Saturday, January 11, 2014

MAK DUNAL

Otong selalu menoleh ke seberang jalan itu setiap pagi. Toko berwarna merah-kuning itu sangat menarik perhatiannya. Jendela dan pintu dari kaca besar-besar, membuat semua yang ada di dalam terlihat jelas dari luar.
”Pulang nanti aku akan mampir kesana,” gumamnya pelan.

Langkah kaki kecilnya begitu ringan menyusuri jalan beton kota yang panas. Sandal gabus warna hijau berbentuk kepala kodok membungkus telapaknya. Otong hanya berkaus oblong dan bercelana pendek. Sebuah kecrekan dari tutup botol bekas selalu bergoyang nenimbulkan suara gemerincing yang parau. Otong mengamen di simpang jalan yang selalu macet. Berlarian dari satu pintu mobil ke pintu mobil yang lain menyanyi tak jelas, menyodorkan kantong mengilap bekas bungkus makanan ringan, mengharap receh dari pengendara mobil yang kasihan, atau bahkan risi dengan dirinya.

Meski lagu-lagunya tak jelas, namun Otong selalu menyanyi dengan gembira dan penuh semangat. Ah, itu karena terpompa oleh keinginannya memperoleh receh lebih, demi membeli setangkup roti bundar berisi daging dan tomat yang selalu dilihatnya di balik kaca besar toko merah-kuning itu.

”Dapet banyak, Tong?” tanya Riko, pengasong minuman yang mengais rejeki di simpang jalan itu juga.

”Biasa aja, Bang. Ini baru cukup buat beli beras, sama obat buat emak,” sahut Otong yang sedang menghitung isi kantong.

”Udah banyak, tuh. Pulang, gih. Mau hujan,”

”Entar dulu, Bang. Mau cari dikit lagi buat nambahin simpenan kemarin. Pengin beli Mak Dunal,”

”Apaan, Mak Dunal?”

”Roti isi daging yang dijual toko itu. Toko yang di depannya ada patung badut duduk di kursi,”

”Ooo ... Mc. Donald,”

”Ho oh,”

Otong beranjak lagi setelah memasukan receh ke kantong celana pendeknya yang mengembung.

Kemacetan makin parah. Banyak orang menggerutu, bahkan ada yang mengumpat-umpat. Sungguh macet yang menyusahkan.

Namun bagi Otong, macet adalah harapan. Semakin macet, kesempatannya memperoleh receh semakin besar. Dan roti bundar berisi daging yang disebutnya Mak Dunal semakin mungkin teraih dari mimpinya. Otong terus berlarian dari satu pintu mobil ke pintu mobil yang lain, menyanyi tak jelas dengan kecrekan tutup botol yang bergemerincing parau.

~~oOo~~

Image by Google search