Friday, September 5, 2014

BAJINGAN SONTOLOYO [tanpa tanda seru (!!!)]

Hebohnya berita kemarin Pak Ahok bicara keras soal pejabat-pejabat DKI yang menurutnya adalah bajingan. Eh, bagus, dong! Atau jelek?
Ah, lepas dari yang pro maupun kontra, yang jelas saat itu nada Pak Ahok ketika mengucap kata "Bajingan" adalah negatif. Itu artinya, "Bajingan" yang dimaksudnya adalah buruk.

Tunggu dulu!
Benarkah "Bajingan" itu buruk?
Mari jalan-jalan ke masa lalu...

Dalam masyarakat Jawa, Bajingan adalah salah satu jenis profesi yang halal. Sangat berguna pula.
BAJINGAN adalah sebutan bagi orang yang berpekerjaan mengendalikan kereta atau gerobak sapi (kadang kerbau). Orang tersebut boleh jadi bukan pemilik kendaraan tersebut. Mungkin saja mereka adalah orang suruhan yang diupah juragannya.
Di masa lalu, gerobak sapi ini banyak digunakan untuk mengangkut hasil panen, sampai pindahan rumah. Serupa fungsi truk di jaman sekarang.

Satu kata "kasar" lain yang juga digunakan untuk mengumpat atau memaki saat ini adalah SONTOLOYO.
Tahukah kamu, SONTOLOYO juga adalah jenis profesi. Itu adalah sebutan untuk orang yang berpekerjaan sebagai penggembala bebek. Sontoloyo juga mungkin bukan pemilik bebek yang digembalakan itu. Dia bisa saja orang upahan juragan bebek.
Jumlah bebek yang digembalakan si Sontoloyo bisa berjumlah ratusan, bahkan ribuan. Dia akan membawa bebek-bebek itu berpindah dari tempat satu ke tempat yang lain dalam jarak jauh. Kemudian mendirikan kemah darurat untuk istirahat dirinya dan para bebek. Biasanya Sontoloyo akan mencari ladang atau sawah yang habis dipanen, sehingga menyediakan pakan untuk bebek-bebeknya berupa sisa padi.

Naah, kalau sekarang orang memakai kata BAJINGAN dan SONTOLOYO ketika mengumpat, padahal mereka adalah para profesional di masa lalu, maka tidak mustahil di masa depan anak cucu kita akan mengumpat dengan kata "PROGRAMMER" atau "PILOT"

:D

Thursday, September 4, 2014

ISTRI BARU BAPAK

Aku tak sengaja mendengarnya. Percakapan pelan,  hampir serupa bisikan antara bapak dan ajudannya. Aku yakin ini bukan urusan pekerjaan, karena kami sedang berlibur ke pantai. 

”Gadis ini sungguh pintar, calon dokter dari UGM, Pak,” bisik Purnomo, ajudan bapak.
”Sesuai betul dengan keinginanku. Dari dulu aku memang ingin punya istri seorang dokter. Ibu malah seorang akuntan.” Bapak terkekeh-kekeh.

Mendidih darahku. Rupanya bapak bukan lelaki kekecualian. Beliau sama saja dengan lelaki lain yang terlena setelah mendapat jabatan. Dan yang melenakan bapak adalah seorang gadis calon dokter.

Pada pasir coklat terang di pantai Batu Karas ini kutumpahkan kekesalanku. Kilap dari bias ombak yang menciuminya, nampak menyilaukan di pagi hari. Kutinju dan kutendang kuat-kuat pasir yang membisu. Apa salah ibu? Teganya bapak menduakannya. Ibu adalah perempuan yang sangat setia. Beliau bahkan rela meninggalkan kariernya di perusahaan asing demi mendampingi bapak berdinas setelah terpilih menjadi bupati di Ciamis. Ibu cantik dan sangat lembut. Aku saja sampai bercita-cita ingin mencari gadis yang serupa ibuku untuk kuperistri. Atau setidaknya yang memiliki kelembutan seperti beliau.

~~~~~~

Dengan bekal sedikit informasi dari mencuri-curi dengar, aku pergi ke Jogja untuk menyelidiki siapa sebenarnya Dayu, gadis calon dokter yang akan diperistri bapak. Memang ini beresiko, karena data yang sangat tidak jelas. Aku hanya tahu, namanya Dayu dan dia akan lulus tahun ini dari Fakultas Kedokteran UGM. Akan sangat mungkin aku keliru orang. Tapi sudah kepalang basah, aku sudah di Jogja. 

”Cid, kamu harus mencari informasi sebanyak-banyaknya soal gadis itu. Aku hanya punya waktu sebulan sebelum kembali ke Perancis. Liburanku sudah habis,” ucapku pada Ocid, kawan SMA dulu yang sekarang kuliah di UGM.

”Berat juga, Har. Informasimu sangat minim. Ah, semoga saja Dayu itu nama asli, bukan hanya panggilan,” kata Ocid.

Kunyalakan telepon selular yang dari tadi kumatkan. Wah, banyak sekali panggilan yang masuk rupanya. Belum sempat kulihat nomor-nomor itu, telepon selularku berbunyi. Panggilan dari rumah.

”Assalamualaikum,” salamku.

”Waalaikumsalam. Kamu di mana? Kok dari pagi sudah tidak aktif? Bapak mau ajak kamu ke Cukang Tanueh, lho,” cecar suara ibuku dari Ciamis.

”Harlan di Jogja, Bu. Sedang menemui teman, si Ocid. Ibu ingat, bukan?” Aku tak bisa berbohong pada ibuku rupanya.

”Waduh, ke Jogja kok nggak ngomong dulu. Har, kamu ngomong sendiri, nih, sama bapak. Dari pagi bapak uring-uringan mencari kamu. Nih, Pak ...” Suara ibu menjauh.

”Sudah, ibu saja yang ngomong.” Kudengar suara bapak pelan.

Entah mengapa aku merasa seolah ada pendulum berayun-ayun memukuli dinding jantungku. Nyeri mendengar suara bapak.

~~~~~~

Cuaca dingin yang kutinggalkan di Perancis membuatku sangat menyukai matahari musim hujan di Jogja. Tadinya aku akan langsung pulang, namun Ocid ingin mengajakku ke pantai Drini. Aku belum pernah ke sana, maka aku penasaran. Ocid bilang pantai Drini sangat indah. Baiklah, aku pun perlu menyegarkan pikiran dengan jalan-jalan. 

Malam ini aku menginap di kamar kost Ocid yang sempit. Seharusnya aku juga bisa menikmati suasana malam di Jogja, namun hatiku seperti membeku. Dingin dan mati rasa. Tak ada hiburan apapun yang kuinginkan kali ini.

Karena tak tahu jalan, aku menurut saja diajak berputar-putar dulu oleh Ocid. Aku membonceng saja dengan tenang di motor butut ini.

”Kita muter ke Piyungan dulu, ya. Aku harus menyerahkan hard disk berisi data ini ke kawanku,” seru Ocid dengan suara berbaur angin.

Aku hanya mengacungkan jempol saja tanda setuju.

Pagi bermatahari di musim hujan, membingungkan. Sinar menyorot terang, namun awan hitam bergumpal kecil-kecil beriringan menimbulkan bayangan awan belang-belang di wajah bumi. Kami berkendara dengan kecepatan sedang, maka kentara sekali bayangan awan ini menimpa kami. Sesaat seperti mendung, namun sepelemparan batu jalan yang kami lalui terang benderang.

Ah, sialan! Ocid menyetir motor sambil menelepon. Sungguh berbahaya. Kutepuk-tepuk pundaknya untuk mengingatkan. Namun kawanku itu tetap menelepon.

Ciiiiiii...ttt!! Braakk!!!

Semua serba cepat. Aku bahkan tak melihat truk yang tiba-tiba saja menyenggol motor kami. Aku tidak pingsan, namun mataku berkunang-kunang. Kakiku nyeri luar biasa. Ocid entah di mana. Orang-orang ramai berdatangan dan menolongku. 

”Kawan saya, Pak ... Dia di mana?” Aku berucap sambil menutup mata, pusing luar biasa.

”Kawan Mase sudah ditolong. Ndak apa-apa, Mase ... Ini dekat puskesmas. Mase tenang, ya,” ucap seorang bapak yang menggotongku bersama dua orang lainnya.

Entah apa yang terjadi pada Ocid, aku tak tahu. Aku juga tidak sepenuhnya tahu keadaan diriku sendiri. Kesadaran masih kukuasai, namun kepalaku pusing sekali. Aku pasrah saja dirawat orang-orang di puskesmas ini, dan hampir sepanjang waktu aku hanya terpejam. Yang kutahu, aku ditangani oleh seorang perempuan, entah perawat entah dokter, yang mengenakan jilbab lebar.

~~~~~~

Rencanaku mencari tahu tentang Dayu di Jogja berantakan semua. Aku kecelakaan dan mau tidak mau harus pulang ke Ciamis. Tidak parah memang luka yang kuderita, namun cukup menyakitkan. Lutut, mata kaki, dan kelingking kaki kiri terbaret di aspal. Kulitnya mengelupas sampai hampir ke tulang. Bukan lagi darah yang keluar, melainkan juga beserta cairan bening kekuningan yang anyir.

Tapi dari peristiwa ini, aku jadi kenal Wastu, perawat cantik berjilbab lebar yang menanganiku saat itu. Wastu adalah dokter asal Pangandaran yang berdinas di puskesmas Piyungan. Aku jatuh cinta dengannya, pada pandangan pertama.

Dan karena kecelakaan ini pula bapak menertawakanku tiada henti sepanjang hari. Ibu juga, setiap kali melihatku, beliau tersenyum. Padahal aku sangat tahu, pasti beliau sedang berusaha mati-matian menahan tawa. Bagaimana tidak, bapak bisa menebak maksudku ke Jogja dengan sangat jitu.

”Kamu pasti hendak mencari Dayu. Iya, kan?” tebak bapak.

”Bapak tahu dari mana? Pokoknya Harlan tidak rela ibu diduakan,” kataku ketus.

”Dayu itu gadis yang baik. Bisa ibu andalkan untuk sesekali mendampingi bapak berdinas,” ucap ibuku.

Bagai disengat ribuan semut api, aku meradang.

”Lho? Ibu kok malah mendukung bapak berpoligami? Kalau ibu ingin meraih surga, carilah pintu yang lain, Bu. Poligami tidak akan membahagiakan keluarga kita,” sergahku.

Bapak dan ibu tertawa bersamaan. Aku jadi semakin jengkel.

”Apa sih, kamu ini. Siapa yang mau poligami? Dayu itu, gadis yang kami pilihkan untukmu, untuk menjadi istrimu.” Ibu berucap di sela tawanya.

”Usia sudah kepala tiga, jelajah sudah sampai Perancis segala, tapi tak seorang gadis pun kau kenalkan pada kami. Kami ingin kamu segera menikah, Har,” sambung bapak.

Pipiku mungkin memerah. Sungguh aku sangat jengah saat ini. Malu, senang, juga sedikit kesal, campur aduk jadi satu.

Dayu ... Seperti apa gadis itu? Dia terdengar begitu memesona kedua orang tuaku. Tak kupungkiri rasa penasaran ini, meski hatiku telah tercuri oleh Wastu.

~~~~~~

”Sudah bisa pakai sepatu?” tanya ibu.

Aku menganguk sambil mengelus luka yang sudah mengering.

”Nanti agak siang, kita ke Cilacap. Ke rumah Dayu,” sambung ibu sambil menepuk bahuku.

Dadaku berdesir. Aku merasa aneh dan bingung. Bayangan Wastu yang anggun mulai tersamar oleh sosok Dayu yang kureka-reka sendiri.

Pukul 11 siang kami bertiga berangkat dengan mobil kecil. Bapak menyetir, di sebelahnya duduk dengan anggun ibuku yang berbaju kurung. Aku duduk di belakang memangku dus besar berisi kue-kue untuk buah tangan.

Ketika melewati Pangandaran, pikiranku dipenuhi sosok Wastu yang hanya sekilas kukenal. Betapa konyolnya, aku bahkan tak bertanya di mana tepatnya rumah Wastu. Kota ini begitu luas. Kecil kemungkinan aku bisa menemuinya di sini, kecuali bila aku kembali ke Piyungan, ke klinik tempat Wastu bertugas.

Maka ketika keluar dari kota, melewati perbatasan propinsi Jawa Barat-Jawa Tengah, aku memutuskan untuk berpikir realistis. Mungkin tak ada salahnya menuruti skenario orang tuaku untuk masalah ini.

Meskipun tak sepenuhnya lega, namun ketika mobil kami masuk kota Cilacap dan terus melaju menuju daerah Perumahan Pegawai Pertamina, aku sudah bisa tersenyum dan membuka hati. Bersiap untuk bertemu seorang gadis yang mungkin kelak menjadi istriku.

Rumah di komplek ini tidak begitu mewah, namun terlihat asri. Halaman luas berumput Jepang, dengan palem botol dan bebungaan aneka warna membuat lingkungan ini teduh dan menyenangkan. Kami berhenti di depan rumah bercat hijau yang tak berpagar. Seorang lelaki paruh baya tampak sudah menunggu.

”Assalamualaikum,” sapa bapakku begitu turun dari mobil.

”Waalaikumsalam. Mari silakan masuk,” sahut lelaki itu ramah sambil menyalami kami.

Ketika melangkah ke teras, aku sangat terkejut ketika sekilas seperti melihat bayangan Dayu melintas di ruang tamu. Hampir saja kotak kue yang kutenteng jatuh. Cepat-cepat kusampaikan buah tangan itu pada nyonya rumah begitu beliau menyambut di ruang tamu. Kami dipersilakan duduk di kursi klasik yang elegan.

”Dayu, ini tamunya sudah datang. Ke sini, Nak,” seru perempuan anggun itu.

Seorang gadis berjilbab keluar dengan langkah mantap. Jantungku berdesir penasaran. Dan ketika kami bersitatap, dadaku serasa meledak.

”Lho?! Wastu?!” Seruku.

”Eh, lho?! Mas... Aduh siapa ya namanya, lupa. Mas yang jatuh di Piyungan, kan?” Sahut gadis itu.

Empat orang tua saling berpandangan melihat kami saling tunjuk-tunjukan. Lalu meledak tawa di ruang tamu itu.

”Wah, ha ha ha ... Ternyata kalian sudah saling kenal. Baguslah. Kami tidak perlu lagi ambil bagian dalam pertemuan kalian. Ha ha ha ...” Ayahku terkekeh.

”Oh, tidak, ini harus diluruskan. Ini Dayu dan Harlan kenal di mana, dan sedang apa?” Ayah Dayu bicara agak serius meski wajahnya diliputi senyum.

”Ehm, Wastu ... Eh, Dayu ini yang menolong saya sewaktu kecelakaan di Jogja. Kami hanya bertemu sekali itu saja, Pak,” jawabku agak grogi.

”Harlan itu ke Jogja buat cari Dayu sebetulnya. Tapi malah ketemu Wastu. Ha ha ha ...”  Bapakku masih terkekeh-kekeh. 

Tiga perempuan di ruangan ini juga saling tertawa dan berceloteh riang menanggapi kejadian tak terduga ini. Wajahku mungkin merah seperti udang rebus. Tapi aku bahagia melihat wajah Dayu alias Wastu yang juga tampak gembira.

Wastu Sedayu, gadis pilihan bapak yang tenyata juga adalah gadis yang telah merampas habis hatiku ketika bertemu di Puskesmas Piyungan. Keluarga mereka memang dari Pangandaran, namun Sang Ayah yang menjadi karyawan Pertamina mendapat fasilitas rumah dinas di Cilacap.

Entah bagaimana nanti cerita yang akan kami rajut. Namun segala rangkaian peristiwa yang menuntunku bertemu gadis ini mampu meyakinkan bahwa dia adalah jodohku.

※TAMAT※

Cerpen ini telah dimuat di Majalah TIM International (Taiwan) edisi September 2014

ARI-ARI

Suara pedagang ember menawarkan dagangannya mendominasi keramaian pasar pagi ini. Teriakan sumbang bersahutan dengan suara berisik ember yang diadu dengan gayung. Di sebelahnya, pedagang ikan tampak sibuk membersihkan sisik gurami yang sedang ditunggu pembelinya. Bapak tua dengan pikulan berisi periuk dan kendi tembikar tampak sedang bertransaksi dengan seorang ibu yang sangat bawel menawar. Pedagang sayur meletakan begitu saja dagangannya di tanah hanya beralaskan dus yang digelar. Sedangkan barang-barang kelontong dijual hanya di satu-satunya toko di pasar ini.

Aku berjualan daging sapi berjajar dengan pedagang daging ayam dan tahu tempe yang sama-sama hanya menggunakan meja berpayung. Ini pasar kecil di daerah pelosok yang untuk ke kota terdekat saja perlu waktu hampir satu jam berkendara. Kehidupan di daerah ini berjalan lambat namun penuh kedamaian.

Sebagai pedagang, aku merasa rugi melewatkan pelanggan yang satu ini. Seorang bidan ramah yang tidak pernah menawar daging dan jeroan yang hampir tiap hari dibelinya dariku. Seringkali dia memborong, bahkan memesan lagi untuk esok hari. Bila pembeli adalah raja, maka Bu Bidan ini adalah raja arif bijaksana dan murah hati. Selalu kulayani dengan senang hati. Sayang, modal yang kecil dan pembeli di daerah ini yang kurang potensial membuatku hanya mampu berjualan sedikit saja. Aku tidak memotong satu sapi sendiri, tapi hanya mengambil belasan kilo saja daging dari penjual besar di kota. Nah, pembeli seperti Bu Bidan inilah yang membuat modalku terus berputar.

”Maaf, Bu, hari ini saya tidak sedia jeroan,” ucapku penuh sesal.

”Waduh ... bagaimana ini? Di rumah sedang ada pasien hendak melahirkan, harus ada jeroan,” gumam Bu Bidan lirih seolah untuk dirinya sendiri.

”Kalau memang mendesak, bisa saya carikan ke kota, Bu. Nanti sekalian diantar ke tempat ibu,” tawarku.

”Oh, bagus itu. Tapi jangan kesorean, apalagi sampai malam,” ucapnya sambil membuka dompet menarik dua lembar uang biru dan langsung disodorkan padaku.

Wah, ini sih pemaksaan. Tapi pemaksaan yang menyenangkan.

”Baik, Bu,” sahutku gembira.

Saking gembiranya, tanpa diminta aku langsung membantu Bu Bidan mengangkat belanjaan ke becak. Banyak betul belanjanya. Selain sayuran, beliau juga membeli sekarung beras, setengah karung garam mentah, dan belasan kendi bertutup seukuran buah kelapa. Aku tahu, kendi ini adalah tempat untuk menyimpan ari-ari atau plasenta bayi. Dan garam mentahnya akan dimasukan bersama ari-ari, supaya saat membusuk jadi tidak berbau. Bu Bidan menyediakan karena tidak semua keluarga pasien siap sedia benda itu.

Bu Bidan bukan penduduk asli desa ini. Baru tiga tahun yang lalu dia membeli rumah milik orang kaya yang sekarang sudah pindah ke luar pulau. Dia membuka klinik bersalin, sekaligus klinik umum. Kami yang selama ini selalu kesulitan mendapatkan layanan kesehatan, jadi merasa amat terbantu dengan kedatangannya. Apalagi Bu Bidan orang yang sangat baik. Dia kerap menggratiskan biaya pada pasien miskin yang datang ke kliniknya.

Tidak ada yang tahu keluarga Bu Bidan, karena dia tinggal sendirian. Meski begitu, rumah dan kliniknya selalu ramai, karena bidan dan tenaga medis dari kota kerap datang dan berpraktek di klinik itu.

~~~~~~~

Menunggu angkutan di terminal ini butuh kesabaran ekstra tinggi. Angkutan umum yang menghubungkan desa ini dengan kota terdekat hanya ada dua armada. Maka mereka akan saling bergantian jalan dan stand by di terminal.

Terminal? Ah, ini cuma tepian jalan dengan satu warung kopi dan beberapa bangku kayu panjang. Aktifitas di tempat ini berjalan amat lambat. Untung aku punya telepon selular. Aku sudah menghubungi pedagang daging di kota untuk menyediakan jeroan sapi.

”Ayo berangkat!” teriak kondektur yang bergelantungan di pintu mobil.

Kendaraan diesel ini terbatuk sedikit sebelum akhirnya bergerak pelan. Dari kejauhan tampak angkutan yang baru datang dari kota mulai mendekat. Tiba-tiba ada seorang ibu paruh baya berlari-lari sambil melambaikan tangan. Kondektur mengetuk atap mobil memberi kode supir untuk menghentikan mobil.

”Mari, Bu Nunik. Naik cepat,” serunya.

Seorang ibu gemuk tampak kerepotan naik. Keringat meleleh dan napas memburu karena tadi berlari-lari. Dia menuju jok kosong di sebelahku. Tubuhku yang kurus agak terangkat sedikit ketika dia menjatuhkan badannya.

”Untung sempat terkejar. Kalau tidak, saya bakal jalan kaki pulang. Anak saya tidak menjemput hari ini,” ucap Bu Nunik.
”Ibu kerja di rumah siapa, sih?” tanyaku pelan.
”Saya tukang masak di rumah Bu Bidan,”
”Oo ... Siang begini sudah pulang?”
”Memang saya kerja dari subuh sampai siang saja. Memasak untuk para bidan yang ada di sana, juga untuk pasien,”
”Ramai ya, Bu?”
”Ya, hampir setiap hari ada yang melahirkan di sana. Bu Bidan sungguh baik, sering mengratiskan pasien miskin. Dasarnya memang sudah kaya, sih. Itu bidan-bidan yang di sana biasanya juga pulang bareng saya. Baru nanti sore ada bidan ganti,”
”Tiap hari menunya lengkap ya, Bu? Daging sapi, kadang jeroan?”
”Saya tidak pernah masak jeroan. Tiap hari masak ayam, atau ikan. Pernah masak sapi, tapi hanya untuk Bu Bidan,”

Aku mengernyitkan dahi keheranan. Hampir tiap hari Bu Bidan membeli jeroan, tapi tukang masaknya tak pernah mengolahnya. Apa mungkin dimasak sendiri?

”Bu Bidan pintar masak juga ya, Bu? Mungkin daging dan jeroan sapi dimasak sendiri,” ucapku.
”Ha ha ha ... Bu Bidan tidak bisa memasak. Merebus air saja gosong.” Bu Nunik terkekeh-kekeh.
”Apa Bu Bidan punya hewan peliharaan? Anjing mungkin?” sambungku.
”Ah, tidak ada hewan di sana. Eh, kurang tahu juga, ya ... Di belakang ada ruangan yang tidak boleh didekati siapapun. Dari dapur sering kali terdengar seperti ada yang menggeram-geram. Tapi entahlah ...”

Bu Nunik turun di ujung jalan menuju rumahnya, meninggalkan bangku kosong yang busanya mulai bertonjolan keluar. Aku tak punya teman mengobrol lagi karena hampir semua penumpang terkantuk-kantuk.

Sesampainya di terminal kota, aku langsung bergegas mencari satu angkutan kota yang akan membawaku ke penjual daging sapi. Hanya sekitar lima menit saja sebenarnya aku naik angkutan ini. Kalau matahari tidak sedang panas-panasnya, berjalan kaki akan lebih menyenangkan. Berhemat pula.

”Semangat sekali, pak Didit. Waduh maaf ini, siang-siang saya mengganggu,” sapaku pada penjual daging yang sedang memotong-motong tulang menggunakan kampak kecil. Di situ ada juga seorang bapak tua yang membantu memasukan potongan tulang ke dalam karung.
”Wah, pak Khamim. Iya ini sedang menyelesaikan pekerjaan terakhir hari ini. Sambil menunggu sampeyan datang,” sahut pak Didit ramah.
”Saya juga buru-buru nih, Pak. Itu pesanan penting,”
”Saya ambil segera. Tunggu sebentar,”

Ketika pak Didit ke dalam, bapak tua yang membantunya itu bertanya,
”Apakah yang pesan jeroan itu seorang bidan?”

Aku terkejut.
”Lho, kok bapak tahu?”

”Apa namanya Bidan Rosma?” Dia bertanya lagi.
”Uhm, iya kalo tidak salah. Kami tidak memanggil nama beliau, hanya kami sebut sebagai Bu Bidan. Karena beliau satu-satunya bidan di desa kami,” jelasku.
”Kalau memang orang itu adalah Bidan Rosma, bapak sebaiknya hati-hati,”
”Ada apa dengan Bidan Rosma?”
”Aduh, tidak enak menceritakannya, karena semua ini hanya kemungkinan. Tidak ada bukti yang bisa ditunjukan. Diduga Bidan Rosma itu penganut aliran sesat. Dia mempunyai peliharaan mahluk astral, atau mungkin binatang buas sebagai pesugihan. Dia itu awalnya miskin lho, lalu kaya mendadak dengan penuh misteri,”
”Oh, ya? Lalu apa hubungannya dengan jeroan yang dibelinya dari saya?”
”Uhm ... Dia membeli jeroan, tapi pasti tak pernah dimasaknya. Coba tanya tukang masaknya. Mungkin jeroan itu yang diberikannya pada mahluk peliharaannya sebagai makanan. Entahlah, tak ada bukti. Hanya kekayaannya yang bertambah dengan tidak wajar itulah yang memancing kecurigaan kami,”

Aku membuka mulut ingin bertanya lagi. Namun urung, karena pak Didit keluar dengan sekantong besar jeroan yang kupesan. Ketika menerima jeroan, aku melirik jam dinding di atas pintu. Ah, waktu begitu cepat berlalu. Sebentar lagi sore, dan aku harus segera pulang.

Sambil berjalan kaki ke terminal, aku mencoba menghubungkan simpul-simpul khayal yang menjurai di otakku. Antara daging dan jeroan sapi yang selalu dibeli, bu Nunik yang tak pernah memasaknya, dan geraman yang didengarnya berasal dari ruang belakang. Lalu cerita Pak Tua yang membantu tukang daging. Pikiranku tergelitik penasaran. Apakah Bu Bidan memelihara harimau? Aih, pemikiran konyol!

~~~~~~~

Celaka!
Gara-gara aku ketinggalan angkutan terakhir, terpaksa aku harus menumpang truk pasir untuk pulang ke desa. Inipun sudah terlalu sore. Aku ingat pesan Bu Bidan agar jangan sampai kesorean, apalagi kemalamam. Tapi apa daya, aku tak sempat mengejar angkutan umum. Ditambah lagi, truk yang kutumpangi berbelok di pertigaan jauh dari jalan menuju rumah Bu Bidan.

Demi pelanggan yang terhormat, lintang pukang aku berlari agar lekas bisa menyampaikan pesanan. Langit yang mulai gelap menambah rusuh hatiku yang sudah sangat terburu-buru.

Rumah dan klinik bersalin itu mudah sekali dikenali. Sebuah gedung tua bercat putih yang letaknya agak terpisah dari perumahan warga. Bu Bidan tidak memasang pagar tinggi dan membuka halaman luasnya untuk bermain anak-anak. Namun area rumah induk terlihat sangat tertutup.

Beberapa orang tampak mondar-mandir di ruang tunggu klinik. Aku tidak melihat ada petugas, bahkan di meja pendaftaran sekalipun. Orang-orang itu mungkin keluarga pasien yang sedang melahirkan. Kulewati mereka menuju ruang lain yang terlihat terang benderang.

”Napas yang teratur, Bu ... Ya, huff... huff..., ikuti aba-aba saya.”
Kudengar suara Bu Bidan di antara suara perempuan yang terdengar kesakitan.

Aku mengetuk pintu yang setengah terbuka. Kulihat Bu Bidan bersama tiga orang bidan muda yang cantik sedang menangani seorang pasien. Meskipun berempat, yang bersuara hanya Bu Bidan saja. Tiga yang muda-muda bekerja dengan mulut tertutup rapat.

”Permisi, Bu. Ini jeroan pesanan ibu. Maaf sekali saya terlambat mengantar,” ucapku sopan sambil membungkuk.

”Bisa tolong ditaruh di dapur, Pak? Maaf ini tidak bisa ditinggal,” kata Bu Bidan sopan.

Bu Bidan lantas menunjuk ke arah belakang. Aku harus melewati semacam koridor untuk mencapai dapur yang ditunjuk Bu Bidan. Entah mengapa aku merinding di koridor ini. Lampunya remang-remang dan angin dingin dari belakang membuat bulu tengkukku berdiri.

Setelah meletakan bungkusan jeroan, aku celingak-celinguk sendiri. Iseng kulongok ke belakang dapur. Aku melihat sebuah ruang terpisah dengan pintu kayu yang tertutup. Mungkin itu ruangan yang diceritakan Bu Nunik tadi siang. Setelah memastikan tak ada yang melihatku di sini, aku melangkah mendekati ruangan itu.

Pintu kayu ini ternyata amat berat. Engselnya berdecit sewaktu kudorong pelan-pelan. Aku mengintip ke dalam ruangan dari celah pintu. Ternyata ruangan ini kosong melompong. Ubin putih tampak berdebu, dan tanpa penerangan. Cahaya yang masuk ruangan ini hanya berasal dari lampu di kebun yang menerobos lewat jendela kaca kecil di tengah dinding. Mungkin ini hanya gudang kosong.

Mengapa kata Bu Nunik ini tidak boleh didekati? Atau mungkin bukan ruang ini, mungkin ruang yang lain. Setelah agak lama melongok-longok bagian bangunan yang lain, aku memutuskan untuk kembali ke ruang depan menunggu Bu Bidan selesai, lalu menyampaikan kembalian uangnya.

Rupanya persalinan sudah selesai, aku mendengar tangis bayi dan beberapa suara lain. Mungkin keluarga pasien sudah diijinkan melihat bayinya.

Aduh, sialan! Baru saja langkahku sampai di dekat jendela dapur, aku melihat Bu Bidan berjalan terburu-buru ke dapur sambil mengangkat sebuah baskom stainless. Kurundukan kepala menghindar dari pengelihatan Bu Bidan. Posisiku di sudut gelap samping jendela membuatku bisa melihat ke dalam dapur tanpa diketahui oleh Bu Bidan. Aku melihat baskom stainless tadi ternyata berisi seonggok daging berdarah. Itu pasti plasenta bayi, alias ari-ari.

Bu Bidan membuka bungkusan jeroan. Dia memasukannya sebagian ke dalam kendi dan menimbunnya dengan garam. Setelah ditutup, dia membuat simpul dari tali lawe untuk membentuk gantungan pada kendi. Persis sama seperti memperlakukan ari-ari. Aku mengerjap-ngerjap memastikan bahwa yang tadi kulihat memang jeroan sapi, dan ari-arinya masih teronggok di baskom.

Dadaku berdebar dan tenggorokanku tercekat. Aku sungguh bingung dengan yang baru saja kusaksikan. Namun belum juga berhasil meredakan debar, aku kembali menyaksikan hal yang lebih aneh lagi.

”Hrrr... Ck... ck... ck.”

Bu Bidan mendecak pelan seperti memanggil binatang peliharaan. Namun yang datang menghampirinya adalah tiga bidan muda yang tadi membantu persalinan. Mereka berebut mengambil baskom berisi ari-ari dan segera membawanya ke ruang kosong berpintu kayu tadi.

Aku mulai berkeringat dingin. Jantungku berayun seperti pendulum membentur-bentur tulang iga. Kudengar samar dari dalam ruang itu suara geram dan seringai galak bersahutan. Binatang apa yang ada di dalam? Mengapa tadi aku tak melihatnya?

Rasa penasaran mengalahkan ketakutanku. Pelan kuhampiri pintu kayu yang terbuka separuh. Dan apa yang kulihat terjadi di dalam ruangan itu membuat jantungku seolah berhenti, darah lenyap dari mukaku, dan sendi gerakku semua kaku.

Tiga bidan muda telah berlumuran darah di mukanya. Wajah-wajah mereka berubah mengerikan, bermoncong dengan gigi-gigi runcing. Tubuh mereka, yang tetap seperti umumnya tubuh perempuan, bergerak liar berebut ari-ari dalam baskom yang kini sudah cabik-cabik. Makhluk apa mereka ini?

BUKK!!!

Hanya sesaat sebelum pandanganku gelap, samar kulihat Bu Bidan di belakangku memegang wajan teflon yang terayun.

~~~TAMAT~~~

Cerpen ini telah dimuat di Majalah Holiday (Taiwan & Hongkong) edisi Juli dan Agustus 2014.

SAMBAL KOBOI

Semua ini demi cita-cita mewujudkan impian bapak dan emak, dan menghargai segala jerih payah mbak Nur bekerja menjadi pembantu di Taiwan. Aku harus menjadi sarjana tahun ini. Harus!

Bapak dan emak adalah orang desa yang tak berpendidikan. Hidup serba pas-pasan pula. Namun mereka punya cita-cita tinggi untuk anak-anaknya. Mereka ingin suatu saat melihat kami memakai toga sarjana. Sebuah keinginan mulia yang membuat mereka rela pontang-panting mencari nafkah demi sekolah kami.

”Dul, sepertinya aku menyerah saja. Cukup sampai SMA saja sekolahku. Terlalu berat untuk bapak dan emak kalau harus membiayai kita berdua. Kamu saja yang kuliah nanti, ya. Aku bekerja saja untuk membantu biayanya.” Itulah kata-kata mbak Nur tiga tahun yang lalu ketika baru lulus SMA.

Setelah itu mbak Nur berusaha melamar pekerjaan apa saja. Namun ijazah SMA hanya membawanya bekerja sebagai pelayan rumah makan. Untuk sementara, gaji mbak Nur memang masih cukup membantu biaya sekolahku di SMA, bahkan di tahun pertama kuliahku juga. Tapi semakin lama biaya kuliah semakin bertambah. Mau tidak mau mbak Nur harus berusaha lebih keras lagi. Dan akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari rumah makan, kemudian mendaftar bekerja sebagai pembantu di Taiwan.

Hidupku juga serba prihatin. Kuliah di kampus ini tidak murah. Bantuan dari mbak Nur hanya bisa untuk membayar biaya kuliah. Sedangkan untuk keperluan sehari-hari harus kucari sendiri. Ini tidaklah ringan, apalagi aku anak kost, yang meskipun hanya kost di tempat sederhana, namun tetap saja harus membayar. Kecuali, mungkin, bila aku bisa memperistri anak ibu kost. Tampangku lumayan, tidak ’nyungsep’ bila disandingkan dengan Dude Herlino. Aku pekerja keras, rajin sembahyang, dan tidak merokok. Pokoknya aku, Abdulloh Amir, adalah sosok mantu idaman. Namun sayang, anak-anak ibu kost lelaki semua.

Soal mata kuliah dan kejar-kejaran SKS, itu bisa kuatasi dengan mudah. Tapi soal mencari uang, ternyata bukan perkara yang gampang kupecahkan. Sulit mencari tempat kerja yang klop dengan jadwal kuliah tapi bergaji besar. Bilapun ada yang cocok waktunya, bergaji besar pula, maka tempat itu ternyata hanya menerima yang sudah sarjana. Ah, sementara lupakan saja. Dan bekerjalah aku di sebuah tempat bimbingan belajar terbesar di kota ini. Bukan mengajar, melainkan sebagai tukang sapu. Apa boleh buat? Hanya ini posisi satu-satunya yang lowong.

~~~~~~

”Dul, ada kiriman beras dari emakmu,” kata Usman, kawan sebelah kamar yang juga sekampung denganku.
Aku menyambutnya dengan gembira.
”Alhamdulillah. Kapan datang, Us? Apa kabar bapak dan emak? Kamu sudah makan apa belum? Di kampung sedang musim apa? Kambingmu sudah beranak?”
Saking gembiranya aku bertanya bertubi-tubi dan acak. Usman tertawa terkekeh-kekeh. Dia meletakan begitu saja kantong gandum yang berisi beras dari kampung. Beras separuh kantong ini sungguh berarti bagiku.

Eh, tapi ...

”Aduh, Us, bagaimana ini? Aku tak bisa masak nasi. Tempo hari rice cooker itu kuloakkan, karena aku kehabisan uang dan jarang kupakai juga.” Kutepuk jidat menyadari keadaan.
”Pakai punyaku dulu. Aku belum makan juga hari ini. Kebetulan aku tadi diberi sisa bahan praktikum anak tata boga. Kita masak bersama.” Usman memberi solusi brilian.

Jadilah kami sepasang koki sore itu. Koki kepepet di tempat kost yang dapur umumnya hanya menyediakan dispenser dan tempat cuci piring. Ini tempat kost laki-laki, jadi mungkin ibu kost tidak merasa perlu menyediakan alat masak. Penghuni kost biasanya makan di warung. Atau seperti aku dan Usman, yang punya penanak nasi listrik.

Kami berdua segera mulai beraksi. Alat masaknya hanya satu: rice cooker. Menu lauknya lumayan menggoda, dilihat dari bahannya; kangkung, ikan asin, cabe, tomat, dan terasi. Sekilas sudah terbayang kami berdua duduk bersila di lantai berlapis karpet plastik sambil menyanding nasi putih panas, cah kangkung, ikan asin goreng, dan sambal terasi. Wah, sekali terbayang langsung terbit air liurku. Kami tersenyum-senyum sebelum akhirnya sadar dengan kesulitan; bagaimana menumis cah kangkungnya? Menggoreng ikan asinnya? Mengulek sambalnya?

Usman mengelus-elus janggut dengan dahi berkerut. Berpikir keras rupanya dia. Aku sudah sibuk mencuci beras, dan menanaknya. Kangkung kubersihkan, begitu pula dengan cabe, tomat, dan bahan lainnya. Biarlah tugas Usman berpikir, aku menyiapkan saja.

”Kita kukus kangkungnya,” seru Usman gembira.
”Sip!” sahutku .

Lalu kupasang panci tambahan di atas penanak. Panci yang menurut petunjuk buku manualnya adalah untuk memanaskan sayur.

”Kukus juga cabe, tomat, dan terasinya,” sambung Usman, kemudian kembali mengelus-elus janggut.

Aku makin bersemangat mengikuti petunjuk Usman dalam memasak. Aku berdoa semoga dia segera menemukan wangsit bagaimana cara menggoreng ikan asin dan mengulek sambal.

”Tidak ada minyak nih, Dul. Ikan asin dibakar saja, ya,” saran Usman.
”Baik. Jadi barbeque. Bakar di mana?” Aku celingukan mencari kompor, arang, atau apapun yang kira-kira Usman maksudkan untuk mewujudkan ide membakar ikan asin.
”Pakai setrika,” ujarnya singkat.
”Haah?!” Demi Tuhan aku tidak menyangka Usman sekreatif itu.
”Bahaya, tidak?” sambungku.
”Tenang saja. Aku pernah membakar roti dengan setrika. Aman, kok,” jawab Usman mantap.

Menyetrika ikan asin? Sungguh gila. Oh, tapi baiklah, boleh dicoba.

Usman mencolok kabel ke saklar dan membalik setrika itu serta mengganjalnya dengan beberapa buku. Sungguh brilian. Setrika terbalik menjadi tungku pembakar ikan asin. Sungguh koki istimewa kawanku yang satu ini.

Usman menata lima potong ikan asin kering di atas setrika panas. Sesekali dibaliknya menggunakan sumpit. Sebenarnya aku ingin tertawa, tapi Usman terlihat serius sekali. Aku tak ingin menyinggung perasaanya. Apalagi aku juga harus memutar otak, bagaimana caranya mengulek cabe, tomat, dan terasi menjadi sambal.

Kubuka tutup rice cooker untuk memeriksa cabe dan kawan-kawannya itu. Ah, hampir matang. Maka segera kucari pengganti cobek beserta ulekan, karena kutahu pasti tak ada di sini. Rak kecil di sudut ruangan hanya berisi dua piring, satu mangkuk, dan satu gelas. Aku tidak melihat sendok maupun garpu. Hanya ada sepasang sumpit di situ. Kaku tanganku memakai sumpit seperti orang Cina. Mungkin nanti perlu kuambil sendok di kamarku sendiri untuk makan.

Agak ragu kuambil mangkok dan sumpit. Lalu kuangkat bahan sambal ke dalam mangkok. Gerilya berlanjut ke sebelah rak. Ada besek plastik berisi botol kecap yang sudah hampir habis, dan beberapa bungkus bumbu mi instant. Bola lampu menyala di kepalaku. Ting! Aku punya ide.

”Us, ini bumbu mi sudah lama belum?” tanyaku.
”Ehmm... Mungkin semingguan. Aku cuma meremas mi-nya, dan memakannya mentah-mentah. He he he,” Usman cengar-cengir.

Segera saja kusobek bungkus bumbu mi instant, kutuangkan isinya ke dalam mangkok yang berisi cabe, tomat, dan terasi. Botol kecap kecil itu kucuci, dan kujadikan penumbuk untuk menghaluskan bahan sambal.

”Wuiih ... cerdas! Akalmu boleh juga di bidang persambalan. Gayamu seperti koboi mengulek sambal. Ha ha ha,” Usman tertawa melihatku membuat sambal.

”Kamu juga jenius, membakar ikan asin dengan setrika. Hua ha ha.” Tawaku tak kalah keras.

Seusai shalat maghrib, kami berdua duduk bersila di lantai beralas karpet plastik. Nasi di rice cooker, kangkung yang hanya dikukus, sambal yang diulek dengan gaya koboi, dan ikan asin yang disetrika terhidang dengan manisnya di hadapan mahasiswa kurang gizi ini.

Kami berdua makan dengan lahap dan penuh rasa syukur. Sesekali kami bercanda, menertawakan diri kami sendiri.

”Besok jangan lupa, itu setrika dilap bersih dulu sebelum digunakan. Jangan sampai kamu ke kampus dengan baju beraroma ikan asin, ” aku berkata sambil mencocol kangkung kukus ke sambal koboi.

Tawa kami berderai-derai. Kamar kost sempit dan kehidupan sebagai mahasiswa miskin memang bukan sesuatu yang menyenangkan. Namun sungguh, kami ingin selalu gembira dalam kondisi apapun. Bapakku dulu pernah memberi petuah:
”Jaga hatimu untuk tetap gembira ketika keadaan sulit. Dengan begitu, niscaya kamu tidak akan mudah terlena ketika keadaan menjadi mudah”

Ya, aku meyakininya. Mungkin justru keterbatasan seperti inilah yang kelak akan membuatku rindu dan terkenang selalu suatu saat nanti. Karena di sinilah keringat, doa, dan perjuanganku benar-benar terasakan.

~~~~

Cerpen ini telah dibaca pada Siaran Bilik Sastra VOI RRI.

Monday, August 4, 2014

ODE UNTUKMU, GUS

Rindu padamu
adalah kerinduan akut dalam hening
Indah rasa segala kenangan
Meski hanya sekali kulihat wajahmu
Dalam dimensi tanpa antara

Engkau adalah hutan rimba, Gus
Tempat banyak tumbuhan mengakar
dan menancapkan hidupnya
Dari yang bermanfaat obat
sampai dia yang beracun

Engkau adalah gunung, Gus
Tempat berbagai hewan berlindung
dan melangsungkan lestarinya
Dari yang menyembuhkan
sampai dia yang buas mematikan

Aku kehilangan sebagian jiwa
saat engkau menjadi baka
Melimpah yang engkau tinggalkan
tak pernah habis kuamalkan
Ilmu tentangmu laksana api abadi

Aku ’keyungyun’
Selangit rinduku
Meski sesungguhnya tak pernah sedikitpun
engkau pergi dari hatiku
:Gus Dur

Sunday, July 13, 2014

SURAT UNTUK KAKAKKU: CALON PRESIDEN INDONESIA

Assalamualaikum
Apa kabar, Kak Jokowi? Semoga kakak dan keluarga selalu sehat dan bahagia.
Kakakku yang baik hati, bangga rasanya sudah memilih kakak sebagai Presiden RI tanpa menebar benci kepada Bapak Macan. Aku memberi suara dengan sangat sadar dan hati yang sesak penuh harapan.

Memang, Kak, aku sempat ragu karena beberapa temanku berusaha melemahkan keyakinan dengan mengirimiku berita tak baik tentang diri kakak. Maafkan mereka, ya ... Teman-temanku itu orang baik, mungkin hanya karena mereka belum tahu.

Keraguan yang sempat mampir di hatiku, ternyata sangat mudah sembuh hanya dengan melemparkan ingatanku sendiri ke tahun 2005. Saat itu, aku adalah perantau dari Cilacap yang tinggal di Kampung Kemlayan, Kota Solo. Di sela pekerjaanku, aku mengisi waktu dengan mendaur ulang kardus bekas selongsong gulungan kain menjadi celengan lukis pasir. Aku menjualnya setiap minggu pagi di depan Stadion Manahan.

Satu pagi yang takkan kulupa, ketika seorang bapak mengikuti anak kecil menghampiriku dan membeli sebuah celengan seharga Rp.3000. Setelah mendapatkan celengan yang disukainya, anak kecil itu ingin buru-buru pergi. Namun bapak lembut itu menahan dan menyuruhnya mengucap terima kasih dulu kepadaku. Beliau sendiri tersenyum dan mengangguk ramah ketika kubalas ucapannya.

Aku tak tahu, sampai kawanku menggamit lengan dan berkata, bahwa bapak yang membeli itu adalah Pak Walikota. Aku terkejut. Senyumku mengembang penuh kebanggaan ketika kulihat punggung Pak Walikota berlalu. Aku merasa sangat ’diuwongke’ ketika bahkan pada pedagang kaki lima musiman sepertiku, di saat yang sangat santai tanpa sorot media, bahkan saat aku sendiri tidak tahu siapa pembeliku itu, Pak Walikota tak lupa bersikap sopan. Pak Walikota itu adalah Kak Jokowi.

Setelah itu, kusaksikan sendiri perubahan Kota Solo menjadi lebih nyaman ditinggali di bawah kepemimpinan kakak. Bila semua itu adalah pencitraan saja, maka aku adalah ’korban’ pencitraan yang merasa nyaman dan bahagia.

Saat ini aku sedang menjemput rizki yang ditebarkan Tuhan, bekerja sebagai buruh migran di Taiwan. Bukan karena aku tak cinta Indonesia, Kak, melainkan memang beginilah Tuhan menggariskan perjalanan hidupku. Meskipun aku di sini, hatiku tetap Merah-Putih. Aku sepenuhnya Indonesia. Maka dari itulah, ketika di sini pun aku tetap berusaha menjadi bagian dari Indonesia berproses. Aku membayar pajak dengan taat, dan bersemangat mengikuti proses pemilihan umum. Apalagi ketika akhirnya muncul nama Kak Jokowi sebagai Calon Presiden yang bisa kupilih.

Selain itu, aku juga sedang mempersiapkan diri untuk pulang ke tanah kelahiran dan menebar manfaat bagi sekitar seperti yang kakak contohkan. Yang kumampu memang tak banyak, namun dengan yang sedikit itu aku akan turun tangan.

Oh ya, Kak ... Bila memang nanti kakak menjadi presiden, aku ingin kakak meningkatkan perlindungan terhadap kami, para buruh migran. Supaya kami bisa bekerja dengan tenang dan bermartabat, kemudian pulang ke Indonesia dan siap mandiri, turun tangan untuk pembangunan.

Terakhir, Kak, aku mohon doa restu. Adikmu ini, beserta 9 kawan lainnya sedang mewakili Indonesia dalam lomba sastra. Kami membawa Merah Putih bertanding dengan negara lainnya. Bila kemenangan kami peroleh, maka itu adalah kemenangan untuk Indonesia.

Sekian surat dariku. Semoga kakak dan seluruh bangsa Indonesia selalu dilindungi Tuhan.

Adikmu

Erin Cipta

Update:
Aku brrhasil menjadi pemenang harapan dalam lomba menulis itu, Kak ...

Sunday, July 6, 2014

QUICK COUNT, hitung cepat yang ”kecepetan”

Jumat malam, tgl 4 Juli aku membaca kabar dari WNI yang di Riyadh tentang hasil pemilu presiden 2014.
Hasilnya, Prabowo 40% Jokowi 55%, suara tidak masuk 5%.
Awalnya aku cuma nyengir-nyengir imut, tidak terlalu excited dengan angka ini. Riyadh memang sudah mencoblos hari jumat itu.
Lalu, sabtu malam tanggal 5 Juli seorang kawan mengirimi sebuah data yg lebih panjang. Seperti ini:
JOKOWI MENANG TELAK DI PEMILU LUAR NEGERI
Quick Count Pemilu Luar Negeri :
ARAB SAUDI : Jokowi 75%Prabowo 25%
EROPA : Jokowi 60%Prabowo 40%
AMERIKA : Jokowi 80%Prabowo 20%
AUSTRALIA :Jokowi 85% Prabowo 15%
TIMUR TENGAH :  Jokowi 70%Prabowo 30%
ASIA OCEANIA:Jokowi 65%Prabowo 35%
MALAYSIA :Jokowi 85%Prabowo 15%
JEPANG :Jokowi 60%Prabowo 40%

Ebuset! Bukan nyengir lagi deh sekarang. Ada yg aneh...
Setahuku, Jepang dan Malaysia baru akan mencoblos hari Minggu tgl 6 Juli deh...
Lalu, angkanya kok sempurna amat. Hasil suara terhitung semua 100%. Apa tidak ada yang berhalangan hadir? Apa semua surat suara sah? Apa tidak ada yang golput?

Tanda tanya kubawa sampai tidur.

Dan Minggu pagi, 6 Juli, aku membaca sebuah data yg lebih ajaib. Sumbernya dari sebuah akun milik seorang wartawan.
Ini datanya:

Hasil exit poll kubu Prabowo-Hatta:

Taiwan (Prabowo-Hatta) 76% (Jkw-JK) 24%
Arab saudi (Prabowo-Hatta) 46% (Jkw-JK) 54%
Malaysia (Prabowo-Hatta) 75% (Jkw-JK) 25%
Jepang (Prabowo-Hatta) 77% (Jkw-JK) 23%
Tiongkok (Prabowo-Hatta) 45% (Jkw-JK) 55%
Yaman (Prabowo-Hatta) 66% (Jkw-JK) 34%
Singapura (Prabowo-Hatta) 52% (Jkw-JK) 48% Masih

Hasil exit poll kubu Jokowi-JK:

Arab Saudi: Jokowi 75% Prabowo 25%
Eropa: Jokowi 60% Prabowo 40%
Amerika Serikat: Jokowi 80% Prabowo 20%
Australia: Jokowi 85% Prabowo 15%
Timur Tengah: Jokowi 70% Prabowo 30%
Asia Oceania: Jokowi 65% Prabowo 35%
Malaysia: Jokowi 85% Prabowo 15%
Jepang: Jokowi 60% Prabowo 40%

Ternyata wartawan itu mengutip dari KORAN INI

Wow! Aku tercengang...

Meski disebutkan sebagai exit pool, tapi ini tetap saja jadi data yang absurd. Exit pool itu kan didapat dengan cara menanyai pemilih yang baru KELUAR dari bilik suara tentang siapa yang barusan dipilih. Dan ini hasilnya sudah keluar bahkan sebelum pemilih itu MASUK ke bilik suara. Ajaib!

Dan lagi-lagi angkanya sangat sempurna: 100%

Seingatku waktu sosialisasi pemilu, petugas menyebutkan bahwa meskipun kami di luar negeri mencoblos tanggal 6 juli, namun kotak suara tetap akan dibuka tanggal 9 juli. Sama seperti di Indonesia. Penyebaran berita tentang hasil pemilihan sebelum tanggal itu dilarang, karena bisa dianggap provokasi.

Ah, sudahlah. Aku tak ingin membawa angka ini ke dalam tidur. Aku sudah cukup lelah seharian tadi mandi matahari di roof top, dan nanti juga harus membangunkan kakek jam 3 pagi untuk nonton bola.

Saatnya bobo cantik.
Wan an ... Selamat malam