahui satu-satu milik siapa. Pokoknya RAHASIA. Okesip!

Kamu bingung mau pilih siapa?
Aku punya tips supaya kamu sedikit bisa mengarahkan pilihanmu pada orang yang tepat.

  1. Ingat, ini pemilu legislatif. Yang kita coblos di sini adalah wakil kita di DPR, bukan presiden. 
  2. Mau nyoblos partainya? Silakan. Tapi perlu diketahui bahwa suara kita itu nantinya tetap untuk sang caleg.
  3. Coblos saja calegnya. Ya! Itu yang tepat sasaran. Kalau aku pribadi, memilih caleg secara persona, orangnya saja. Aku tak peduli pada partai yang mengusungnya. Untuk tahu siapa dia, internet sudah sangat membantu memberitahu rekam jejak, visi, dan misi caleg manapun. Browsing saja. Jangan malas bowsing dan mencari tahu profilnya. Ini tugas kita, sebuah tugas ringan kalau dibanding dengan besarnya harapan yang akan kita titipkan.
”Kamu nyoblos siapa, sih?” cecar temanku.
”Ha ha ha ... Rahasia!” aku menjawab riang.

”Aku tidak punya hak mencoblos,” ucap temanku pelan.
Ya iyalah, dia pekerja illegal di sini. Kabur dari majikan untuk mengejar gaji yang lebih besar, namun merelakan diri kehilangan semua identitas sah sebagai buruh migran. Jangankan hak pilih di pemilu, hak perlindungan hukum dan asuransi jiwa saja dia sudah tak punya.

Jadi, BMI cerdas tak akan kabur. BMI cerdas tak akan golput.
Semangat!!!