Sunday, February 1, 2015

UBAN DI DEPAN CERMIN

Avi menyesali keputusannya untuk menjadi pekerja ilegal di Taiwan. Hanya karena ingin libur setiap akhir pekan, ia nekat kabur dari majikan resminya dan menerima tawaran kerja di pabrik makanan. Iming-iming uang yang banyak dan kebebasan telah menutup nalarnya dari kenyataan bahwa menjadi pekerja ilegal itu sangat beresiko.

Dua bulan pertama, betul memang Avi menikmati kebebasan hang out setiap akhir pekan kemanapun ia suka. Soal uang, tak beda jauh dari yang dihasilkannya ketika bekerja resmi. Malah ia jadi makin boros sekarang.

Tapi semua kenikmatan itu tak lama ia rasakan. Mess tempat tinggalnya digerebek oleh petugas imigrasi. Kawan-kawannya tertangkap. Avi lolos dengan cara kabur dari jendela kamar mandi. Ia lari tanpa membawa barang. Hanya pakaian yang melekat, beserta ponsel dan dompet berisi uang. Beruntung ia punya kawan orang Indonesia yang menikah dengan orang Taiwan. Di rumah kawannya yang bernama Lena inilah Avi menumpang sementara.

"Maaf, Vi, aku ngga bisa nampung kamu lama-lama di sini. Keberadaanmu membahayakan kami," kata Lena hati-hati.

"Iya, Len. Aku mengerti. Besok aku akan pergi," ujar Avi lesu.

**********

"Siao cie, ini mau kemana sebenarnya? Dari tadi berputar-putar saja," tegur supir taxi yang ditumpangi Avi.

Avi menghela napas dan menyuruhnya menepi. Ia melongok argo dan menyodorkan uang sejumlah yang tertera.

"Siao cie, kamu terlihat bingung. Kenapa? Ada yang bisa kubantu?"

Pertanyaan supir taxi itu mengurungkan sebentar gerak Avi yang hendak keluar. Ia bimbang luar biasa.

"Ah, tidak apa-apa. Terima kasih, Sien sen," sahutnya.

"Kamu seperti orang yang kabur dan sedang mencari pekerjaan." Supir taxi ini berucap dengan sangat tenang, tapi mampu membuat badan Avi mematung seketika.

********

Dari supir taxi itulah Avi akhirnya menemukan jalan keluar. Rupanya supir itu juga sering menjadi perantara pekerja-pekerja ilegal mencari pekerjaan. Avi ditawarinya bekerja di sebuah rumah yang jauh dari kota. Bahkan terpencil jauh pula dari tetangga yang lain. Tugasnya adalah merawat seorang kakek yang lumpuh separuh badan, serta bersih-bersih rumah.

Di rumah yang bangunannya sudah terlihat tua itu, ia tinggal hanya bertiga dengan kakek, dan seorang nyonya -mungkin anaknya- yang selalu menginginkan rumah itu bersih tanpa cela.

Kakek hanya bisa duduk di kursi roda dan sedikit bergerak saja. Bicara pun sudah susah, hanya gumaman tak jelas. Sedangkan sang nyonya lebih sering duduk dan membaca.

Rumah ini amat sepi. Sebenarnya Avi tidak betah sama sekali. Tapi dengan kondisi saat ini, justru tempat terpencil ini aman untuknya. Ia berpikir, mungkin akan mencoba bertahan sementara waktu saja.

Setiap pagi, bahkan hampir setiap saat, Avi harus selalu siap dengan lap. Ia harus segera menyeka benda apapun yang terlihat berdebu atau kotor di rumah ini. Kalau sampai nyonya menemukan ada yang kotor, maka bombardir kata-kata bernada protes akan keluar. Itu membuat Avi sumpek dan merasa lelah berlipat-lipat.

Untung saja kakek tidak merepotkan. Urusan menjaga kakek bisa ditangani dengan mudah. Apalagi tak ada anak kecil di rumah ini. Hanya saja memang sang nyonya yang super teliti pada kebersihan membuat Avi kerap harus membersihkan area yang sama berulang-ulang.

Satu tempat yang hampir tiap hari diprotes oleh nyonya adalah area depan cermin wastafel kamar kakek. Entah bagaimana, di area itu kerap tiba-tiba terdapat banyak remah atau bubuk putih seperti bedak. Kadang juga ceceran krim. Dan yang paling aneh, hampir setiap pagi Avi menemukan beberapa helai rontokan rambut berwarna putih di situ. Ini jelas bukan rambutnya, karena ia belum beruban. Rambut nyonya juga hitam legam. Satu-satunya orang yang beruban di rumah hanya kakek. Tapi kakek berambut pendek. Helai uban yang ditemukannya di depan cermin itu panjang.

Mungkin ia tak akan kebingungan seandainya ada orang yang sering memakai wastafel di kamar kakek itu. Nyatanya tak seorangpun pernah sengaja bercermin dan berdandan di situ. Avi hanya sesekali memakainya untuk mencuci tangan sebelum mempersiapkan kakek berangkat tidur.

"Avi! Ini masih kotor di sini," kata nyonya sambil mencolek tepian wastafel.

Tempat itu lagi!

Sambil mengelap tebaran bubuk putih, Avi melihat ke langit-langit. Mungkin ada yang rusak di atas sehingga cat atau materialnya rontok. Tapi tidak ada yang pantas dicurigai. Semua kelihatan baik.

Di mangkuk wastafel Avi menemukan lagi dua helai uban. Kali ini, ia tidak membuang uban itu, tapi memasukannya ke dalam plastik dan menyimpannya di kabinet di bawah wastafel.

********

Saban malam Avi tidur seperti bangkai. Jatuh lelap dalam sekali. Kelelahan yang dirasakannya sepanjang hari mengantarnya masuk alam mimpi total sampai pagi.

Kamarnya hanya terpisah sebuah sekat kayu dan tirai dari kamar kakek. Jadi meski boleh dibilang sekamar dengan pasien, Avi tetap punya privacy. Kakek pun tak pernah membangunkannya tengah malam. Dan meski cerewet soal pekerjaan, sang nyonya tetap memberi waktu istirahat yang cukup untuknya.

Namun malam ini berbeda. Avi memang sudah sangat lelah dan mengantuk. Tapi dipaksakannya membersihkan wastafel kamar, yang lagi-lagi dikotori oleh hamparan bubuk putih. Bahkan kali ini ada banyak helai uban yang tercecer. Avi merasa harus membersihkannya sekarang, karena boleh jadi besok nyonya akan memeriksa selagi dirinya belum sempat membersihkan karena sibuk membuat sarapan.

"Ini uban siapa, ya? Kok tiap hari terus ada ..." gumam Avi lirih pada dirinya sendiri.

Uban yang ditemukannya, disatukan dengan kumpulan uban di plastik yang sudah banyak.

Kakek tampak sudah mulai terlelap. Namun selimutnya agak tersingkap. Maka Avi mendekat untuk memperbaiki posisinya.

Ketika menarik selimut, Avi melihat ternyata kakek belum tidur.

"Avi, ng ... hwi ... hu ... ma ... ng .. hhh ...," Kakek bergumam-gumam tak jelas.

"Istirahat dulu, Kek." Avi menenangkan kakek dengan mengusap punggung tangannya.

Namun tiba-tiba kakek menggenggam tangan Avi erat-erat dan bangkit dengan mudahnya seperti orang sehat. Wajahnya yang biasanya tidak simetris, sekarang bisa tersenyum lebar dan cerah sekali.

"Avi, aku akan bertemu kekasihku malam ini. Tolong ambilkan sepatu dan rompi rajut untukku,"

Sungguh mengejutkan. Avi berdiri pias bagai patung melihat kakek yang biasanya lemah tak berdaya, sekarang segar bugar dan bicara dengan sangat jelas dan lancar. Badan Avi kaku dan dingin seketika dicekam ketakutan dan keterkejutan yang dahsyat.

Karena Avi diam saja maka kakek bangkit dengan ringannya menuju lemari. Kakek mengganti piyama tidurnya dengan setelan celana, kemeja, rompi, dan topi pet yang rapi. Sepatu kulit di pojok lemari juga dikenakannya. Kakek sekarang berpenampilan seperti lelaki sehat yang siap bepergian.

"Kakek, bagaimana bisa tiba-tiba sehat?" Avi masih merasa seperti bermimpi.

Badan tegang Avi makin mengejang ketika pandangannya tertumbuk pada sosok perempuan tua berambut panjang sedang berdiri menyisir dan berdandan di depan cermin wastafel. Badannya bercahaya. Pakaian rapi berwarna biru muda membalut tubuh keriputnya. Perempuan itu cantik, namun pucat.

Kakek mendekat dan menggamit lembut kedua tangannya. Mereka lalu berpelukan dan menari pelan. Berkali-kali Avi menepuk dan mencubit pipinya sendiri untuk memastikan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. Ia merasakan tepukan dan cubitannya sendiri, namun suaranya lindap ditelan keterkejutan sekaligus kengerian.

Tiba-tiba perempuan tua itu melayang masuk ke dalam cermin menyeret kakek ikut masuk pelan-pelan. Kali ini otak Avi menyentuh batas sadar, dan tahu harus segera bertindak.

"Kakek! Jangan ikut, Kek!"

Badan kakek sudah separuh masuk ke balik cermin. Sekuat tenaga Avi menarik ujung rompinya. Tapi tangan perempuan tua itu menjulur keluar menghantam kepala Avi.

PLAAKK!!!

Avi terjengkang dan pingsan.

***********

Ketika kesadaran merambati nalarnya, wajah pertama yang Avi lihat adalah wajah nyonya.

"Ah, sudah sadar. Istirahatlah dulu sampai kamu pulih, Avi," ucap nyonya lembut.

"Maaf, Nyonya, aku kenapa? Oh, bagaimana dengan kakek?" Avi begitu cemas. Apalagi ketika ingatannya kembali penuh, terutama tentang kejadian semalam.

"Kamu terlalu capek, jadi pingsan. Sudah, istirahat saja dulu. Kakek baik-baik saja. Biar aku yang mengurusnya sementara," kata nyonya.

Ketika nyonya beranjak pergi, Avi melongok ke kamar kakek. Dilihatnya kakek sedang duduk diam sambil mendengar radio. Avi lega. Berarti kejadian aneh semalan mungkin hanya mimpi.

Sambil mengunyah roti yang diberi nyonya, Avi masih berusaha pelan-pelan meyakinkan dirinya sendiri tentang kejadian semalam. Rasanya begitu nyata. Ia masih ingat betul detail peristiwanya detik demi detik. Sampai ia teringat pada sesuatu.

Uban!

Ya, uban. Masih adakah uban di depan cermin?

Dengan badan yang masih agak lemah, Avi beranjak ke kamar kakek dan memeriksa area wastafel. Ia melihat dengan teliti setiap sudutnya. Bersih, tanpa remah-remah putih seperti biasanya. Namun kali ini ia menemukan sebuah lipstick.

"Apa ini punya perempuan tua yang semalam?" gumam Avi pada dirinya sendiri.

Pelan-pelan Avi memandang cermin dan menyentuhnya. Semalam ia melihat dengan jelas perempuan tua itu menarik kakek masuk menembusnya. Cermin itu terasa sangat dingin di kulit Avi.

Tiba-tiba sepasang tangan keriput menjulur keluar dari dalam cermin dan mencengkeram pundak Avi. Gadis itu terkejut bukan main. Sebenarnya ia reflek melenting mundur, tapi kalah cepat dengan gerakan sepasang tangan itu yang menariknya begitu kuat. Badan Avi tersedot masuk menembus cermin.

"Aaaa...!! Kakek! Nyonya! Tolooong...!" Avi memekik panik.

Namun semua terlambat. Kini Avi terkurung tak bisa keluar lagi. Suaranya juga lenyap teredam. Tapi ia masih bisa melihat suasana kamar kakek. Tangan Avi mengetuk cermin berkali-kali. Apalagi ketika dilihatnya nyonya masuk menghampiri kakek.

Kejadian selanjutnya membuat Avi hilang harapan. Dilihatnya kakek berdiri dan berjalan seperti orang sehat berdampingan dengan nyonya yang tertawa-tawa seperti puas sekali. Mereka berdua meninggalkan kamar setelah menancapkan sebatang hio di depan cermin wastafel.

※TAMAT※

Saturday, January 3, 2015

RONA


Tak ada lagi yang bisa kulakukan sekarang. Terlambat sudah ...

Kucengkeram sandaran kursi dingin ini dengan tangan gemetar. Dadaku sesak, mataku panas, dan tenggorokanku tercekat. Sesal, marah dan rasa tak berguna berbaur, kemudian tumpah menjadi butiran-butiran keringat dingin.

Rona duduk mematung. Hanya kembang kempis pelan napasnya yang menandakan dirinya masih bernyawa. Matanya terbuka, namun tak ada sinar yang hidup di sana. Pupilnya sama sekali tak bergulir meski tirai jendela melambai-lambai menyebabkan sinar mentari menyengat-meredup menimpa wajanya. Aku saja silau. Tapi tidak dengan Rona.

Kematian memang mengerikan. Berkali-kali aku menyaksikan lepasnya nyawa dari raga. Pekerjaanku di Rumah Sakit Panti Jompo membuatku tak asing dengan hal itu. Kesedihan yang timbul dari kematian telah kualami berulang-ulang. Hari ini ada, esok tiada. Hari ini masih bercengkerama, esok telah beda dunia. Itu sudah biasa sekali bagiku.

Namun yang Rona alami memukulku telak di dinding hati yang paling sensitif. Sedih dan kehilanganku sungguh dahsyat. Bukan nyawa yang tercerabut dari raga, melainkan cahaya hidupnya. Yang mati pada diri Rona adalah kewarasannya, akal budinya. Kini Rona tak lebih dari sekedar tubuh yang bernapas, tanpa akal bahkan napsu.

Seandainya saja dulu aku lebih keras mencegahnya ...

*******

Setahun yang lalu ...

”Sebaiknya kamu pikirkan lagi masak-masak sebelum memutuskan perkara sepenting itu,” Ucapku pelan.

”Sudah dua bulan aku memikirkannya. Kurasa niatku sudah bulat sekarang,” Sahut Rona mantap.

”Jadi ...,” Aku tak berani meneruskan.

”Ya. Akan kuterima tawaran pasangan itu menyewa rahimku seharga NTD 900.000,” Rona menutup percakapan.

Dia sehat, berbadan ideal, dan cantik. Pernah menikah, namun sebelum sempat hamil, suaminya sudah keburu meninggal. Rona seorang janda kembang. Hidup miskin di desa membuatnya bergerak bersama arus ribuan perempuan -termasuk aku- bekerja ke luar negeri menjadi buruh. Bila aku bekerja di Rumah Sakit Panti Jompo, Rona memperoleh pekerjaan di sebuah pabrik kancing. Mess kami bersebelahan. Dari kedekatan tempat inilah kami saling mengenal.

”Mereka sudah 15 tahun menikah, tapi belum juga berhasil punya anak. Tenang saja, Rin, bosku yang menawarkan ini padaku. Pasangan itu adalah rekanan bisnisnya di China,” Cerita Rona berapi-api.

”Tapi hal seperti ini mungkin ilegal,” Aku coba mengingatkan.

”Mmm ... Nggak tahu juga, ya. Ah, tapi bukannya bosku juga pejabat di sini. Pasti dia tahu soal hukum,”

”Mungkin bukan hal yang benar juga menurut Islam ...,”

Aduh, mengapa aku ragu mencegahnya? Sebabnya adalah karena aku tidak tahu hukum di Taiwan, dan hukum agamaku sendiri soal sewa rahim. Hati kecilku berkata ’jangan’ dengan sangat keras, namun mulutku tak sanggup mendebat Rona yang seperti sedang dijatuhi bintang.

*********

Terjadi sudah. Tiga calon janin sudah bersemayam di rahim Rona. Dan dia adalah wanita yang kuat. Kehamilan tidak membuat fisiknya melemah. Tak ada ngidam, pre-emesis, atau apapun. Rona hamil dengan sangat sehat dan nyaman.

Tentu ini juga membuat pasangan yang menyewa rahimnya sangat gembira. Rona diperlakukan seperti raja. Dia tidak lagi harus bekerja berjam-jam di pabrik dan tinggal di mess ramai-ramai dengan banyak pekerja. Tempat tinggalnya kini adalah apartemen mewah yang penuh fasilitas.

Namun rupanya Rona bukan kacang yang lupa kulitnya. Perubahan drastis hidupnya tidak menjauhkan dia dari kami, teman-teman lamanya. Hampir tiap hari dia masih mengunjungi kami di mess maupun di warung tempat kami kumpul. Penampilannya memang sangat berubah. Segala yang melekat di tubuhnya adalah barang bermerk. Tasnya saja tak akan terbeli dengan dua bulan gajiku. Dan itu semua diberikan cuma-cuma oleh penyewa rahimnya. Uang kontrak senilai NTD 900.000 utuh tak tersentuh diberikan dalam bentuk tabungan berjangka setahun. Mujurnya lagi, bos pabrik tempatnya bekerja juga masih menggajinya. Gaji inilah yang Rona kirim ke kampung untuk keluarganya. Utuh. Semuanya.

Aku suka memperhatikan perubahan pada tubuh Rona. Kulitnya kini makin segar, badannya agak berisi. Pinggulnya melebar, dan dadanya membesar. Kehamilannya masih samar, tapi Rona sudah membiasakan diri memakai pakaian lembut yang tidak mengikat perut. Bagiku, Rona semakin cantik. Orang hamil memang selalu cantik.

Keceriaan Rona tetap seperti dulu. Bercanda dan tertawa-tawa lepas, saling ledek dan bicara agak kasar -meski gurauan- dengan kami, dan mengemil makanan bersama dalam wadah besar.

Namun pada suatu sore, aku melihat Rona yang berbeda. Dia melangkah pelan-pelan sambil tesenyum. Ditariknya tanganku, diajaknya menyentuh perut yang sudah membukit.

”Mereka sudah bergerak-gerak!” Pekiknya bersemangat.

Ketika kuraba, aku merasakan kedutan lembut di perutnya. Kulihat Rona tersenyum, menarik napas panjang, dan memejamkan matanya dengan anggun.

Sejak saat itu Rona menjadi sangat lembut dan melankolis. Tak jarang kulihat dia sedang mengelus perutnya sambil bergumam mesra bicara sendiri. Dia bahkan mulai mereka-reka nama untuk bayi tabungnya. Dari tiga calon janin yang ditanam, hanya dua yang berhasil bertahan. Aku melihat Rona telah tumbuh menjadi ibu.

Dan inilah bibit dari masalah besar dalam hidupnya; Rona jatuh cinta pada janin milik orang lain. Memang tidak salah, tapi tidak seharusnya Rona jatuh cinta sedalam ini ...

********

”Mbak Rin, Rona tadi telepon, sore ini dia operasi cesar. Kalau mbak Rin kosong, dia minta ditemani,” Seorang kawan kerja menyampaikan pesan dari Rona.

Aku baru saja sampai mess setelah kerja lembur dua shift. Kebetulan, akhir pekan libur dan awal pekan kebagian shift akhir. Ah, aku bisa menemani Rona dua hari penuh!

Tak perlu kuambil tempo, langsung kutuju rumah sakit tempat Rona operasi. Saat itu dua bayi mungil baru saja diambil dari semayam hangat rahim Rona. Aku diijinkan masuk oleh penyewa rahim Rona, dan menyaksikan itu semua dari balik kaca bersama mereka. Kulihat dokter masih mengurus luka di perutnya, sedangkan asistennya meletakan bayi-bayi mungil itu di atas dada Rona yang telanjang. Mata Rona berair, namun bibirnya tersenyum tanpa henti. Bayi-bayi itu secara insting mencari puting susu.

Pasangan penyewa rahim berpelukan dalam haru. Aku pun terharu dan merasakan kebahagiaan mereka menemukan muara dari penantian panjangnya.

*******

Keibuan Rona makin sempurna dengan menetesnya cairan putih kekuningan dari payudaranya. ASI Rona mulai berproduksi.

Rona memang bahagia, namun agak gusar karena tidak diijinkan menyusui langsung. Berkali-kali dia meminta pada dokter, namun selalu ditolak dengan berbagai alasan. Bayi-bayi itu menyusu dari ASI perah yang disuapkan dengan botol.

Aku tak bisa menunggui Rona setiap waktu. Namun setiap ada waktu luang, aku selalu datang ke Rumah Sakit mengunjunginya. Maka aku tahu perkembangannya. Rona sehat dan luka operasinya membaik. Aku tak tahu kabar tentang bayi-bayi itu. Ah, kupikir itu bukan urusanku. Pasti orangtua sang bayi sudah menjamin perawatan terbaik. Yang terpenting bagiku adalah Rona. Aku hanya fokus padanya.

Rupanya tidak begitu bagi Rona. Hampir dua minggu dia tidak bertemu lagi dengan bayi-bayi itu semenjak hari kelahiran mereka. Ini benar-benar membuat Rona gusar dan seperti patah hati.

Hingga di hari ke-20, bos Rona di pabrik sengaja menemuiku yang sedang bekerja.

”Sudah saya mintakan ijin pada kepala Rumah Sakit untukmu. Tolong ikut saya. Rona membutuhkanmu,” Ucap lelaki itu dengan cemas.
Ada hawa tidak enak merayapi naluriku...

Benar saja ...

Sesampainya di Rumah Sakit, kulihat Rona sedang meronta-ronta di atas ranjang. Lengan dan kakinya sudah terikat. Tangisnya memilukan. Perawat yang didekatnya terlihat sedang menyiapkan sebuah suntikan.

”Jangan bawa pergi anak-anaku! Jangan! Aku yang mengandungnya! Aku ibunya!!!”

Histeris teriakan Rona menggema sampai lorong panjang yang penuh tenaga medis berlalu-lalang. Aku langsung menubruk memeluk tubuh Rona tak peduli dengan orang-orang sekitar. Rona menerima pelukanku dengan berhenti meronta, tapi terus menangis. Aku tahu, sangat tahu, apa yang terjadi ...

Inilah yang aku khawatirkan sejak lama. Bahkan sejak benih manusia itu belum ditanam di rahimnya. Meski bukan darah dagingnya, namun bayi-bayi itu telah menjadikan Rona seorang ibu. Aliran darah mereka pernah bersatu, detak jantung mereka pernah bersenyawa. Bagaimana bisa sekarang harus berpisah?

*********

”Dua bulan lagi semua uang kontrak rahimnya akan likuid. Gajinya bekerja padaku setahun kedepan juga akan kuberikan. Tolong kamu urus semuanya. Tiket dan seluruh keperluan untuk kepulangannya sudah kupersiapkan,” Ucap bos Rona.

Datar sekali lelaki itu mengatakan semuanya. Gigiku gemelutuk menahan geram. Namun aku tak bisa apa-apa. Posisiku tidak berdaya. Yang kumampu sekarang hanya mendampingi Rona sampai ke Indonesia.

Kupertaruhkan pekerjanku demi menjamin Rona pulang dengan aman. Cuti tahunan kuambil di awal. Dengan segala omelan dan segudang peringatan, aku membawa saudaraku kembali ke keluarganya dengan senyata-nyata kekalahan. Cita-cita Rona tinggal kenangan.

Aku merutuki diriku sendiri yang tidak berdaya karena kebodohan.

※TAMAT※

Saturday, November 22, 2014

KENANGAN KUE CUBIT

Waktu kecil dulu harus mengantri untuk membeli kue ini. Bentuknya macam-macam, dan kita boleh memilih kue yang bahkan masih dalam proses pemanggangan. Dulu, aku selalu memilih yang kelihatannya paling besar, padahal sama saja :D
Di penjual yang lain, lebih menarik lagi. Meski memakai cetakan sederhana hanya berbentuk bulatan (cetakan kue carabikang) namun ia menuang adonan keluar dari bulatan dan membuatnya semacam kaki-kaki. Ketika matang, bentuknya seperti laba-laba.
Dulu, mana pikir penjual itu memakai pemanis atau bahan yang tidak sehat. Keasyikan bukan melulu karena rasanya, melainkan karena rame-rame antri dan melihat penjualnya berkreasi.
Etapi, memang enak, sih... aku suka yang agak gosong. Ada temanku yang selalu minta setengah matang. Jadi pinggirannya sudah padat tapi tengahnya lembek agak basah. Aku pernah mencicipi, tapi tetap tidak suka. Agak eneg di perut setelah memakannya.

Besok kalo udah pulang, bikin, aahh... pilih bahan yang sehat ;)
Biar gadis-gadisku tidak jajan terlalu banyak di luar.

Ini resepnya

BAHAN:
100 g Tepung terigu
100 g Gula pasir
100 g Mentega cair
2 btr Telur
½ sdt Emulsifier (ovalet/TBM)
½ sdt Baking powder
Vanili bubuk secukupnya

TABURAN
Coklat meses, keju parut, dll (sesuai selera)

CARA MEMBUAT KUE CUBIT SEDERHANA:
Kocok telur, gula pasir dan emulsifier hingga putih kental dan mengembang dengan kecepatan tinggi
Masukkan tepung terigu, vanili bubuk dan baking powder dengan kecepatan rendah hingga rata lalu masukkan mentega cair dan aduk sampai tercampur rata
Panaskan dan olesi cetakan kue cubit dengan mentega, lalu tuang adonan dan taburi dengan meises, tutup dan panggang hingga matang
Bisa juga dipanggang menggunakan wajan anti lengket. Hasilnya datar seperti pancake.
Kalau mau berkreasi dengan bentuk, adonan bisa dimasukan ke dalam plastik segitiga yang digunting ujungnya.

Wednesday, November 5, 2014

DAN AKU PUN BENJOL

Jadi siang itu aku harus mengelap jendela. Demi kelancaran prosesnya, aku buka daun jendelanya lebar-lebar. Kuseka sampai ke sudut terjauh tanpa ada yang terlewatkan. Selain daunnya, bingkai jendela itupun aku lap. Termasuk wilayah sekitarnya. Totalitas!

Ketika posisiku sedang jongkok, aku teringat sesuatu. Ah, aku merebus air di atas kompor terlalu lama. Mungkin moncong panci siulnya rusak, sehingga aku tak mendengar tanda air sudah mendidih.

Demi keamanan bangsa, negara, dan kakek yang sedang leyeh-leyeh, aku bangkit buru-buru. Mungkin kapasitas otakku cuma sedikit, jadi ketika terisi memory tentang air, terhadap daun jendela yang menganga aku jadi lupa. Bangkit buru-buru dengan semangat menggebu, tubuhku memiliki daya lenting tinggi.

Ciaaatt... Duar!!

Ujung kepalaku bersentuhan dengan bibir daun jendela yang tak punya dosa. Seperempat detik, gelaplah dunia. Lalu nyeri luar biasa menjalar dari ujung kepala sampai ujung jempolku yang seksi.
Terhuyung sebentar... lalu aku jatuh duduk terjajar.

Mumet, sumpah!

Mumet dan sakit hati, karena kulihat kakek terkekeh-kekeh melihatku tertatih berusaha berdiri.

Tapi sebenjol-benjolnya kepalaku diadu dengan jendela, tetap saja ada hikmahnya (entah apa :P)
Meski tertawa, kakek juga rela tertatih-tatih bangkit dari kursi pijat untuk mengambil cold pack dari kulkas. Setelah dibungkus dengan handuk tipis, yang entah kakek ambil di mana, cold pack itu diserahkan padaku untuk mengompres tonjolan benjut yang senut-senut.

Endingnya, antiklimaks. Air di kompor selamat, mendidih dengan tepat. Hehehe... ya iya, lah...
Ternyata memang aku memasang api terlalu kecil, hingga makan waktu untuk mendidih. Moncong siulnya masih berfungsi dengan baik.

Jendela yang sudah kinclong juga tetap di tempatnya, tak ada engsel yang bergeser. Syukurlah...

Ehm... perasaan agak ngga enak, nih... kayaknya tetep ada yang kurang beres ...

Aih, ya ampun!! Ternyata handuk tipis pembungkus cold pack ini adalah serbet kompor.

Huaaaaa!!! Kakeeeekkk....!!

Image by Google search

LINGKARAN

Dulu aku menganggap, berjalan di lingkaran itu buruk, karena hanya memutar kembali ke titik mula.
Namun sekarang, aku melihat lintasan jalanku sendiri malah berbentuk lingkaran sempurna. Dan anehnya, membuatku bahagia!

Akhir Mei 2012 aku memulai langkah meninggalkan keluarga. Aku masih ingat betul Elok dan Embun yang keduanya masih balita, melambai-lambai dengan gembira di depan pintu. Mungkin di benak mereka, ibunya hanya pergi membeli bawang ke warung. Ibu mertuaku menangis tergugu di belakang mereka. Jangan tanya bagaimana air mataku tumpah saat itu. Bahkan saat aku menulis ini, pipiku basah lagi tak kira-kira. Sakit sekali ...

Langkah awal sungguh berat. Membuatku berkali-kali ingin kembali. Mundur lagi ke titik mula. Tapi rupanya yang kupijak adalah sebuah titian jembatan rapuh, yang satu persatu pijakannya jatuh selepas kakiku menapakinya. No way back!
Aku harus tetap melangkah maju meski berdarah-darah.

Aku terjatuh tak hanya sekali. Berkali-kali. Bahkan ketika sampai di setengah lingkaran, kemudian bergulir sedikit, aku ingin memotong jalan. Melintas hanya separuh perjalanan, melemparkan diriku kembali ke pelukan keluarga, meski dengan kekalahan.

Beruntung suami dan anak-anakku tak lelah mengeraskan suara, hingga aku tak pernah merasa sendirian. Mereka jaga lintasan langkahku tetap dalam lingkaran. Menyoraki saat semangatku meredup, hingga kembali terbakar.

Satu persatu pencapaian kuraih di jalanku menuju pulang. Separuh lebih sudah kutempuh. Sisa lintasan langkahku kini adalah lengkung landai yang menenangkan. Bisa kulihat jelas sekali senyum keluargaku menungguku pulang. Sedangkan aku juga sudah menggenggam banyak kemenangan. Piala terbesar yang kugendong adalah piala sabar.

Berjalan melingkar ternyata bukan tak pergi kemana-mana, melainkan menjalani takdir menuju mereka yang dulu mengantar dan berhak menerima kembali.
Aku pulang semusim mendatang ...

Image by www.rhinoafrica.com

Sunday, November 2, 2014

DARI BUKU ITU

Lantai ubin ini serasa terayun ketika tanganku menyentuh sebuah buku yang disodorkan Hasan. Buku tua ini adalah benda kenangan yang aku sudah percayai tak mungkin bisa kembali. Tapi Hasan datang dan mematahkan kepercayaan itu.
”Enam belas tahun aku mencarimu, Aling. Aku ingin memberikan buku ini,” ucap Hasan lembut.
Aku masih belum bisa berdiri dengan benar. Tangan kiriku masih memeluk tiang teras untuk menjaga tubuhku tetap tegak. Buku tebal ini adalah novel terjemahan karya Maxim Gorky berjudul The Mother. Buku pemberian ayah di hari ulang tahunku yang ke-17.

~~~~
Mei 1998 ...
Aku dan Hasan sedang bersiap-siap menghadapi ujian kelulusan SMA. Kami berdua belajar di rumah Hasan yang sempit dan penuh kardus-kardus bekas. Keluarga Hasan adalah penampung kardus bekas dari para pemulung.
”Sudah, taruh dulu buku itu. Bacalah nanti setelah ujian usai. Sekarang konsentrasi dulu pada buku pelajaran,” ucap Hasan sambil mengambil novel yang sedang kutekuni.
”Yaaah ... Aku baru sampai di tengah, nih.” Aku merajuk.
Hasan mengambil sesobek kardus dan menjadikannya sebagai pembatas halaman buku. Sebelum menutupnya, Hasan membaca tulisan ayahku di halaman depan.
”Aling, selamat ulang tahun. Ayah mencintaimu.”
”Ayahmu menyenangkan sekali, ya,” ucap Hasan.
Novel The Mother itu kumasukan dalam tas dan aku mulai belajar dibimbing oleh murid terpandai ini.

Namun segalanya menjadi sangat membingungkan. Aku tak sempat mengikuti ujian karena tiba-tiba saja ayah menyuruhku ikut ke Citorek, Banten Selatan bersama bu Maemunah, perempuan tua yang menjadi pembantu di rumahku. Aku tak pernah tahu persis apa yang terjadi. Kulihat di TV, Jakarta rusuh. Glodok, tempat ayah dan ibuku membuka toko elektronik, habis dibakar massa. Aku histeris mengetahui semuanya. Bu Maemunah menjagaku amat ketat dari kemungkinan aku akan nekat pergi ke Jakarta.

~~~~
”Kulihat rumahmu hangus dibakar. Ayah dan ibumu meninggal. Ketika kutanya pada kerabatmu yang juga kocar-kacir, mereka tak ada yang tahu di mana dirimu. Aku hanya diberi tahu oleh tukang sayur langganan keluargamu bahwa kamu mungkin pergi bersama bu Maemunah. Sulit sekali mencari alamat ini karena mereka hanya tahu bu Maemunah orang Banten,” ucap Hasan.
”Aku tahu kabar tentang mereka tiga bulan setelah kejadian itu. Bu Maemunah mati-matian melarangku kembali ke Jakarta. Karena itu pesan ayahku. Dan aku menjalani hari-hari baru di pegunungan seperti ini.” Kata-kataku bercampur air mata.
”Rumahmu roboh tanpa sisa. Aku kehilangan semua tentang dirimu, kecuali buku ini yang tertinggal di rumahku.” Suara Hasan terdengar bergetar
Aku mendekap buku hadiah dari ayah. Memasukan semua cinta dan kenangan atasnya dalam hatiku. Kehilangan ayah, ibu, dan kehidupanku di Jakarta membuatku menjadi zombie di pegunungan sejuk ini. Aku memilih hidup terasing meski Bu Maemunah selalu berusaha mengajakku ke luar desa. Aku terkurung waktu selama enam belas tahun.
Dan hari ini, entah dari mana asalnya, Hasan datang membawa sebuah pintu. Lewat buku yang bahkan pembatas halaman dari sobekan kardus itu masih utuh di angka aku berhenti membaca dulu, aku kembali memulai mengenali diriku sendiri. Memunguti serpihan kenangan yang beberapa kali kucoba ingkari.
”Kalau tak keberatan, pulanglah ke Jakarta bersamaku,” Pinta Hasan.
”Keluargaku tercerai berai semua, kan?” Tanyaku dalam linangan air mata.
”Ada satu yang masih tinggal, Acim. Ipar ayahmu itu masih ada, tinggal sendirian di rumah kecilnya. Kami mengurus semua dokumen terkait harta benda keluargamu. Pada Acim kami serahkan surat-surat tanah dan segala peninggalan orang tuamu,”
”Acim ... Ah, bukankah Acim tuna rungu? Bagaimana bisa bertahan hidup? Jangan katakan Acim mengemis!”
”Tidak, Aling. Acim pandai membuat kue. Beliau hidup dari usaha kue bulan khas Tionghoa,”
Tidak mungkin! Aku tak percaya apa yang dikatakan Hasan. Bagaimana bisa orang keturunan Tionghoa seperti kami masih bisa bertahan setelah tragedi itu? Aku kehilangan segalanya. Orang tuaku meninggal mengenaskan dalam kerusuhan. Kudengar pula banyak di antara kami yang diperkosa dan kehilangan hak sebagai manusia. Hasan pasti sedang menghiburku saja.
”Aku tahu kamu ragu. Tapi kamu mengurung diri terlalu lama, Aling. Kamu tidak mengikuti perkembangan setelah peristiwa itu. Kamu sibuk meratap-ratap saja,” Sambung Hasan.
”Apa yang terjadi sekarang?” Tanyaku pelan. Aku merasa takut sekali mendapat cerita yang mengerikan.
”Aling, sekarang semua sudah lebih baik. Kaum minoritas, Tionghoa salah satunya, hidup aman berdampingan dengan semuanya. Orang-orang yang memicu kerusuhan dulu itu sudah diproses hukum. Pemerintah menjamin hak-hak hidup semua penduduk tanpa pembedaan. Kamu tidak pernah nonton TV? Dengar radio?”
”Tidak sama sekali. Aku selalu ketakutan,”
”Ah, kamu harus tahu, orang nomor dua di Jakarta sekarang dipanggil ’Koh’, bukan ’Bang’. Namanya Ahok,”
”Orang Tionghoa memimpin Jakarta?! Tidak mungkin!”
Aku memekik. Ototku serasa mengejang mendengar cerita Hasan. Napasku memburu, dan tubuhku melenting berdiri mengimbangi ledakan perasaanku. Hasan tersenyum-senyum melihatku begitu.
”Kembalilah ke Jakarta, Aling. Ambil kembali hidupmu. Jangan menyerah dan menjadi manusia terasing karena rasa takut. Aku tahu kamu perempuan hebat. Pasti bisa melewati semua ini dengan langkah tegap,”

Dan sepanjang malam itu, aku berdiskusi panjang dengan Hasan. Otak dan perasaanku teraduk-aduk, namun kembali hidup karena Hasan menceritakan semua yang ada sekarang. Setelah enam belas tahun menjadi manusia yang mengasingkan diri, kini aku siap untuk kembali dan menjemput nasibku, mengambil kembali hakku.
Hasan menginap di rumah pak RT malam itu. Sedangkan aku tak sepicing pun bisa memejamkan mata. Bu Maemunah akan ikut bersamaku ke Jakarta esok. Entahlah, aku terlalu grogi menghadapi peristiwa ini. Aku merasa perlu seseorang ibu. Dan bu Maemunah adalah penggantinya.
Kudekap buku Maxim Gorky yang dibawa Hasan. Ujung-ujung halamannya basah oleh air mataku. Dari buku itu aku seperti membuka pintu ajaib yang bisa mengembalikanku ke masa lalu. Aku sungguh rindu pada ayah dan ibuku.

※TAMAT※

Telah dimuat di majalah TIM International edisi Oktober 2014

Thursday, October 30, 2014

IBU SUSI BUKAN TELADAN

Rame ya, ngomongin Ibu Susi Pudjiastuti.
Aku punya cerita juga tentang beliau. Begini:

Pada suatu hari (hihihi), tepatnya aku lupa, sekitar akhir tahun 1997 atau awal tahun 1998, aku dan beberapa teman sedang ada pekerjaan di daerah Ciamis. Saat itu kami hendak memotret objek wisata Cukang Taneuh di Cijulang, dan penangkaran penyu di Cipatujah. Tempat singgah kami saat itu di Delta Gecko, sebuah penginapan pinggir laut Pangandaran. Satu dari kami adalah seorang wartawan. Dia memang berniat sekalian mewawancarai sosok perempuan pengusaha. Jadi, sekali dayung, dua tiga pulau terengkuh, gitu.

Nah, karena santai, maka kami semua ikut ke kafe Hilmans tempat Ibu Susi, sang pengusaha itu. Ketika kami datang, kafe sepi karena masih pagi. Kami disambut langsung oleh Ibu Susi yang saat itu mengenakan celana panjang jeans, baju atasan tanpa lengan bunga-bunga hitam putih, sandal santai, rambut keriwil yang diikat seadanya, dan rokok di tangan. Oiya, Ibu Susi juga tampak tanpa make up. Tapi beliau ramah. Kami dijamu sup kerang, lobster, dan ikan barakuda panggang. Menu berat untuk sarapan telat. Hahaha...

Ibu Susi adalah perempuan yang sangat energik. Energinya luar biasa. Beliau selalu bergerak, melesat-lesat. Ketika duduk pun, kakinya bergoyang-goyang, dan tangannya mengetuk-ngetuk. Ah iya, beliau merokok tak putus-putus.

"Saya sudah merokok sejak remaja," ucap Bu Susi.

Ketika batang terakhir dalam bungkus rokok itu ditarik, beliau langsung membuang bungkus itu ke keranjang di pojok kafe. Tapi lantas diambilnya lagi.

"Lupa, tadi saya menyelipkan uang Rp. 20.000 di sini. Kebiasaan. Sering lupa saya taruh uang di bungkus rokok, lalu dibuang saja." Beliau terkekeh.

"Kamu orang mana?"

Agak terkejut aku ketika beliau menanyakan itu sambil melihatku.

"Tetangga, Bu. Saya orang Cilacap," jawabku.

"Woooh... saya sering tuh ke Nusa Kambangan dari sini naik jetski sendiri. He he he ... Kapan-kapan, ayo nanti saya ajak,"

Rame betul ngobrol dengan beliau. Kami juga dikenalkan dengan anaknya, Hilman, yang lewat sekilas saja, acuh, lalu cepat-cepat lari entah kemana. Saat itu Hilman masih menjelang remaja, agak gendut. Karyawan yang membantunya melayani kami juga dikenalkan satu-persatu.

Selain duduk bicara di kafe sambil melihat biawak berjemur di pinggir kolam, kami juga diajak berkeliling tempat penyimpanan dan pengolahan lobster serta fillet ikan untuk ekspor.

"Pisau ini saya pesan dari Perancis. Boros betul pakai pisau di sini. Sebentar saja sudah kikis jadi seperti keris begini,"

Ibu Susi terus bercerita tentang usaha itu. Oiya, saat itu beliau belum punya pesawat, "hanya" pabrik pengolahan hasil laut dan kapal-kapal ikan.

Seminggu kemudian, profil beliau muncul di media, hasil wawancara temanku. Hebat memang perempuan itu. Usahawan tangguh dan berani.

~~~~~

Lalu sekarang, Ibu Susi jadi Menteri Perikanan dan Kelautan (eh, benar ya, begini nulisnya?) Sebuah pencapaian yang kurasa memang pantas. Tidak kuingkari bahwa beliau memang orang yang hebat sekali. Deretan prestasi kerja membuktikan hal itu.

Tapi ...

Ibu Susi bukan perempuan yang akan kujadikan teladan ketika mendidik anak-anak gadisku.

Tentu saja ini bukan berarti lantas aku menyembunyikan cerita kehebatan Ibu Susi ini pada Elok dan Embun. Tentu saja bila suatu saat bercerita tentang beliau, akan kuceritakan kehebatan itu dengan semangat. Namun aku tidak akan mengatakan pada mereka; tirulah Ibu Susi.

Fakta bahwa beliau hanya lulusan SMP, tidak akan kusembunyikan dari anak gadisku. Namun menyikapi hal ini, aku tak akan mengatakan pada mereka:
Buat apa sekolah tinggi-tinggi, lulus SMP saja bisa jadi Menteri.

Tidak!

Aku akan tetap mengarahkan Elok dan Embun untuk bersekolah setinggi-tingginya. Bahkan sudah kusiapkan biaya untuk pendidikan mereka sampai menjelang kuliah (eh, dapet dari hadiah, ding ^_^ ) Aku tetap ingin anakku senang bersekolah. Yang lulus SMP jadi menteri itu ya Ibu Susi. Perempuan super hebat. Anakku mungkin tidak setangguh dan sehebat beliau. Mau jadi apa kalau hanya lulus SMP? Semisal anakku sehebat Ibu Susi, tentu akan memperoleh pencapaian lebih jika ditunjang pula dengan pendidikan tinggi. Insha Allah...

Tentang attitudes, tentulah aku ingin anakku tidak merokok dan bertatto. Aku tidak menghujat Ibu Susi yang seperti itu. Karena itu adalah pilihan. Aku pun punya hak memilih bagaimana mendidik anakku.

Jadi hikayat tentang Ibu Susi yang kusampaikan pada anakku, adalah tentang hal-hal hebat dalam bekerja.

Aih, ada itu kemarin yang konyol membandingkan Ibu Susi dengan Queen of Scary (Ratu Atut). Laaah, ya itu bukan tandingannya. Tidak seimbang. Ibarat membandingkan buah apel dengan jamblang. Pembandingan itu ujungnya hanya akan melahirkan bullying pada keduanya.

Kalau mau membandingkan, cari lawan yang sepadan. Sesama menteri perempuan, misalnya. Coba sandingkan dengan Ibu Khofifah, atau Ibu Retno. Kalau masih ngotot juga ingin membandingkan dengan 'orang luar', coba adu dengan Ibu Risma. Haa...

Iya, iya... Ibu Susi orang hebat. Tidak kubantah itu. Kehebatannya itu juga bikin aku optimis kok, dengan posisi dan tugasnya sebagai pembantu Presiden Jokowi.

Tapi bukan Ibu Susi yang akan kujadikan role model untuk anakku.

Ada permasalahan personal juga sebetulnya. Aku pun menyimpan kekecewaan terhadap beliau. Ini berkaitan dengan bencana banjir yang dialami daerah tempat kakakku tinggal di Cilacap Barat.

Tiap tahun kakakku kebanjiran karena luapan sungai Citanduy yang terhambat alirannya ke laut oleh pendangkalan Segara Anakan (karena sedimentasi). Solusinya sudah ada, yaitu dengan menyodet sungai Citanduy. Karena sungai Citanduy ini melintas di dua wilayah, yaitu Cilacap-Jateng dan Pangandaran-Jabar, maka realisasi proyeknya tentu melibatkan dua daerah. Termasuk di wilayah itu adalah wilayah usaha milik Ibu Susi. Tentulah beliau berkepentingan menjaganya, meski harus menghalangi proyek ini. Media menulis, Ibu Susi memediasi konflik pemerintah dan warga dalam proyek penyodetan Sungai Citanduy. Di media, she is a hero ...

Dan aku, yang hanya seorang adik dari warga yang rumahnya terendam sampai atap, boleh saja kecewa, bukan? Kekecewaan yang sama besar pada Pemkab kami juga, sih ... Jadi memang tak perlu dimunculkan, apalagi sampai membully Ibu Menteri.

Baiklah, senang sudah pernah bertemu dan berbincang langsung dengan perempuan hebat seperti anda, Bu... Selamat bekerja. Dengan kehebatan anda, aku pun optimis anda akan bekerja bagus di bidang itu. Semoga anda bisa mengoptimalkan potensi laut Indonesia  dan menjaganya untuk tetap lestari.

Teladan perempuan hebat untuk anak-anakku, bukan Ibu Susi.

:)