Saturday, December 21, 2013

GAGAL

Petang baru saja merembang, aku sudah berdiri mangkal di perempatan sepi ini. Sedih rasanya mengingat apa kata Mami -induk semangku- tadi.
”Apapun yang kamu akan lakukan aku tidak peduli. Yang penting isi penuh kantongmu itu!”
Kasar, mengintimidasi, dan menciutkan nyaliku. Berkali-kali kuhela napas untuk melonggarkan dadaku. Aku menata mimik, berusaha berpenampilan terbaik untuk bisa mendapat mangsa malam ini. Satu saja cukup untuk membuat kantongku tak lagi kosong.

Lama aku menunggu. Yang pertama kali muncul adalah tukang sate. Ini bukan mangsaku, maka kubiarkan saja berlalu. Kemudian lewat seorang ibu menggandeng anak kecil. Ini juga bukan mangsa yang potensial. Eh, tapi anak kecil itu melambatkan langkah dan berkata pada ibunya,
”Bu, lihat itu di sebelah pohon asem. Lucu, ya?”
Apa? Lucu? Ih, dasar anak kecil tidak bisa mengapresiasi penampilan. Ibunya melihatku sambil mencibir, lalu meludah. Cih!!

Malam mulai benar-benar menunjukan wajah aslinya. Gelap menelan cahaya. Lampu jalan di seberangku menyala redup. Kulihat seseorang berjalan melenggak-lenggok. Ah, itu si Oneng, yang biasa juga mangkal di sini untuk menunggu jemputan lelaki yang akan mengencaninya semalaman. Oneng melihatku, tapi dia diam tak menyapa. Memandangku pun hanya sekilas saja.
Sebuah truk melaju pelan ke arahku. Ah, mungkin ini mangsaku. Aku pun bersiap-siap. Tapi Oneng menyeberang dan menyongsong pintu truk yang terbuka. Duh, rupanya ini pelanggan Oneng. Ingin rasanya aku mendekat, sekedar untuk sedikit mengisi kantongku. Namun Oneng mendelik dan mengacungkan jari tengah mengusirku. Aku pun surut mundur seketika.

Malam kian larut dan aku kian gundah. Perempatan ini sepi sekali. Mungkin aku harus bergerak mencari mangsa dari gang ke gang. Hmm ... Ya, boleh dicoba meski beresiko.
Gang pertama, kosong.
Gang kedua, ramai karena ada orang hajatan. Jelas tidak bisa kulewati.
Gang ketiga, kosong lagi. Tapi aku memutuskan untuk menunggu saja di sini. Siapa tahu ada mangsa lewat. Rejeki akan datang dari tempat tak terduga. Siapa tahu gang ketiga inilah tempat tak terduga itu.
Ketika sampai pada sepertiga malam terakhir, aku melihat bayangan orang bergerak tergesa. Ah, mungkin ini mangsaku.
Waduh, gawat! Yang bergerak tergesa ini adalah ustadz Arifin. Ini jelas berbahaya. Orang seperti ustadz ini adalah golongan yang paling anti dengan kaumku. Kalau sampai beliau melihatku, bisa jadi aku ”dikepret” dan diusir dengan cara yang menyakitkan.Maka aku sembunyi menghindari pandangan ustadz Arifin.
Setelah beliau lewat, aku keluar dari persembunyianku dan memutuskan untuk pulang saja. Toh sebentar lagi pagi. Waktu dinas kerjaku akan habis. Biarlah Mami memarahiku karena gagal mengisi kantong, yang penting aku selamat dari ustadz Arifin.

Benar saja.
Di depan pintu markas Mami sudah menungguku dengan muka masam. Aku mengerti dia kecewa berat dengan kerjaku malam ini. Mau bagaimana lagi? Wilayah perburuan mangsaku memang terbatas. Dan di wilayah ini orang-orangnya sudah pintar. Sudah tidak takut lagi pada hantu.
Kusodorkan kantongku yang masih kempes. Ini adalah ’kantong teriak’ yang akan menggelembung sendiri ketika ada orang berteriak ketakutan karena melihat hantu. Isi kantong inilah sumber kekuatan kaum kami.
Mami merebutnya dengan kasar. Raut kecewanya makin tebal. Mungkin aku adalah hantu asuhannya yang paling gagal sepanjang sejarah perinduksemangannya.
Ah, aku gagal menjadi kuntilanak yang menakutkan.

Image by Google search