Wednesday, November 5, 2014

LINGKARAN

Dulu aku menganggap, berjalan di lingkaran itu buruk, karena hanya memutar kembali ke titik mula.
Namun sekarang, aku melihat lintasan jalanku sendiri malah berbentuk lingkaran sempurna. Dan anehnya, membuatku bahagia!

Akhir Mei 2012 aku memulai langkah meninggalkan keluarga. Aku masih ingat betul Elok dan Embun yang keduanya masih balita, melambai-lambai dengan gembira di depan pintu. Mungkin di benak mereka, ibunya hanya pergi membeli bawang ke warung. Ibu mertuaku menangis tergugu di belakang mereka. Jangan tanya bagaimana air mataku tumpah saat itu. Bahkan saat aku menulis ini, pipiku basah lagi tak kira-kira. Sakit sekali ...

Langkah awal sungguh berat. Membuatku berkali-kali ingin kembali. Mundur lagi ke titik mula. Tapi rupanya yang kupijak adalah sebuah titian jembatan rapuh, yang satu persatu pijakannya jatuh selepas kakiku menapakinya. No way back!
Aku harus tetap melangkah maju meski berdarah-darah.

Aku terjatuh tak hanya sekali. Berkali-kali. Bahkan ketika sampai di setengah lingkaran, kemudian bergulir sedikit, aku ingin memotong jalan. Melintas hanya separuh perjalanan, melemparkan diriku kembali ke pelukan keluarga, meski dengan kekalahan.

Beruntung suami dan anak-anakku tak lelah mengeraskan suara, hingga aku tak pernah merasa sendirian. Mereka jaga lintasan langkahku tetap dalam lingkaran. Menyoraki saat semangatku meredup, hingga kembali terbakar.

Satu persatu pencapaian kuraih di jalanku menuju pulang. Separuh lebih sudah kutempuh. Sisa lintasan langkahku kini adalah lengkung landai yang menenangkan. Bisa kulihat jelas sekali senyum keluargaku menungguku pulang. Sedangkan aku juga sudah menggenggam banyak kemenangan. Piala terbesar yang kugendong adalah piala sabar.

Berjalan melingkar ternyata bukan tak pergi kemana-mana, melainkan menjalani takdir menuju mereka yang dulu mengantar dan berhak menerima kembali.
Aku pulang semusim mendatang ...

Image by www.rhinoafrica.com