Thursday, April 17, 2014

Nenek Lincah Ratu Drama




Siapa bilang kerja di Taiwan itu mudah? Tidak usah membayangkan kawan-kawan BMI yang disiksa, atau yang dipekerjakan salah job, bahkan yang sesuai job pun kurasa tetap tidak mudah. Aku ini salah satunya.

Kakek yang harus kurawat masih tidak terlalu merepotkan. Hanya saja karena sakit jantung amat mengurangi fungsi-fungsi fisiknya, jadi harus selalu dibantu. Rumah yang harus kuurus juga kecil saja. Tak ada hewan peliharaan, tak ada anak kecil pula. Kerja yang simpel. Namun kerepotan terbesar justru datang dari nenek yang masih sangat sehat dan lincah. Nenek yang masih semangat bekerja memimpin perusahaan bersama anak-anaknya. Nenek super, nenek juara.

Apakan nenek kasar? Tidak.
Apakah nenek galak? Juga tidak.
Pelit? Oh, nenek murah hati.
Lalu apa masalahnya?


”Baju baru, Yun? Beli di mana?” Teteh Win memegang lenganku dan memutar badanku memperhatikan baju yang kupakai.
Kami sedang di taman, sama-sama menunggui lansia pasien kami mengikuti kelas senam tai-chi selasa sore.
”Nenek yang membelikan, entah di mana,” sahutku.
”Wah, baik sekali nenekmu itu. Hampir tiap bulan lho, kamu dibelikan baju.” Teteh Win berseru.
”Iya. Nenek juga selalu memilihkan baju yang akan kupakai, kemana pun aku mau pergi, bahkan ke pasar sekalipun,”
”Nenekmu perhatian sekali,”
”Dan bawel sekali, Teh. Aku kadang sedih,”
”Halah ... Kalau soal bawel itu, biasa ... Orang tua memang rata-rata begitu. Biarkan saja,”
Aku hanya mengangguk. Tidak ada yang salah dengan kata-kata Teteh Win barusan. Namun siapa yang akan mengerti perasaanku yang jungkir balik setiap hari menghadapi tingkah nenek yang super ajaib. Bila aku curhat soal kesusahanku ini, maka kawanku itu hanya tertawa. Deritaku baginya adalah hal lucu, peristiwa yang mengaduk-aduk emosiku baginya adalah pengalaman seru. Oh, siapa yang bisa mengerti jerit hati ini?

Nenek memang super ajaib. Bersama dengannya bagai masuk dunia penuh kejutan, seperti naik roller coaster. Kadang jalan pelan mendatar, lalu menanjak panjang, kemudian tiba-tiba menukik tajam, dan bersambung dengan liukan-liukan maut yang mengaduk perut. Nenek adalah ratu drama.

Dimulai ketika pagi.
Sudah menjadi kebiasaan, bahwa aku selalu bangun awal menyiapkan sarapan sebelum kakek dan nenek bangun. Biasanya aku pula yang membangunkan mereka dengan mengetuk pintu kamar. Kakek punya jadwal bangun yang tetap. Tapi nenek tidak. Nenek akan berpesan padaku setiap malam, pukul berapa aku harus mengetuk pintu membangunkannya esok hari. Dan hari ini dia ingin bangun pukul 7:30 tepat.


Tok tok tok!

”Hao ...” kudengar suara nenek pelan masih mengantuk.
”Sudah setengah delapan, Nek,” Ucapku pelan juga.
”Cia she wu fen chong, ni ciao wo. Wo yao siu si i sia.” Suara nenek masih terdengar mengantuk.
”Hao,” sahutku, lalu kuberanjak.

Kulanjutkan pekerjaanku sambil sesekali melirik jam dinding memastikan lima belas menit kemudian aku harus membangunkan nenek lagi.

Setelah lima belas menit, kuketuk lagi pintu kamar.


”Maaf, Nek, sudah lima belas menit. Sarapan sudah siap.” Kukeraskan sedikit suaraku. Ini juga sudah jadwal kakek harus bangun.
Aku tak mendengar sahutan dari dalam, namun kudengar sedikit kegaduhan. Ah, biar saja. Kulanjutkan pekerjaanku yang tinggal sedikit lagi.


Pintu kamar dibuka buru-buru dan kulihat Nenek sangat gugup keluar.

”Haiyah! Kenapa kamu telat membangunkan aku?” semprot nenek tanpa basa-basi.

”Hah?! Bukannya tadi ...” aku tercekat.

”Kalau kubilang jam setengah delapan, ya jam segitu. Jangan tunda-tunda!” Nenek langsung menyambar roti yang kupanggang tadi.

”Kunci!” teriaknya.

Aku tergopoh-gopoh mengambil kunci dari laci. Nenek berjalan tergesa ke lemari sepatu.

”Kaca mata!”

Kutunjuk wajah nenek ragu-ragu. Nenek hanya ber-Ooh ketika sadar barang yang dicarinya sudah dipakai.

”Handphone!”

Ugh! Aku lari lagi ke meja koran tempatnya biasa mengisi batere handphone.

”Minum!”

Haiyah!! Aku terbirit-birit mengambilkan segelas air putih yang sebetulnya sudah kusediakan dengan rapi tadi di meja makan. Aku ikut gugup setiap kali nenek gugup. Ini sungguh merepotkan. Semoga saja aku tidak ikut panik bila suatu saat nenek panik.

BLARR!!!

Akhirnya nenek keluar setelah menutup pintu dengan keras hingga tembok dan kaca bergetar. Aku menggelosorkan pundak penuh kelegaan. Kakek yang rupanya juga sudah bangun dari tadi memperhatikanku. Aku memandang kakek dengan wajah memelas, berharap kakek membantu menenangkan jantungku yang berpacu. Tapi kakek malah tertawa.

”Itulah istriku. Ha ha ha ... I love her !”

***

Bila kehebohan seperti yang terjadi hampir setiap pagi itu masih kurang drama, maka menjelang sore adalah bumbunya. Sore yang damai sering tiba-tiba pecah oleh nenek yang pulang dengan tergesa-gesa.

”Cepat bereskan rumah. Ada tamu mau datang,” perintahnya sambil melepas sepatu dan menatanya sendiri dengan terburu-buru.

Ini dia penyakitku. Gugup. Sungguh, tanpa bisa kukendalikan jantung ini langsung berpacu setiap kali nenek menyuruhku melakukan apapun dalam kondisi gugup.

”Ganti taplak mejanya. Pindah bunganya. Bereskan sandal-sandal itu. Seduh teh. Potong buah. Buka lebar jendela. Singkirkan ember. Angkati jemuran.”

Duh, Tuhan. Nenek menyuruhku melakukan banyak hal dalam sekali perintah. Acak pula. Bingung sekali. Apalagi penyakit gugupku tidak juga reda. Nenek sudah mondar-mandir melakukan sebagian pekerjaan yang tadi diperintahkannya padaku. Aih, ternyata nenek memang baik.

Sambil melakukan perintah nenek, aku menebak-nebak sendiri siapa tamu yang akan datang. Mungkin pejabat penting? Atau investor yang akan bekerja sama dengan perusahaan nenek? Ah, siapapun itu, pasti orang yang hebat.

Pekerjaanku belum selesai, bel pintu sudah berbunyi. Aku panik. Teh belum kuseduh, buah belum kupotong, ember belum kusingkirkan. Nenek juga kelihatan terburu-buru ketika bergegas membuka pintu. Aku tidak ingin membuang waktu. Kukebut semuanya. Pontang-panting aku bekerja.

Dan ternyata yang datang adalah tukang pijat refleksi untuk kakek. Tadinya kukira bukan dia yang ditunggu nenek. Namun ketika nenek menyuruhku menghidangkan teh dan buah, aku yakin, inilah tamu yang membuatku panik pontang-panting mengangkat jemuran dan menyingkirkan ember yang bahkan tidak terlihat dari ruang tamu itu. Wah, hebat sekali tukang pijat ini, sampai membuat nenek sibuk seperti hendak menyambut presiden. Aku bersandar di kulkas meredakan detak jantung yang kembali berpacu.

***

”Santai saja menghadapi nenek. Jangan ikut panik,” nasehat kakek berkali-kali padaku.

”Dari dulu dia begitu. Itulah mengapa aku jantungan sekarang. Ha ha ha...” sambung kakek sambil tertawa.

Malam itu seperti biasa aku menemani kakek memasang puzzel. Ini hobi kakek selain membaca. Puzzel yang sedang dikerjakan kakek sangat rumit dan berjumlah 2000 keping. Sudah hampir lima bulan kakek belum juga berhasil menyelesaikannya. Aku tidak membantu, hanya menemani sambil membaca buku. Santai, dan tenang sekali.

Tapi ketenangan segera pecah ketika tiba-tiba pintu terbuka dan nenek masuk bersama David, anak lelakinya. Seperti selalu, nenek tampak gugup dan terburu-buru. Dan seperti selalu pula, aku ikut gugup. Aku latah.

”Yuyun, aku lapar. Tolong buatkan mi kuah, ya,” pinta David sopan.

”Cepat buatkan, yang enak. Cepat, ya, David sudah lapar.” Nenek mengulangi perintah, kali ini dengan memburu-buru.

Aku sudah hapal selera David, maka segera kusiapkan bahan-bahan. Mi kuah kesukaannya sederhana saja. Hanya mi putih, dengan sup kaldu ayam, bakso ikan, dan sayuran hijau. Mudah dan makan waktu hanya sekitar sepuluh menit membuatnya.

Malang tak dapat ditolak. Nenek ikut terjun ke dapur membantuku membuat mi.

”Tambahkan daging cincang, supaya enak,” kata nenek.
”Tapi David sukanya bakso ikan, Nek,” protesku.
”Aah, aku lebih tahu. Aku kan ibunya. Sudah masukan saja,” sergah nenek.

Aku malas mendebat, maka kuturuti saja. Tapi ternyata belum cukup sampai di sini. Nenek juga ikut menambahkan bubuk bumbu yang entah apa namanya. Bahkan terakhir menyuruhku memasukan telur. Wah, mi kuah David tidak keruan bentuknya sekarang. Ditambah waktu membuatnya juga jadi lama. Kasihan David sampai berkali-kali melongok ke dapur.

”Mi sudah siap. Silakan dinikmati.” Kupersilakan David menikmati mi kuah tanpa bentuk itu.

”Lho? Kok ada dagingnya? Mengapa kamu kasih telur? Uh, rasa apa ini? Aneh sekali,” kata David setelah mencicipi sedikit.

”Tadi nenek yang menyuruhku membuatnya begitu. Maaf,” ucapku.

”Mama!” panggil David.

Rupanya nenek sudah mengerti situasi, dan langsung nyerocos.

”Wah, tidak enak, ya? Yuyun! Kenapa kamu bikin mi begini? Kamu kan sudah tahu selera David. Jangan ganti-ganti,”

Tanpa sadar kutepuk jidatku sendiri dan kuucek-ucek mukaku dengan gemas. Bagaimana tidak? Nenek amnesia rupanya. Baru saja menyuruhku membuat mi ajaib, sekarang menyalahkanku karena rasanya yang juga ajaib. Oh, Tuhan ...

David menghabiskan mi itu dengan pelan tak berselera. Hanya karena dia lapar dan tidak mau merepotkanku lagi, maka dia tidak menyuruhku untuk membuat mi yang baru. Kakek terkekeh-kekeh sampai beberapa keping puzzel berjatuhan.

Aku terduduk di pojok dapur. Mengelus dada dan menggaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. Cukup lama aku di pojok dapur, sampai David menyelesaikan makannya. Lalu kubersihkan mangkuk dan sendok kotor itu masih dengan raut muka yang kutekuk.

Baru saja kuselesaikan kerjaku dan mencuci tangan, suara nenek sudah kembali menggelegar.

”Yuyun, kolai !” panggilnya.

Apa lagi?! Kursinya rusak dan aku dituduh merusaknya?

Tanpa terasa aku mengumpat dalam hati. Rupanya aku mulai jadi pendendam.

”Hao,” jawabku pendek.

Kulihat nenek tersenyum sambil melambai-lambaikan sehelai baju hangat model Korea yang cantik. Bila ini adalah adegan film, mungkin cincin putih transparan sudah tampak melingkar di atas kepala nenek. Malaikat yang baik telah datang rupanya.

”Maaf tadi aku membentakmu. Ini kubelikan baju hangat, dan juga celana panjang di tas. Besok kubelikan sepatu, ya ... Berapa nomor kakimu? Tadi mau kubelikan sekalian aku ragu. Takut tidak pas,” ucap nenek lembut sekali.

Ah, sungguh menyesal aku tadi telah mengumpat dalam hati. Ini adalah bagian yang menyenangkan dari rangkaian drama menegangkan sepanjang hari tadi. Seperti naik roller coaster, setelah tadi menanjak, menukik, dan meliuk-liuk, kini aku mluncur lurus dengan lembut sekali. Rasanya sungguh melegakan.

”Dicoba dulu, sana! Sudah jangan sedih. Maafkan nenek,” ucap kakek.

Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak apa-apa. Tapi semua kata-kata tercekat di kerongkongan. Akhirnya aku hanya membungkuk pada mereka dan mengucap terima kasih.

Ya Tuhan. Sungguh aku tidak sedang mengingkari nikmat-Mu dipertemukan dengan majikan yang baik. Tapi bila aku boleh memohon, berilah aku persediaan sabar yang melimpah supaya tetap bisa menghadapi nenek yang ajaib. Hindarkanlah aku dari penyakit ’latah gugup’ sehingga aku tidak perlu terkena resiko stress mengikuti kegugupan nenek setiap hari. Atau setidaknya, berilah aku selera humor yang baik, sehingga aku bisa melewati semua ingar-bingar pekerjaanku di sini dengan perasaan gembira dan lucu, seperti perasaan kawan-kawanku setiap kali aku bercerita.

”Besok bangunkan aku jam 7 tepat. Jangan telat!” pesan nenek mengakhiri pekerjaanku hari itu.

Aku berangkat tidur dengan rasa yang masih campur aduk. Ah, sudahlah ... Aku harus bersiap untuk episode drama esok hari.

---#TAMAT#---


Catatan:
”Cia she wu fen chong, ni ciao wo. Wo yao siu si i sia”
(Lima belas menit lagi, kamu panggil aku. Aku mau istirahat sebentar)


Terbit di Majalah TIM International Taiwan, Edisi 79, April 2014