Rindu padamu
adalah kerinduan akut dalam hening
Indah rasa segala kenangan
Meski hanya sekali kulihat wajahmu
Dalam dimensi tanpa antara
Engkau adalah hutan rimba, Gus
Tempat banyak tumbuhan mengakar
dan menancapkan hidupnya
Dari yang bermanfaat obat
sampai dia yang beracun
Engkau adalah gunung, Gus
Tempat berbagai hewan berlindung
dan melangsungkan lestarinya
Dari yang menyembuhkan
sampai dia yang buas mematikan
Aku kehilangan sebagian jiwa
saat engkau menjadi baka
Melimpah yang engkau tinggalkan
tak pernah habis kuamalkan
Ilmu tentangmu laksana api abadi
Aku ’keyungyun’
Selangit rinduku
Meski sesungguhnya tak pernah sedikitpun
engkau pergi dari hatiku
:Gus Dur
Monday, August 4, 2014
Sunday, July 13, 2014
SURAT UNTUK KAKAKKU: CALON PRESIDEN INDONESIA
Assalamualaikum
Apa kabar, Kak Jokowi? Semoga kakak dan keluarga selalu sehat dan bahagia.
Kakakku yang baik hati, bangga rasanya sudah memilih kakak sebagai Presiden RI tanpa menebar benci kepada Bapak Macan. Aku memberi suara dengan sangat sadar dan hati yang sesak penuh harapan.
Memang, Kak, aku sempat ragu karena beberapa temanku berusaha melemahkan keyakinan dengan mengirimiku berita tak baik tentang diri kakak. Maafkan mereka, ya ... Teman-temanku itu orang baik, mungkin hanya karena mereka belum tahu.
Keraguan yang sempat mampir di hatiku, ternyata sangat mudah sembuh hanya dengan melemparkan ingatanku sendiri ke tahun 2005. Saat itu, aku adalah perantau dari Cilacap yang tinggal di Kampung Kemlayan, Kota Solo. Di sela pekerjaanku, aku mengisi waktu dengan mendaur ulang kardus bekas selongsong gulungan kain menjadi celengan lukis pasir. Aku menjualnya setiap minggu pagi di depan Stadion Manahan.
Satu pagi yang takkan kulupa, ketika seorang bapak mengikuti anak kecil menghampiriku dan membeli sebuah celengan seharga Rp.3000. Setelah mendapatkan celengan yang disukainya, anak kecil itu ingin buru-buru pergi. Namun bapak lembut itu menahan dan menyuruhnya mengucap terima kasih dulu kepadaku. Beliau sendiri tersenyum dan mengangguk ramah ketika kubalas ucapannya.
Aku tak tahu, sampai kawanku menggamit lengan dan berkata, bahwa bapak yang membeli itu adalah Pak Walikota. Aku terkejut. Senyumku mengembang penuh kebanggaan ketika kulihat punggung Pak Walikota berlalu. Aku merasa sangat ’diuwongke’ ketika bahkan pada pedagang kaki lima musiman sepertiku, di saat yang sangat santai tanpa sorot media, bahkan saat aku sendiri tidak tahu siapa pembeliku itu, Pak Walikota tak lupa bersikap sopan. Pak Walikota itu adalah Kak Jokowi.
Setelah itu, kusaksikan sendiri perubahan Kota Solo menjadi lebih nyaman ditinggali di bawah kepemimpinan kakak. Bila semua itu adalah pencitraan saja, maka aku adalah ’korban’ pencitraan yang merasa nyaman dan bahagia.
Saat ini aku sedang menjemput rizki yang ditebarkan Tuhan, bekerja sebagai buruh migran di Taiwan. Bukan karena aku tak cinta Indonesia, Kak, melainkan memang beginilah Tuhan menggariskan perjalanan hidupku. Meskipun aku di sini, hatiku tetap Merah-Putih. Aku sepenuhnya Indonesia. Maka dari itulah, ketika di sini pun aku tetap berusaha menjadi bagian dari Indonesia berproses. Aku membayar pajak dengan taat, dan bersemangat mengikuti proses pemilihan umum. Apalagi ketika akhirnya muncul nama Kak Jokowi sebagai Calon Presiden yang bisa kupilih.
Selain itu, aku juga sedang mempersiapkan diri untuk pulang ke tanah kelahiran dan menebar manfaat bagi sekitar seperti yang kakak contohkan. Yang kumampu memang tak banyak, namun dengan yang sedikit itu aku akan turun tangan.
Oh ya, Kak ... Bila memang nanti kakak menjadi presiden, aku ingin kakak meningkatkan perlindungan terhadap kami, para buruh migran. Supaya kami bisa bekerja dengan tenang dan bermartabat, kemudian pulang ke Indonesia dan siap mandiri, turun tangan untuk pembangunan.
Terakhir, Kak, aku mohon doa restu. Adikmu ini, beserta 9 kawan lainnya sedang mewakili Indonesia dalam lomba sastra. Kami membawa Merah Putih bertanding dengan negara lainnya. Bila kemenangan kami peroleh, maka itu adalah kemenangan untuk Indonesia.
Sekian surat dariku. Semoga kakak dan seluruh bangsa Indonesia selalu dilindungi Tuhan.
Adikmu
Erin Cipta
Update:
Aku brrhasil menjadi pemenang harapan dalam lomba menulis itu, Kak ...
Apa kabar, Kak Jokowi? Semoga kakak dan keluarga selalu sehat dan bahagia.
Kakakku yang baik hati, bangga rasanya sudah memilih kakak sebagai Presiden RI tanpa menebar benci kepada Bapak Macan. Aku memberi suara dengan sangat sadar dan hati yang sesak penuh harapan.
Memang, Kak, aku sempat ragu karena beberapa temanku berusaha melemahkan keyakinan dengan mengirimiku berita tak baik tentang diri kakak. Maafkan mereka, ya ... Teman-temanku itu orang baik, mungkin hanya karena mereka belum tahu.
Keraguan yang sempat mampir di hatiku, ternyata sangat mudah sembuh hanya dengan melemparkan ingatanku sendiri ke tahun 2005. Saat itu, aku adalah perantau dari Cilacap yang tinggal di Kampung Kemlayan, Kota Solo. Di sela pekerjaanku, aku mengisi waktu dengan mendaur ulang kardus bekas selongsong gulungan kain menjadi celengan lukis pasir. Aku menjualnya setiap minggu pagi di depan Stadion Manahan.
Satu pagi yang takkan kulupa, ketika seorang bapak mengikuti anak kecil menghampiriku dan membeli sebuah celengan seharga Rp.3000. Setelah mendapatkan celengan yang disukainya, anak kecil itu ingin buru-buru pergi. Namun bapak lembut itu menahan dan menyuruhnya mengucap terima kasih dulu kepadaku. Beliau sendiri tersenyum dan mengangguk ramah ketika kubalas ucapannya.
Aku tak tahu, sampai kawanku menggamit lengan dan berkata, bahwa bapak yang membeli itu adalah Pak Walikota. Aku terkejut. Senyumku mengembang penuh kebanggaan ketika kulihat punggung Pak Walikota berlalu. Aku merasa sangat ’diuwongke’ ketika bahkan pada pedagang kaki lima musiman sepertiku, di saat yang sangat santai tanpa sorot media, bahkan saat aku sendiri tidak tahu siapa pembeliku itu, Pak Walikota tak lupa bersikap sopan. Pak Walikota itu adalah Kak Jokowi.
Setelah itu, kusaksikan sendiri perubahan Kota Solo menjadi lebih nyaman ditinggali di bawah kepemimpinan kakak. Bila semua itu adalah pencitraan saja, maka aku adalah ’korban’ pencitraan yang merasa nyaman dan bahagia.
Saat ini aku sedang menjemput rizki yang ditebarkan Tuhan, bekerja sebagai buruh migran di Taiwan. Bukan karena aku tak cinta Indonesia, Kak, melainkan memang beginilah Tuhan menggariskan perjalanan hidupku. Meskipun aku di sini, hatiku tetap Merah-Putih. Aku sepenuhnya Indonesia. Maka dari itulah, ketika di sini pun aku tetap berusaha menjadi bagian dari Indonesia berproses. Aku membayar pajak dengan taat, dan bersemangat mengikuti proses pemilihan umum. Apalagi ketika akhirnya muncul nama Kak Jokowi sebagai Calon Presiden yang bisa kupilih.
Selain itu, aku juga sedang mempersiapkan diri untuk pulang ke tanah kelahiran dan menebar manfaat bagi sekitar seperti yang kakak contohkan. Yang kumampu memang tak banyak, namun dengan yang sedikit itu aku akan turun tangan.
Oh ya, Kak ... Bila memang nanti kakak menjadi presiden, aku ingin kakak meningkatkan perlindungan terhadap kami, para buruh migran. Supaya kami bisa bekerja dengan tenang dan bermartabat, kemudian pulang ke Indonesia dan siap mandiri, turun tangan untuk pembangunan.
Terakhir, Kak, aku mohon doa restu. Adikmu ini, beserta 9 kawan lainnya sedang mewakili Indonesia dalam lomba sastra. Kami membawa Merah Putih bertanding dengan negara lainnya. Bila kemenangan kami peroleh, maka itu adalah kemenangan untuk Indonesia.
Sekian surat dariku. Semoga kakak dan seluruh bangsa Indonesia selalu dilindungi Tuhan.
Adikmu
Erin Cipta
Update:
Aku brrhasil menjadi pemenang harapan dalam lomba menulis itu, Kak ...
Sunday, July 6, 2014
QUICK COUNT, hitung cepat yang ”kecepetan”
Jumat malam, tgl 4 Juli aku membaca kabar dari WNI yang di Riyadh tentang hasil pemilu presiden 2014.
Hasilnya, Prabowo 40% Jokowi 55%, suara tidak masuk 5%.
Awalnya aku cuma nyengir-nyengir imut, tidak terlalu excited dengan angka ini. Riyadh memang sudah mencoblos hari jumat itu.
Lalu, sabtu malam tanggal 5 Juli seorang kawan mengirimi sebuah data yg lebih panjang. Seperti ini:
JOKOWI MENANG TELAK DI PEMILU LUAR NEGERI
Quick Count Pemilu Luar Negeri :
ARAB SAUDI : Jokowi 75%Prabowo 25%
EROPA : Jokowi 60%Prabowo 40%
AMERIKA : Jokowi 80%Prabowo 20%
AUSTRALIA :Jokowi 85% Prabowo 15%
TIMUR TENGAH : Jokowi 70%Prabowo 30%
ASIA OCEANIA:Jokowi 65%Prabowo 35%
MALAYSIA :Jokowi 85%Prabowo 15%
JEPANG :Jokowi 60%Prabowo 40%
Ebuset! Bukan nyengir lagi deh sekarang. Ada yg aneh...
Setahuku, Jepang dan Malaysia baru akan mencoblos hari Minggu tgl 6 Juli deh...
Lalu, angkanya kok sempurna amat. Hasil suara terhitung semua 100%. Apa tidak ada yang berhalangan hadir? Apa semua surat suara sah? Apa tidak ada yang golput?
Tanda tanya kubawa sampai tidur.
Dan Minggu pagi, 6 Juli, aku membaca sebuah data yg lebih ajaib. Sumbernya dari sebuah akun milik seorang wartawan.
Ini datanya:
Hasil exit poll kubu Prabowo-Hatta:
Taiwan (Prabowo-Hatta) 76% (Jkw-JK) 24%
Arab saudi (Prabowo-Hatta) 46% (Jkw-JK) 54%
Malaysia (Prabowo-Hatta) 75% (Jkw-JK) 25%
Jepang (Prabowo-Hatta) 77% (Jkw-JK) 23%
Tiongkok (Prabowo-Hatta) 45% (Jkw-JK) 55%
Yaman (Prabowo-Hatta) 66% (Jkw-JK) 34%
Singapura (Prabowo-Hatta) 52% (Jkw-JK) 48% Masih
Hasil exit poll kubu Jokowi-JK:
Arab Saudi: Jokowi 75% Prabowo 25%
Eropa: Jokowi 60% Prabowo 40%
Amerika Serikat: Jokowi 80% Prabowo 20%
Australia: Jokowi 85% Prabowo 15%
Timur Tengah: Jokowi 70% Prabowo 30%
Asia Oceania: Jokowi 65% Prabowo 35%
Malaysia: Jokowi 85% Prabowo 15%
Jepang: Jokowi 60% Prabowo 40%
Ternyata wartawan itu mengutip dari KORAN INI
Wow! Aku tercengang...
Meski disebutkan sebagai exit pool, tapi ini tetap saja jadi data yang absurd. Exit pool itu kan didapat dengan cara menanyai pemilih yang baru KELUAR dari bilik suara tentang siapa yang barusan dipilih. Dan ini hasilnya sudah keluar bahkan sebelum pemilih itu MASUK ke bilik suara. Ajaib!
Dan lagi-lagi angkanya sangat sempurna: 100%
Seingatku waktu sosialisasi pemilu, petugas menyebutkan bahwa meskipun kami di luar negeri mencoblos tanggal 6 juli, namun kotak suara tetap akan dibuka tanggal 9 juli. Sama seperti di Indonesia. Penyebaran berita tentang hasil pemilihan sebelum tanggal itu dilarang, karena bisa dianggap provokasi.
Ah, sudahlah. Aku tak ingin membawa angka ini ke dalam tidur. Aku sudah cukup lelah seharian tadi mandi matahari di roof top, dan nanti juga harus membangunkan kakek jam 3 pagi untuk nonton bola.
Saatnya bobo cantik.
Wan an ... Selamat malam
Hasilnya, Prabowo 40% Jokowi 55%, suara tidak masuk 5%.
Awalnya aku cuma nyengir-nyengir imut, tidak terlalu excited dengan angka ini. Riyadh memang sudah mencoblos hari jumat itu.
Lalu, sabtu malam tanggal 5 Juli seorang kawan mengirimi sebuah data yg lebih panjang. Seperti ini:
JOKOWI MENANG TELAK DI PEMILU LUAR NEGERI
Quick Count Pemilu Luar Negeri :
ARAB SAUDI : Jokowi 75%Prabowo 25%
EROPA : Jokowi 60%Prabowo 40%
AMERIKA : Jokowi 80%Prabowo 20%
AUSTRALIA :Jokowi 85% Prabowo 15%
TIMUR TENGAH : Jokowi 70%Prabowo 30%
ASIA OCEANIA:Jokowi 65%Prabowo 35%
MALAYSIA :Jokowi 85%Prabowo 15%
JEPANG :Jokowi 60%Prabowo 40%
Ebuset! Bukan nyengir lagi deh sekarang. Ada yg aneh...
Setahuku, Jepang dan Malaysia baru akan mencoblos hari Minggu tgl 6 Juli deh...
Lalu, angkanya kok sempurna amat. Hasil suara terhitung semua 100%. Apa tidak ada yang berhalangan hadir? Apa semua surat suara sah? Apa tidak ada yang golput?
Tanda tanya kubawa sampai tidur.
Dan Minggu pagi, 6 Juli, aku membaca sebuah data yg lebih ajaib. Sumbernya dari sebuah akun milik seorang wartawan.
Ini datanya:
Hasil exit poll kubu Prabowo-Hatta:
Taiwan (Prabowo-Hatta) 76% (Jkw-JK) 24%
Arab saudi (Prabowo-Hatta) 46% (Jkw-JK) 54%
Malaysia (Prabowo-Hatta) 75% (Jkw-JK) 25%
Jepang (Prabowo-Hatta) 77% (Jkw-JK) 23%
Tiongkok (Prabowo-Hatta) 45% (Jkw-JK) 55%
Yaman (Prabowo-Hatta) 66% (Jkw-JK) 34%
Singapura (Prabowo-Hatta) 52% (Jkw-JK) 48% Masih
Hasil exit poll kubu Jokowi-JK:
Arab Saudi: Jokowi 75% Prabowo 25%
Eropa: Jokowi 60% Prabowo 40%
Amerika Serikat: Jokowi 80% Prabowo 20%
Australia: Jokowi 85% Prabowo 15%
Timur Tengah: Jokowi 70% Prabowo 30%
Asia Oceania: Jokowi 65% Prabowo 35%
Malaysia: Jokowi 85% Prabowo 15%
Jepang: Jokowi 60% Prabowo 40%
Ternyata wartawan itu mengutip dari KORAN INI
Wow! Aku tercengang...
Meski disebutkan sebagai exit pool, tapi ini tetap saja jadi data yang absurd. Exit pool itu kan didapat dengan cara menanyai pemilih yang baru KELUAR dari bilik suara tentang siapa yang barusan dipilih. Dan ini hasilnya sudah keluar bahkan sebelum pemilih itu MASUK ke bilik suara. Ajaib!
Dan lagi-lagi angkanya sangat sempurna: 100%
Seingatku waktu sosialisasi pemilu, petugas menyebutkan bahwa meskipun kami di luar negeri mencoblos tanggal 6 juli, namun kotak suara tetap akan dibuka tanggal 9 juli. Sama seperti di Indonesia. Penyebaran berita tentang hasil pemilihan sebelum tanggal itu dilarang, karena bisa dianggap provokasi.
Ah, sudahlah. Aku tak ingin membawa angka ini ke dalam tidur. Aku sudah cukup lelah seharian tadi mandi matahari di roof top, dan nanti juga harus membangunkan kakek jam 3 pagi untuk nonton bola.
Saatnya bobo cantik.
Wan an ... Selamat malam
Saturday, June 14, 2014
HASTA BRATA, Saringanku Memilih Presiden
Sejak mendapat hak pilih pertama kali tahun 1999, baru kali ini aku merasa begitu pusing menentukan pilihan. Padahal alternatifnya cuma dua, sangat berbeda pula latar belakangnya.
Namun kepusingan itu ternyata akibat tindakanku sendiri yang terlalu mengambil hati setiap berita tentang calon-calon itu. Aku suka calon Jokowi, namun tidak suka dengan pendukung fanatiknya yang membela segala kampanye hitam dengan membabi buta dan irrasional. Pun juga aku suka calon Prabowo, namun tidak suka pula dengan pendukungnya yang justru mengorek kesalahan dan menjatuhkan lawan tanpa ampun. Jujur, aku tidak ingin berada dalam satu kubu dengan orang-orang seperti itu.
Jadi siapa yang kupilih?
Rupanya aku harus belajar sendiri, menimbang dan memutuskan tanpa intervensi pendukung-pendukung fanatik yang saling menjatuhkan itu. Duh Gusti ... Aku sungguh merindukan perasaan tenang saat memilih pemimpin di waktu sebelum ini (meski yg kupilih, ternyata tidak menang)
Maka aku memutuskan untuk mundur jauh dan menepi dari segala ingar bingar pusaran kampanye yang ancur-ancuran begini. Aku menganut kembali cara orang-orang masa silam ketika memilih pemimpin. Menyaringnya dengan kualifikasi HASTA BRATA secara objektif. Aku membuka mata untuk fakta (meski kerap kabur) namun menutup telinga untuk perang hujat dan kampanye hitam.
Semoga, dalam hening aku bisa memutuskan siapa yang akan menerima suaraku untuk memimpin Indonesia. Indonesiaku!
HASTA BRATA atau DELAPAN LAKU seorang pemimpin ideal yang meminang sifat-sifat BAIK elemen semesta.
1. Pemimpin harus seperti MATAHARI yang menumbuhkan kesadaran. Jangan sampai ia membiarkan rakyatnya ’ngantuk’, terlena bahkan keblinger. Tumbuhkan kesadaran seperti matahari membangunkan bumi.
2. Pemimpin harus seperti BULAN yang menyinari kegelapan. Cahayanya lembut dan menjadi pelipur jiwa yang rindu, menjadi peredam jiwa yang bergejolak.
3. Pemimpin harus seperti BINTANG yang menjadi navigasi penuntun bangsa maritim ini menuju kemakmuran.
4. Pemimpin harus seperti AIR yang selalu rata dan sesuai ditempatkan di mana saja. Berkumpul dengan negara miskin tidak terlihat arogan, berkumpul negara kaya dan maju tidak terlihat seperti pecundang.
5. Pemimpin harus seperti API, tuntas kerjanya. Tak ada yang tak selesai oleh api. Melakukan segala tugas dengan total dan tuntas.
6. Pemimpin harus seperti GUNUNG yang teguh pendiriannya. Tidak goyah dan mudah pindah. Dia juga harus menjadi pelindung segala yang ada di lerengnya, meski tanaman beracun atau hewan buas sekalipun. Menjaga harmoni yang dikandungnya.
7. Pemimpin harus seperti ANGIN yang mau menjumpai siapapun. Di darat, di laut, di udara angin menyapa. Pemimpin tidak boleh sombong dan menghindar dari orang-orang tertentu.
8. Pemimpin harus seperti TANAH yang meskipun diinjak-injak, diludahi, diungkit-ungkit, namun tetap bersedia menumbuhkan kehidupan.
Inilah timbangan yang kupakai dalam menentukan siapa yang akan kupilih kelak. Aku tidak akan membesar-besarkan, apalagi mencari-cari kesalahan kedua calon itu. Karena seperti elemen semesta yang dipinang sifat baiknya, mereka pun punya sifat buruk dan berbahaya.
Bila karena nila setitik rusak susu sebelanga, mengapa harus merusak susu sebelanga hanya untuk mengetahui adanya nila setitik.
Semoga ini bisa kupegang, untuk diriku sendiri, untuk Indonesiaku.
MERDEKA!
**disarikan dari pertunjukan singkat Ki Dalang Sujiwo Tejo di acara Mata Najwa
Namun kepusingan itu ternyata akibat tindakanku sendiri yang terlalu mengambil hati setiap berita tentang calon-calon itu. Aku suka calon Jokowi, namun tidak suka dengan pendukung fanatiknya yang membela segala kampanye hitam dengan membabi buta dan irrasional. Pun juga aku suka calon Prabowo, namun tidak suka pula dengan pendukungnya yang justru mengorek kesalahan dan menjatuhkan lawan tanpa ampun. Jujur, aku tidak ingin berada dalam satu kubu dengan orang-orang seperti itu.
Jadi siapa yang kupilih?
Rupanya aku harus belajar sendiri, menimbang dan memutuskan tanpa intervensi pendukung-pendukung fanatik yang saling menjatuhkan itu. Duh Gusti ... Aku sungguh merindukan perasaan tenang saat memilih pemimpin di waktu sebelum ini (meski yg kupilih, ternyata tidak menang)
Maka aku memutuskan untuk mundur jauh dan menepi dari segala ingar bingar pusaran kampanye yang ancur-ancuran begini. Aku menganut kembali cara orang-orang masa silam ketika memilih pemimpin. Menyaringnya dengan kualifikasi HASTA BRATA secara objektif. Aku membuka mata untuk fakta (meski kerap kabur) namun menutup telinga untuk perang hujat dan kampanye hitam.
Semoga, dalam hening aku bisa memutuskan siapa yang akan menerima suaraku untuk memimpin Indonesia. Indonesiaku!
HASTA BRATA atau DELAPAN LAKU seorang pemimpin ideal yang meminang sifat-sifat BAIK elemen semesta.
1. Pemimpin harus seperti MATAHARI yang menumbuhkan kesadaran. Jangan sampai ia membiarkan rakyatnya ’ngantuk’, terlena bahkan keblinger. Tumbuhkan kesadaran seperti matahari membangunkan bumi.
2. Pemimpin harus seperti BULAN yang menyinari kegelapan. Cahayanya lembut dan menjadi pelipur jiwa yang rindu, menjadi peredam jiwa yang bergejolak.
3. Pemimpin harus seperti BINTANG yang menjadi navigasi penuntun bangsa maritim ini menuju kemakmuran.
4. Pemimpin harus seperti AIR yang selalu rata dan sesuai ditempatkan di mana saja. Berkumpul dengan negara miskin tidak terlihat arogan, berkumpul negara kaya dan maju tidak terlihat seperti pecundang.
5. Pemimpin harus seperti API, tuntas kerjanya. Tak ada yang tak selesai oleh api. Melakukan segala tugas dengan total dan tuntas.
6. Pemimpin harus seperti GUNUNG yang teguh pendiriannya. Tidak goyah dan mudah pindah. Dia juga harus menjadi pelindung segala yang ada di lerengnya, meski tanaman beracun atau hewan buas sekalipun. Menjaga harmoni yang dikandungnya.
7. Pemimpin harus seperti ANGIN yang mau menjumpai siapapun. Di darat, di laut, di udara angin menyapa. Pemimpin tidak boleh sombong dan menghindar dari orang-orang tertentu.
8. Pemimpin harus seperti TANAH yang meskipun diinjak-injak, diludahi, diungkit-ungkit, namun tetap bersedia menumbuhkan kehidupan.
Inilah timbangan yang kupakai dalam menentukan siapa yang akan kupilih kelak. Aku tidak akan membesar-besarkan, apalagi mencari-cari kesalahan kedua calon itu. Karena seperti elemen semesta yang dipinang sifat baiknya, mereka pun punya sifat buruk dan berbahaya.
Bila karena nila setitik rusak susu sebelanga, mengapa harus merusak susu sebelanga hanya untuk mengetahui adanya nila setitik.
Semoga ini bisa kupegang, untuk diriku sendiri, untuk Indonesiaku.
MERDEKA!
**disarikan dari pertunjukan singkat Ki Dalang Sujiwo Tejo di acara Mata Najwa
Wednesday, May 21, 2014
TITIK HITAM
Cukup sudah!
Gemelutuk gerahamku beradu menahan geram. Ini benar-benar mengesalkan. Mereka mudah sekali mengejek dan menjadikanku bahan tertawaan. Semua gara-gara benda sialan ini, sebuah titik hitam sebesar kedelai yang menempel di sisi kanan hidungku: tahilalat.
”Kalau sebesar itu namanya bukan tahilalat lagi, itu tahi kambing,”
”Wah, mungkin hidungmu tuh, yang bentuknya mirip toilet, jadi lalat buang tahi di situ. Hahahaha ...”
”Kamu mandi nggak, sih? Jorok amat sampai lalat menclok dan berak di hidungmu?”
Itu hanya sebagian kecil dari olok-olok orang terkait dengan tahilalat sialan ini.
Karena itulah, sekarang aku di sini. Di ruang tunggu dokter bedah kecantikan. Ini adalah kunjungan ketigaku. Kunjungan diam-diam, tanpa sepengetahuan suami, keluarga, maupun teman-temanku. Aku ingin membuang titik hitam yang buruk ini. Menghentikan segala seloroh dan ejekan orang padaku.
Kunjungan pertama dan kedua adalah untuk konsultasi dan periksa. Dokter bilang, tahilalat ini biasa saja, bukan tumor berbahaya meskipun membesar pelan-pelan. Kalau mau dibiarkan, tiada mengapa. Namun bila ingin membuangnya juga mudah. Yaitu melalui tindakan bedah ringan yang makan waktu tak lebih dari sejam.
Aku mendapat antrian sebagai pasien nomor tujuh. Kulihat perempuan memegang kertas antrian nomor dua masih menunggu. Oh, dokter baru menerima satu pasien di dalam. Maka berarti giliranku masih lama. Tak mengapa, aku punya banyak waktu. Hari ini aku libur bekerja, sedangkan suamiku lembur sampai malam. Zizi anakku, seperti biasa diasuh oleh ibu mertuaku. Aku sudah memerah ASI dan menyimpannya di kulkas. Jadi Zizi tak akan kekurangan susu. Lagi pula, minum ASI perah sudah terbiasa baginya, karena tiap hari kutinggal bekerja. Anakku itu hanya menyusu langsung padaku di malam hari.
”Sakit apa, Bu?” Aku mencoba berbasa-basi pada ibu dengan antrian nomor dua itu.
”Ini.” Sungguh singkat jawabannya. Ibu itu hanya menunjukan ruam merah di punggung tangannya. Entah sakit apa.
Aku membuka mulut hendak bertanya lagi, namun asisten dokter memanggil sang ibu untuk masuk ruang periksa. Mulutku kembali terkatup.
Pasien lain terlihat sibuk sendiri-sendiri dengan gadgetnya. Aku yang memang sengaja mematikan telepon genggam supaya tak ada yang tahu aku di sini, malah jadi salah tingkah tak tahu bagaimana mengisi waktu menunggu ini.
Di pojok bangku kulihat ada tumpukan majalah. Kuambil satu majalah wanita dan membolak-balik halamannya yang nyaris dipenuhi iklan. Tapi karena aku tidak suka membaca, maka kantuk langsung datang begitu kulihat tulisan. Berat sekali mataku ini.
Aah ... Untung giliranku telah tiba. Aku masuk ruang dokter dengan hati berdebar-debar.
************
Luar biasa!
Ini memang dokter juara. Tahilalatku berhasil dihilangkan dalam waktu singkat, dan tanpa rasa sakit sedikitpun. Bahkan tanpa bekas. Hidungku yang tidak terlalu mancung ini sekarang bersih dari titik hitam yang mengganggu. Wajahku terlihat makin bersinar. Tak jemu aku bercermin di depan wastafel ruang operasi ini. Kupatut-patut diriku. Aih, sungguh berbeda.
”Semua sudah beres. Ibu silakan selesaikan urusan administrasi dengan asisten saya. Sebenarnya ibu tak perlu obat apa-apa. Tapi untuk berjaga-jaga, saya beri resep kecil saja. Konsumsi obatnya hanya jika ada yang terasa sakit. Kalau ibu baik-baik saja, obat itu tidak perlu diminum,” jelas dokter sambil menulis di kertas resep.
”Terima kasih,” sahutku.
Urusan pembayaran dan menebus resep di apotik kulakukan dengan sangat cepat. Aku sungguh tidak sabar ingin segera keluar. Bertemu dengan orang-orang yang selama ini mengejekku. Biar mereka melihat wajahku sekarang dan dunia akan segera tahu, ini aku: Listi tanpa tahilalat di hidung. Dan aku cantik.
Langkahku ringan keluar dari gedung asri itu. Sebenarnya aku bisa saja langsung pulang, namun aku ingat ada reuni kecil di rumah salah satu kawan SMA. Semacam arisan alumni untuk menjaga keakraban yang terjalin sejak sekolah dulu. Aku bersemangat ingin datang meski tidak ikut arisannya. Di antara semua yang mengejekku, kawan-kawan SMA inilah yang paling kejam. Biar mereka yang pertama kali tercengang melihatku tanpa tahilalat.
”Hai!” sapaku riang pada Citra.
Citra adalah kawan sebangku waktu kelas 3 dulu. Dia juga adalah orang yang kerap mengejek tahilalat ini.
Citra tampak agak terkejut, namun lalu justru seperti orang yang tak kenal denganku. Aih, sebegitu berubahkah diriku?
”Hai, maaf saya agak lupa. Mbak siapa ya?” tanya Citra.
”Listi. Duuh ... Masak sampai lupa dengan teman sebangku.” Aku menggamit lengannya penuh keakraban.
”Oo ... Ya, ya ... Maaf ya. Perasaan dulu kamu cantik sekali dengan tahilalat di wajahmu. Sekarang kok jadi seperti wajah permak silikon?” ucap Citra menohok tepat di ulu hatiku.
Aku tercekat. Lebih-lebih ketika bertemu kawan lain yang ternyata juga tidak langsung mengenaliku. Alih-alih memuji kecantikanku, mereka justru menyayangkan tahilalat itu hilang. Meski tidak melihat, aku bisa merasakan mereka berbisik-bisik membicarakanku. Sepanjang acara arisan aku terkucil. Aku menunduk dan mulai kehilangan percaya diri, lebih dari sekedar ketika aku diejek dulu.
*** *** ***
Sungguh aku ingin menangis tadi. Menyesal sekali datang ke acara arisan reuni hanya untuk dikucilkan. Yang sekarang aku inginkan hanyalah pulang dan bertemu suami, anak, dan saudara-saudaraku. Aku butuh dukungan atas hilangnya tahilalat ini dari wajahku. Aku ingin seseorang memujiku cantik, meski hanya lewat senyuman.
”Maaas ... Lihat kemari. Istrimu datang dengan wajah baru yang lebih cantik.” Aku berucap manja sambil tersenyum ketika masuk ke ruang tamu. Kulihat suamiku sedang menggendong Zizi sambil memegang balon.
Tapi reaksi suamiku benar-benar di luar dugaan. Kupikir dia akan senang dengan perubahan wajahku ini. Namun dia malah mengernyitkan dahi dan menatapku dingin.
”Kamu tuh, kenapa? Wajahmu jadi aneh begitu? Seharian ini kamu pergi kemana?” cecar suamiku.
”Aku ke dokter. Aku menjalani operasi kecil untuk membuang tahilalat yang mengganggu ini. Maaf aku tidak bilang dulu. Tapi cantik kan, Mas?” Meski sebenarnya syok, tapi aku tetap berusaha bermanis-manis pada suamiku.
”Aku menikahimu memang bukan karena kecantikan. Tapi kalau boleh aku jujur, kamu jauh lebih cantik dengan tahilalat di sisi hidungmu. Aku menyukainya. Tidakkah kamu merasa, hampir tiap hari kucium kamu di tahilalat itu?”
Kali ini aku benar-benar syok. Dadaku sesak, dan leherku tercekat seperti menelan sebutir biji salak. Tangisku meledak ...
Sungguh aku menyesal membuang tahilalat yang sebenarnya tidak mengganggu sama sekali ini. Aku terlalu mengambil hati setiap ejekan orang yang sebenarnya justru karena perhatian. Aku terlalu emosi dan cepat tersinggung.
Dan hatiku benar-benar hancur ketika ingin mengambil Zizi untuk aku susui. Zizi menangis dan menolak uluran tanganku. Entahlah, mungkin karena melihatku menangis, anak itu tidak mau kupeluk. Namun ketika aku menyeka air mata, dan kembali mengulurkan tangan, Zizi tetap bertahan memeluk suamiku semakin kencang.
Dengan kesabaran, akhirnya aku bisa memangku Zizi. Dadaku masih naik turun menahan tangis ketika membuka kancing baju hendak menyusuinya. Dan seperti refleks, tangan Zizi meraih hidungku. Sejak bayi dia memang selalu menyentuh dan bermain-main dengan tahilalatku ketika menyusu. Ketika tahilalat yang dicarinya tak ada, Zizi menangis sangat kencang. Dia berontak dari pangkuanku.
Remuk redam perasaanku. Kebahagiaanku hilang hanya gara-gara ingin membungkam ejekan orang-orang. Dan sebenarnya ejekan itu tidaklah serius. Aku saja yang terlalu cepat tersinggung. Kini aku menyesal. Sangat menyesal. Tangisku pecah lagi tanpa bisa kutahan.
*** *** ***
”Bu ... Bu ... Maaf, sekarang giliran ibu masuk ruangan. Ibu nomor tujuh, kan?”
Kurasakan seseorang mengguncang pelan pundakku. Aku membuka mata, dan kulihat asisten dokter berdiri di sampingku. Ouh, rupanya aku tertidur tadi. Dan aku bermimpi!
Astaga! Mengerikan sekali mimpiku tadi. Kuraba hidungku ...
”Aaah ...” Aku mendesah lega.
Tahilalat ini masih menempel di sisi kanan hidungku. Kurasakan keringat meleleh di pelipis, padahal ruang tunggu itu sejuk.
”Giliran ibu sekarang. Silakan masuk,” ucap asisten dokter itu sambil tersenyum.
Aku membalas senyumnya dan bangkit dari kursi yang nyaman itu. Kuserahkan tanda nomor antrian itu kepadanya.
”Maaf, saya tidak jadi membuang tahilalat ini,” Senyumku masih merekah.
Asisten dokter itu tampak sangat heran. Ah, aku tak peduli. Kulangkahkan kakiku mantap keluar dari tempat dokter bedah kecantikan itu. Pulang.
***** ******
Dimuat di Majalah TIM International, Taiwan
Edisi Mei 2014
Gemelutuk gerahamku beradu menahan geram. Ini benar-benar mengesalkan. Mereka mudah sekali mengejek dan menjadikanku bahan tertawaan. Semua gara-gara benda sialan ini, sebuah titik hitam sebesar kedelai yang menempel di sisi kanan hidungku: tahilalat.
”Kalau sebesar itu namanya bukan tahilalat lagi, itu tahi kambing,”
”Wah, mungkin hidungmu tuh, yang bentuknya mirip toilet, jadi lalat buang tahi di situ. Hahahaha ...”
”Kamu mandi nggak, sih? Jorok amat sampai lalat menclok dan berak di hidungmu?”
Itu hanya sebagian kecil dari olok-olok orang terkait dengan tahilalat sialan ini.
Karena itulah, sekarang aku di sini. Di ruang tunggu dokter bedah kecantikan. Ini adalah kunjungan ketigaku. Kunjungan diam-diam, tanpa sepengetahuan suami, keluarga, maupun teman-temanku. Aku ingin membuang titik hitam yang buruk ini. Menghentikan segala seloroh dan ejekan orang padaku.
Kunjungan pertama dan kedua adalah untuk konsultasi dan periksa. Dokter bilang, tahilalat ini biasa saja, bukan tumor berbahaya meskipun membesar pelan-pelan. Kalau mau dibiarkan, tiada mengapa. Namun bila ingin membuangnya juga mudah. Yaitu melalui tindakan bedah ringan yang makan waktu tak lebih dari sejam.
Aku mendapat antrian sebagai pasien nomor tujuh. Kulihat perempuan memegang kertas antrian nomor dua masih menunggu. Oh, dokter baru menerima satu pasien di dalam. Maka berarti giliranku masih lama. Tak mengapa, aku punya banyak waktu. Hari ini aku libur bekerja, sedangkan suamiku lembur sampai malam. Zizi anakku, seperti biasa diasuh oleh ibu mertuaku. Aku sudah memerah ASI dan menyimpannya di kulkas. Jadi Zizi tak akan kekurangan susu. Lagi pula, minum ASI perah sudah terbiasa baginya, karena tiap hari kutinggal bekerja. Anakku itu hanya menyusu langsung padaku di malam hari.
”Sakit apa, Bu?” Aku mencoba berbasa-basi pada ibu dengan antrian nomor dua itu.
”Ini.” Sungguh singkat jawabannya. Ibu itu hanya menunjukan ruam merah di punggung tangannya. Entah sakit apa.
Aku membuka mulut hendak bertanya lagi, namun asisten dokter memanggil sang ibu untuk masuk ruang periksa. Mulutku kembali terkatup.
Pasien lain terlihat sibuk sendiri-sendiri dengan gadgetnya. Aku yang memang sengaja mematikan telepon genggam supaya tak ada yang tahu aku di sini, malah jadi salah tingkah tak tahu bagaimana mengisi waktu menunggu ini.
Di pojok bangku kulihat ada tumpukan majalah. Kuambil satu majalah wanita dan membolak-balik halamannya yang nyaris dipenuhi iklan. Tapi karena aku tidak suka membaca, maka kantuk langsung datang begitu kulihat tulisan. Berat sekali mataku ini.
Aah ... Untung giliranku telah tiba. Aku masuk ruang dokter dengan hati berdebar-debar.
************
Luar biasa!
Ini memang dokter juara. Tahilalatku berhasil dihilangkan dalam waktu singkat, dan tanpa rasa sakit sedikitpun. Bahkan tanpa bekas. Hidungku yang tidak terlalu mancung ini sekarang bersih dari titik hitam yang mengganggu. Wajahku terlihat makin bersinar. Tak jemu aku bercermin di depan wastafel ruang operasi ini. Kupatut-patut diriku. Aih, sungguh berbeda.
”Semua sudah beres. Ibu silakan selesaikan urusan administrasi dengan asisten saya. Sebenarnya ibu tak perlu obat apa-apa. Tapi untuk berjaga-jaga, saya beri resep kecil saja. Konsumsi obatnya hanya jika ada yang terasa sakit. Kalau ibu baik-baik saja, obat itu tidak perlu diminum,” jelas dokter sambil menulis di kertas resep.
”Terima kasih,” sahutku.
Urusan pembayaran dan menebus resep di apotik kulakukan dengan sangat cepat. Aku sungguh tidak sabar ingin segera keluar. Bertemu dengan orang-orang yang selama ini mengejekku. Biar mereka melihat wajahku sekarang dan dunia akan segera tahu, ini aku: Listi tanpa tahilalat di hidung. Dan aku cantik.
Langkahku ringan keluar dari gedung asri itu. Sebenarnya aku bisa saja langsung pulang, namun aku ingat ada reuni kecil di rumah salah satu kawan SMA. Semacam arisan alumni untuk menjaga keakraban yang terjalin sejak sekolah dulu. Aku bersemangat ingin datang meski tidak ikut arisannya. Di antara semua yang mengejekku, kawan-kawan SMA inilah yang paling kejam. Biar mereka yang pertama kali tercengang melihatku tanpa tahilalat.
”Hai!” sapaku riang pada Citra.
Citra adalah kawan sebangku waktu kelas 3 dulu. Dia juga adalah orang yang kerap mengejek tahilalat ini.
Citra tampak agak terkejut, namun lalu justru seperti orang yang tak kenal denganku. Aih, sebegitu berubahkah diriku?
”Hai, maaf saya agak lupa. Mbak siapa ya?” tanya Citra.
”Listi. Duuh ... Masak sampai lupa dengan teman sebangku.” Aku menggamit lengannya penuh keakraban.
”Oo ... Ya, ya ... Maaf ya. Perasaan dulu kamu cantik sekali dengan tahilalat di wajahmu. Sekarang kok jadi seperti wajah permak silikon?” ucap Citra menohok tepat di ulu hatiku.
Aku tercekat. Lebih-lebih ketika bertemu kawan lain yang ternyata juga tidak langsung mengenaliku. Alih-alih memuji kecantikanku, mereka justru menyayangkan tahilalat itu hilang. Meski tidak melihat, aku bisa merasakan mereka berbisik-bisik membicarakanku. Sepanjang acara arisan aku terkucil. Aku menunduk dan mulai kehilangan percaya diri, lebih dari sekedar ketika aku diejek dulu.
*** *** ***
Sungguh aku ingin menangis tadi. Menyesal sekali datang ke acara arisan reuni hanya untuk dikucilkan. Yang sekarang aku inginkan hanyalah pulang dan bertemu suami, anak, dan saudara-saudaraku. Aku butuh dukungan atas hilangnya tahilalat ini dari wajahku. Aku ingin seseorang memujiku cantik, meski hanya lewat senyuman.
”Maaas ... Lihat kemari. Istrimu datang dengan wajah baru yang lebih cantik.” Aku berucap manja sambil tersenyum ketika masuk ke ruang tamu. Kulihat suamiku sedang menggendong Zizi sambil memegang balon.
Tapi reaksi suamiku benar-benar di luar dugaan. Kupikir dia akan senang dengan perubahan wajahku ini. Namun dia malah mengernyitkan dahi dan menatapku dingin.
”Kamu tuh, kenapa? Wajahmu jadi aneh begitu? Seharian ini kamu pergi kemana?” cecar suamiku.
”Aku ke dokter. Aku menjalani operasi kecil untuk membuang tahilalat yang mengganggu ini. Maaf aku tidak bilang dulu. Tapi cantik kan, Mas?” Meski sebenarnya syok, tapi aku tetap berusaha bermanis-manis pada suamiku.
”Aku menikahimu memang bukan karena kecantikan. Tapi kalau boleh aku jujur, kamu jauh lebih cantik dengan tahilalat di sisi hidungmu. Aku menyukainya. Tidakkah kamu merasa, hampir tiap hari kucium kamu di tahilalat itu?”
Kali ini aku benar-benar syok. Dadaku sesak, dan leherku tercekat seperti menelan sebutir biji salak. Tangisku meledak ...
Sungguh aku menyesal membuang tahilalat yang sebenarnya tidak mengganggu sama sekali ini. Aku terlalu mengambil hati setiap ejekan orang yang sebenarnya justru karena perhatian. Aku terlalu emosi dan cepat tersinggung.
Dan hatiku benar-benar hancur ketika ingin mengambil Zizi untuk aku susui. Zizi menangis dan menolak uluran tanganku. Entahlah, mungkin karena melihatku menangis, anak itu tidak mau kupeluk. Namun ketika aku menyeka air mata, dan kembali mengulurkan tangan, Zizi tetap bertahan memeluk suamiku semakin kencang.
Dengan kesabaran, akhirnya aku bisa memangku Zizi. Dadaku masih naik turun menahan tangis ketika membuka kancing baju hendak menyusuinya. Dan seperti refleks, tangan Zizi meraih hidungku. Sejak bayi dia memang selalu menyentuh dan bermain-main dengan tahilalatku ketika menyusu. Ketika tahilalat yang dicarinya tak ada, Zizi menangis sangat kencang. Dia berontak dari pangkuanku.
Remuk redam perasaanku. Kebahagiaanku hilang hanya gara-gara ingin membungkam ejekan orang-orang. Dan sebenarnya ejekan itu tidaklah serius. Aku saja yang terlalu cepat tersinggung. Kini aku menyesal. Sangat menyesal. Tangisku pecah lagi tanpa bisa kutahan.
*** *** ***
”Bu ... Bu ... Maaf, sekarang giliran ibu masuk ruangan. Ibu nomor tujuh, kan?”
Kurasakan seseorang mengguncang pelan pundakku. Aku membuka mata, dan kulihat asisten dokter berdiri di sampingku. Ouh, rupanya aku tertidur tadi. Dan aku bermimpi!
Astaga! Mengerikan sekali mimpiku tadi. Kuraba hidungku ...
”Aaah ...” Aku mendesah lega.
Tahilalat ini masih menempel di sisi kanan hidungku. Kurasakan keringat meleleh di pelipis, padahal ruang tunggu itu sejuk.
”Giliran ibu sekarang. Silakan masuk,” ucap asisten dokter itu sambil tersenyum.
Aku membalas senyumnya dan bangkit dari kursi yang nyaman itu. Kuserahkan tanda nomor antrian itu kepadanya.
”Maaf, saya tidak jadi membuang tahilalat ini,” Senyumku masih merekah.
Asisten dokter itu tampak sangat heran. Ah, aku tak peduli. Kulangkahkan kakiku mantap keluar dari tempat dokter bedah kecantikan itu. Pulang.
***** ******
Dimuat di Majalah TIM International, Taiwan
Edisi Mei 2014
Saturday, April 26, 2014
LELAKI TUA DAN ANGKA-ANGKA
Siang itu, dia duduk saja di dekat tempat sampah depan rumahku. Mengorek sampah, mencari kertas.
Ya, kertas.
”Paman suka menulis, ya?” tanya Embun, anaku.
Aku terkejut. Orang kurang waras ini ditakuti banyak anak kecil. Tapi tidak dengan Embun. Anaku yang baru sekolah TK itu malah mendekatinya. Senyum yang lebih mirip seringai juga tak membuat Embun mundur. Gadis kecilku lantas mengaduk-aduk tas sekolahnya, lalu memberi lelaki itu pensil bekas miliknya.
Meski agak khawatir, kubiarkan saja Embun bicara dengannya. Kulihat dia tidak berbahaya. Wajah hitam celemotan, rambut berantakan, namun sorot matanya ... Entahlah. Seperti mata orang yang sedang menanti sesuatu yang besar, yang menyenangkan. Ketika nenerima pensil dari Embun, tampak sekali dia kegirangan. Dengan cekatan ditatanya lembar-lembar kertas yang didapat dari tempat sampah. Lalu langsung serius menulis.
”Ayo, masuk. Ganti baju dulu,” ajakku pada Embun.
Anakku berjalan setengah melompat membuat kuncir ekor kudanya bergoyang-goyang.
*****
Aku warga baru di komplek ini, jadi belum paham siapa lelaki dekil kemarin itu. Meski begitu, Embun tak kularang ketika menghampirinya lagi dan memberi kertas lebih banyak. Asal tidak mengajaknya masuk rumah, kurasa tidak apa-apa.
”Bu Edi, anaknya tidak takut sama pak Gondrong?” Ucap bu Mus saat sama-sama menjemput anak di sekolah.
”Oo ... Itu namanya pak Gondrong? Iya, tuh, Embun tidak takut. Malah berani menghampirinya. Dia tidak berbahaya, kan, bu?” tanyaku.
”Tidak. Pak Gondrong tidak galak, tidak akan menyakiti siapapun. Tapi tetap harus hati-hati. Namanya juga orang gila, kita mana tahu kalau tiba-tiba dia berubah,”
”Dia warga asli sini? Kenapa bisa seperti itu, Bu?”
”Iya. Orang sini saja. Masih punya beberapa saudara kok. Tapi anak istrinya sudah tidak tinggal di sini,”
”Lho, punya anak? Sudah seberapa besar?”
”Mungkin sekarang sudah lulus kuliah. Ah, pak Gondrong itu ... Bagaimana, ya ... Kasihan sebenarnya. Tapi ya ... salahnya sendiri juga,”
Aku diam, tapi mataku menatap bu Mus mengharap ceritanya diteruskan. Rupanya bu Mus juga mengerti arti tatapaku.
”Nama sebenarnya pak Yanto. Sebenarnya dia bukan orang yang malas. Dia dulu bekerja di pabrik meubel. Istrinya orang jauh, anaknya satu, laki-laki. Gaji pak Yanto lumayan, cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Cuma sejak dia kenal togel, dia seperti orang yang ketagihan membeli togel,”
Aku mengangguk-angguk mulai mengerti.
”Beberapa kali nomer yang dibeli pak Yanto tembus dan menang. Namun jumlahnya kecil-kecil. Rupanya kemenangan beberapa kali itu membuat pak Yanto ketagihan. Uang belanja untuk istrinya mulai dikurangi demi membeli togel. Lama-lama uang jatah bayar sekolah anaknya kena juga. Sampai akhirnya seluruh hasilnya bekerja dia pasangkan togel.
Tentu saja rumah tangganya kisruh karena hal ini. Istrinya tidak tahan, lantas pergi ke Jakarta untuk bekerja menjadi pembantu. Anaknya dititipkan pada neneknya.
Ditinggal istri begitu, bukannya sembuh, kegemaran pak Yanto akan togel malah semakin parah. Dia bahkan sampai pergi ke dukun dan berkunjung ke tempat-tempat yang tidak jelas demi mendapat nomor yang jitu.
Sampai suatu hari, pak Yanto merasa sangat yakin dengan nomor yang dipasangnya. Dia bertaruh banyak sekali, bahkan sampai menggadaikan surat tanah miliknya. Sebenarnya semua keluarga sudah mengingatkan, bahkan melarang. Tapi pak Yanto benar-benar sudah sangat yakin. Bahkan dia sampai bersumpah, kalau nomornya tembus, dia akan membakar rumahnya, kemudian menggantinya dengan bangunan yang bagus.
Pada malam pembukaan togel, tengah malam pak Yanto teriak-teriak seperti orang kesurupan. Dia berlari dari ujung jalan sambil tertawa dan teriak,
”Aku menang! Aku menang!”
Para tetangga tentu saja banyak yang keluar melihat pak Yanto seperti itu. Benar-benar seperti orang gila. Konon angka yang dibelinya benar-benar jitu. Dan karena dia pasang banyak, maka hadiah yang didapatnya juga banyak. Katanya lebih dari 300 juta rupiah. Pak Yanto kelewat senang. Dan celakanya, dia benar-benar mewujudkan sumpahnya membakar rumah. Tentu saja para tetangga kelabakan takut rumah mereka ikut terbakar. Mereka ramai-ramai membawa air untuk memadamkan api yang mulai membesar. Pak Yanto tetap tertawa dan menari-nari. Dia melemparkan satu persatu pakaiannya ke dalam api.
Baru ketika tetangga mulai ingin ikut melihat nomor yang jitu itu, tiba-tiba pak Yanto terdiam dan gemetaran. Matanya nanar memandang kobaran api yang membakar rumahnya. Rupanya dia lupa, bahwa lembaran kertas togel sebagai bukti kemenangannya ada di dalam saku baju yang tadi dilemparnya ke dalam api. Pak Yanto histeris. Hampir saja melompat ingin menyelamatkan baju dan kertas yang sudah hangus terbakar andai tidak dipegangi oleh tetangga-tetangganya.
Sejak itu pak Yanto jadi gila. Istrinya pulang menjemput anak mereka, dan kembali lagi ke Jakarta.
Cerita bu Mus sama sekali tak kusela. Ini benar-benar seperti cerita drama televisi. Atau mungkin drama televisi yang menceritakan kejadian nyata.
******
”Bu, ini buat paman yang rajin belajar itu, ya ...” ucap Embun sambil menunjukan buku tulis baru.
”Kasih kertas bekas saja, Nak. Paman Gondrong cuma ingin corat-coret saja,” sahutku.
”Ah, biarlah, Bu. Biar paman lebih semangat belajar. Nanti aku tanya cita-citanya apa,” sahut Embun.
Aku tersenyum dan mengangguk. Embun segera berjalan setengah melompat hingga kuncir ekor kudanya bergoyang-goyang. Kubiarkan saja anakku terus memberi pak Gondrong kertas dan pensil hampir tiap hari. Aku tidak mengatakan padanya bahwa pak Gondrong itu gila. Kubiarkan anaku berbagi dengan siapa saja. Embun hanya ingin memberi, tanpa embel-embel apapun. Dan itu tidak buruk. Biarlah gadis kecilku itu memperlakukan siapa saja dengan cara yang sama, tanpa memandang perbedaan apapun.
Kembali dari memberi buku, Embun tampak membawa kertas.
”Ini dari paman buatku. Eh, kok paman bikin gambar begini ya, Bu?” tanya Embun sambil menunjuk lembaran kertas.
Seperti yang kuduga. Kertas itu berisi angka-angka. Centang perenang banyak sekali. Tapi di sebaliknya, di sisi yang tadi Embun lihat, ada gambar rumah bagus dan tiga orang bergandengan tangan, bapak-ibu-anak, di depannya.
Pasti itu mimpi pak Yanto, alias pak Gondrong.
****** TAMAT ******
Penulis Cerpen : Erin Cipta
Terbit di Majalah IndosuarA Taiwan, Edisi April 2014
Thursday, April 17, 2014
Nenek Lincah Ratu Drama
Siapa bilang kerja di Taiwan itu mudah? Tidak usah membayangkan kawan-kawan BMI yang disiksa, atau yang dipekerjakan salah job, bahkan yang sesuai job pun kurasa tetap tidak mudah. Aku ini salah satunya.
Kakek yang harus kurawat masih tidak terlalu merepotkan. Hanya saja karena sakit jantung amat mengurangi fungsi-fungsi fisiknya, jadi harus selalu dibantu. Rumah yang harus kuurus juga kecil saja. Tak ada hewan peliharaan, tak ada anak kecil pula. Kerja yang simpel. Namun kerepotan terbesar justru datang dari nenek yang masih sangat sehat dan lincah. Nenek yang masih semangat bekerja memimpin perusahaan bersama anak-anaknya. Nenek super, nenek juara.
Apakan nenek kasar? Tidak.
Apakah nenek galak? Juga tidak.
Pelit? Oh, nenek murah hati.
Lalu apa masalahnya?
”Baju baru, Yun? Beli di mana?” Teteh Win memegang lenganku dan memutar badanku memperhatikan baju yang kupakai.
Kami sedang di taman, sama-sama menunggui lansia pasien kami mengikuti kelas senam tai-chi selasa sore.”Nenek yang membelikan, entah di mana,” sahutku.
”Wah, baik sekali nenekmu itu. Hampir tiap bulan lho, kamu dibelikan baju.” Teteh Win berseru.
”Iya. Nenek juga selalu memilihkan baju yang akan kupakai, kemana pun aku mau pergi, bahkan ke pasar sekalipun,”
”Nenekmu perhatian sekali,””Dan bawel sekali, Teh. Aku kadang sedih,”
”Halah ... Kalau soal bawel itu, biasa ... Orang tua memang rata-rata begitu. Biarkan saja,”
Aku hanya mengangguk. Tidak ada yang salah dengan kata-kata Teteh Win barusan. Namun siapa yang akan mengerti perasaanku yang jungkir balik setiap hari menghadapi tingkah nenek yang super ajaib. Bila aku curhat soal kesusahanku ini, maka kawanku itu hanya tertawa. Deritaku baginya adalah hal lucu, peristiwa yang mengaduk-aduk emosiku baginya adalah pengalaman seru. Oh, siapa yang bisa mengerti jerit hati ini?
Nenek memang super ajaib. Bersama dengannya bagai masuk dunia penuh kejutan, seperti naik roller coaster. Kadang jalan pelan mendatar, lalu menanjak panjang, kemudian tiba-tiba menukik tajam, dan bersambung dengan liukan-liukan maut yang mengaduk perut. Nenek adalah ratu drama.
Dimulai ketika pagi.
Sudah menjadi kebiasaan, bahwa aku selalu bangun awal menyiapkan sarapan sebelum kakek dan nenek bangun. Biasanya aku pula yang membangunkan mereka dengan mengetuk pintu kamar. Kakek punya jadwal bangun yang tetap. Tapi nenek tidak. Nenek akan berpesan padaku setiap malam, pukul berapa aku harus mengetuk pintu membangunkannya esok hari. Dan hari ini dia ingin bangun pukul 7:30 tepat.
Tok tok tok!
”Hao ...” kudengar suara nenek pelan masih mengantuk.
”Sudah setengah delapan, Nek,” Ucapku pelan juga.
”Cia she wu fen chong, ni ciao wo. Wo yao siu si i sia.” Suara nenek masih terdengar mengantuk.
”Hao,” sahutku, lalu kuberanjak.
Kulanjutkan pekerjaanku sambil sesekali melirik jam dinding memastikan lima belas menit kemudian aku harus membangunkan nenek lagi.
Setelah lima belas menit, kuketuk lagi pintu kamar.
”Maaf, Nek, sudah lima belas menit. Sarapan sudah siap.” Kukeraskan sedikit suaraku. Ini juga sudah jadwal kakek harus bangun.
Aku tak mendengar sahutan dari dalam, namun kudengar sedikit kegaduhan. Ah, biar saja. Kulanjutkan pekerjaanku yang tinggal sedikit lagi.
Pintu kamar dibuka buru-buru dan kulihat Nenek sangat gugup keluar.
”Haiyah! Kenapa kamu telat membangunkan aku?” semprot nenek tanpa basa-basi.
”Hah?! Bukannya tadi ...” aku tercekat.
”Kalau kubilang jam setengah delapan, ya jam segitu. Jangan tunda-tunda!” Nenek langsung menyambar roti yang kupanggang tadi.
”Kunci!” teriaknya.
Aku tergopoh-gopoh mengambil kunci dari laci. Nenek berjalan tergesa ke lemari sepatu.
”Kaca mata!”
Kutunjuk wajah nenek ragu-ragu. Nenek hanya ber-Ooh ketika sadar barang yang dicarinya sudah dipakai.
”Handphone!”
Ugh! Aku lari lagi ke meja koran tempatnya biasa mengisi batere handphone.
”Minum!”
Haiyah!! Aku terbirit-birit mengambilkan segelas air putih yang sebetulnya sudah kusediakan dengan rapi tadi di meja makan. Aku ikut gugup setiap kali nenek gugup. Ini sungguh merepotkan. Semoga saja aku tidak ikut panik bila suatu saat nenek panik.
BLARR!!!
Akhirnya nenek keluar setelah menutup pintu dengan keras hingga tembok dan kaca bergetar. Aku menggelosorkan pundak penuh kelegaan. Kakek yang rupanya juga sudah bangun dari tadi memperhatikanku. Aku memandang kakek dengan wajah memelas, berharap kakek membantu menenangkan jantungku yang berpacu. Tapi kakek malah tertawa.
”Itulah istriku. Ha ha ha ... I love her !”
***
Bila kehebohan seperti yang terjadi hampir setiap pagi itu masih kurang drama, maka menjelang sore adalah bumbunya. Sore yang damai sering tiba-tiba pecah oleh nenek yang pulang dengan tergesa-gesa.
”Cepat bereskan rumah. Ada tamu mau datang,” perintahnya sambil melepas sepatu dan menatanya sendiri dengan terburu-buru.
Ini dia penyakitku. Gugup. Sungguh, tanpa bisa kukendalikan jantung ini langsung berpacu setiap kali nenek menyuruhku melakukan apapun dalam kondisi gugup.
”Ganti taplak mejanya. Pindah bunganya. Bereskan sandal-sandal itu. Seduh teh. Potong buah. Buka lebar jendela. Singkirkan ember. Angkati jemuran.”
Duh, Tuhan. Nenek menyuruhku melakukan banyak hal dalam sekali perintah. Acak pula. Bingung sekali. Apalagi penyakit gugupku tidak juga reda. Nenek sudah mondar-mandir melakukan sebagian pekerjaan yang tadi diperintahkannya padaku. Aih, ternyata nenek memang baik.
Sambil melakukan perintah nenek, aku menebak-nebak sendiri siapa tamu yang akan datang. Mungkin pejabat penting? Atau investor yang akan bekerja sama dengan perusahaan nenek? Ah, siapapun itu, pasti orang yang hebat.
Pekerjaanku belum selesai, bel pintu sudah berbunyi. Aku panik. Teh belum kuseduh, buah belum kupotong, ember belum kusingkirkan. Nenek juga kelihatan terburu-buru ketika bergegas membuka pintu. Aku tidak ingin membuang waktu. Kukebut semuanya. Pontang-panting aku bekerja.
Dan ternyata yang datang adalah tukang pijat refleksi untuk kakek. Tadinya kukira bukan dia yang ditunggu nenek. Namun ketika nenek menyuruhku menghidangkan teh dan buah, aku yakin, inilah tamu yang membuatku panik pontang-panting mengangkat jemuran dan menyingkirkan ember yang bahkan tidak terlihat dari ruang tamu itu. Wah, hebat sekali tukang pijat ini, sampai membuat nenek sibuk seperti hendak menyambut presiden. Aku bersandar di kulkas meredakan detak jantung yang kembali berpacu.
***
”Santai saja menghadapi nenek. Jangan ikut panik,” nasehat kakek berkali-kali padaku.
”Dari dulu dia begitu. Itulah mengapa aku jantungan sekarang. Ha ha ha...” sambung kakek sambil tertawa.
Malam itu seperti biasa aku menemani kakek memasang puzzel. Ini hobi kakek selain membaca. Puzzel yang sedang dikerjakan kakek sangat rumit dan berjumlah 2000 keping. Sudah hampir lima bulan kakek belum juga berhasil menyelesaikannya. Aku tidak membantu, hanya menemani sambil membaca buku. Santai, dan tenang sekali.
Tapi ketenangan segera pecah ketika tiba-tiba pintu terbuka dan nenek masuk bersama David, anak lelakinya. Seperti selalu, nenek tampak gugup dan terburu-buru. Dan seperti selalu pula, aku ikut gugup. Aku latah.
”Yuyun, aku lapar. Tolong buatkan mi kuah, ya,” pinta David sopan.
”Cepat buatkan, yang enak. Cepat, ya, David sudah lapar.” Nenek mengulangi perintah, kali ini dengan memburu-buru.
Aku sudah hapal selera David, maka segera kusiapkan bahan-bahan. Mi kuah kesukaannya sederhana saja. Hanya mi putih, dengan sup kaldu ayam, bakso ikan, dan sayuran hijau. Mudah dan makan waktu hanya sekitar sepuluh menit membuatnya.
Malang tak dapat ditolak. Nenek ikut terjun ke dapur membantuku membuat mi.
”Tambahkan daging cincang, supaya enak,” kata nenek.
”Tapi David sukanya bakso ikan, Nek,” protesku.
”Aah, aku lebih tahu. Aku kan ibunya. Sudah masukan saja,” sergah nenek.
Aku malas mendebat, maka kuturuti saja. Tapi ternyata belum cukup sampai di sini. Nenek juga ikut menambahkan bubuk bumbu yang entah apa namanya. Bahkan terakhir menyuruhku memasukan telur. Wah, mi kuah David tidak keruan bentuknya sekarang. Ditambah waktu membuatnya juga jadi lama. Kasihan David sampai berkali-kali melongok ke dapur.
”Mi sudah siap. Silakan dinikmati.” Kupersilakan David menikmati mi kuah tanpa bentuk itu.
”Lho? Kok ada dagingnya? Mengapa kamu kasih telur? Uh, rasa apa ini? Aneh sekali,” kata David setelah mencicipi sedikit.
”Tadi nenek yang menyuruhku membuatnya begitu. Maaf,” ucapku.
”Mama!” panggil David.
Rupanya nenek sudah mengerti situasi, dan langsung nyerocos.
”Wah, tidak enak, ya? Yuyun! Kenapa kamu bikin mi begini? Kamu kan sudah tahu selera David. Jangan ganti-ganti,”
Tanpa sadar kutepuk jidatku sendiri dan kuucek-ucek mukaku dengan gemas. Bagaimana tidak? Nenek amnesia rupanya. Baru saja menyuruhku membuat mi ajaib, sekarang menyalahkanku karena rasanya yang juga ajaib. Oh, Tuhan ...
David menghabiskan mi itu dengan pelan tak berselera. Hanya karena dia lapar dan tidak mau merepotkanku lagi, maka dia tidak menyuruhku untuk membuat mi yang baru. Kakek terkekeh-kekeh sampai beberapa keping puzzel berjatuhan.
Aku terduduk di pojok dapur. Mengelus dada dan menggaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. Cukup lama aku di pojok dapur, sampai David menyelesaikan makannya. Lalu kubersihkan mangkuk dan sendok kotor itu masih dengan raut muka yang kutekuk.
Baru saja kuselesaikan kerjaku dan mencuci tangan, suara nenek sudah kembali menggelegar.
”Yuyun, kolai !” panggilnya.
Apa lagi?! Kursinya rusak dan aku dituduh merusaknya?
Tanpa terasa aku mengumpat dalam hati. Rupanya aku mulai jadi pendendam.
”Hao,” jawabku pendek.
Kulihat nenek tersenyum sambil melambai-lambaikan sehelai baju hangat model Korea yang cantik. Bila ini adalah adegan film, mungkin cincin putih transparan sudah tampak melingkar di atas kepala nenek. Malaikat yang baik telah datang rupanya.
”Maaf tadi aku membentakmu. Ini kubelikan baju hangat, dan juga celana panjang di tas. Besok kubelikan sepatu, ya ... Berapa nomor kakimu? Tadi mau kubelikan sekalian aku ragu. Takut tidak pas,” ucap nenek lembut sekali.
Ah, sungguh menyesal aku tadi telah mengumpat dalam hati. Ini adalah bagian yang menyenangkan dari rangkaian drama menegangkan sepanjang hari tadi. Seperti naik roller coaster, setelah tadi menanjak, menukik, dan meliuk-liuk, kini aku mluncur lurus dengan lembut sekali. Rasanya sungguh melegakan.
”Dicoba dulu, sana! Sudah jangan sedih. Maafkan nenek,” ucap kakek.
Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak apa-apa. Tapi semua kata-kata tercekat di kerongkongan. Akhirnya aku hanya membungkuk pada mereka dan mengucap terima kasih.
Ya Tuhan. Sungguh aku tidak sedang mengingkari nikmat-Mu dipertemukan dengan majikan yang baik. Tapi bila aku boleh memohon, berilah aku persediaan sabar yang melimpah supaya tetap bisa menghadapi nenek yang ajaib. Hindarkanlah aku dari penyakit ’latah gugup’ sehingga aku tidak perlu terkena resiko stress mengikuti kegugupan nenek setiap hari. Atau setidaknya, berilah aku selera humor yang baik, sehingga aku bisa melewati semua ingar-bingar pekerjaanku di sini dengan perasaan gembira dan lucu, seperti perasaan kawan-kawanku setiap kali aku bercerita.
”Besok bangunkan aku jam 7 tepat. Jangan telat!” pesan nenek mengakhiri pekerjaanku hari itu.
Aku berangkat tidur dengan rasa yang masih campur aduk. Ah, sudahlah ... Aku harus bersiap untuk episode drama esok hari.
---#TAMAT#---
Catatan:
”Cia she wu fen chong, ni ciao wo. Wo yao siu si i sia”
(Lima belas menit lagi, kamu panggil aku. Aku mau istirahat sebentar)
Terbit di Majalah TIM International Taiwan, Edisi 79, April 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)


