Saturday, April 26, 2014

LELAKI TUA DAN ANGKA-ANGKA

Lelaki dekil itu terus menulisi kertas bekas dengan pensil tumpul yang diberi anakku. Serius sekali. Bahkan nasi bungkus yang kuberi tidak juga ditolehnya.

Siang itu, dia duduk saja di dekat tempat sampah depan rumahku. Mengorek sampah, mencari kertas.

Ya, kertas.

     ”Paman suka menulis, ya?” tanya Embun, anaku.

Aku terkejut. Orang kurang waras ini ditakuti banyak anak kecil. Tapi tidak dengan Embun. Anaku yang baru sekolah TK itu malah mendekatinya. Senyum yang lebih mirip seringai juga tak membuat Embun mundur. Gadis kecilku lantas mengaduk-aduk tas sekolahnya, lalu memberi lelaki itu pensil bekas miliknya.

     ”Belajar yang rajin, ya. Biar pintar,” sambung Embun.

Meski agak khawatir, kubiarkan saja Embun bicara dengannya. Kulihat dia tidak berbahaya. Wajah hitam celemotan, rambut berantakan, namun sorot matanya ... Entahlah. Seperti mata orang yang sedang menanti sesuatu yang besar, yang menyenangkan. Ketika nenerima pensil dari Embun, tampak sekali dia kegirangan. Dengan cekatan ditatanya lembar-lembar kertas yang didapat dari tempat sampah. Lalu langsung serius menulis.

     ”Ayo, masuk. Ganti baju dulu,” ajakku pada Embun.

Anakku berjalan setengah melompat membuat kuncir ekor kudanya bergoyang-goyang.

*****
Aku warga baru di komplek ini, jadi belum paham siapa lelaki dekil kemarin itu. Meski begitu, Embun tak kularang ketika menghampirinya lagi dan memberi kertas lebih banyak. Asal tidak mengajaknya masuk rumah, kurasa tidak apa-apa.

     ”Bu Edi, anaknya tidak takut sama pak Gondrong?” Ucap bu Mus saat sama-sama menjemput anak di sekolah.

     ”Oo ... Itu namanya pak Gondrong? Iya, tuh, Embun tidak takut. Malah berani menghampirinya. Dia tidak berbahaya, kan, bu?” tanyaku.

     ”Tidak. Pak Gondrong tidak galak, tidak akan menyakiti siapapun. Tapi tetap harus hati-hati. Namanya juga orang gila, kita mana tahu kalau tiba-tiba dia berubah,”

     ”Dia warga asli sini? Kenapa bisa seperti itu, Bu?”

     ”Iya. Orang sini saja. Masih punya beberapa saudara kok. Tapi anak istrinya sudah tidak tinggal di sini,”

     ”Lho, punya anak? Sudah seberapa besar?”

     ”Mungkin sekarang sudah lulus kuliah. Ah, pak Gondrong itu ... Bagaimana, ya ... Kasihan sebenarnya. Tapi ya ... salahnya sendiri juga,”

Aku diam, tapi mataku menatap bu Mus mengharap ceritanya diteruskan. Rupanya bu Mus juga mengerti arti tatapaku.

     ”Nama sebenarnya pak Yanto. Sebenarnya dia bukan orang yang malas. Dia dulu bekerja di pabrik meubel. Istrinya orang jauh, anaknya satu, laki-laki. Gaji pak Yanto lumayan, cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Cuma sejak dia kenal togel, dia seperti orang yang ketagihan membeli togel,”

Aku mengangguk-angguk mulai mengerti.

     ”Beberapa kali nomer yang dibeli pak Yanto tembus dan menang. Namun jumlahnya kecil-kecil. Rupanya kemenangan beberapa kali itu membuat pak Yanto ketagihan. Uang belanja untuk istrinya  mulai dikurangi demi membeli togel. Lama-lama uang jatah bayar sekolah anaknya kena juga. Sampai akhirnya seluruh hasilnya bekerja dia pasangkan togel.

Tentu saja rumah tangganya kisruh karena hal ini. Istrinya tidak tahan, lantas pergi ke Jakarta untuk bekerja menjadi pembantu. Anaknya dititipkan pada neneknya.

Ditinggal istri begitu, bukannya sembuh, kegemaran pak Yanto akan togel malah semakin parah. Dia bahkan sampai pergi ke dukun dan berkunjung ke tempat-tempat yang tidak jelas demi mendapat nomor yang jitu.

Sampai suatu hari, pak Yanto merasa sangat yakin dengan nomor yang dipasangnya. Dia bertaruh banyak sekali, bahkan sampai menggadaikan surat tanah miliknya. Sebenarnya semua keluarga sudah mengingatkan, bahkan melarang. Tapi pak Yanto benar-benar sudah sangat yakin. Bahkan dia sampai bersumpah, kalau nomornya tembus, dia akan membakar rumahnya, kemudian menggantinya dengan bangunan yang bagus.

Pada malam pembukaan togel, tengah malam pak Yanto teriak-teriak seperti orang kesurupan. Dia berlari dari ujung jalan sambil tertawa dan teriak,

     ”Aku menang! Aku menang!”

Para tetangga tentu saja banyak yang keluar melihat pak Yanto seperti itu. Benar-benar seperti orang gila. Konon angka yang dibelinya benar-benar jitu. Dan karena dia pasang banyak, maka hadiah yang didapatnya juga banyak. Katanya lebih dari 300 juta rupiah. Pak Yanto kelewat senang. Dan celakanya, dia benar-benar mewujudkan sumpahnya membakar rumah. Tentu saja para tetangga kelabakan takut rumah mereka ikut terbakar. Mereka ramai-ramai membawa air untuk memadamkan api yang mulai membesar. Pak Yanto tetap tertawa dan menari-nari. Dia melemparkan satu persatu pakaiannya ke dalam api.

Baru ketika tetangga mulai ingin ikut melihat nomor yang jitu itu, tiba-tiba pak Yanto terdiam dan gemetaran. Matanya nanar memandang kobaran api yang membakar rumahnya. Rupanya dia lupa, bahwa lembaran kertas togel sebagai bukti kemenangannya ada di dalam saku baju yang tadi dilemparnya ke dalam api. Pak Yanto histeris. Hampir saja melompat ingin menyelamatkan baju dan kertas yang sudah hangus terbakar andai tidak dipegangi oleh tetangga-tetangganya.

Sejak itu pak Yanto jadi gila. Istrinya pulang menjemput anak mereka, dan kembali lagi ke Jakarta.

Cerita bu Mus sama sekali tak kusela. Ini benar-benar seperti cerita drama televisi. Atau mungkin drama televisi yang menceritakan kejadian nyata.

******

     ”Bu, ini buat paman yang rajin belajar itu, ya ...” ucap Embun sambil menunjukan buku tulis baru.

     ”Kasih kertas bekas saja, Nak. Paman Gondrong cuma ingin corat-coret saja,” sahutku.

     ”Ah, biarlah, Bu. Biar paman lebih semangat belajar. Nanti aku tanya cita-citanya apa,” sahut Embun.

Aku tersenyum dan mengangguk. Embun segera berjalan setengah melompat hingga kuncir ekor kudanya bergoyang-goyang. Kubiarkan saja anakku terus memberi pak Gondrong kertas dan pensil hampir tiap hari. Aku tidak mengatakan padanya bahwa pak Gondrong itu gila. Kubiarkan anaku berbagi dengan siapa saja. Embun hanya ingin memberi, tanpa embel-embel apapun. Dan itu tidak buruk. Biarlah gadis kecilku itu memperlakukan siapa saja dengan cara yang sama, tanpa memandang perbedaan apapun.

Kembali dari memberi buku, Embun tampak membawa kertas.

     ”Ini dari paman buatku. Eh, kok paman bikin gambar begini ya, Bu?” tanya Embun sambil menunjuk lembaran kertas.

Seperti yang kuduga. Kertas itu berisi angka-angka. Centang perenang banyak sekali. Tapi di sebaliknya, di sisi yang tadi Embun lihat, ada gambar rumah bagus dan tiga orang bergandengan tangan, bapak-ibu-anak, di depannya.

Pasti itu mimpi pak Yanto, alias pak Gondrong.

****** TAMAT ******


Penulis Cerpen : Erin Cipta

Terbit di Majalah IndosuarA Taiwan, Edisi April 2014