Saturday, March 8, 2014

AKAN KUPILIH ENGKAU, MESKI DENGAN CARA YANG BERESIKO

Ini adalah kebetulan.
Kebetulan saja aku sedang di Taiwan saat pemilu 2014 ini akan digelar. Kebetulan saja aku bekerja di rumah dengan pekerjaan dan pasien yang sulit ditinggalkan. Kebetulan saja majikanku termasuk golongan majikan yang terlalu kuatir pekerjanya akan nyasar kalau keluar rumah. Kebetulan saja hanya majalah dan sebuah handphone yang bisa menjadi jendelaku mengintip dunia.

Dan kebetulan-kebetulan ini yang membuatku sedikit pilu saat pemilu.

Begini ceritanya.
Kami, para pekerja migran di Taiwan, diberi hak pilih yang masuk Dapil Jakarta 2. Soal pemilu ini bukan hal yang tidak diumumkan. Sosialisasi dari PPLN Taipei bagus sekali. Pendaftaran peserta pemilunya juga mudah, bisa online melalui www.pplntaipei.org
Kalau kami adalah pekerja resmi yang memiliki identitas sah, maka otomatis kami sudah terdaftar. Tinggal verifikasi saja di situ. Sampai tahap ini, bahkan saya yang ruang geraknya terbatas pun, mudah melewatinya.

Lalu, pelaksanaan pemungutan suaranya bagaimana?
Kami disediakan 40 TPSLN di 22 titik, karena pekerja Indonesia di Taiwan tersebar dari ujung ke ujung pulau berbentuk daun ini. Namun meskipun pelaksanaannya jatuh di hari minggu tanggal 6 April nanti, belum tentu seluruh pemilih bisa menyampaikan hak pilihnya. Jarak, waktu kerja, ijin bepergian, hingga kemauan orangnya sendiri tidak menjamin kelangsungan pencoblosan. Solusi dari masalah ini adalah; PPLN bersedia mengirim kartu suara pada pemilih, dan menerimanya kembali lewat pos paling lambat tanggal 9 April. Gratis!

Wah! Awalnya kupikir ini solusi yang bagus untuk memaksimalkan tingkat partisipasi pekerja migran dalam pemilu. Aku termasuk dalam golongan yang tidak bisa langsung datang ke TPS pada hari itu. Bahkan hari-hari yang lain juga hanya bisa kulalui di rumah. Maka kuajukan permohonan untuk mencoblos melalui pos. Tinggal konfirmasi cara pemilihan di website itu, dan surat suara akan dikirim.

Kemudian, di sela kelegaan bahwa akhirnya aku bisa menjadi golongan pemilih, bukan golput, aku berpikir; benarkah proses pencoblosan seperti ini menjamin suaraku sampai dengan benar?

Oke, baik. Aku berpikir positif saja. Kesulitanku untuk mencoblos langsung di TPS bisa teratasi dengan opsi surat suara lewat pos. Sudah.

Maunya sih sudah, berpikir simpel bagitu saja. Tapi ini menjadi serius ketika aku benar-benar ingin memilih seorang caleg mewakili suaraku, inspirasiku, harapanku. Aku bukan pemilih asal coblos yang tidak punya cita-cita akan keadaan yang lebih baik. Aku adalah pemilih yang ingin perubahan!

Aku menggadang seorang caleg (meski tak percaya pada partainya). Akan kucoblos dia yang kuanggap bisa membawa amanah para pekerja migran, yang bisa memperjuangkan perbaikan sistem perlindungan pada kami penyumbang devisa, yang bisa memperjuangkan nasib warga negara Indonesia yang dikelas-duakan. Aku akan mencoblosnya, memilihnya dengan segenap jiwa, dengan doa. Semoga dia amanah dengan suara yang didapatnya.

Ah, tapi ... Aku akan mencoblosnya dengan cara yang beresiko. Pos tidak menjamin 100% suaraku sampai di kotak penghitungan. Kalaupun sampai, kerahasiaan suaraku tidak terjamin. Akan sangat jelas itu surat suara siapa, dari mana, dan mencoblos siapa. Apakah panitia tidak mengintipnya? Oke, aku berlebihan. Karena tidak mungkin juga panitia kenal denganku yang tidak tenar ini. Tapi aku ingin RAHASIA. Dan itu bukan hal yang berlebihan. Bukankah azas pemilu itu LUBER? Langsung Umum Bebas Rahasia? Ini resiko paling ringan.

Resiko yang lebih besar sebenarnya adalah hal yang tak bisa kujangkau dengan ilmuku. Tapi aku bisa merasakannya. Indonesia. Politik dan hukumnya masih carut marut. Apakah aku berlebihan bila menduga akan kemungkinan adanya mafia pemilu? Aku tidak tahu siapa yang mengawasi sistem pencoblosan lewat pos ini, karena pelaksanaannya jelas berbeda waktu dengan pencoblosan langsung. Siapa yang mengawasi jumlah surat suara yang terkirim dan diterima kembali? Bukankah ini sangat beresiko diselewengkan, seandainya saja memang ada mafia yang bekerja. Oh, suaraku ... Harapanku ...

Ah, tidak, tidak. Aku tetap akan memilih. Apapun resikonya. Hanya opsi ini yang bisa membantu kesulitanku, dan ribuan kawanku yang ruang geraknya terbatas karena aturan kerja dan majikan yang tidak kompromis.

Duhai caleg yang baik (meski aku tak percaya pada partai yang membawamu). Akan kupilih engkau dengan iringan doa. Semoga engkau amanah. Aku ingin ada perubahan yang lebih baik terhadap sistem yang melindungi pekerja migran, yang rela pergi jauh dari keluarga tercinta karena sempitnya pilihan di negeri sendiri. Semoga engkau mau memperjuangkan nasib kami yang kerap kurang beruntung. Aku rela engkau gunakan devisa yang kuhasilkan bila engkau mau membela saat kami ditindas. Berjuanglah mewakili kami.

Aku sadar, perubahan tidak terjadi dalam semalam. Bila perbaikan itu baru akan terjadi nanti ketika aku sudah kembali ke Indonesia (karena aku tak berniat berlama-lama jadi pahlawan devisa) aku tetap ikhlas menitipkan suaraku untukmu. Biar kawan-kawanku yang masih tinggal bernasib lebih baik dariku. Berjuanglah terus, duhai penerima suaraku ...

Dan kamu, ya, kamu yang memilih menjadi golput, padahal TPS tempatmu memilih hanya sepelemparan tombak dan kamu bebas berkeliaran tanpa terikat aturan majikan, coba lihat kami yang benar-benar ingin bersuara namun terhalang banyak rintangan.

Sebenarnya aku tidak bermasalah dengan pilihanmu untuk tidak memilih (ugh!), seperti mungkin tidak bermasalahnya dirimu dengan kondisi hidupmu. Kamu tidak memilih karena bisa memperbaiki sendiri hidupmu tanpa harus diwakilkan pada caleg-caleg itu. Tapi aku? Kami para pekerja migran? Kami tidak bisa memperbaiki perlindungan terhadap diri kami sendiri tanpa menitipkan harapan pada mereka.

Kamu yang golput ...
Bila kamu merasa baik-baik saja dengan tidak memilih, maukan kamu berbuat sesuatu untuk kami yang membutuhkan perbaikan? Memilihlah untuk kami. Jangan sia-siakan hak suaramu bila itu bisa membantu kami memperjuangkan perbaikan perlindungan.

Image by Google search


10 comments:

  1. Aku juga masih bingung bahkan tidak ada gambaran siapa yang mau di coblos..hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Manfaatkan internet, mbak. Ini jadi tugas kita untuk mencari caleg yang tepat untuk kita titipi amanah :)

      Delete
  2. Sebenarnya tidak ingin golput, tapi aku tidak yakin jika satu suara dariku dapat memberikan perubahan yang berarti. Aku lebih memilih diam Dan melihat bagaimana mereka membuktikan janji-janji itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mengapa memilih pasif? Memilihlah...
      Eh, tapi tak memilih juga sebuah pilihan sikap kok ya ^_^

      Delete
  3. Sayangnya aku nggak kedaftar jadi pemilih wakakakakkaka :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu golput karena salah prosedur :D
      Kurang teliti tuh, yang mendata

      Delete
  4. Aku gaptek banget Kak. kayanya milih golput deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nyoblosnya pake lidi dek, ngga perlu gadget ^_^

      Delete
  5. Tulisan ini bikin merenung :)

    ReplyDelete