Saturday, June 20, 2015

SEE YOU

Saya sudah tidak tahu apa yang akan saya tulis kali ini. Sudahlah, tolong mengerti kondisi rongga dada perempuan yang sudah biru-biru digebuki rindu. Mengertilah kondisi perut seorang aerophibia yang sedanh menunggu boarding.

Saya di Bandara Taoyuan. Masih sepi, hanya ada beberapa kawan sesama orang Indonesia yang juga datang kepagian.

See you.

#NulisRandom2015
#day20

※2 hari absen※

Wednesday, June 17, 2015

TOMBOL DAN ASURANSI

Tadi siang saya naik MRT 611 dari Xinhai st. bus stop ke Wuxing st. bus stop. Di dalam bus itu saya melihat sebuah tombol merah yang dikurung kotak mika menempel di dekat pintu bus. Ada banyak tombol serupa di dalam bus ini. Tak sempat saya hitung, tapi sepertinya sekitar 6 atau 7 tombol. Oh ya, tidak semua bus ada tombol seperti ini. Di MRT 256 yang saya naiki kemudian, tidak ada.

Ini adalah tombol  sexual harassment dan pick pocket alarm.

Melihat tombol ini, saya merasa aman dan terlindungi. Saya tenang dan senang, sekaligus aware pada saat yang sama. Ini adalah tombol yang saya sangat inginkan ada di setiap layanan transportasi umum, sekaligus sama sekali tidak saya harapkan akan terpaksa dipencet seseorang.

Tombol ini bagi saya seperti asuransi. Sangat penting ada, namun kalau bisa, jangan sampai terpakai. Lha iya ... Kalau asuransi itu kan begitu. Penting sekali untuk dimiliki. Berbahagialah bila tak terpakai, karena itu berarti kita sehat senantiasa. Namun bila sesuatu terjadi, sudah ada yang melindungi.

#NulisRandom2015
#day17

Tuesday, June 16, 2015

TEGE KATUK, ITU SAJA

Sejak tiga tahun di Taiwan, saya tidak pernah makan daun katuk. Bukan tak ada, melainkan karena saya tidak menemukannya. Pasti ada. Pasti. Di suatu tempat pasti ada.

Sayuran yang lain, yang belum pernah saya makan selama di Indonesia, mellimpah ruah. Ada yang saya suka sekali, macam Kailan Cai, ada pula yang saya tidak doyan, macam ... eee ... Apa itu namanya, lupa. Ah, pokoknya tidak doyan.

Mendekati saat-saat pulang, saya yang tidak begitu suka exploring makanan, jadi merindukan daun katuk. Saya ingin mencium langu manisnya, mencecap getir segarnya. Daun katuk bukan makanan istimewa, namun saya, dengan sentimentilnya, jatuh rindu sejadi-jadinya.

Memasak daun katuk juga tidak bisa berupa-rupa. Yang saya kenal selama ini adalah hanya dengan di-”tege” saja. Sayur bening bumbu kencur dan bawang. Pada kakak yang di rumahnya saya akan pertama singgah, saya sudah memesan untuk berbuka puasa dengan tege katuk.

Rindu itu memang tidak macam-macam. Cukup tege katuk. Itu saja.

#NulisRandon2015
#day16

Image: Google search.

Monday, June 15, 2015

CASABLANCA

Saya mengaku bahwa hari ini semangat menulis saya tiarap, dan selera membaca saya nyungsep. Tapi saya masih ingin menyelesaikan apa yang saya mulai.

Saya ingin menulis ini saja, emm ... Tentang jalan Dr. Satrio di Jakarta. Jalan yang memanjang dari Kampung Melayu sampai Karet. Yang membelah kuburan. Yang juga disebut jalan Casablanca.

Konon ini adalah jalan persahabatan antara Indonesia dan Maroko. Keduanya saling memberi nama jalan besarnya dengan nama kota dari masing-masing negara. Jadi di Indonesia ada nama Jalan Casablanca, di Maroko ada nama Jalan Jakarta.

Satu lagi cerita saya dengar dari orang Jakarta yang sudah lebih lama hidup dari saya ^_^ (halo, Babeh) bahwa nama jalan itu adalah akronim dari daerah lintasannya. Yaitu Kampung-Melayu-sampai-belakang-Karet (Kasablangka) dengan tulisan keren: Casablanca.

Sudah. Itu saja.

#NulisRandom2015
#day15

Image: picking randomly from my album ^_^

Sunday, June 14, 2015

KAPITALISASI HALAL

Sudah sangat sering saya melihat label halal, baik yang keluar dari MUI maupun yang pura-pura MUI, dikapitalisasi. Ditempelkan pada sebuah produk makanan untuk membuat orang membelinya bukan semata karena untuk ketenangan konsumsi, melainkan juga untuk gengsi.
Produsen juga ada kalanya mengejar sertifikasi ini bukan semata-mata karena ingin menjual makanan halal bagi muslim, melainkan juga karena bisa menjual lebih mahal dengan label halal.

Ini makanan manusia, lho ya, yang saya maksud.

Hari ini saya melihat di twitter, ada makanan kucing halal. Kucing? KUCING?
Perlukah kucing makan pakan halal? Halal gimana nih?

Ah, sudahlah ...
Mungkin dia kucing mualaf. Atau yang punya kucing hobi nyemilin pakan kucingnya, jadi perlu jaminan kehalalan. Entahlah ...

Oh, atau dengan pakan itu, kucingnya jadi halal dimakan, gitu? Hihihi ...

Lalu bagaimana dengan ayam yang nuthuli cacing tanah, atau bahkan (maaf) eek bayi tetangga? Atau bebek yang nyosori bekicot, lele yang ngrubuti ayam mati ...

Lah, kasian Xiao Fei, anjingku yang diberi makan kuping babi. Udah najis, haram pula makanannya.

#NulisRandom2015
#day14

Image:
Makanan kucing: dari twitter
Makanan anjing: dari lemari makanan Xiao Fei :D

Saturday, June 13, 2015

KESEMPATAN

Aslinya, susunan gigi saya rapi. Dan karena kecelakaan yang memalukan, saya kehilangan taring kiri dan satu gigi di belakangnya.

Saya akan menggantinya dengan gigi buatan untuk menjaga gigi-gigi yang lain teguh tidak mudah goyang.

A ha. Kurasa ini kesempatan untuk menjadi cantik tanpa operasi plastik. Saya hanya perlu membuat gigi buatan ini menjadi tidak rata seperti awalnya. Saya akan bikin gingsul. Ya. Gingsul buatan!

Entahlah apa ini eksperimen yang tepat atau nekat, tapi saya memang dari dulu menyukai orang bergingsul satu. Ada kecantikan yang tidak biasa dari pemilik gingsul. Dan saya suka yang tidak biasa-biasa itu.

Kubayangka dulu, kalau nanti saya ke dokter gigi untuk membuat gingsul. Mungkin dentist akan berkedip-kedip memastikan saya tidak sedang di bawah pengaruh obat kutil overdosis. Di saat dia laris pasang behel untuk meratakan susunan gigi, ini ada emak-emak minta pasang gingsul yang mecuthat keluar barisan.

Haaa... entahlah. Cita-cita jangka pendek saya saat ini adalah punya satu gingsul sebelum lebaran tiba. Satu saja. Karena kalau sepuluh gingsul semua, itu mrongos namanya.

#NulisRandom2015
#day13

*warning, image by Google search. Itu bukan wajah saya ^_^

Friday, June 12, 2015

GENDUL KOPI

Saya kenal istilah ini ketika tinggal di Solo. Secara harfiah artinya adalah botol kopi atau botol yang berisi kopi, atau botol tempat kopi. Tapi di Solo, gendul kopi adalah sebutan untuk seseorang -biasanya seorang ibu- yang pekerjaannya membeli barang-barang bekas dari rumah ke rumah. Ada yang mengusung barangnya dengan sepeda, ada juga yang digendong dengan rinjing (bakul) besar.

#NulisRandom2015
#day12