Saturday, November 22, 2014

KENANGAN KUE CUBIT

Waktu kecil dulu harus mengantri untuk membeli kue ini. Bentuknya macam-macam, dan kita boleh memilih kue yang bahkan masih dalam proses pemanggangan. Dulu, aku selalu memilih yang kelihatannya paling besar, padahal sama saja :D
Di penjual yang lain, lebih menarik lagi. Meski memakai cetakan sederhana hanya berbentuk bulatan (cetakan kue carabikang) namun ia menuang adonan keluar dari bulatan dan membuatnya semacam kaki-kaki. Ketika matang, bentuknya seperti laba-laba.
Dulu, mana pikir penjual itu memakai pemanis atau bahan yang tidak sehat. Keasyikan bukan melulu karena rasanya, melainkan karena rame-rame antri dan melihat penjualnya berkreasi.
Etapi, memang enak, sih... aku suka yang agak gosong. Ada temanku yang selalu minta setengah matang. Jadi pinggirannya sudah padat tapi tengahnya lembek agak basah. Aku pernah mencicipi, tapi tetap tidak suka. Agak eneg di perut setelah memakannya.

Besok kalo udah pulang, bikin, aahh... pilih bahan yang sehat ;)
Biar gadis-gadisku tidak jajan terlalu banyak di luar.

Ini resepnya

BAHAN:
100 g Tepung terigu
100 g Gula pasir
100 g Mentega cair
2 btr Telur
½ sdt Emulsifier (ovalet/TBM)
½ sdt Baking powder
Vanili bubuk secukupnya

TABURAN
Coklat meses, keju parut, dll (sesuai selera)

CARA MEMBUAT KUE CUBIT SEDERHANA:
Kocok telur, gula pasir dan emulsifier hingga putih kental dan mengembang dengan kecepatan tinggi
Masukkan tepung terigu, vanili bubuk dan baking powder dengan kecepatan rendah hingga rata lalu masukkan mentega cair dan aduk sampai tercampur rata
Panaskan dan olesi cetakan kue cubit dengan mentega, lalu tuang adonan dan taburi dengan meises, tutup dan panggang hingga matang
Bisa juga dipanggang menggunakan wajan anti lengket. Hasilnya datar seperti pancake.
Kalau mau berkreasi dengan bentuk, adonan bisa dimasukan ke dalam plastik segitiga yang digunting ujungnya.

Wednesday, November 5, 2014

DAN AKU PUN BENJOL

Jadi siang itu aku harus mengelap jendela. Demi kelancaran prosesnya, aku buka daun jendelanya lebar-lebar. Kuseka sampai ke sudut terjauh tanpa ada yang terlewatkan. Selain daunnya, bingkai jendela itupun aku lap. Termasuk wilayah sekitarnya. Totalitas!

Ketika posisiku sedang jongkok, aku teringat sesuatu. Ah, aku merebus air di atas kompor terlalu lama. Mungkin moncong panci siulnya rusak, sehingga aku tak mendengar tanda air sudah mendidih.

Demi keamanan bangsa, negara, dan kakek yang sedang leyeh-leyeh, aku bangkit buru-buru. Mungkin kapasitas otakku cuma sedikit, jadi ketika terisi memory tentang air, terhadap daun jendela yang menganga aku jadi lupa. Bangkit buru-buru dengan semangat menggebu, tubuhku memiliki daya lenting tinggi.

Ciaaatt... Duar!!

Ujung kepalaku bersentuhan dengan bibir daun jendela yang tak punya dosa. Seperempat detik, gelaplah dunia. Lalu nyeri luar biasa menjalar dari ujung kepala sampai ujung jempolku yang seksi.
Terhuyung sebentar... lalu aku jatuh duduk terjajar.

Mumet, sumpah!

Mumet dan sakit hati, karena kulihat kakek terkekeh-kekeh melihatku tertatih berusaha berdiri.

Tapi sebenjol-benjolnya kepalaku diadu dengan jendela, tetap saja ada hikmahnya (entah apa :P)
Meski tertawa, kakek juga rela tertatih-tatih bangkit dari kursi pijat untuk mengambil cold pack dari kulkas. Setelah dibungkus dengan handuk tipis, yang entah kakek ambil di mana, cold pack itu diserahkan padaku untuk mengompres tonjolan benjut yang senut-senut.

Endingnya, antiklimaks. Air di kompor selamat, mendidih dengan tepat. Hehehe... ya iya, lah...
Ternyata memang aku memasang api terlalu kecil, hingga makan waktu untuk mendidih. Moncong siulnya masih berfungsi dengan baik.

Jendela yang sudah kinclong juga tetap di tempatnya, tak ada engsel yang bergeser. Syukurlah...

Ehm... perasaan agak ngga enak, nih... kayaknya tetep ada yang kurang beres ...

Aih, ya ampun!! Ternyata handuk tipis pembungkus cold pack ini adalah serbet kompor.

Huaaaaa!!! Kakeeeekkk....!!

Image by Google search

LINGKARAN

Dulu aku menganggap, berjalan di lingkaran itu buruk, karena hanya memutar kembali ke titik mula.
Namun sekarang, aku melihat lintasan jalanku sendiri malah berbentuk lingkaran sempurna. Dan anehnya, membuatku bahagia!

Akhir Mei 2012 aku memulai langkah meninggalkan keluarga. Aku masih ingat betul Elok dan Embun yang keduanya masih balita, melambai-lambai dengan gembira di depan pintu. Mungkin di benak mereka, ibunya hanya pergi membeli bawang ke warung. Ibu mertuaku menangis tergugu di belakang mereka. Jangan tanya bagaimana air mataku tumpah saat itu. Bahkan saat aku menulis ini, pipiku basah lagi tak kira-kira. Sakit sekali ...

Langkah awal sungguh berat. Membuatku berkali-kali ingin kembali. Mundur lagi ke titik mula. Tapi rupanya yang kupijak adalah sebuah titian jembatan rapuh, yang satu persatu pijakannya jatuh selepas kakiku menapakinya. No way back!
Aku harus tetap melangkah maju meski berdarah-darah.

Aku terjatuh tak hanya sekali. Berkali-kali. Bahkan ketika sampai di setengah lingkaran, kemudian bergulir sedikit, aku ingin memotong jalan. Melintas hanya separuh perjalanan, melemparkan diriku kembali ke pelukan keluarga, meski dengan kekalahan.

Beruntung suami dan anak-anakku tak lelah mengeraskan suara, hingga aku tak pernah merasa sendirian. Mereka jaga lintasan langkahku tetap dalam lingkaran. Menyoraki saat semangatku meredup, hingga kembali terbakar.

Satu persatu pencapaian kuraih di jalanku menuju pulang. Separuh lebih sudah kutempuh. Sisa lintasan langkahku kini adalah lengkung landai yang menenangkan. Bisa kulihat jelas sekali senyum keluargaku menungguku pulang. Sedangkan aku juga sudah menggenggam banyak kemenangan. Piala terbesar yang kugendong adalah piala sabar.

Berjalan melingkar ternyata bukan tak pergi kemana-mana, melainkan menjalani takdir menuju mereka yang dulu mengantar dan berhak menerima kembali.
Aku pulang semusim mendatang ...

Image by www.rhinoafrica.com

Sunday, November 2, 2014

DARI BUKU ITU

Lantai ubin ini serasa terayun ketika tanganku menyentuh sebuah buku yang disodorkan Hasan. Buku tua ini adalah benda kenangan yang aku sudah percayai tak mungkin bisa kembali. Tapi Hasan datang dan mematahkan kepercayaan itu.
”Enam belas tahun aku mencarimu, Aling. Aku ingin memberikan buku ini,” ucap Hasan lembut.
Aku masih belum bisa berdiri dengan benar. Tangan kiriku masih memeluk tiang teras untuk menjaga tubuhku tetap tegak. Buku tebal ini adalah novel terjemahan karya Maxim Gorky berjudul The Mother. Buku pemberian ayah di hari ulang tahunku yang ke-17.

~~~~
Mei 1998 ...
Aku dan Hasan sedang bersiap-siap menghadapi ujian kelulusan SMA. Kami berdua belajar di rumah Hasan yang sempit dan penuh kardus-kardus bekas. Keluarga Hasan adalah penampung kardus bekas dari para pemulung.
”Sudah, taruh dulu buku itu. Bacalah nanti setelah ujian usai. Sekarang konsentrasi dulu pada buku pelajaran,” ucap Hasan sambil mengambil novel yang sedang kutekuni.
”Yaaah ... Aku baru sampai di tengah, nih.” Aku merajuk.
Hasan mengambil sesobek kardus dan menjadikannya sebagai pembatas halaman buku. Sebelum menutupnya, Hasan membaca tulisan ayahku di halaman depan.
”Aling, selamat ulang tahun. Ayah mencintaimu.”
”Ayahmu menyenangkan sekali, ya,” ucap Hasan.
Novel The Mother itu kumasukan dalam tas dan aku mulai belajar dibimbing oleh murid terpandai ini.

Namun segalanya menjadi sangat membingungkan. Aku tak sempat mengikuti ujian karena tiba-tiba saja ayah menyuruhku ikut ke Citorek, Banten Selatan bersama bu Maemunah, perempuan tua yang menjadi pembantu di rumahku. Aku tak pernah tahu persis apa yang terjadi. Kulihat di TV, Jakarta rusuh. Glodok, tempat ayah dan ibuku membuka toko elektronik, habis dibakar massa. Aku histeris mengetahui semuanya. Bu Maemunah menjagaku amat ketat dari kemungkinan aku akan nekat pergi ke Jakarta.

~~~~
”Kulihat rumahmu hangus dibakar. Ayah dan ibumu meninggal. Ketika kutanya pada kerabatmu yang juga kocar-kacir, mereka tak ada yang tahu di mana dirimu. Aku hanya diberi tahu oleh tukang sayur langganan keluargamu bahwa kamu mungkin pergi bersama bu Maemunah. Sulit sekali mencari alamat ini karena mereka hanya tahu bu Maemunah orang Banten,” ucap Hasan.
”Aku tahu kabar tentang mereka tiga bulan setelah kejadian itu. Bu Maemunah mati-matian melarangku kembali ke Jakarta. Karena itu pesan ayahku. Dan aku menjalani hari-hari baru di pegunungan seperti ini.” Kata-kataku bercampur air mata.
”Rumahmu roboh tanpa sisa. Aku kehilangan semua tentang dirimu, kecuali buku ini yang tertinggal di rumahku.” Suara Hasan terdengar bergetar
Aku mendekap buku hadiah dari ayah. Memasukan semua cinta dan kenangan atasnya dalam hatiku. Kehilangan ayah, ibu, dan kehidupanku di Jakarta membuatku menjadi zombie di pegunungan sejuk ini. Aku memilih hidup terasing meski Bu Maemunah selalu berusaha mengajakku ke luar desa. Aku terkurung waktu selama enam belas tahun.
Dan hari ini, entah dari mana asalnya, Hasan datang membawa sebuah pintu. Lewat buku yang bahkan pembatas halaman dari sobekan kardus itu masih utuh di angka aku berhenti membaca dulu, aku kembali memulai mengenali diriku sendiri. Memunguti serpihan kenangan yang beberapa kali kucoba ingkari.
”Kalau tak keberatan, pulanglah ke Jakarta bersamaku,” Pinta Hasan.
”Keluargaku tercerai berai semua, kan?” Tanyaku dalam linangan air mata.
”Ada satu yang masih tinggal, Acim. Ipar ayahmu itu masih ada, tinggal sendirian di rumah kecilnya. Kami mengurus semua dokumen terkait harta benda keluargamu. Pada Acim kami serahkan surat-surat tanah dan segala peninggalan orang tuamu,”
”Acim ... Ah, bukankah Acim tuna rungu? Bagaimana bisa bertahan hidup? Jangan katakan Acim mengemis!”
”Tidak, Aling. Acim pandai membuat kue. Beliau hidup dari usaha kue bulan khas Tionghoa,”
Tidak mungkin! Aku tak percaya apa yang dikatakan Hasan. Bagaimana bisa orang keturunan Tionghoa seperti kami masih bisa bertahan setelah tragedi itu? Aku kehilangan segalanya. Orang tuaku meninggal mengenaskan dalam kerusuhan. Kudengar pula banyak di antara kami yang diperkosa dan kehilangan hak sebagai manusia. Hasan pasti sedang menghiburku saja.
”Aku tahu kamu ragu. Tapi kamu mengurung diri terlalu lama, Aling. Kamu tidak mengikuti perkembangan setelah peristiwa itu. Kamu sibuk meratap-ratap saja,” Sambung Hasan.
”Apa yang terjadi sekarang?” Tanyaku pelan. Aku merasa takut sekali mendapat cerita yang mengerikan.
”Aling, sekarang semua sudah lebih baik. Kaum minoritas, Tionghoa salah satunya, hidup aman berdampingan dengan semuanya. Orang-orang yang memicu kerusuhan dulu itu sudah diproses hukum. Pemerintah menjamin hak-hak hidup semua penduduk tanpa pembedaan. Kamu tidak pernah nonton TV? Dengar radio?”
”Tidak sama sekali. Aku selalu ketakutan,”
”Ah, kamu harus tahu, orang nomor dua di Jakarta sekarang dipanggil ’Koh’, bukan ’Bang’. Namanya Ahok,”
”Orang Tionghoa memimpin Jakarta?! Tidak mungkin!”
Aku memekik. Ototku serasa mengejang mendengar cerita Hasan. Napasku memburu, dan tubuhku melenting berdiri mengimbangi ledakan perasaanku. Hasan tersenyum-senyum melihatku begitu.
”Kembalilah ke Jakarta, Aling. Ambil kembali hidupmu. Jangan menyerah dan menjadi manusia terasing karena rasa takut. Aku tahu kamu perempuan hebat. Pasti bisa melewati semua ini dengan langkah tegap,”

Dan sepanjang malam itu, aku berdiskusi panjang dengan Hasan. Otak dan perasaanku teraduk-aduk, namun kembali hidup karena Hasan menceritakan semua yang ada sekarang. Setelah enam belas tahun menjadi manusia yang mengasingkan diri, kini aku siap untuk kembali dan menjemput nasibku, mengambil kembali hakku.
Hasan menginap di rumah pak RT malam itu. Sedangkan aku tak sepicing pun bisa memejamkan mata. Bu Maemunah akan ikut bersamaku ke Jakarta esok. Entahlah, aku terlalu grogi menghadapi peristiwa ini. Aku merasa perlu seseorang ibu. Dan bu Maemunah adalah penggantinya.
Kudekap buku Maxim Gorky yang dibawa Hasan. Ujung-ujung halamannya basah oleh air mataku. Dari buku itu aku seperti membuka pintu ajaib yang bisa mengembalikanku ke masa lalu. Aku sungguh rindu pada ayah dan ibuku.

※TAMAT※

Telah dimuat di majalah TIM International edisi Oktober 2014

Thursday, October 30, 2014

IBU SUSI BUKAN TELADAN

Rame ya, ngomongin Ibu Susi Pudjiastuti.
Aku punya cerita juga tentang beliau. Begini:

Pada suatu hari (hihihi), tepatnya aku lupa, sekitar akhir tahun 1997 atau awal tahun 1998, aku dan beberapa teman sedang ada pekerjaan di daerah Ciamis. Saat itu kami hendak memotret objek wisata Cukang Taneuh di Cijulang, dan penangkaran penyu di Cipatujah. Tempat singgah kami saat itu di Delta Gecko, sebuah penginapan pinggir laut Pangandaran. Satu dari kami adalah seorang wartawan. Dia memang berniat sekalian mewawancarai sosok perempuan pengusaha. Jadi, sekali dayung, dua tiga pulau terengkuh, gitu.

Nah, karena santai, maka kami semua ikut ke kafe Hilmans tempat Ibu Susi, sang pengusaha itu. Ketika kami datang, kafe sepi karena masih pagi. Kami disambut langsung oleh Ibu Susi yang saat itu mengenakan celana panjang jeans, baju atasan tanpa lengan bunga-bunga hitam putih, sandal santai, rambut keriwil yang diikat seadanya, dan rokok di tangan. Oiya, Ibu Susi juga tampak tanpa make up. Tapi beliau ramah. Kami dijamu sup kerang, lobster, dan ikan barakuda panggang. Menu berat untuk sarapan telat. Hahaha...

Ibu Susi adalah perempuan yang sangat energik. Energinya luar biasa. Beliau selalu bergerak, melesat-lesat. Ketika duduk pun, kakinya bergoyang-goyang, dan tangannya mengetuk-ngetuk. Ah iya, beliau merokok tak putus-putus.

"Saya sudah merokok sejak remaja," ucap Bu Susi.

Ketika batang terakhir dalam bungkus rokok itu ditarik, beliau langsung membuang bungkus itu ke keranjang di pojok kafe. Tapi lantas diambilnya lagi.

"Lupa, tadi saya menyelipkan uang Rp. 20.000 di sini. Kebiasaan. Sering lupa saya taruh uang di bungkus rokok, lalu dibuang saja." Beliau terkekeh.

"Kamu orang mana?"

Agak terkejut aku ketika beliau menanyakan itu sambil melihatku.

"Tetangga, Bu. Saya orang Cilacap," jawabku.

"Woooh... saya sering tuh ke Nusa Kambangan dari sini naik jetski sendiri. He he he ... Kapan-kapan, ayo nanti saya ajak,"

Rame betul ngobrol dengan beliau. Kami juga dikenalkan dengan anaknya, Hilman, yang lewat sekilas saja, acuh, lalu cepat-cepat lari entah kemana. Saat itu Hilman masih menjelang remaja, agak gendut. Karyawan yang membantunya melayani kami juga dikenalkan satu-persatu.

Selain duduk bicara di kafe sambil melihat biawak berjemur di pinggir kolam, kami juga diajak berkeliling tempat penyimpanan dan pengolahan lobster serta fillet ikan untuk ekspor.

"Pisau ini saya pesan dari Perancis. Boros betul pakai pisau di sini. Sebentar saja sudah kikis jadi seperti keris begini,"

Ibu Susi terus bercerita tentang usaha itu. Oiya, saat itu beliau belum punya pesawat, "hanya" pabrik pengolahan hasil laut dan kapal-kapal ikan.

Seminggu kemudian, profil beliau muncul di media, hasil wawancara temanku. Hebat memang perempuan itu. Usahawan tangguh dan berani.

~~~~~

Lalu sekarang, Ibu Susi jadi Menteri Perikanan dan Kelautan (eh, benar ya, begini nulisnya?) Sebuah pencapaian yang kurasa memang pantas. Tidak kuingkari bahwa beliau memang orang yang hebat sekali. Deretan prestasi kerja membuktikan hal itu.

Tapi ...

Ibu Susi bukan perempuan yang akan kujadikan teladan ketika mendidik anak-anak gadisku.

Tentu saja ini bukan berarti lantas aku menyembunyikan cerita kehebatan Ibu Susi ini pada Elok dan Embun. Tentu saja bila suatu saat bercerita tentang beliau, akan kuceritakan kehebatan itu dengan semangat. Namun aku tidak akan mengatakan pada mereka; tirulah Ibu Susi.

Fakta bahwa beliau hanya lulusan SMP, tidak akan kusembunyikan dari anak gadisku. Namun menyikapi hal ini, aku tak akan mengatakan pada mereka:
Buat apa sekolah tinggi-tinggi, lulus SMP saja bisa jadi Menteri.

Tidak!

Aku akan tetap mengarahkan Elok dan Embun untuk bersekolah setinggi-tingginya. Bahkan sudah kusiapkan biaya untuk pendidikan mereka sampai menjelang kuliah (eh, dapet dari hadiah, ding ^_^ ) Aku tetap ingin anakku senang bersekolah. Yang lulus SMP jadi menteri itu ya Ibu Susi. Perempuan super hebat. Anakku mungkin tidak setangguh dan sehebat beliau. Mau jadi apa kalau hanya lulus SMP? Semisal anakku sehebat Ibu Susi, tentu akan memperoleh pencapaian lebih jika ditunjang pula dengan pendidikan tinggi. Insha Allah...

Tentang attitudes, tentulah aku ingin anakku tidak merokok dan bertatto. Aku tidak menghujat Ibu Susi yang seperti itu. Karena itu adalah pilihan. Aku pun punya hak memilih bagaimana mendidik anakku.

Jadi hikayat tentang Ibu Susi yang kusampaikan pada anakku, adalah tentang hal-hal hebat dalam bekerja.

Aih, ada itu kemarin yang konyol membandingkan Ibu Susi dengan Queen of Scary (Ratu Atut). Laaah, ya itu bukan tandingannya. Tidak seimbang. Ibarat membandingkan buah apel dengan jamblang. Pembandingan itu ujungnya hanya akan melahirkan bullying pada keduanya.

Kalau mau membandingkan, cari lawan yang sepadan. Sesama menteri perempuan, misalnya. Coba sandingkan dengan Ibu Khofifah, atau Ibu Retno. Kalau masih ngotot juga ingin membandingkan dengan 'orang luar', coba adu dengan Ibu Risma. Haa...

Iya, iya... Ibu Susi orang hebat. Tidak kubantah itu. Kehebatannya itu juga bikin aku optimis kok, dengan posisi dan tugasnya sebagai pembantu Presiden Jokowi.

Tapi bukan Ibu Susi yang akan kujadikan role model untuk anakku.

Ada permasalahan personal juga sebetulnya. Aku pun menyimpan kekecewaan terhadap beliau. Ini berkaitan dengan bencana banjir yang dialami daerah tempat kakakku tinggal di Cilacap Barat.

Tiap tahun kakakku kebanjiran karena luapan sungai Citanduy yang terhambat alirannya ke laut oleh pendangkalan Segara Anakan (karena sedimentasi). Solusinya sudah ada, yaitu dengan menyodet sungai Citanduy. Karena sungai Citanduy ini melintas di dua wilayah, yaitu Cilacap-Jateng dan Pangandaran-Jabar, maka realisasi proyeknya tentu melibatkan dua daerah. Termasuk di wilayah itu adalah wilayah usaha milik Ibu Susi. Tentulah beliau berkepentingan menjaganya, meski harus menghalangi proyek ini. Media menulis, Ibu Susi memediasi konflik pemerintah dan warga dalam proyek penyodetan Sungai Citanduy. Di media, she is a hero ...

Dan aku, yang hanya seorang adik dari warga yang rumahnya terendam sampai atap, boleh saja kecewa, bukan? Kekecewaan yang sama besar pada Pemkab kami juga, sih ... Jadi memang tak perlu dimunculkan, apalagi sampai membully Ibu Menteri.

Baiklah, senang sudah pernah bertemu dan berbincang langsung dengan perempuan hebat seperti anda, Bu... Selamat bekerja. Dengan kehebatan anda, aku pun optimis anda akan bekerja bagus di bidang itu. Semoga anda bisa mengoptimalkan potensi laut Indonesia  dan menjaganya untuk tetap lestari.

Teladan perempuan hebat untuk anak-anakku, bukan Ibu Susi.

:)

Saturday, September 27, 2014

DERET ENAM ANGKA

Semua yang dia bisa, sudah dilakukannya. Sejak dulu, sejak dia sudah mulai mengerti bahwa keinginannya akan banyak hal, jarang ada yang gratis. Hamdani kecil sudah banting tulang ketika kawan sebayanya masih dijatah uang jajan oleh orang tua mereka. Dan apa yang anak kecil bisa lakukan hanya menghasilkan sedikit saja uang. Itupun lebih banyak karena belas kasihan.

Ketika kawan-kawannya ramai bermain gundu, Hamdani kecil berjualan es lilin keliling kampung. Ketika musim layang-layang tiba, dan ramai orang bermain di sawah kering menjaring angin, Hamdani tekun menyabit rumput untuk kambing peliharaan tetangganya. Sedikit receh bisa dikantonginya dari sekeranjang besar rumput yang merana karena kemarau. Bonusnya adalah beberapa butir cimplukan dan singkong sisa panen di tanggul kali dekat tempatnya menyabit.

Dia punya emak yang wajahnya terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Mungkin beban kemiskinan yang telah merampas binar kemudaannya. Tidak ada bapak. Bukan sudah meninggal, melainkan entah di mana. Hamdani hanya mengenal sosok bapak dari serpihan-serpihan ingatan masa kecilnya. Sejak dia berusia dua tahun bapak lenyap. Bila dia bertanya tentang bapak pada emak, maka yang ditemukannya hanya air mata dan usapan tangan kasar emak di kepalanya.

Ada Umi yang terpaut empat tahun usianya dengan Hamdani. Kakak perempuannya ini hanya bisa di rumah sepulang sekolah. Bergantian dengan emak menjaga Maulana, adik Hamdani yang menderita hydrocephalus. Emak harus bekerja, namun Maulana tidak bisa ditinggal sendirian karena sangat tergantung pada orang lain. Emak kadang pergi ke pasar, menjadi buruh gendong. Atau bila masa panen tiba, emak akan ngasag, mengais butir-butir padi sisa mesin perontok. Maulana malang tidak pernah sempat bertemu bapak. Dia lahir sebulan setelah bapak lenyap.

Hidup miskin membuat emak, Umi, dan Hamdani panik setiap hari. Panik akan apa yang bisa mereka makan hari ini. Sakit yang diderita Maulana menambah nestapa anak-beranak itu. Namun semua itu tidak mampu membuat cinta mereka mati. Kemiskinan lekat menempelkan hati mereka satu sama lain. Ketika malam tiba, saat semua sudah di rumah dan membawa hasil mereka seharian bekerja, maka tergelar drama yang membuat siapa pun tertawa sambil mengeluarkan air mata haru.

”Selamat ulang tahun, kami ucapkan ...”

Umi dan Hamdani menyanyi bersama-sama sambil mengelus tubuh Maulana yang tergolek di atas dipan bambu. Maulana sudah besar, sudah berusia tujuh tahun. Badannya memanjang, namun lemas dan kurus kering. Kepalanya sangat besar dan gepeng. Senyum terkembang dari bibirnya, menampakan deretan gigi hitam. Suaranya tidak jelas, namun sorot matanya-yang selalu terbelalak- tampak gembira sekali. Emak membawa sepiring singkong rebus dan sangrai belalang sebagai menu makan malam mereka. Perempuan kurus itu tertawa melihat ketiga anaknya.

”Makan, makan! Menu istimewa yang akan membuat kita kenyang, sehat, dan tidur nyenyak,” gurau emak dengan suara riang.

Umi dan Hamdani mendekat, mengambil sepotong singkong, dan berebut menyuapi Maulana.

”Aih, Putri Umi dan Pangeran Hamdani makan sendiri saja. Pangeran Maulana biar Ibu Suri yang menyuapi.” Emak masih bergurau.

Di lingkaran lampu temaram, di dalam gubuk bambu, empat manusia bergembira dalam kesenangan yang sangat sederhana. Cinta yang melimpah ruah di antara mereka membuat kebahagiaan itu terasa amat istimewa.

***

Kehidupan berjalan pada titian yang sudah diatur oleh Sang Maha Sutradara. Keluarga sederhana Hamdani pelan berubah. Umi bekerja di Hongkong sebagai pembantu sejak usianya 19 tahun, sejak Hamdani masuk Madrasah Aliyah. Bertahun-tahun bekerja di majikan yang sama, majikan baik yang menganggapnya keluarga. Umi pelan-pelan berhasil mengangkat keluarganya dari jebakan kemiskinan.

Sedangkan Hamdani, setelah lulus Madrasah Aliyah, bekerja serabutan di kota kecil dekat kampungnya. Tiga tahun dihabiskannya untuk mencoba berbagai profesi. Dari sales kasur busa, tukang catat meteran air, pelayan toko obat, sampai tukang rakit lemari instan. Di usianya yang ke 21, dia pergi ke Taiwan, mendaftar bekerja di pabrik keramik di kota Taipei. Dia harus membayar sekitar 20 juta rupiah sebelum berangkat, dan sekitar 25 juta rupiah lagi selama sembilan bulan bekerja dalam bentuk potongan gaji tiap bulan. Modal sebelum berangkat dia dapatkan dari Umi.

Emak tinggal sendirian di kampung, karena Maulana akhirnya kembali ke pangkuan Tuhan ketika usianya menjelang sepuluh. Gubuk bambu sederhana mereka telah berubah menjadi rumah mungil semi permanen yang asri. Emak tidak lagi ngasag, karena sepetak sawah telah berhasil Umi beli untuk digarapnya.

***

Hari itu Hamdani keluar dari 7-11, toko serba ada yang buka 24 jam. Menenteng kantong berisi macam-macam makanan kering dan minuman soda. Dandanannya, meski sederhana, terlihat bagus dan tidak murahan. Tangannya sibuk dengan telepon selular layar sentuh. Agak kerepotan dia.

“Hao le ma?”  Seorang lelaki berkulit putih dan bermata sipit mencolek pundak Hamdani.

”Hao. Hao le,”  sahut Hamdani.

Mereka berdua bergegas ke seberang menuju stasiun kereta cepat. Hari masih sore, dan orang-orang banyak sekali berlalu-lalang di pelataran stasiun itu. Beberapa orang nampak berdiri saja di tengah orang yang bersliweran sambil memegang sebuah kendi dan mengacungkannya pada orang-orang itu. Pengumpul dana sumbangan rupanya.

Lelaki sipit yang berjalan bersama Hamdani merogoh saku, lalu memasukan kertas putih ke dalam kendi.

”Apa yang kau masukkan, Chen? Itu tadi kertas, bukan uang.” Hamdani bingung.

”Ya, itu tadi bon belanjaku di 7-11,” sahut lelaki yang dipanggil Chen.

”Bon? Kamu bercanda?”

”Kamu yang tidak tahu rupanya. Mereka pengumpul dana untuk rumah sosial. Kita bisa menyumbang uang, atau bon belanja. Uang jelas berguna. Bon belanja itu mereka terima karena ada angka seri yang akan diundi. Bila keluar angka itu, mereka akan dapat uang. Daripada kubuang, maka kuberikan saja pada mereka. Kalau bonku yang menang, biar uangnya buat mereka,”

Hamdani takjub mendengar penjelasan itu. Refleks tangannya merogoh kantong dan mengeluarkan bon belanja miliknya. Dia memperhatikan deretan angka di antara centang perenang huruf Cina yang tidak dipahaminya.

”Ayo cepat! Kereta datang!”

Mereka berdua berlarian menuju platform kereta cepat.

***

Pabrik keramik tempat Hamdani bekerja bukan pabrik yang sangat besar. Pekerjanya hanya sekitar 60 orang. Separuh pekerja adalah orang Taiwan, dan sisanya adalah pekerja asing dari Indonesia dan Thailand. Meski tidak besar, pabrik itu memberi fasilitas bagus untuk pekerjanya. Pekerja asing ditempatkan di mess yang bersebelahan dengan pabrik.

Bila waktu shalat tiba, pihak pabrik memperbolehkan pekerjanya shalat secara bergantian. Tempat bersih di samping kantor disediakan untuk itu. Lingkungan pabrik baik dan sehat. Hak-hak pekerja juga diberikan penuh dan tepat waktu. Hamdani beruntung bekerja di pabrik ini. Itulah mengapa waktu hampir dua tahun yang dilaluinya terasa singkat. Hamdani betah dan nyaman.

Malam ini mess sepi, karena kebanyakan teman bekerja lembur. Jatah lembur Hamdani besok malam. Hamdani yang hanya berkaos oblong dan bersarung hilir mudik membereskan kamar. Baju-baju miliknya sendiri dia kumpulkan untuk dicuci.

Ketka mengosongkan saku-saku bajunya, Hamdani tertegun menemukan selembar bon pembelian dari 7-11. Dia teringat cerita Chen soal undian, maka kertas itu disimpannya dalam dompet bersama uang dan kartu identitas miliknya.

Rupanya deretan angka di bon pembelian telah memikat hati Hamdani. Setiap kali dia berbelanja ke 7-11, kertas bon pembelian selalu disimpannya.

”Bagaimana kita tahu bon pembelian ini menang undian atau tidak?” tanya Hamdani pada Chen sewaktu makan siang.

”Uhm, setiap bulan ada pengumumannya di koran. Nanti kamu bisa cocokan. Minimal harus sama tiga angka belakang, kamu akan dapat 200 NT Dollar,” terang Chen.

Hamdani ingin bertanya lagi, namun Chen melanjutkan ucapannya.

”Kalau kamu suka undian seperti itu, beli saja Lotto. Kamu bisa mengadu keberuntunganmu tiga kali seminggu. Angkanya pun bisa kamu pesan. Jadi tidak seperti bon pembelian ini; sebulan sekali dan angkanya hanya menurut mesin kasir saja.”

Ooh, togel rupanya. Hamdani bergumam dalam hati.

”Aku antar kamu nanti ke kios Lotto.” Chen menutup percakapan.

Huk!!
Hamdani tersedak chow tofu atau tahu yang difermentasi dengan berbagai bahan sehingga beraroma sangat menyengat.

***

Kios Lotto terlihat ingar bingar dengan lampu warna-warni dan barang-barang yang bertumpuk berdesakan. Hamdani penasaran dengan cerita Chen tadi siang. Dia bukan tidak tahu bahwa mengadu keberuntungan seperti ini adalah dosa. Namun rupanya Hamdani mulai terseret godaan rasa penasarannya sendiri.

”Ada macam-macam jenisnya. Kamu mau coba yang mana? Harian? Tiga kali seminggu? Mingguan? Atau bahkan yang instant per jam?” Chen memberondong Hamdani yang masih tertegun-tegun di depan kios.

Dan malam itu Hamdani tergelincir melakukan dosa, sengaja melempar dadu mengadu keberuntungannya. Dibelinya selembar kupon Lotto dengan enam digit angka pesanannya seharga  50 NT Dollar. Dia membeli empat baris angka dalam satu kupon, sehingga taruhannya malam itu senilai 200 NT Dollar. Chen menganjurkannya untuk membeli beberapa kupon sekaligus, namun Hamdani menolak. Rupanya dia seperti orang kebanyakan ketika mengenal sesuatu yang baru, ingin mencicipi dulu sebelum benar-benar menelan untuk menuntaskan rasa penasarannya.

Pengundian Lotto malam itu di televisi tidak disaksikan Hamdani. Namun dia mendapat informasi dari Chen melalui pesan singkat. Kupon miliknya tidak menang sama sekali.

”Beli lagi saja. Kuajari cara menebak yang jitu,” saran Chen.
”Bagaimana?” tanya Hamdani.
”Aku punya catatan angka-angka yang sebelunya sudah pernah menang. Kita bisa menebak angka berikutnya dengan rumus-rumus tertentu. Kukenalkan kamu nanti dengan sepupuku. Dia jago merumus,” ucap Chen.

Ada yang mendesak-desak di dada dan tarik-menarik di hatinya. Hamdani bimbang. Dia tahu telah tergelincir dosa bermain judi angka seperti ini, namun rasa penasaran menguasai benaknya.

”Hamdani, hati-hati kamu bergaul di sini. Chen itu memang orang baik, tapi dia bukan muslim. Dia tidak paham kalau minum alkohol dan bermain judi itu haram untuk kita,” nasehat seorang teman sesama orang Indonesia.

Hamdani mengerti itu nasehat baik. Tapi entah mengapa ada yang terusik di hatinya. Dia merasa seperti disentil, tidak menyakitkan tapi membuat telinga dan pipinya panas.

***

Dulu, ketika ada waktu luang, pegangan Hamdani adalah buku dan Al Quran kecil. Meski bukan pemuda yang sangat alim, namun dia mau mengaji dan belajar ilmu agama. Shalat lima waktu juga tertib dipenuhinya, meski kadang tidak di awal waktu.

Sekarang, ketika ada waktu luang, pegangan Hamdani adalah kertas panjang berisi deretan angka-angka. Itu adalah rekapan nomor Lotto yang sudah pernah keluar. Hamdani sudah mulai ketagihan membelinya setelah beberapa kali menembus tiga angka terakhir. Taruhan yang dipasangnya kini bukan hanya beberapa ratus, melainkan sudah beberapa ribu. Dia merasa harus benar-benar menghitung supaya angka yang dipasangnya jitu. Maka dia membuat rekapan itu dan mengikuti cara Chen dan kawan-kawannya merumus. Dia selalu memelototinya tiap ada kesempatan. Sebisa mungkin dia menghindar dari kawan-kawannya. Meski di sini tidak aneh orang memasang taruhan di kupon Lotto, namun Hamdani masih merasa malu dan sungkan. Akibatnya dia mulai kehilangan kawan.

Telepon seluler Hamdani berbunyi, ada panggilan masuk.

Dari Umi? Tumben ... Batin Hamdani.

”Halo ... Assalamualaikum, Mbak,” sapanya.
”Waalaikumsalam, Dan. Mbak punya kejutan, nih.” Suara Umi riang di seberang.
”Apa?”
”Kok kamu sepertinya tidak tertarik? Mbak mau pulang ke Indonesia, dan tinggal di kampung saja dengan emak. Kalau tak ada halangan apa-apa, mbak juga ingin segera menikah. Kamu ingat mas Heri, khan? Kakak kelas mbak dulu,”
”… …”
”Hei! Kok diam saja? Kamu kira-kira bisa pulang cuti di akhir tahun kedua, tidak?”
”Eh, tak tahu lah, Mbak. Pabrik sedang banyak pekerjaan,”
”Ya sudah, tak usah dipikirkan sekarang. Sudah telepon emak?”
Emak?!
Hamdani lupa kapan terakhir telepon emaknya. Apa yang ada di pikiran dan hatinya kini sungguh berbeda. Sejak mengenal Lotto seakan tidak ada hal lain yang lebih perlu dipikirkan.
”Sudah belum?” ulang Umi.
”Iya nanti, Mbak. Eh, ini Dani sedang sibuk, Mbak. Sambung lain waktu, ya,”
”Baiklah. Jangan lupa shalatmu, Dani. Di mana pun dirimu, jangan pernah tinggalkan shalat. Wassalamualaikum,”
”Waalaikumsalam ...”

Selepas berbincang dengan kakaknya, Hamdani terpekur sejenak. Lemari stainless di sebelahnya memantulkan bayangan buram tubuhnya yang masih mengenakan pakaian kerja tebal. Wajah Hamdani kumal. Badannya mulai kurus kurang tidur, karena kebanyakan merumus nomor Lotto. Dia meraba dompet dan segera tahu isinya. Uang sisa gaji bulan ini masih separuh, dan dia merasa tak perlu mengirimkan pada emaknya, karena bulan kemarin sudah kirim.

”Sudah kamu tentukan angka berapa yang akan kamu pasang malam ini?” Suara Chen tiba-tiba terdengar. Hamdani terlonjak.
”Belum,” sahutnya pelan.
”Kalau kamu bingung dengan rumus yang kuajarkan, ada cara lain. Cara yang biasa kami lakukan di sini,” sambung Chen.
Hamdani menatap Chen menuntut penjelasan lebih lanjut.
Chen tersenyum dan segera menarik tangan Hamdani keluar areal pabrik.

***

”Kuil?”
Hamdani heran Chen mengajaknya masuk tempat sembahyang.
”Ikuti aku. Kami biasa meminta berkah pada Dewa Judi untuk memohon petunjuk, nomor berapa yang akan keluar malam nanti,” ucap Chen.
”Tidak, tidak. Silakan kamu yang bersembahyang memohon pada Dewa. Aku menunggu saja di teras,” tolak Hamdani lembut.

Sambil menunggu Chen bersembahyang, Hamdani duduk di teras kuil dengan air mata menitik di sudut matanya. Hanya karena dia lelaki, maka bulir bening itu sekuat tenaga dia cegah untuk jatuh.

Ya Allah ... Ampuni aku ...

Hamdani begitu ngeri melihat dirinya sendiri sekarang. Bermula dari keisengannya mengundi nasib di Lotto, dia hampir saja melakukan dosa yang tidak terampuni; syirik! Undi nasib saja sudah haram. Itu pun sudah ia rasakan menghancurkan hidupnya secara perlahan. Kehilangan teman, karena mulai asyik dengan diri sendiri merumus angka-angka, kehilangan emak karena setiap kali hendak menelepon, dia selalu takut ditanyai apa yang dilakukannya. Dia tahu tidak bisa berbohong pada emak. Hamdani menenggelamkan wajah dalam kedua telapak tangannya. Dadanya naik turun gelisah.

”Aku sudah selesai. Ayo kita ke kios sekarang,” ajak Chen.

Setan masih berjaya atas nurani Hamdani. Meski sudah hampir menangis sewaktu di depan kuil, dia tetap saja memasang angka taruhan di kupon Lotto.

”Ini Lotto terakhirku, Chen.” Hamdani berucap tanpa maksud ingin didengar Chen.

***

Pagi masih buta, langit masih kelabu. Entah, mungkin seharusnya di timur sudah mulai semburat merah, namun mendung membuatnya berwarna kelabu merata. Hamdani terbangun oleh getar telepon selularnya. Ada pesan masuk.

Hamdani memaksa diri membuka matanya yang terasa amat berat. Pesan dari Chen rupanya. Ah, pasti nomor Lotto malam tadi isinya, batin Hamdani. Setengah sadar dia membaca deretan angka yang dikirim Chen. Namun seketika kesadaran penuh mengalir ke seluruh syaraf tubuhnya. Deretan angka itu bukan angka yang asing untuknya. Itu adalah angka pribadi yang sangat dihapalnya.

Semalam, ketika Chen bersemangat sekali membeli kupon, Hamdani justru malas-malasan. Beban perasaan yang ditanggungnya ketika sadar dirinya hampir tergelincir syirik membuat Hamdani tidak lagi peduli dengan segala teori rumusan Lotto yang dipelajarinya. Dia hanya menyebut tanggal lahir orang-orang terdekatnya secara urut ditambah tanggal bersejarah dalam hidupnya. Tanggal lahir Emak, Umi, dirinya sendiri, Maulana, lalu tanggal dirinya disunat, dan tanggal Maulana pergi ke surga.

Hamdani menebak undian itu dengan jitu. Entah berapa uang yang akan didapatnya nanti. Pasti jutaan NT Dollar. Uang sebanyak itu seharusnya membuat Hamdani gembira. Namun yang terjadi saat ini adalah, dia berkeringat dingin dan tergugu menahan tangis.

Kisah hidup di masa lalu berkelebat cepat melintasi ingatan Hamdani. Wajah emak berkali-kali muncul dan menghunjamkan pandangan yang membuat dia ciut. Sosok Maulana dengan kepala yang sangat besar juga seakan mencolok bola matanya. Wajah Umi, wajah seorang lelaki yang mungkin bapak, wajah tetangganya, wajah dirinya,sendiri ketika masih bocah.

”Allah ... Allah ... Allah ... Ampuni aku. Aku tak akan mengambil uang itu. Terlalu berat pertanggungjawabanku nanti terhadap-Mu. Sungguh aku tak sanggup. Ampuni aku, Ya Allah ...”

Hamdani terjatuh dalam tangis yang tidak disembunyikannya sedikitpun.

***

Di luar mess, seorang lelaki bermata sipit sedang bicara dengan kawannya yang bermata lebar. Lelaki itu menyerahkan sebuah benda mengilat, dan sebuah amplop.

”Terserah akan kamu apakan orang Indonesia yang punya kupon itu. Aku hanya ingin kuponnya,” bisik suara seraknya.

Mereka berdua bersalaman dan berpisah. Yang satu menjauhi mess pabrik, yang lainnya masuk.

Matahari benar-benar tidak muncul sampai waktu seharusnya dia sudah setinggi tombak. Jam kerja pabrik akan mulai tiga puluh menit lagi. Hamdani terlihat rapi di dalam kamar yang sepi. Diraihnya selembar sajadah dari sandaran kursi dan digelarnya dengan khidmat. Dua rakaat Dhuha ingin ditunaikannya.

Diam-diam, dibelakang Hamdani, lelaki bermata lebar yang membawa benda mengilat mendekat ...

TAMAT
***000***

Footnote:

~Cimplukan : Buah lentera. Tanaman liar yang berbuah seperti tomat kecil dan terbungkus kulit tipis yang mengembung seperti lentera.
~Hydrocephalus: kondisi medis di mana ada akumulasi abnormal cairan cerebrospinal (CSF) dalam theventricles, atau rongga dari otak.
~Ngasag: mengais sisa bulir padi yang tidak terproses mesin perontok atau sudah tidak diambil pemiliknya.
~”Hao le ma?”: (bahasa Mandarin) Sudahkah?
~”Hao. Hao le”: (bahasa Mandarin) Baik. Sudah.
~Lotto: Sport Lottery, undian angka yang diselenggarakan bebas dan resmi di Taiwan.
~Chow Tofu: Tahu bau. Makanan khas Taiwan.

※Cerpen ini adalah salah satu tulisan dalam buku kumpulan cerpen ILUSI MALAHAYU※

Wednesday, September 24, 2014

KISAH YE FENG DAN CARLOS

Cerpen ini mendapat MERIT AWARD dalam sebuah kompetisi menulis untuk imigran dari 4 negara yang diselenggarakan oleh pemerintah Taiwan
"TAIWAN LITERATURE AWARD FOR MIGRANT 2014"
~~~~~~~~~

KISAH YE FENG DAN CARLOS

Ye Feng kegirangan bercanda dengan Carlos, seekor anjing peranakan Akita yang berbulu lebat berwarna putih dan coklat keemasan. Ye Feng yang pendek gempal tampak lucu bergelut dengan Carlos yang besarnya hampir sama. Tawanya riang, disela oleh salak Carlos yang nyaring. Mereka berkejaran, bergulingan, dan berpelukan seperti sepasang bocah kecil.

Aku pekerja rumah tangga keluarga Wu yang tinggal di dekat pelabuhan, daerah Yilan. Perkerjaan utamaku mengurus seorang lansia, Ibu Tuan Wu, yang sebenarnya sehat, namun karena usianya hampir 100 tahun, maka apapun yang dilakukannya selalu butuh dibantu. Tugaskulah membantu segala keperluan Ama, begitu kami memanggilnya. Namun aku tetap harus melakukan pekerjaan bersih-bersih dan mamasak.

Keluarga Wu sangat baik. Tuan dan Nyonya bekerja setiap hari.  Ye Feng-anak sulung mereka, pemuda usia 26 tahun ini adalah seorang lelaki dewasa yang terjebak dalam alam pikir anak kecil. Badannya gemuk gempal, dan wajahnya bulat kekanakan. Lidahnya seolah selalu tergigit, hingga bicaranya kurang jelas dan selalu berliur. Ye Feng menyandang Down Syndrome. Meski begitu, dia tidak tergantung pada orang lain. Dia bisa melayani dirinya sendiri dan tidak merepotkan. Sedangkan adiknya, Zhi Chen, tengah menjalani wajib militer.

Keluarga ini memelihara dua ekor anjing. Seekor yang berjenis Akita bernama Carlos. Inilah anjing kesayangan Ye Feng. Menurut cerita Ama, Ye Feng memiliki Carlos sejak usia 12 tahun. Jadi saat ini Carlos sudah sangat tua untuk ukuran anjing Akita, yaitu 14 tahun. Selama itu pula Ye Feng dan Carlos menjadi sahabat tak terpisahkan. Kulihat banyak foto keluarga, hampir seluruhnya terdapat Carlos di dalamnya. Dari ketika masih bisa digendong Ye Feng, sampai hampir sama besar dengan badan tuannya.

Satu lagi anjing Dobberman bernama Champion yang terlihat garang, namun ternyata sangat bersahabat dan sopan. Champion tidak pernah mengganggu ketika aku membersihkan kandangnya. Begitu pula ketika Tuan memberinya makan, Champion akan menunggu dengan tenang.

~~~~~~~

Pagi yang sepi, aku sudah terbangun untuk menyiapkan sarapan bagi keluarga Wu. Aku bekerja di dapur dalam suasana hening. Semua masih terlelap. Pagi sejuk memang sangat nyaman untuk tidur, bahkan untuk anjing sekalipun.

Namun dari arah kandang anjing aku mendengar erangan seperti suara anjing yang kesakitan. Karena penasaran, kuintip kandang yang berbentuk rumah kecil. Aku melihat Champion melingkar tenang. Ketika kulongok kandang Carlos, aku terkejut sekali ...

”Carlos! Kamu kenapa?” Tanpa sadar aku memekik.

Kulihat darah bececeran di alas kain tempat Carlos berbaring. Posisi Carlos miring dengan kaki lurus. Matanya terbuka sayu. Aku panik tapi tak berani menyentuhnya. Maka aku berlari menuju kamar Tuan dan Nyonya.

Kuketuk pelan pintu kamar. Aku gugup sekali. Mungkin wajahku pucat. Entahlah, aku hanya merasakan bibirku kaku dan lidahku kelu. Nyonya membuka pintu pelan.

”Ada apa?” tanya Nyonya.
”Carlos ... Carlos ... Berdarah,” terbata-bata aku berusaha menjelaskan.

Nyonya sigap beranjak ke kandang Carlos. Setelah melihat dan menyentuh badan Carlos, Nyonya berteriak memanggil suaminya. Karena teriakan itu, bukan hanya Tuan yang tergopoh-gopoh keluar kamar, Ye Feng juga terlihat berlari terburu-buru mendekat. Dan demi melihat keadaan Carlos, Ye Feng langsung berteriak menubruk tubuh Carlos yang terbaring lemas di atas ceceran darah. Dia menangis sejadi-jadinya.

Aku segera teringat Ama yang pasti terbangun oleh kegaduhan ini. Kuhampiri kamar yang kami tempati berdua. Belum sempat kubuka pintu, Ama sudah tertatih-tatih keluar dari kamar. Kuraih tangan Ama dan kutuntun. Aku jelaskan bahwa Carlos berdarah, tapi aku tak tahu kenapa. Ama tampak sangat cemas dan berusaha ikut melihat Carlos di kandangnya.

Kulihat Tuan dan Ye Feng mengangkat tubuh besar Carlos dan membaringkannya di sofa panjang yang telah dilapisi kain tebal oleh Nyonya. Mereka semua terlihat cemas. Bahkan Ye Feng terus menangis dan menyebut-nyebut nama Carlos tanpa henti. Champion ikut bangun dan hilir mudik sambil sesekali menyalak seakan bertanya apa yang terjadi.

Veterinarian, atau dokter hewan datang karena ditelepon oleh Tuan.
”Mungkin distemper,” kata sang dokter setelah memeriksa Carlos.

Carlos buang kotoran berupa darah segar. Dokter menganjurkan untuk membawa Carlos ke klinik hewan dan menjalani pengobatan. Ye Feng melarang dokter maupun Tuan membantunya mengangkat Carlos ke dalam mobil. Pemuda gempal itu berusaha sendiri susah payah membopong anjing besarnya. Kulihat Nyonya dan Ama menyusut butir bening yang mengalir di ujung mata.

~~~~~~~

Sudah dua bulan sejak kejadian itu, suasana rumah berubah. Keceriaan berkurang karena Ye Feng dan Carlos yang terbiasa membuat gaduh dengan bermain-main bersama, kini lebih banyak diam. Carlos memang sudah sehat, namun tidak sepenuhnya kembali seperti semula. Kini Carlos menjadi lamban. Dia tidak lagi senang berkejaran dan bergulingan seperti dulu. Ajakan Ye Feng bermain lempar tongkat atau bola kerap diabaikannya. Dia lebih banyak duduk atau berbaring saja melihat Ye Feng bermain dengan Champion.

Dokter hewan pun masih kerap berkunjung untuk memeriksa Carlos. Terkadang aku mencuri dengar obrolan dokter dengan Tuan tentang keadaan anjing itu.

”Carlos sudah sangat tua. Dia sudah melewati rata-rata usia hidup anjing Akita. Jantung Carlos bermasalah, pencernaannya juga. Jadi beri dia makanan sesuai yang saya rekomendasikan,” ucap sang dokter.

Ye Feng yang selalu ikut mendengarkan benar-benar menuruti nasehat dokter. Dia membuat sendiri catatan jadwal minum obat dan pemberian makan untuk Carlos dengan tulisan tangannya yang seperti cakar ayam. Hanya dia sendiri yang mengerti tulisan itu, Tuan dan Nyonya selalu mengernyitkan dahi saat berusaha membaca catatan Ye Feng.

Hingga suatu sore, wajah dokter teramat sedih sehabis memeriksa Carlos yang kini semakin kurus. Dia berbicara pada Tuan Wu dengan suara pelan.

”Euthanasia bisa menjadi pilihan untuk mengakhiri penderitaan Carlos,” bisik sang dokter.

Aku yang habis menghidangkan teh dan kue melihat Ye Feng mengendap-endap mengintip dan menguping di balik pintu. Ketika kutepuk pundaknya, Ye Feng terlonjak kaget. Dia menempelkan telunjuk di bibirnya menyuruhku diam. Lalu tangannya mengibas-ibas menyuruhku pergi.

Setelah itu keadaan jadi serba kikuk dan canggung. Tuan dan Nyonya jadi sering melamun. Ye Feng juga seperti orang bingung.

Suasana membingungkan ini mencair dengan kepulangan Zhi Chen, adik Ye Feng. Mereka berempat berpeluk-pelukan dan saling berebut cerita. Ama juga tergopoh-gopoh menghampiri cucunya yang berperawakan tinggi besar itu. Tak ketinggalan Champion ikut melonjak-lonjak gembira menyambut tuan mudanya. Aku kebagian sapaan hangat dan permintaan untuk membuatkan mi kuah dari Zhi Chen yang kelaparan.

Ketika mi kuah sudah siap, aku melihat Ye Feng dan Zhi Chen sedang bersimpuh berpelukan di samping Carlos yang terbaring lemah di sofa panjang. Zhi Chen menangis. Tiba-tiba mataku memanas lalu berembun. Apalagi ketika kusaksikan Ye Feng yang seharusnya paling sedih karena anjing kesayangannya sakit, malah menepuk-nepuk pundak menenangkan Zhi Chen.

”Carlos pasti sembuh. Aku selalu memberinya obat,” ucap Ye Feng terbata-bata.

”Kakak, mi kuah sudah siap. Silakan dinikmati,” ucapku sopan.
”Terima kasih, Aling,” sahut Zhi Chen.

Pemuda gagah itu makan dengan mata masih terus berair. Aku jadi terharu. Apalagi ketika kulihat Ye Feng bersimpuh mengelus-elus Carlos sambil bernyanyi pelan seperti ingin menina-bobokan anjing kesayangannya itu.

~~~~~~~

Setiap hari akulah yang pertama bangun tidur, lalu membuka semua jendela dan pintu. Tapi pagi ini aku sangat terkejut karena pintu depan dan gerbang sudah terbuka. Tidak mungkin Tuan lupa mengunci. Hilir mudik kuperiksa pintu dan jendela yang lain. Semua masih terkunci kecuali dua pintu itu. Pencuri? Ah, mustahil. Aku tak mendengar salak anjing semalam.

Oh ya, anjing! Segera kuperiksa kandang mereka. Champion masih mendengkur tapi Carlos tidak ada di kandangnya, juga di atas sofa panjang. Kemana anjing itu? Mungkinkah dibawa Ye Feng tidur di kamarnya?

Ketika kulongok kamar Ye Feng, aku benar-benar panik dan kuatir. Ternyata dia tidak ada. Lemari pakaiannya berantakan, dan air masih mengucur dari kran wastafel. Ye Feng dan Carlos hilang!

”Tuan ... Nyonya ... Kakak Ye Feng dan Carlos hilang!” Dengan panik kuketuk kamar Tuan sambil berseru.

Setelah itu rumah menjadi gaduh. Tuan dan Nyonya hilir mudik memeriksa seluruh bagian rumah. Zhi Chen membawa Champion keluar berkeliling di jalan sekitar sampai ke pelabuhan mencari Ye Feng. Nenek yang gemetar ikut melongok-longok sambil memanggil nama Ye Feng berkali-kali. Semua panik.

Seharian penuh kami sibuk mencari Ye Feng dan Carlos. Kuceritakan semua yang kulihat di pagi hari pada polisi yang dipanggil Tuan. Aku tetap bekerja menyiapkan makanan, namun tak disentuh sedikitpun oleh mereka, kecuali Ama yang kupaksa dengan kusuapi pelan-pelan. Zhi Chen sibuk menelepon dan menghubungi kawan-kawannya. Dia menyebar foto Ye Feng dan Carlos lewat media sosial.

”Aling, kamu punya banyak kawan di Taiwan, bukan? Bantu aku menyebar foto kakakku, siapa tahu kawanmu ada yang melihat,” pinta Zhi Chen.

Aku melakukannya dengan dada bergemuruh. Sungguh, aku merasakan kekalutan keluarga Wu.

~~~~~~~

Lima hari sudah Ye Feng dan Carlos menghilang. Beberapa kali kami mendapat informasi yang samar-samar dan tidak pasti, lalu Tuan dan Zhi Chen pasti akan segera menuju tempat itu meski jauh di luar kota. Namun semuanya masih nihil.

Di hari keenam, aku mendapat informasi dari seorang kawan. Dia mengirimiku sebuah foto kecil yang tidak begitu jelas. Dalam foto itu tampak seorang lelaki gemuk pendek sedang tidur melingkar memeluk anjing di antara tumpukan patung, boneka dan topeng naga untuk pertunjukan. Kutunjukan pada Zhi Chen dan kuberitahu lokasinya, yaitu di sebuah kuil kecil dekat pasar di daerah Wen Shan, Taipei.

”Hubungi temanmu itu, pastikan Ye Feng masih ada di sana. Ayo, kamu ikut kami ke sana!” pinta Tuan.
”Tapi, bagaimana dengan Ama?” aku bertanya ragu. Bagaimanapun Ama tetap menjadi tanggung jawabku.
”Aku ikut menjemput Ye Feng,” kata Ama.

Perjalanan ke Wen Shan makan waktu hampir dua jam. Ketika akhirnya kami sampai di dekat pasar, hari sudah sore. Pasar kecil ini sudah sepi sehingga mobil kami bisa masuk lebih dekat ke kuil. Kami hanya bertemu orang yang sedang menyapu di jalan dekat gerbang kuil.

”Maaf, Tuan, apakah anda melihat orang ini dan anjingnya?” tanya Zhi Chen sopan sambil mengulurkan selembar foto.

Orang itu berhenti menyapu dan meraih foto itu.

”Oh, dia ada di dalam kuil sedang berdoa. Sudah empat hari dia numpang tidur di gudang tempat pertunjukan itu. Setiap pagi, siang, sore, malam, dia selalu sembahyang dan menitipkan anjingnya padaku. Kadang dia gendong anjing besarnya masuk kuil untuk berdoa bersama. Itu, sekarang dia bersama anjingnya di dalam.” Si Tukang Sapu bercerita dengan wajah sedih.

Lalu kami beriringan masuk ke komplek kuil. Di altar sembahyang kami melihat Ye Feng berlutut sambil membungkuk dan memegang hio berasap yang ditempelkan ke dahinya. Di sampingnya terbaring Carlos yang semakin kurus.

Seperti tak menyadari kehadiran kami, Ye Feng terus berdoa dengan suara agak keras namun tersendat-sendat.

”Dewa, aku tidak tahu yang terjadi, tapi aku merasa ada yang hendak mengambil Carlos dariku. Bila itu Engkau, maka tinggalkan jiwanya untuk terus menemaniku. Aku tidak suka dengan dokter yang dulu itu,”

Doa polos Ye Feng menguak semua misteri. Nyonya terisak tanpa bisa ditahan. Mendengar isakan itu, Ye Feng berhenti berdoa dan menoleh.

”Mau apa kalian? Jangan ambil Carlos!” seru Ye Feng sambil merengkuh Carlos yang terbaring lemas.

”Tidak, Nak. Tidak. Kami tidak akan mengambil Carlos darimu. Ayo kita pulang, kita obati Carlos sampai sembuh,” ucap Tuan.

Perlu beberapa waktu untuk benar-benar membuat Ye Feng mau menurut ikut pulang bersama kami. Zhi Chen membantu Ye Feng mengangkat Carlos ke dalam mobil. Zhi Chen yang mengemudi dan Tuan duduk di sampingnya. Bangku tengah ditempati Nyonya, Ye Feng dan Carlos. Di bangku belakang aku duduk bersama Ama, memangku tas kain bawaan Ye Feng. Beberapa helai baju Ye Feng tergulung bersama obat-obatan Carlos dan lembaran kertas berisi tulisan tangannya yang berantakan.

Baru saja kami hendak masuk jalan bebas hambatan, Ye Feng berkata dengan sangat tenang pada Nyonya,
”Mama, Carlos tidak bernapas,”

Kami semua terperanjat kaget. Zhi Chen langsung menepikan mobil ke bahu jalan dan membalik badannya berusaha menyentuh Carlos. Nyonya menangis tergugu membuat kami semua merasa pilu. Dan sebuah ironi kusaksikan di mobil yang terhenti di tepi jalan ramai.

Seharusnya Ye Feng menjadi orang yang paling bersedih karena kematian Carlos. Namun yang kulihat sungguh kebalikannya. Ye Feng adalah satu-satunya yang tersenyum tenang. Dia bahkan mengusap tangan keluarganya bergantian untuk menenangkan mereka. Akupun menangis kini, meski tak tahu alasan tepatnya untuk apa.

Rona jingga langit senja menjadi latar tumpahnya air mata keluarga Wu. Ratusan mil jauhnya dari tanah kelahiranku, Indonesia, aku menjalani peran dan saksi dari drama kehidupan yang mengharu biru. Aku belajar tentang persahabatan, kesetiaan, pengorbanan, doa, harapan, dan keikhlasan melepas kecintaan dari seorang pemuda istimewa dan anjingnya yang setia, Ye Feng dan Carlos.

~~~~~Tamat~~~~~~

Taipei, 16 April 2014

Keterangan:
Down Syndrome: Kelainan genetik yang menyebabkan terhambatnya perkembangan fisik dan mental (keterbelakangan)

Distemper: Penyakit pada hewan karena virus yang menyerang saluran pernapasan, pencernaan dan syaraf pusat. Dapat menyebabkan kematian.

Euthanasia: Menyuntikkan obat mematikan dengan tujuan membunuh tanpa menyiksa.