Wednesday, February 4, 2015

”MERAYU” JURI LOMBA MENULIS

Tulisan ini saya share untuk teman-teman dalam rangka menyambut Taiwan Literature Award for Migrant #2 tahun ini.
Ini adalah poin-poin yang saya pakai dan perhatikan ketika mengikuti lomba itu tahun lalu. Saya memang hanya berhasil menjadi juara favorit, bersama 5 orang lainnya. Tapi tulisan itu (katanya) mendapat apresiasi khusus di forum penulis-penulis Taiwan. Ini kata Mrs. Kuo Yu Ling, penulis novel terkenal yang mengajak saya berdiskusi dengan teman-temannya. Lalu diapresiasi pula secara khusus oleh koran United Daily News yang pada tanggal 12 Oktober 2014 memuat profil saya sepanjang 2/3 halaman.
Well, katimbang saya berpanjang-panjang pamer dan bikin teman-teman mual, langsung saya tulis saja ’jimat’ saya untuk merayu para juri dalam lomba itu.

1. Menulislah dengan bagus. Ini MUTLAK dan HARUS! Pelajari EYD dan tanda baca yang benar.

2. Teliti tiap huruf. Hindari typo, atau salah ketik huruf. Jangan malas untuk memeriksa berulang-ulang tulisan sebelum diposting.

3. Pilih cerita yang universal dan mudah dimengerti oleh orang dari negara manapun. Ingat, juri lomba ini bukan hanya orang Indonesia, maka pastikan segala persoalan yang ditulis bisa dimengerti dan menyentuh rasa dan karsa orang yang berbeda budaya. Paling aman bila kita mengambil cerita yang bersifat humanis, atau kemanusiaan.

4. Usahakan tidak narsis. Jangan terlalu sibuk bercerita tentang diri sendiri, curhat dan mengeluh, apalagi memuji-muji diri sendiri. TIDAK BOLEH merendahkan dan menghina orang lain. Juga jangan terlalu menyanjung orang lain, lalu merendahkan posisi kita sendiri. Biasa saja, lah. Letakan diri kita sejajar dengan siapa pun, dalam posisi masing-masing.

5. Masih berhubungan dengan poin 4, daripada menulis tentang ”SIAPA SAYA” lebih baik menulis tentang ”APA YANG TERJADI” dari sudut pandang saya. Artinya, kita mengajak juri (dan pembaca) untuk mengikuti ’saya’ melihat sebuah peristiwa. Bukan menyuruh mereka melihat ’saya’ mengikuti sebuah peristiwa.

6. Observasi. Lengkapi tulisanmu dengan data, meski itu fiksi sekalipun. Jangan malas untuk mengobservasi sedikit pengetahuanmu di bidang tertentu. Misal, tentang penyakit, tentang jenis bunga, tentang geografi, atau apapun, untuk mendukung ceritamu supaya lebih menarik dan ’terlihat cerdas’ :))

Bingung, ya? Ha ha ha... Sama!

Pokoknya begitulah yang saya perhatikan ketika mengikuti lomba tahun lalu. Boleh diikuti, boleh tidak. Terserah saja. Soalnya saya juga tidak tahu juri itu menilainya bagaimana.

Yang penting, menulislah...
Ikut lomba, jangan asal jadi penggembira. Bekali dirimu dengan mental berkompetisi. Belajar dan berusaha memberi yang terbaik.
Ikut lomba, berusahalah untuk menang. Kerahkan segala upayamu untuk menjadi juara.
Ikut lomba, harus percaya diri. Saya akui, yang ini agak susah karena saya juga kadang minder dan jiper duluan ^_^ Tapi memang harus begitu. Cuma jangan kebablasan ya... Jadinya over confidence dan anti kritik.

Dan yang harus: SEMANGAT!!